
Disaat Elma dan Lusi berada di dapur, Danu mendatangi Herman ke samping rumah. Di sana ada kolam ikan persegi panjang, tidak terlalu luas. Lebarnya hanya 1 meter dan panjangnya 3 meter.
Herman sangat rutin membersihkan kolam ikan ini, sebagai salah satu aktifitasnya di masa tua.
"Opa," sapa Danu, dilihatnya sang ayah mertua yang berada di dalam kolam ikan itu, memegang gayung dan membuang sisa-sisa air yang tersisa. Sementara di luar sini banyak bak berisi ikan.
"Danu, sebentar ya, tanggung," jawab Herman, buru-buru dia menyelesaikan tugasnya dan keluar dari dalam kolam itu, lalu saat air kembali diisi, dia duduk di kursi yang tersedia bersama Danu.
Tak berselang lama kemudian Elma datang membawa 2 gelas minuman hangat dan sepiring pisang goreng.
Setelah mengantar itu Elma masuk lagi, meninggalkan Danu dan Herman berdua.
"Opa lihat hubungan mu dengan Elma sudah membaik, apa benar seperti itu?" tanya Herman, dia menyeduh sedikit kopi miliknya.
"Benar Opa, aku dan Elma sudah banyak bicara berdua. Kami datang kemari juga ingin meminta Arkan kembali, jika opa dan oma mengizinkan, Minggu besok kami akan jemput Arkan pulang."
Herman tak langsung menjawab, masih nampak berpikir. Karena jujur saja, dia juga berat berpisah dengan sang cucu. Beberapa hari Arkan tinggal disini semakin membuatnya senang.
__ADS_1
"Kalau menurut opa, lebih baik Arkan tinggal saja disini dulu, setidaknya sampai dia selesai sekolah," tawar Herman.
Tapi tawaran itu tak terdengar indah di telinga Danu, dia sudah sangat merindukan sang anak. Ingin kembali tinggal bersama.
"Kalau begitu kita tanyakan saja pada Arkan Opa, bagaimana maunya dia nanti."
"Baiklah," jawab Herman pasrah. Dia juga seperti menjilat ludah sendiri. Nyatanya setelah Elma dan Danu rujuk, dia juga merasa keberatan untuk melepas sang cucu.
Menjelang siang Danu dan Elma pamit pulang. Lusi membawakan 2 sisir pisang untuk mereka.
Akhir-akhir ini cuaca memang tak menentu, kadang panas kemudian tiba-tiba hujan.
Danu bahkan langsung menghidupkan kipas angin mereka dan duduk di ruang tengah.
Sementara Elma lebih memilih buru-buru ganti baju dengan yang lebih dingin.
"Apa kata Opa tadi Mas?" tanya Elma, dia menghampiri Danu dan duduk di samping sang suami. Menikmati hembusan kipas angin yang tidak terlalu kencang lagi, kipas tua itu hanya mampu mengeluarkan angin kecil.
__ADS_1
"Sepertinya Opa tetap ingin Arkan tinggal di sana, setidaknya sampai Arkan lulus sekolah."
"Terus Mas Danu jawab apa?"
"Ku bilang kita tanyakan saja pada Arkan, sampai lulus nanti dia mau tinggal Dimana. Disini atau di rumah opa."
Wajah Elma murung, dia sudah sangat rindu. Rumah ini terasa hampa tanpa sang anak. Setiap saat, setiap detik dia hanya selalu memikirkan Arkan.
"Mas."
"Hem, apa?" jawab Danu, dia mengelus kepala sang istri dengan sayang, membelai rambut panjang Elma yang tergerai. Danu juga merapikan rambut itu ke belakang.
"Dulu, Arkan pernah bertanya padaku. Dia tanya, bisakah kita bertiga kembali foto bersama saat kelulusan nanti." terang Elma, ingat hal itu membuat dia sendu.
"Tentu saja bisa, kita akan selalu mendampingi Arkan sampai dia dewasa dan bisa menentukan jalan hidupnya sendiri," jawab Danu dengan yakin, dia lalu menarik Elma untuk di dekapnya erat.
Danu akan pastikan, anaknya nanti pulang.
__ADS_1