
Sesampainya aku di hotel tempat acara pernikahan Alya, aku langsung di sambut dengan pemandangan yang begitu menakjubkan.
Betapa megahnya acara pernikahan anak bungsu dari keluarga Mahesa ini. Desainnya pun begitu menakjubkan dan sangat elegan. Ya, cocok lah dengan latar belakang mereka yang bernotaben sebagai orang kaya.
Dan bukannya aku mau membandingkan pernikahanku dulu bersama Adrian dengan pernikahan Alya sekarang.
Tetapi jujur dari dalam lubuk hatiku, aku begitu mengangumi pernikahan mewah Alya dan Gino (suami Alya). Pernikahan mereka bahkan jauh lebih elegan dan mewah dari pernikahanku dengan Adrian dulu.
Ah, tapi kenapa fikiranku sekarang malah jadi membandingkan-bandingkan itu semua sih. Lagian pernikahanku dan Adrian kan sekarang sudah jadi masa lalu yang seharusnya aku lupakan, dan tidak perlu aku ingat-ingat lagi bukan.
Okey Freya, mari kita lupakan semua tentang Adrian dan pernikahan kami dulu.
Tanpa basa-basi aku langsung melangkah perlahan menuju pelaminan untuk memberikan selamat kepada Alya dan Gino karena sekarang sudah sah menjadi pasangan suami istri.
Semoga saja rumah tangga mereka bisa langgeng sampai maut memisahkan. Tidak seperti rumah tanggaku bersama Adrian. Menyakitkan.
Ah sudahlah, nasi sudah menjadi bubur. Lupakan Freya, lupakan dan tetap fokus.
Tetapi ditengah langkahku, aku baru menyadari satu hal dan ...
Oh ****! Sialan.
Aku baru menyadari satu hal bahwa gaun yang aku kenakan adalah gaun keluarga yang sama dengan yang dikenakan oleh keluarga inti mempelai wanita dan keluarga mempelai pria.
Dalam hatiku aku sudah mengumpat berulang kali karena baru menyadari hal itu. Aku sungguh menyesal karena dengan bodohnya aku tidak curiga sama sekali, mengapa tiba-tiba Alya mengirimkan aku gaun untuk acara pernikahannya.
Padahal kalau tamu biasa sepertiku, tidak harus dikirimkan gaun seperti ini. Kenapa aku tidak sadar sama sekali sih. Kan kalau tahu akan seperti ini, lebih baik aku akan lebih memilih untuk menggunakan gaun lain saja. Dibandingkan harus memakai gaun ini. Apa yang akan dikatakan orang-orang.
Dasar wanita bodoh!
Aku bahkan terlihat seperti wanita yang tidak punya malu sedikit pun, dan seolah-olah seperti masih mengharapkan tempat di dalam keluarga Mahesa. Seolah-olah aku masih mengharapkan untuk menjadi menantu keluarga Mahesa lagi. Ah, bodoh! bodoh.
Bahkan rasanya sekarang ingin sekali aku menghilang dari tempat ini atau setidaknya tidak terlihat oleh orang-orang, bahwa aku berada di sini. Oh keajaiban datanglah, aku membutuhkanmu!
"Astaga Rea! Kamu akhirnya datang juga sayang."
Aku menoleh dan mendapati keberadaan Mommy Sarah (Mantan mertuaku, Ibu dari Adrian) yang datang dan menghampiriku sambil tersenyum lembut. Senyuman yang selalu memenangkan dan memberikan kedamaian di hatiku.
"Mommy kangen banget sama kamu sayang!"
Beliau langsung memelukku erat, menyalurkan rasa rindunya kepadaku karena sejak bercerai aku tidak lagi bertemu dengan Mommy Sarah.
__ADS_1
Dan ini kali pertama kalinya aku kembali bertemu lagi dengannya setelah sekian lama. Aku begitu merindukannya.
Wanita paruh baya itu sudah aku anggap sebagai Ibu kandungku sendiri dan Mommy pun juga sama, dia sudah menganggap aku sebagai putrinya sendiri. Jadi maklumkan saja jika kami begitu dekat layaknya seorang Ibu dan anak.
"Sama Mom. Rea juga kangen banget sama Mommy Sarah."
"Eh tapi nggak apa-apa kan, kalau Rea tetap manggil Tante Sarah dengan sebutan 'Mommy'?" tanyaku lagi.
Aku kan bukan lagi menantunya, jadi takutnya dia akan merasa risih jika aku tetap memanggilnya dengan sebutan 'Mommy'.
"Ya nggak apa-apa dong. Kamu kan anak mommy. Justru kalau kamu nggak manggil dengan sebutan'Mommy' maka Mommy akan sangat marah nanti sama kamu. Ya, walaupun kamu udah nggak sama Adrian. Tapi kamu harus tetap ingat, kalau kamu akan tetap jadi anak mommy. Okey," jelas Mommy Sarah.
Aku tersenyum dan sangat bersyukur memiliki mantan Ibu mertua sebaik mommy Sarah.
"Sarah aku m--, eh ada Freya ya. Yaampun kamu kok tambah cantik aja sih, setelah cerai sama Adrian." Goda Tante Desi.
"Desi," tegur Mommy Sarah ketika mendengar godaan yang dilontarkan Tante Desi.
Tante Desi adalah sahabat baik Mommy Sarah.
Aku sedikit tersipu mendengar penuturan Tante Desi. Ini adalah salah satu penyakit baruku sepertinya, setiap kali dipuji pasti selalu tersipu malu.
"Tante Desi bisa aja. Ohiya Tante apa kabar?" tanyaku.
"Kabar baik juga Tan."
Duh, sebenarnya aku ingin sekali cepat-cepat pergi dari sini secepatnya. Sungguh tidak nyaman, apalagi orang-orang yang melewati tempatku berdiri mengobrol dengan mommy dan Tante Desi, selalu melihat ke arahku. Entah apa yang mereka fikirankan tentang aku, hanya mereka dan Tuhan yang tahu.
"Ohiya Freya, ngomong-ngomong kamu udah punya pengganti Adrian belum?" goda Tante Desi lagi sambil tertawa melihat ekspresi tidak bersahabat dari Mommy Sarah.
Aku yakin Tante Desi sengaja melakukan ini semua agar bisa membuat Mommy Sarah kesal. Dan hal itu sudah biasa dalam persahabatan mereka.
Tante Sarah tahu bahwa Mommy pasti tidak ingin aku menikah lagi dan mendapatkan mertua baru lagi. Jujur bahkan sampai sekarang mommy Sarah masih berharap aku bisa kembali rujuk dengan Adrian dan kembali menjadi menantunya.
Tetapi itu semua tidak semudah itu bukan. Kalian pasti tahu alasannya.
"Kalau belum punya nanti Tante kenalin deh sama anak kenalan Tante ya. Huh, sayang banget Tante nggak punya anak cowok untuk dijodohkan sama kamu. Apalagi kalau punya menantu cantik dan baik kaya kamu." Tante Desi masih gencar membuat Mommy kesal dengan menggodaku.
Ada-ada saja.
"Ah sudah-sudah. Nggak ada jodoh-jodohan ya."
__ADS_1
"Ih yaampun Sarah. Nggak apa-apa dong kalau Freya aku jodohkan dengan anak dari kenalan aku. Lagian kan Freya bukan menantu kamu lagi," ucap Tante Desi.
Yaampun, aku sepertinya cocok masuk nominasi menantu yang diperebutkan dan menantu idaman.
Mommy Sarah terlihat tidak memperdulikan ucapan Tante Sarah. Ia lebih memilih untuk berdiam tetapi dengan wajah tidak bersahabat lagi.
"Gimana, kamu mau ya." Tante Desi mengedipkan sebelah matanya diakhir ucapannya.
"Enak aja, nggak. Rea, pokoknya nggak boleh ya. Untuk kamu sahabat baik aku Des." Setelah beberapa saat terdiam, Mommy Sarah langsung berucap.
"Lebih baik sekarang kita temuin Alya aja, daripada dengerin ucapan Desi. Yang ada iman kamu tergoyahkan lagi. Yuk." Tanpa basa-basi Mommy langsung menyeretku menuju pelaminan untuk bertemu dengan Alya.
Dan setelah memberikan ucapan selamat kepada Alya dan Gino. Kami sempat berbincang sedikit, sebelum akhirnya aku putuskan untuk pamit sebentar mengambil minuman dan mengakhiri perbincangan kami.
Aku langsung meminum minuman yang aku sendiri tidak tahu minuman apa itu, aku mengambilnya asal dan meminumnya hingga tandas tak bersisa. Ya lumayan lah, tidak buruk juga. Walaupun awalnya minuman itu sedikit terasa aneh dan asing di lidahku.
"Saya pikir kamu tidak akan datang."
Tiba-tiba sebuah suara dari belakang mengangetkanku. Aku berbalik dan mendapati sang pelaku yang tidak lain dan tidak bukan adalah Adrian.
Wajahku langsung berubah datar. Sedatar-datarnya.
"Saya hanya tidak ingin membuat Mommy, Daddy dan Alya kecewa. Jadi saya harus datang." Mendadak rasa haus ku semakin bertambah. Aku kembali mengambil satu gelas minuman yang sama dan ku minum lagi hingga tandas.
"Ya saya tahu itu. Kamu tidak akan pernah mengecewakan orang-orang yang sudah menyayangi kamu dengan sepenuh hati," ucap Adrian kali ini lebih terdengar santai dan tidak dingin. Atau apa aku yang salah dengar ya.
Entah kenapa lagi dengan tubuhku, aku merasakan hal yang berbeda. Tidak seperti biasanya dan rasanya aku jadi ketagihan dengan minuman yang baru saja aku minum tadi.
Aku langsung mengambil segelas lagi dan meminumnya hingga tandas. Aku bahkan menghabiskan 4 gelas minuman itu.
Sedangkan Adrian hanya memperhatikan dalam diam. Hingga gelas ke 5, mendadak Adrian menghentikan pergerakanku dan mengambil paksa minuman itu.
Adrian menampilkan wajah sedikit curiga dengan minuman yang ku minum. Pria itu menciumnya.
Dan ... sedetik kemudian pria itu langsung menampilkan ekspresi wajah marahnya. Tatapan dingin yang begitu mengintimidasiku
Dia langsung meletakan gelas itu dengan kasar dan menyeretku kasar yang kini sudah lumayan sempoyongan, tanpa memperdulikan tatapan orang-orang yang kini tengah menatap pergerakan kami berdua.
Oh Tuhan, minuman haram apa yang telah ku minum? Hingga tubuhku sudah sepoyongan seperti ini. Seperti orang mabuk.
Eh, tapi tunggu dulu. Apa aku baru saja meminum minuman keras? Tetapi kenapa rasanya berbeda? Rasanya tidak seperti minuman keras. Tapi kepalaku sekarang sudah mulai terasa pusing, berarti benar. Ini adalah minuman keras. Oh ****!
__ADS_1
Aku dalam masalah besar sekarang! Siapapun tolong selamatkan aku.