Setelah Bercerai

Setelah Bercerai
BAB 14 SEBUAH NYAWA KECIL


__ADS_3

"Aaww!" Ini tidak mimpi.


Ini nyata! Nyata dan apa yang harus aku lakukan sekarang?


Aku juga semakin panik lagi setelah menyadari bahwa setelah hari itu, hari dimana kekhilafan itu terjadi. Aku juga sama sekali tidak mengonsumsi obat pencegah kehamilan. Mungkin karena terlalu larut meratapi nasibku waktu itu, aku jadi melupakannya.


Ah, kenapa baru kepikiran sekarang sih setelah semuanya terjadi. Seharusnya aku sudah memikirkan dari sebelum-sebelumnya untuk mengonsumsi obat itu.


Dasar wanita bodoh kamu Freya! Bagaimana bisa lupa coba.


Bagaimana ini? Apa yang akan aku katakan pada Papa dan Mama. Dan bagaimana jika Adrian mengetahui nya, aku yakin pria itu tidak akan tinggal diam jika mengetahui kenyataan ini.


Kenyataan pahit dimana, ada sebuah nyawa yang kini telah tinggal di dalam rahimku. Hasil dari kejadian hari itu. Dan kebodohan kami berdua.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya, masih dengan perasaan yang campur aduk. Setelah bangun pagi dan habis mandi aku segera bersiap-siap, bukan untuk pergi ke restoran tetapi untuk pergi membeli testpack diam-diam tanpa sepengetahuan Mama ataupun Papaku.


Bukannya aku masih belum yakin bahwa aku saat ini sedang mengandung anak dari Adrian, aku hanya sekedar ingin lebih memastikan lagi dan lagi apakah benar aku sedang hamil.


Bisa saja ini adalah efek dari penyakit lain mungkin. Bisa saja kan, karena setiap penyakit tidak bisa terdeteksi jika kita tidak mencoba untuk membuktikan nya sendiri.


Dan kalian pasti bertanya-tanya kenapa aku tidak ke dokter saja agar lebih akurat informasinya. Daripada harus membeli testpack kan belum tentu akurat juga terkadang.


Jawabnya adalah jika aku pergi ke dokter untuk memeriksa apakah benar aku hamil atau tidak, itu hanya akan membuat kecurigaan orang-orang. Terlebih mata-mata Adrian itu sangat banyak.


Bisa saja informasi aku yang pergi ke dokter kandungan akan bocor dan Adrian akan segera mengetahuinya. Pria itu pasti akan dengan nekatnya menjadikan aku istrinya lagi, jika tahu aku sedang mengandung anaknya. Ini bisa menjadi kesempatan dalam kesempitan untuk pria itu.


Karena orang tuaku pasti akan meminta Adrian untuk bertanggung jawab dan alhasil kami akan kembali rujuk. Tidak, tidak akan semudah itu.


Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, aku tidak ingin kembali bersama Adrian.


Sudah cukup aku dibuat sakit hati atas perlakuannya dan penghianatan nya waktu itu.


Sudah cukup!


Dan setelah selesai bersiap-siap dan berpamitan kepada Mama dan Papaku yang kebetulan hari ini tidak ke mana-mana, hanya di rumah saja.


Aku pun pergi ke salah satu apotek yang agak jauh dari rumah, menggunakan ojek online.


Awalnya Papa ingin mengantarku, karena aku izin ke mereka bahwa aku akan bertemu teman lamaku. Tidak mungkin kan aku izin ke mereka dan bilang kalau aku mau beli testpack. Tidak sebodoh itu juga.


Dan mengapa aku harus membeli testpack di apotek yang jauh padahal di dekat rumahku juga ada apotek. Ya, karena sekali lagi aku tidak ingin ketahuan.

__ADS_1


Setelah aku sampai, aku pun membeli 5 testpack dengan kualitas yang berbeda-beda. Mulai dari yang biasa saja sampai yang luar biasa akurat.


Sampai-sampai penjaga apotek nya menatapku aneh.


"Semuanya jadi 150.000 ya Kak." Ucapnya sambil memberikan plastik berisi testpack padaku.


Aku pun mengangguk dan memberikan beberapa lembar uang, sesuai dengan harga nominal testpack tersebut.


Sebelum pulang, aku mampir sebentar ke salah satu supermarket yang berada tepat di samping apotek tersebut.


Mengingat stok cemilanku yang mulai berkurang, tidak ada salahnya kan jika berbelanja cemilan lagi.


Di tengah-tengah aku memilih cemilan tiba-tiba seseorang datang dan menyapaku.


"Hai, Freya kan? Akhirnya kita ketemu lagi." Aku sedikit menyerit kebingungan, mencoba mengingat siapa pria di hadapanku ini.


Aku juga seperti tak asing lagi dengan wajahnya. Tetapi siapa ya? Baiklah sepertinya otakku tidak lagi berfungsi dengan baik kali ini.


Sadar akan kebingunganku, pria itu kembali berucap. "Aku Romi. Kita waktu itu pernah ketemu di bandara."


"Romi? Bandara?"


Ah, ya seketika aku langsung mengingatnya, pantas saja aku seperti tidak merasa asing sama sekali dengan dia. Ternyata kami sudah pernah bertemu sebelumnya di bandara.


"Ah ya, Romi. Ohiya, kamu datang liburan lagi di sini ya? Soalnya kalau nggak salah waktu itu kamu mengatakan bahwa ke Surabaya untuk liburan."


"Heheh, iya Re. Aku datang ke sini untuk liburan yang ke dua kalinya. Karena berkat rekomendasi dari kamu waktu itu, aku jadi ketagihan deh buat liburan ke sini lagi. Dan kebetulan hotel aku juga nggak jauh dari sini. Kamu sendiri, rumahnya di sekitar sini ya?" tanya Romi.


"Re?" Aku baru bertemu dengan dia yang kedua kalinya, tetapi kenapa pria ini bisa berbicara sesantai itu kepada ku.


Padahal seinget aku awal pertemuan kami, dia bicaranya tidak sesantai ini. Seolah-olah kami seperti sudah saling mengenal lama.


"Eh iya. Sorry, sorry. Tapi nggak apa-apa kan kalau aku manggil kamu Re, nama kamu kan Freya jadi biar lebih singkat panggil Re aja. Nggak apa-apa kan? Atau kamu keberatan ya."


Aku menggeleng. "Hm, enggak kok. Nggak apa-apa santai aja. Tapi panggil aku Rea aja jangan Re."


Romi menyengir. "Okey siap deh, Rea kan." Aku mengangguk membenarkan ucapan Romi.


"Ohiya, tadi kamu nanya soal rumah ku kan. Rumahku bukan di sekitar sini sih. Cuma tadi aku baru pulang dari ketemu sama teman lama, jadinya aku mampir sebentar ke supermarket ini buat beli cemilan. Biasalah cewek."


Padahal aslinya aku datang ke sini untuk membeli testpack. Tidak apa-apa lah ya, berbohong demi kebaikan. Tidak ada salahnya kan.


Romi hanya bergumam. "Ohiya, aku boleh minta nomor WA kamu nggak?

__ADS_1


"Nomor WA? Untuk apa?"


"Ehmm, ya untuk memperpanjang silaturahmi mungkin. Lagian kebetulan aku bakalan liburan di sini selama 2 minggu, jadi mumpung kamu ini anak Surabaya, aku pengen minta di temenin buat kelilingi Surabaya gitu."


"Mau keliling Surabaya mah bisa, gampang. Sama ojek online juga udah bisa keliling Surabaya, bisa sampai puas malah keliling nya," candaku.


"Iya sih puas, tapi endingnya malah bikin pusing."


Aku tertawa.


"Maksudnya aku itu, temenin keliling Surabaya ke tempat-tempat destinasi yang unik atau tempat-tempat kuliner gitu. Waktu itu kan nggak banyak tempat yang aku datangin, jadi mumpung ada kamu. Aku minta di temanin ke sana. Itu sih kalau kamu mau."


"Hmm, yaudah boleh deh."


"Hah, seriusan?"


"Emang mukaku kelihatan bercanda gitu?" tanyaku.


"Nggak sih. Yaudah deh mana nomor WA kamu. Biar nanti aku bisa ngehubungin kamu."


"Emang harus banget tau nomor WA aku ya? Nggak bisa aku yang datang nemuin kamu langsung aja ya."


"Ya nggak bisa dong Rea. Nomor WA kamu biar kalau aku mau ke sana, aku bisa ngehubungin kamu. Masa nanti aku hubungin ojek online, yang ada nanti aku malah di ajak keliling doang di atas motor. Hehe." Kami pun tertawa bersama.


Aku juga sedikit berpikir, apa perlu aku memberikan nomor wa ku kepada pria yang baru aku temui 2 kali ini? Aku memperhatikan penampilan nya dan dari penampilan pria ini, tidak tampak seperti orang jahat yang akan memanfaatkan aku. Ataupun punya niat melakukan kejahatan terhadapku.


Aku berikan saja atau tidak usah ya. Tetapi pria ini tampak seperti pria baik-baik. Dan setelah dipikir-pikir tidak ada salahnya kan, bisa nambah teman pria. Mengingat semua teman-temanku di Surabaya saat ini sudah bekerja di luar kota maupun luar negeri. Jadi aku tidak punya teman hangout selama berada di Surabaya.


Lumayan kan, punya teman baru. Ya walaupun Romi hanya 2 minggu di Surabaya. Tidak apa-apa lah.


"Baiklah, mana hp kamu?" Aku menyodorkan telapak tanganku dan Romi memberikan hp nya.


Aku pun mengetikkan nomor WA ku dan mengembalikan nya pada Romi.


"Okey, thank ya Rea. Nanti aku WA ya."


"Iya. Ohiya aku pergi duluan ya, soalnya aku masih ada urusan lagi. See you."


"See you to Rea."


Setelah mengambil beberapa cemilan, aku pun membayarnya di kasir dan segera pergi menggunakan ojek online.


Aku sudah tidak sabar untuk kembali mengecek apakah benar di perutku sekarang ada sebuah nyawa dari bayi kecil yang tak berdosa.

__ADS_1


Walaupun sebenarnya tanpa mengecek pun pasti iya, tetapi kembali lagi aku ingin benar-benar mengeceknya sekali lagi. Sekedar memastikan lagi bahwa ini semua benar.


__ADS_2