
"Rea!" terdengar dari luar pintu kamar seseorang sedang memanggilku sambil mengetuk-ngetuk pintu kamarku.
Aku jelas sangat mengenali suara itu. Suara dari orang yang sudah melahirkan dan merawatku dari bayi hingga sampai sebesar ini. Dia adalah Mamaku tercinta.
Perlahan aku mengusap kedua mataku, lalu bangun dari tempat tidur dan segera membukakan pintu untuk Mama.
Dan setelah itu kembali ke atas tempat tidur dan kembali memejamkan mata. Entahlah semenjak hamil aku jadi wanita yang begitu malas untuk melakukan apa-apa.
Bahkan terhitung sudah hampir 3 hari ini aku tidak pergi ke restoran sama sekali, karena begitu sangat malas.
Bahkan Mama dan Papa sampai terheran-heran dengan perubahan sikapku ini. Aku hanya berharap semoga mereka tidak akan curiga, bahwa aku sedang hamil anak Adrian saat ini.
Dan mungkin saja, perubahan sikapku ini karena bagian dari hormon wanita hamil.
"Sarapan dulu gih! Dan tumben banget belakangan ini kamu selalu bangun kesiangan sayang." Mama meletakkan sarapan di atas nakas.
"Emang ini udah jam berapa Mah?" tanyaku sambil menatap Mama dengan mata yang hanya terbuka sebelah.
"Jam 9 pagi. Lagian heran Mama, kamu tuh nggak biasanya kaya gini lho. Biasanya kamu sering bangun jam 6, kalau nggak paling lambat jam 7 udah bangun." Ucap Mama sambil mematikan lampu kamarku dan membukakan gorden di kamarku, sehingga matahari pagi masuk dan menyinari kamarku.
Sedangkan aku terhenyak mendengar ucapan Mama, bagaimana bisa aku bangun kesiangan lagi. Padahal semalam aku tidak lagi begadang dan sudah berjanji pada diriku sendiri untuk jangan sampai bangun kesiangan lagi. Dan ternyata aku malah mengingkari janjiku sendiri.
Huh! Kalau seperti ini terus maka lama kelamaan Mama dan Papa pasti akan curiga.
Tapi ya mau bagaimana lagi. Lagian juga sepandai-pandainya bangkai ditutupi, pasti suatu saat akan tercium juga.
Begitu pun juga dengan kehamilan ini. Sepandai-pandainya aku menutupi kehamilan ini, pasti suatu saat akan ketahuan juga.
Apalagi setelah aku putuskan untuk tetap membiarkan bayi ini hidup dan aku akan tetap menjadi orang tua tunggal yang akan membesarkannya sendiri.
Tanpa Adrian, sungguh aku tidak butuh tanggungjawab dari Adrian sama sekali. Biarkan aku sendiri yang merawat anak ini, tanpa Adrian.
Aku bahkan sudah berjanji akan mencurahkan seluruh kasih sayangku padanya, hingga dia tidak akan merasa kekurangan kasih sayang sama sekali. Dan tidak akan membutuhkan sosok seorang Ayah sama sekali.
Tidak akan aku biarkan, Adrian hadir lagi di dalam kehidupanku bersama anak dalam kandunganku ini.
"Udah jangan ngelamun terus. Sarapan dulu gih, nanti kamu sakit gimana." Mama membuyarkan semua fikiranku.
"Iya Ma. Tapi habis Rea sikat gigi sama cuci muka dulu."
Setelah selesai dengan ritual pagi ku sebelum sarapan, yaitu sikat gigi dan cuci muka agar rasa kantukku hilang. Aku pun keluar dari kamar mandi dan tak mendapati Mama lagi di kamarku.
Tak lama hp ku berdering, pertanda ada telpon dari seseorang.
"Siapa ini ya?" gumamku.
Entah siapa yang sudah meneleponku pagi-pagi seperti ini. Tapi ya tidak ada salahnya juga untuk mengangkat telepon ini. Siapa tahu penting.
__ADS_1
"Hallo." Aku menjawab telepon tersebut.
"Eh hallo, ini Rea kan," ucap seseorang di seberang sana. Dari suaranya tampak tak asing di telingaku.
"Maaf ini siapa ya? Soalnya nomor baru jadi saya nggak tahu."
"Ini aku. Romi, masih ingat kan."
Oh Romi ternayata, pantas saja suaranya seperti tak asing bagiku. Walaupun baru bertemu dua kali dengannya, tapi entah kenapa aku selalu familiar dengan suaranya.
"Ah Romi ternyata. Yaampun kenapa nggak ngasih tahu dari tadi sih, aku pikir siapa. Ada perlu apa Rom?" tanyaku tanpa basa-basi.
"Hehehe, ya kalau aku ngasih tau duluan nggak seru dong."
"Hehehe. Kamu bisa aja."
"Ohiya, aku ganggu ya udah telpon kamu pagi-pagi gini," tanya Romi dari seberang sana.
"Hmm nggak kok. Nggak ganggu, kebetulan aku juga udah bangun. Jadi nggak ganggu sama sekali kok. Jadi ada perlu apa nih, seorang Romi nelpon aku pagi-pagi kaya gini."
Sebelum menjawab pertanyaanku, aku mendengar Romi berdehem. "Ehm, jadi gini. Aku rencananya hari ini mau berburu kuliner nih. Kemarin kan aku udah sempet ke beberapa tempat, tapi nggak asik kalau sendiri, apalagi kalau berburu kuliner. Enaknya harus ada temannya, kamu mau nggak temenin aku."
"Hmm gimana ya." Aku nampak berfikir sebentar. Sebenarnya saat ini aku benar-benar malas untuk pergi ke mana-mana.
Tetapi kalau difikir-fikir lagi, nggak apa-apa lah. Hitung-hitung dengan pergi ke luar bersama Romi, bisa sedikit membuat Mama dan Papa menepis semua rasa curiga mereka padaku. Karena akhir-akhir ini aku begitu sangat jarang keluar rumah.
"Okey deh. Jam berapa?" Aku pun menyetujuinya ajakan Romi.
"Jam setengah 3 sore gimana?"
"Okey, nanti aku tunggu depan hotel kamu aja gimana. Hotel kamu yang di depan supermarket itu kan."
"Iya. Yaudah sampai jumpa nanti ya."
"Okey. Bye." Aku pun mematikan sambungan teleponku bersama Romi.
"Baiklah nak, sepertinya hari ini kita akan berburu kuliner bersama om baik. Kamu setuju kan." Ucapku sambil mengelus-elus lembut perutku yang masih rata.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari ini aku begitu bahagia. Bahkan aku sampai lupa kapan terakhir kali aku sebahagia ini. Mungkin terakhir kali aku merasa sebahagia ini sejak masih bersama Adrian dulu. Dan ini semua berkat Romi, om baik yang aku maksud untuk anakku.
Ternyata benar, Romi begitu baik padaku. Tidak salah aku telah menyematkan predikat om baik padanya kepada anakku yang berada di kandungan. Ya walaupun sebenarnya dia juga tidak mengetahui bahwa saat ini aku sedang mengandung.
Biarlah ini menjadi rahasia bagiku untuk sementara waktu.
Kami pun menghabiskan banyak waktu bersama bahkan sampai magrib seperti ini.
__ADS_1
Aku mengajak Romi ke berbagai tempat kuliner favoritku saat jaman SMA dulu. Sedikit cerita, dulu aku sering sekali bersama sahabat-sahabatku nongkrong di tempat-tempat ini hingga sore hari.
Dan sekarang gantian aku yang mengajak Romi untuk datang ke sini. Dan Romi adalah orang pertama yang aku ajak ke tempat-tempat seperti ini selain sahabat-sahabatku.
Jangan kalian tanyakan Adrian. Pria itu mana mau aku ajak ke sini, dia bahkan selalu menolak jika aku ajak untuk makan di tempat-tempat kuliner pinggir jalan seperti ini.
Adrian selalu menganggap bahwa kuliner jalanan seperti itu tidak bersih dan tidak sehat sama sekali. Baginya makan, di restoran mewah lah tempat yang aman dan tepat. Huh! dasar orang kaya.
Okey kembali ke ceritaku bersama Romi.
Bahkan setelah makan dan merasa kenyang, kami pun pergi ke beberapa tempat wisata di daerah Surabaya yang begitu menakjubkan. Aku juga bahkan baru tahu kalau ada tempat seperti ini. Kata orang sih ini tempat terbaru. Pantas saja aku tidak tahu.
Di sana Romi kebetulan juga membawa cameranya, sehingga pria itu memfotoku beberapa kali. Dan bukan hanya itu saja, bahkan kami juga sempat mengambil beberapa foto bersama dengan latar belakang pemandangan yang begitu indah di sore hari.
Apalagi senja nya itu begitu sangat cantik. Aku sangat mengagumi karya Tuhan yang begitu luar biasa ini.
Aku duduk di samping Romi sambil melihat senja yang mulai menghilang dan digantikan oleh gelap dan bintang-bintangnya.
"Kamu senang?" Tanya Romi menatap dari arah samping.
"Hmm, aku senang banget. Makasih ya Rom, udah bikin aku senang hari ini. Padahal tadinya aku tuh nggak ada mood baik sama sekali."
"Iya sama-sama. Kamu tuh lebih baik tersenyum tulus kayanya gini tau. Senyuman yang berasal dari hati adalah senyuman terbaik."
Aku hanya menanggapi ucapannya sambil tetap tersenyum dan mengalihkan tatapanku pada bintang-bintang di langit yang sudah mulai bermunculan.
"Bintang-bintangnya cantik ya." tanya Romi.
Aku menyetujui nya. "Iya,cantik banget."
"Kaya kamu."
"Hah?!" Apa aku salah dengar?
"Bukan apa-apa kok. Lupain aja," balas Romi.
Aku pun tidak lagi menanggapi ucapannya.
Tak lama hp ku tiba-tiba bergetar, menandakan ada sebuah pesan yang masuk.
Aku menyerit kebingungan, melihat nomor tak dikenal yang masuk di notifikasi hp ku.
Nomor tak dikenal
Saya tidak lagi mengabari kamu, bukan berarti kamu bisa berkencan dengan pria lain. Saya bahkan mengetahui semua yang ingin kamu sembunyikan dari saya. Dan ingat, saya ini bukan pria bodoh.
Saya hanya berharap, setelah ini kamu akan kembali bersama saya lagi. I Miss you so bad sweetie.
__ADS_1
Aku tahu ini siapa. Siapa lagi kalau bukan pria itu. Menyebalkan sekali.