Setelah Bercerai

Setelah Bercerai
BAB 21 FLASHBACK 2


__ADS_3

Pukul 10.15 pagi ...


Kini Freya sudah berada di rumah orang tua Adrian, Mommy Sarah.


Dan sesuai dengan apa yang Mommy Sarah katakan sebelumnya, bahwa hari ini tidak ada arisan ataupun kumpul-kumpul bersama teman-teman mommy. Hal itu membuat Freya bisa bernafas lega.


"Bagaimana kabar kamu dan Adrian?" Tanya mommy Sarah yang duduk di samping Freya.


"Alhamdulillah, baik mom. Mommy dan Daddy juga apa kabar?"


"Alhamdulillah, baik juga. Mommy senang, akhirnya kamu bisa main lagi ke rumah ini." Mommy tersenyum menatap Freya.


"Iya mom. Freya juga senang banget dan maaf ya mom. Akhir-akhir ini Freya nggak bisa ke sini," jawab Freya dengan tatapan bersalah.


"Its okey sayang. Mommy ngerti kok." Mommy mengelus lembut rambut panjang Freya.


Tak lama seorang wanita paruh baya datang mengantarkan dua buah cangkir berisi teh dan beberapa cemilan.


"Makasih ya Mbok Ina." Ucap mommy kepada wanita paruh baya yang diketahui bernama mbok Ina. ART di rumah orang tua Adrian.


"Mom. Kan Rea udah bilang tadi, nggak usah repot-repot." Freya sebenarnya tidak mau merepotkan dengan dibuatkan minuman, karena dia sudah memiliki janji dengan butik langganannya untuk pergi mencari dress yang akan dia gunakan di acara dinner nya bersama Adrian malam ini.


Dan hal itu sudah Freya katakan pada mertuanya sebelumnya. Jadi, dia tidak bisa berlama-lama di rumah mertuanya.


"Ohiya, mommy lupa kalau kamu habis ini harus ke butiknya Tante Anggun ya. Selamat ya sayang, nggak terasa pernikahan kamu dan Adrian sudah memasuki usia pernikahan yang ke tiga tahun."


"Mommy doakan semoga kalian langgeng terus ya, sampai maut memisahkan," lanjut Mommy.


"Amin mom."


"Dan tentunya semoga kalian cepat kasih cucu ke mommy. Lagian mommy tuh terkadang iri banget lho sama temen-temen mommy, yang selalu ceritain tentang kelucuan cucu-cucu mereka." Dengan antusias nya mommy Sarah menceritakan itu semua kepada Freya.


Membuat Freya merasa bersalah, seharusnya dia dan Adrian sudah memberikan cucu untuk mertuanya. Dan entah kenapa sudah tiga tahun ia dan Adrian menikah, tetapi mereka masih belum juga dikaruniai keturunan.

__ADS_1


Freya menunduk kemudian berucap. "Maafin Freya mom."


Mommy tersenyum lembut. "Nggak apa-apa sayang. Mungkin belum rezekinya kalian berdua untuk memiliki anak. Seharusnya mommy yang minta maaf karena selalu ngomong ini ke kamu."


"Nggak mom, Freya yang harusnya minta maaf sama mommy dan daddy karena belum bisa menjadi menantu yang baik buat kalian."


Mommy menggeleng kemudian membawa Freya ke dalam pelukan hangatnya. "Its okey sayang."


Freya dan mommy Sarah pun berbincang-bincang sebentar sebelum Freya memutuskan untuk pamit pergi ke butik. Walaupun waktu nya tidak banyak, tetapi banyak hal yang mereka bicarakan. Mulai tentang Adrian dan hal lainnya lagi yang mereka bahas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di satu sisi Adrian baru saja selesai mengadakan rapat untuk membahas proyek besar yang akan dia kerjakan bersama perusahaan milik sahabatnya, Vania dan beberapa perusahaan lainnya.


"Aku harap proyek kita ini bisa berjalan sesuai dengan rencana dan akan berjalan lancar ke depannya. Senang bisa kerjasama lagi sama kamu, Rian." Vania menjabat tangan Adrian.


Karena sudah bersahabat sejak lama, membuat Vania terbiasa memanggil Adrian dengan sebutan 'Rian'. Dan sekedar informasi Adrian, Vania dan Sam itu sudah sahabatan lama, hingga akhirnya kini mereka menjadi partner kerja.


Dan rapat hari ini yang mereka lakukan berjalan lancar, hal itu membuat Adrian dan Vania merasa sangat puas.


"Ohiya bagaimana untuk merayakan ini semua, kita rayakan dengan makan siang bersama. Aku, kamu dan juga Sam. Kita juga bisa mengajak mbak Freya kan." Dengan antusiasnya Vania berucap seperti itu.


"Emm, Freya nggak masuk hari ini Van. Lagi ada urusan lain, jadi nggak bisa masuk," ucap Adrian.


"Ah gitu ya. Yaudah kalau gitu kita bertiga aja, nggak apa-apa kan? Lagian kalau difikir-fikir kita itu udah jarang banget lho makan bareng. Jadi kangen jaman-jaman kita sekolah dulu."


"Okey, kalau begitu. Sam, kamu carikan tempat yang tepat untuk kita makan siang," perintah Adrian dan langsung disetujui oleh Sam.


Sam pun langsung pergi meninggalkan Vania dan Adrian sendiri di ruangan Adrian. Sam pergi untuk menghubungi beberapa restoran yang masih kosong untuk mereka bertiga makan siang. Mengingat ini adalah hari Senin dan tepat sekali dengan jam makan siang, maka akan sedikit susah untuk menemukan beberapa restoran bintang lima yang masih memiliki tempat kosong.


"Hmm, Rian ...," panggil Vania kepada Adrian yang kini tengah fokus pada layar tablet nya.


"Ya, ada apa Van?"

__ADS_1


"Beberapa hari ini, Daffa sering banget nanya-nanya soal kamu. Dia pengen banget ketemu sama kamu. Kalau kamu ada waktu, bisa nggak luangkan waktu kamu sebentar untuk bertemu dengan Daffa," ucap Vania.


Adrian mengalihkan tatapannya menatap Vania.


Pria itu tersenyum sebentar. "Nanti ya, aku berusaha untuk mencari waktu kosong agar bisa menemui Daffa. Aku juga sudah sangat merindukan kecerewetan Daffa."


Vania tertawa kecil. "Aku yakin deh, Daffa pasti akan senang banget kalau ketemu sama kamu."


Adrian mengangguk. "Ohiya, tapi mau sampai kapan kamu mau menyembunyikan tentang Daffa sama orang-orang. Mengingat yang tahu tentang Daffa cuma aku, kamu dan Sam."


"Aku yakin, mommy pasti akan menerima Daffa jika dia tahu bahwa Daffa adalah cucu pertamanya," lanjut Adrian.


"Iya aku tau itu kok. Tapi, aku rasa belum saatnya Rian. Aku hanya takut saja, jika mommy dan daddy kamu hanya bisa menerima Daffa. Dan tidak bisa menerima kehadiranku. Mengingat kejadian beberapa tahun silam, pasti mommy akan sangat benci kalau ketemu sama aku." Vania meneteskan air matanya.


Rasanya begitu sakit, ya wanita itu belum bisa melupakan kejadian beberapa tahun silam. Di tambah lagi dia harus mengurus Daffa sendirian, Daffa adalah putranya yang masih berusia 5 tahun.


Adrian berpindah tempat duduk dan langsung duduk di samping Vania, mengelus-elus punggung wanita itu untuk menenangkannya.


"Kamu tenang aja, ada aku. Dari lima tahun lalu, aku sudah janji kan sama kamu, semenjak kejadian itu. Aku akan selalu ada buat kamu Van, kamu nggak sendirian. Ada aku yang akan selalu membela kamu. Okey."


Vania mengusap air matanya kasar kemudian mengangguk. "Makasih ya Rian, kamu selalu ada buat aku dan Daffa. Kamu selalu ada di saat kami berdua membutuhkan kamu, makasih."


Adrian membawa Vania ke dalam pelukannya.


"Tapi mau sampai kapan kamu mau menyembunyikan ini juga dari Freya? Freya itu istri kamu Rian, dia berhak untuk tau ini semua."


"Secepatnya aku akan jelaskan ke Freya. Mungkin malam ini, kebetulan malam ini kami berdua akan dinner untuk merayakan ulang tahun pernikahan kami yang ke 3 tahun."


Vania terkejut. "Wah! Ohiya aku lupa, hari ini adalah hari pernikahan kalian. Selamat ya Rian, aku doakan semoga kalian berdua langgeng ya. Dan cepat dapat momongan, biar nanti mommy Sarah bisa punya cucu. Sesuai dengan keinginan beliau."


"Thanks Van. Tapi walaupun aku dan Freya belum punya anak, tapi mommy kan udah punya satu cucu. Yaitu Daffa sebagai cucu pertama mommy dan daddy."


"Tapi kan mommy cuma mengharapkan cucu dari kamu dan Freya sebagai cucu pertama keluarga Mahesa. Lebih tepatnya cucu sah keluarga Mahesa."

__ADS_1


"Daffa juga termasuk cucu mommy dan daddy. Ingat itu, nggak ada penolakan." kekeuh Adrian meyakinkan Vania.


__ADS_2