Setelah Bercerai

Setelah Bercerai
BAB 27 DAFFA


__ADS_3

"Dan sampai kapanpun kamu juga nggak akan bisa pergi dari hidupku. Karena kamu adalah cintaku dan milikku." Adrian mengembangkan senyumannya.


"Kamu mungkin akan marah besar begitu mengetahui rencanaku ini. Tapi aku yakin, kamu juga pasti akan berterima kasih padaku suatu saat nanti. Dan maaf untuk semuanya Rea karena aku terlalu egois."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


FREYA POV


Setelah mendengarkan penjelasan Adrian tentang fakta bahwa kami sebenarnya belum resmi bercerai, membuat aku menggeleng-gelengkan kepalaku tak percaya.


Bagaimana bisa?


"Nggak! KAMU BOHONG MAS!" Aku menaikkan suaraku satu oktaf lebih kencang dari yang tadi.


Sambil menatap Adrian, air mataku tak henti-hentinya mengalir deras.


Aku bahkan tak habis fikir dengan jalan fikiran Adrian. Bagaimana bisa dengan nekatnya dia melakukan hal seperti ini? Dia bahkan sampai memalsukan surat perceraian kami dan terlihat seolah-olah surat perceraian itu asli.


Semua Adrian lakukan untuk mempertahankan aku agar tetap bersamanya? Huh, kebohongan apa lagi ini.


"Rea, kamu tenang dulu nak. Ingat kamu itu sedang mengandung. Nggak baik kalau teriak-teriak gitu, apalagi di depan suami kamu seperti ini." Mama mengelus lembut punggungku, agar dapat meredakan emosiku yang kini sudah sangat menggebu-gebu terhadap Adrian.


"Dia bukan suamiku mah." Aku menatap Adrian tajam.


"Jangan ngomong kaya gitu nak, nggak baik. Biar bagaimanapun kalian ini belum resmi bercerai, status kalian masih suami istri." Kali Papa yang berbicara.


"Lebih baik, sekarang kita selesaikan semua masalah ini secara baik-baik," lanjut Papa dengan begitu tenangnya.


Papa memang seperti itu orangnya, selalu menghadapi semua permasalahan dengan tenang. Berbeda dengan aku yang selalu emosi dan marah begitu dihadapkan dengan masalah besar seperti ini.


"Nggak bisa Pa. Rea udah terlanjur sakit hati dengan apa yang udah Adrian lakukan ke Rea. Papa dan Mama pasti ingat kan, kenapa Rea bisa sampai menggugat cerai Mas Adrian?"


"Dia selingkuh Pah, selingkuh. Selingkuh sama cewek yang udah aku anggap sebagai saudara aku sendiri. Dan itu semua, Rea saksikan dengan mata kepala Rea sendiri. Rea lihat langsung semuanya ...." Hatiku begitu ngilu seperti teriris-iris mengingat kembali kejadian beberapa bulan lalu.


"Tapi nggak ada salahnya kan, kita dengarkan penjelasan nak Adrian dulu. Sekarang Mama tanya sama kamu, setelah kejadian malam itu ... apa kamu pernah meminta penjelasan dari nak Adrian dan alasan kenapa Adrian berada di hotel itu bersama Vania? Apa pernah? Hmm," ucap Mama.


Aku menggeleng lemah, karena memang dari awal aku benar-benar tidak mau mendengar apapun penjelasan yang keluar dari mulut Adrian.


"Nah itulah salah kamu. Kamu nggak mau mendengarkan nak Adrian, alhasil seperti ini kejadiannya. Coba saja, dari awal kamu mendengarkan semua penjelasan Adrian. Pasti nggak bakalan berakhir seperti ini. Setiap masalah harus di selesaikan dengan kepala dingin Re, jangan main asal nuduh aja."


"Okey. Jadi Mama sama Papa lebih memilih untuk belain mas Adrian dibandingkan aku anak kandung kalian?"


"Bukannya gitu k-"


"Okey fine. Belain aja terus menantu kesayangan kalian ini. Dan ya, aku yang salah di sini. Puas kan!" Aku langsung berlari menuju lantai dua, dimana kamarku berada.


Aku sempat mendengar juga Adrian ingin menyusulku tetapi segera di cegat oleh Mama. Mungkin karena kondisi saat ini tidak memungkinkan untuk Adrian untuk menghampiriku.

__ADS_1


Aku membanting pintu kamarku. Kemudian menangis sejadi-jadinya di dalam kamar.


Ya yang aku inginkan sekarang hanya ingin menangis dan menangis saja.


Dan Kini luka lama itu kembali terulang di dalam benakku. Aku ingat dengan jelas dan detail semua kejadian waktu itu.


Kejadian yang sekaligus membuat hidupku banyak berubah.


Setelah puas menangis, aku teringat akan satu hal. Dengan kasar aku menghapus sisa-sisa jejak air mataku yang masih membasahi pipiku.


Mengambil air minum dan meneguknya hingga setengah agar suaraku yang serak bisa sedikit berkurang.


Dengan tergesa-gesa, aku langsung mencari keberadaan ponselku dan langsung menghubungi seseorang.


"Hallo, Sat. Gimana? Besok atau lusa aku udah bisa pergi?" tanyaku begitu Satria mengangkat sambungan telponku.


"...."


"Okey, makasih ya Sat."


"..."


"Tenang aja, besok aku bakalan temuin dokter Laras kok. Dia udah ngasih info kalau besok dia bakalan ada praktek di Surabaya dan pengen aku datang ke sana. Dia juga udah tau kalau aku lagi hamil." Aku menunduk sebentar.


"....."


"...."


"Iya, bye."


...ΩΩΩΩΩΩkhawatirin...


"Bun ... Bunda," panggil seorang anak kecil yang begitu sangat imut dengan pipi gembulnya.


Wanita yang dipanggil Bunda oleh anak kecil itu langsung menoleh dan mendapati putra kecilnya itu yang kini sudah duduk bersamanya di sofa.


"Eh, anak Bunda. Gimana pr nya udah selesai dikerjakan?"


Anak itu mengangguk dengan antusias. "Udah dong Bun."


"Good job my baby boy." Wanita itu mencium pipi gembul putranya.


Ya, wanita itu adalah Vania dan anak yang di ciumnya adalah Daffa. Putranya yang begitu sangat mirip dengan Ayahnya.


Bahkan ketika melihat wajah Daffa, Vania selalu teringat akan semua kenangan lampau nya bersama Ayah nya Daffa, entah itu kenangan buruk maupun kenangan yang penuh kebahagiaan.


Dia begitu mencintai pria itu, sampai-sampai merelakan pria itu untuk pergi darinya. Andaikan saja, Tuhan merestui mereka untuk bersama selamanya. Mungkin saat ini, Vania akan menjadi wanita terbahagia di muka bumi ini.

__ADS_1


Dan mungkin saat ini juga Daffa bisa memiliki keluarga lengkap seperti yang selalu Daffa impi-impikan.


"Yaudah, gimana kalau sekarang kita tidur aja. Nanti Bunda bacain kamu dongeng kesukaan kamu, gimana?"


"Hmm, okey deh Bunda." Daffa terlihat begitu sangat bahagia.


"Bunda ...," panggil Daffa lagi setelah mereka sampai di kamar Daffa yang bernuansa luar angkasa.


"Iya sayang." Vania tersenyum manis.


"Kok sekarang Papa An udah nggak ke sini lagi ya, bawain Daffa mainan." Daffa tertunduk lesu.


Ekspresi Vania langsung berubah muram, tetapi sebaik mungkin Vania langsung sembunyikan ekspresi muramnya itu dari putranya.


Agar putranya tidak terlalu bersedih, karena Adrian yang sudah tak datang lagi untuk bermain dan membawakan Daffa mainan akhir-akhir ini.


Padahal dulu Adrian selalu menyempatkan waktu nya untuk datang ke rumah Vania dan membawakan berbagai macam mainan untuk putranya itu, bahkan terkadang sering sekali membawa Daffa jalan-jalan.


Huh, andaikan kejadian waktu itu tidak terjadi. Pasti tidak akan serumit ini.


"Hmm, Daffa kangen ya sama Papa An?"


Daffa mengangguk.


"Eh ... yaudah deh. Gimana kalau besok kita ke kantor Papa An aja. Kita temuin Papa An, soalnya Papa An nggak bisa kalau harus datang ke sini lagi sayang."


"Lho ... kenapa Bun?"


"Hemm. Karena ... ya karena akhir-akhir ini Papa An tuh lagi sibuk banget ngurusin pekerjaannya. Jadi nggak punya waktu deh buat ke sini."


"Yah, sayang banget. Padahal Daffa pengen banget cerita banyak hal sama Papa An."


"Yaudah, ceritanya ke Bunda aja."


"Nggak ah! Daffa mau nya sama Papa An, sama Bunda nggak seru."


"Eh tapi Bunda janji kan. Kalau besok kita bakalan ke kantor Papa An." Daffa menjulurkan jari kelingkingnya dan disambut baik oleh Vania. Ibu dan anak itu kini sudah saling berjanji untuk bertemu Adrian di keesokan harinya.


"Janji sayang. Nah, maka dari itu sekarang Daffa tidur ya. Biar besok bangunnya seger, trus kita bisa pergi deh ke kantor Papa An."


"Yeeeyyy, asik. Besok Daffa bakalan ketemu sama Papa An! Yeeeeyyy, makasih ya Bund." Daffa dengan antusiasnya langsung memeluk Bundanya dengan begitu erat.


"Daffa senang?"


"Senang banget dong Bund."


"Love you Bunda."

__ADS_1


"Love you to my baby boy." Sekali lagi Vania mengecup pipi gembul Daffa.


__ADS_2