
Setelah kepergian Adrian, aku langsung masuk ke dalam rumah. Menuju kamarku, dengan langkah gontai aku masuk dan mengunci kamarku dari dalam.
Merebahkan tubuhku di atas ranjang membuatku sedikit merasa lebih tenang.
Perlahan aku menarik nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya lagi secara perlahan. Hal itu aku lakukan secara berulang-ulang, sampai beberapa kali.
Dan entah kenapa kini ucapan Dokter Laras dan Adrian terngiang-ngiang bagaikan kaset rusak di dalam fikiranku.
Ini tidak bisa dibiarkan. Sadar Freya, sadar. Aku menepuk-nepuk kedua pipiku pelan. Berharap agar ucapan mereka bisa menghilang dari fikiranku.
Namun di tengah-tengah itu semua, tiba-tiba aku teringat sesuatu.
Ya, flashdisk yang tadi Adrian berikan untukku.
Jujur aku juga sangat penasaran dengan isi flashdisk itu.
Aku pun langsung bergegas mengambil leptop ku di atas nakas, membukanya dan langsung menyambungkan flashdisk itu dengan leptop ku.
Ada beberapa file yang terdapat di dalam flashdisk itu. Salah satunya adalah file yang menyatakan bahwa surat perceraian kami itu adalah palsu dan juga ada surat pembatalan perceraian dari pengadilan negeri Jakarta.
Tetapi aku sama sekali tidak tertarik akan hal itu, karena aku sudah tau bahwa aku dan Adrian benar-benar belum resmi bercerai.
Aku justru malah tertarik dengan satu dokumen file yang berisi beberapa video.
Dengan keberanian dan rasa kepo yang sudah mengebu-gebu. Aku langsung saja membuka video tersebut dan menontonnya.
Awalnya aku bersikap biasa saja, bahkan sampai mengucapkan beberapa kata kasar melihat video itu, aku tersenyum miris.
Di dalam video itu terlihat Adrian sedang memeluk Vania. Ah, kenapa aku harus menontonnya? Kalau ternyata ini hanya video yang akan menunjukkan kemesraan antara mereka berdua.
Tetapi naluri ku berkata bahwa aku harus melanjutkan untuk menonton video itu. Hingga beberapa saat kemudian, semua ekspresiku itu berubah ketika video itu berganti ke video selanjutnya.
Bahkan di dalam video CCTV itu juga terekam dengan jelas percakapan antara Adrian dan Vania.
Bahkan mereka berdua sempat menyebut berulang-ulang kali nama 'Daffa' dan seseorang lagi. Namun sayangnya aku tidak mendengar dengan begitu jelas nama orang yang mereka sebutkan setelah nama Daffa.
Wait, bukannya Daffa itu adalah anak dari Vania?
Tapi aku sangat penasaran dengan nama orang selanjutnya yang mereka sebutkan. Aku bahkan sampai mengulang-ulang rekaman video itu, tetapi hasilnya tetap sama. Tidak terdengar.
Aku mendengus kesal, kemudian melanjutkan pemutaran video. Kini aku sudah mengerti sedikit apa yang sebenarnya telah terjadi antara Adrian dan Vania.
Video berikutnya menunjukkan rekaman CCTV di ruangan kantor Adrian. Terlihat Vania datang menemui Adrian dan meminta maaf pada Adrian sambil menangis tersedu-sedu karena ulahnya, rumah tanggaku dan Adrian terancam hancur.
Dan aku baru tau hal ini. Ya iyalah, ini memang salahku juga sih karena tidak mendengarkan penjelasan Adrian dulu. Ya, tapi mau bagaimana lagi. Namanya juga wanita kalau melihat suaminya bersama wanita lain di hotel, pasti akan marah-marah lah.
Bahkan aku juga baru sadar kalau baju yang dikenakan Vania di dalam video itu adalah baju yang sama saat aku bertemu dengan Vania waktu itu di depan lift kantor Adrian, saat mengambil barang-barangku setelah mengundurkan diri dari perusahaan.
Ah, bodoh sekali aku.
Setelah menonton semua bukti-bukti video yang ada di dalam flashdisk itu, membuat aku merutuki diriku sendiri.
Jadi ternyata selama ini aku hanya salah paham?
__ADS_1
Ternyata Adrian dan Vania tidak benar-benar berselingkuh. Dan dengan gegabahnya aku langsung mengambil keputusan tanpa fikir panjang dan langsung menceraikan Adrian.
Untung saja perceraian kami tidak benar-benar terjadi.
Tapi apa yang harus aku lakukan sekarang?
Aku menutup dan menyimpan leptop ku kembali. Dan kembali merebahkan tubuhku ke atas ranjang.
Otakku kini sibuk memikirkan keputusan apa yang harus aku ambil.
Jika aku memilih untuk kembali bersama Adrian, maka itu akan lebih membuatnya terluka.
Jika aku memilih untuk tidak kembali bersama Adrian, maka justru itu akan membuatku terluka dan semakin merasa bersalah.
Ya, sejujurnya dari dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku belum bisa melupakan Adrian.
Aku masih mencintainya. Tapi cinta ini hanya akan membuat Adrian terluka di kemudian hari. Dan aku tidak menginginkan hal itu terjadi.
Aku tau Adrian begitu mencintaiku, makanya selama ini aku selalu bersandiwara di depannya bahwa aku muak dengan Adrian. Padahal sebenarnya tidak seperti itu.
Mulutku selalu berkata sesuatu yang sebenarnya tidak sejalan dengan hati dan fikiranku.
Dan sekarang aku menyesali semuanya. Andaikan saja aku waktu itu mendengarkan semua penjelasan Adrian. Pasti tidak akan serumit ini.
Setelah berfikir beberapa saat, aku akhirnya mengambil satu keputusan.
Sebuah keputusan besar yang akan aku ambil ini, aku berharap ini lah yang terbaik.
Sekarang aku tidak lagi memikirkan tentang diriku, tetapi lebih memikirkan tentang bayi yang ada dalam kandunganku sekarang.
Aku mengambil ponselku dan langsung menghubungi Satria.
"Hallo Sat ...,"
"Iya ada apa lagi Re? Adrian berulah lagi? Atau gimana?" tanya Satria dari seberang sana.
"Aku mau kamu batalkan keberangkatanku untuk sementara ke London."
"HAH!? APA?! Kamu yakin Re? Yaampun Re, aku tuh udah ngurusin semuanya dan bentar lagi bakalan selesai. Trus kamu malah batalin lagi. Ini udah yakin banget kamu Re?"
Aku mengangguk dengan mantap, walaupun Satria tidak akan melihatnya. "Iya Sat. Di tunda aja dulu. Kayanya sekarang aku nggak bisa berangkat deh."
"Kenapa Re? Apa karena Adrian? Oh ayolah Re, kamu nggak ingat kata-kata Dokter Laras?" tanya Satria lagi.
"Aku ingat kok, nggak mungkin aku lupa Sat. Tapi mungkin ini yang terbaik Sat, kamu bisa kan tundain semuanya lagi demi aku? Tolong kasih aku waktu ya Sat. Please."
Aku mendengar Satria menghela nafasnya gusar dari seberang sana.
"Okey, kalau itu mau kamu okey. Aku hanya bisa doakan yang terbaik untuk kamu Re. Tapi tetap ingat pesan Dokter Laras. Kita tuh ngelakuin ini karena kita care sama kamu Re."
"Iya, Sat. Aku tau itu kok. Thanks ya. Nanti aku kabarin lagi, okey. Bye."
"Iya Re. Bye."
__ADS_1
Setelah sambungan telpon dengan Satria terputus. Aku langsung mencari nomor seseorang.
Dengan menurunkan sedikit ego dan gengsi ku. Aku menekan tombol panggilan.
Untung saja nomor nya masih aku simpan.
Tak berselang lama, orang itu langsung mengangkat teleponku.
"Hallo Re. Ada apa? Kamu udah fikirkan dan pertimbangkan dengan baik semuanya?" Belum juga aku berbicara, tapi orang di seberang sana langsung menodongku dengan berbagai pertanyaannya.
"Nggak tau! Besok kita ketemu di Cafe dekat rumah, kita bicarakan semuanya di sana." Aku langsung memutuskan sambungan telpon sebelum orang itu menjawab ucapanku.
Biarkan saja, biar tau rasa. Bagaimana pun juga walaupun aku yang salah karena sudah salah paham. Tetapi Adrian juga salah di sini, siapa suruh berdua-duaan di kamar hotel membawa teman wanita lagi. Padahal niat Adrian hanya ingin membantu.
Tapi ya wanita siapa yang tidak akan curiga. Apalagi saat itu posisi mereka memang menunjukkan hal itu. Walaupun sebenarnya itu karena sedikit kecelakaan yang membuat tubuh Vania akhirnya terjatuh dan menindih tubuh kekar Adrian.
Dan tidak ada yang lebih dari itu. Cuma aku saja yang terlalu membesar-besarkan masalah dan membuatnya semakin rumit seperti ini.
Tak lama ponselku kembali berdering dan nama Adrian kembali tertera di layar ponselku.
Ingin sekali aku menjawabnya tetapi ego dan gengsi ku terlalu tinggi untuk hal itu.
Beberapa saat berlalu, ponselku kembali berdering sekali lagi. Dengan kesal aku mengangkat nya.
"Ada apa lagi sih mas? Aku mau istirahat, capek."
"Makasih ya!"
"Untuk apa?" Untuk apa Adrian berterima kasih padaku?
"Aku tau kamu udah berubah fikiran kan. Dan mau kembali bersama aku. Aku tunggu Re. Ya, aku selalu menunggu kedatangan kamu untuk kembali ke pelukanku."
"Belum tentu mas. Semuanya akan terlihat jelas di keesokan harinya setelah kita ketemu. Besok baru aku putuskan. Entah itu keputusan untuk kembali bersama atau ... keputusan untuk pergi. Aku harap kamu bisa terima dan menghormati keputusanku mas. Apapun itu nantinya." Aku menunduk sebentar, air mataku kembali mengalir.
Ah, sialan. Kenapa aku begitu cengeng seperti ini.
"Aku akan selalu menghargai keputusan kamu Re. Karena kamu udah tau semuanya, semua kebenarannya. Jadi sekarang apapun itu keputusannya, aku terima."
Aku mengangguk dengan air mata yang masih mengalir membasahi kedua pipiku.
"Itu adalah sebuah keharusan mas," ucapku dengan suara yang sedikit serak.
Aku yakin Adrian pasti sekarang sudah tau kalau aku sedang menangis.
Wanita bodoh! Kenapa bisa selemah ini sih. Kenapa harus menangis saat berbicara dengan Adrian.
"Jangan nangis Re. Please, aku cuma mau kamu bahagia. Stop keluarin air mata kamu hanya untuk menangisi keb*engsekan aku Re."
"Nggak! Aku nggak nangis kok. Lagian siapa juga yang nangis karena kamu, aku cuma lagi kelilipan debu aja. Mbok Tuti kayanya belum nyapuin kamar aku deh."
"Okey kalau gitu, I miss you and I love you Re. Cepat kembali bersamaku."
Aku memejamkan mataku. Kenapa bisa seperti ini? Aku sudah tidak sanggup lagi? Haruskah aku jujur kepada Adrian saja? Haruskah?
__ADS_1
Tapi aku takut ... takut Adrian akan semakin terluka.
"Hmm." Aku hanya bergumam, tak sanggup membalas ucapan Adrian lagi.