Setelah Bercerai

Setelah Bercerai
BAB 30 KEMBALI KE JAKARTA?


__ADS_3

Pagi ini aku bangun agak kesiangan, seperti biasanya. Mungkin ini termasuk hormon ibu hamil. Jadi setiap hari aku selalu saja bangun kesiangan dan selalu malas untuk melakukan kegiatan apa saja di pagi hari.


Aku mengusap-usap mataku, mencoba untuk menyesuaikannya cahaya matahari pagi yang masuk dengan retina mataku.


"Rea! Kamu udah bangun nak!" Panggil Mama dari luar sambil mengetuk-ngetuk pintu kamarku.


"Iya Ma," jawabku.


Mama masuk dengan pakaian yang sudah rapi. Biasalah, kalau sudah rapi seperti ini pasti Mama akan pergi ke restoran.


"Mama pergi dulu ya sayang. Sarapan kamu udah Mbok Tuti siapkan di meja makan. Jangan lupa juga minum susu khusus buat Ibu hamil yang udah Mama beli kemarin ya. Nanti kamu minta aja ke Mbok Tuti," jelas Mama panjang lebar.


Aku mengangguk mengiyakan ucapan Mama. Lagipula aku juga tidak bisa untuk menolak ataupun membantah setiap ucapan Mamaku.


Mama tersenyum kemudian mengecup keningku dan langsung pergi dari kamarku.


Setelah kepergian Mama, aku langsung bangkit berdiri dan langsung menuju kamar mandi untuk melakukan ritual pagi ku seperti biasanya.


Ya walaupun, aku sebenarnya sangat malas. Tetapi kalau tidak menyikat gigi dan mandi di pagi hari, maka badanku akan sangat lengket dan membuat aku semakin bertambah malas untuk bergerak.


Setelah selesai mandi dan rapi. Aku langsung menuju lantai bawah untuk sarapan.


Di sana sudah tersedia beberapa makanan kesukaanku dan susu hamil yang sudah dibuatkan oleh Mbok Tuti.


Walaupun itu adalah makanan kesukaanku, tetapi entah kenapa sekarang aku tidak mempunyai selera sedikit pun untuk memakannya.


Aku justru hanya meminum susu hamil yang dibuat Mbok Tuti hingga tandas tak bersisa.


Setelah itu menuju ruang keluarga.


"Lho, non Rea nggak dimakan sarapannya?" Tanya Mbok Tuti sambil menatapku heran.


Karena tumben sekali aku menolak untuk memakan makanan yang sangat aku sukai.


"Nanti aja Mbok. Rea udah kenyang minum susu tadi. Biasalah mbok, bawaan Ibu hamil."


Mbok Tuti tersenyum memaklumi. "Yaudah non. Tapi kalau non pengen makan, panggil Mbok aja ya. Mbok di belakang."


Aku mengangguk. Mbok Tuti pun pergi.


Aku mengotak-atik remot TV untuk menemukan acara yang bagus untuk aku tonton, tetapi sayangnya tidak ada sama sekali.


Aku mendengus, benar-benar sangat membosankan.


"Duh, kok jadi laper ya! Tapi aku nggak mau makan makanan yang ada di sini." Aku mengelus-elus perutku yang sudah mulai sedikit membuncit.


"Ishh, kenapa aku jadi pengen makan makanan buatan Adrian ya. Aduh nak, jangan kaya gini dong. Kamu kan tau kalau Mama sama Papa kamu ini lagi marahan, gimana sih." Aku bermonolog dengan bayi yang ada di dalam perutku.


Ya walaupun aku tau bahwa dia tidak akan mendengarkannya. Tetapi aku hanya ingin bermonolog dengan anakku saja.


Lagian kenapa anakku harus membuatku ngidam makanan buatan Adrian sih. Padahal selama ini aku lumayan sangat jarang lho untuk ngidam. Ya kalau mentok ya paling cuma mual-mual doang. Selebihnya enggak ada.


"Maafin Mama ya sayang. Kayanya kali ini Mama nggak bisa memenuhi keinginan kamu deh. Mama nggak bisa kalau harus nelpon Papa kamu yang nyebelin itu, apalagi di jam kerja kaya gini. Jadi Mama harap kamu bisa ngertiin posisi Mama saat ini ya." Aku kembali mengelus-elus perutku.

__ADS_1


"REAAAA!"


Tiba-tiba seseorang datang dengan teriakan suaranya yang melengking, membuatku berulang kali mengusap telingaku. Jangan sampai aku tuli hanya karena suara cempreng sepupuku ini.


Ya, aku tau pemilik suara itu tanpa harus melihat orangnya terlebih dahulu. Dia adalah Reina atau biasa aku memanggilnya dengan sebutan Rein, sepupuku.


"Yaampun Rein, kalau datang itu ngucapin salam kek. Ini malah teriak-teriak nggak jelas, ingat kamu itu sekarang lagi hamil besar lho Rein. Kalau tiba-tiba kamu lahiran di sini gimana," omelku.


Kalau kalian lupa, Reina juga sedang hamil. Tepatnya sedang hamil besar, mungkin beberapa minggu lagi dia akan melahirkan. Mengingat waktu terakhir kali aku bertemu Reina, usia kehamilannya sudah memasuki usia kehamilan yang ke 7 bulan.


Reina hanya cengengesan mendengar ucapanku, kemudian langsung duduk di sampingku dan meletakkan beberapa bungkusan yang dia bawa ke atas meja.


Aku melirik bungkus itu dan bertanya. "Kamu bawa apaan?"


"Oh ini. Biasalah cemilan gitu buat Ibu hamil baru kaya kamu. Di jamin kamu bakalan suka deh, lagian cemilan ini juga sehat kok."


Aku membuka bungkusan itu dan menemukan beberapa kotak rujak. Aku berdecak. "Ini mah sehat karena ada buah-buahan nya, tapi bumbu nya bisa bikin sakit perut Rein."


"Iya sih. Tapi bakalan enak kok, apalagi ada asam-asam nikmat nya gitu. Mending kamu cobain deh, soalnya kebanyakan Ibu-ibu hamil itu suka ngidam yang kaya ginian. Wait, emang kamu nggak ngidam makan rujak gitu selama ini?"


Aku menggeleng.


"Jangan bilang kamu nggak pernah ngidam lagi!"


"Ya ... pernah sih."


"Kapan?"


"Sekarang. Nggak tau kenapa ya Rein. Aku tuh pengen banget sekarang makan makanan yang di masak langsung sama Adrian."


"Hmmm, maybe. Tapi udah lupa juga sih, soalnya aku jarang banget ngidam makanan gitu. Kalau ngidam nonton drakor sih iya."


Reina menoyor kepalaku. "Yeh, itu mah mau kamu. Bukan ngidam itu mah."


"Eh, ngomong-ngomong soal Kak Adrian. Jadi gimana?"


"Gimana apanya?" Tanyaku sambil mencomot satu potong rujak yang entah sejak kapan di buka oleh Reina.


"Tadi katanya nggak mau, sekarang malah di comot," Reina menatapku kesal.


"Daripada kamu makan sendiri, ya aku bantuin aja biar cepat abis," jawabku asal. Lumayan juga rasa dari rujak ini.


"Pinter banget nyari alasannya. Maksudnya aku itu, jadi gimana sama kelanjutan hubungan kalian. Aku denger dari Mama Gina, katanya kalian belum resmi cerai."


"Iya. Lagian sekarang aku tuh malah nyesal banget Rein," ucapku lesu.


"Nyesal kenapa?"


"Karena nggak mau dengerin penjelasan Adrian dulu waktu itu dan main asal ambil keputusan aja."


Reina menoyor kepalaku pelan. "Makanya kalau Kak Adrian jelasin tentang kebenaran yang sebenarnya itu dengerin Re. Bukannya kabur, trus gugat cerai. Nggak ada otak emang."


"Makanya aku akuin kalau aku salah. Dan rencananya siang ini juga aku bakalan ketemu sama Adrian."

__ADS_1


Reina hanya mengangguk menanggapi ucapanku.


"Eh, tapi kamu mau ketemu sama Kak Adrian bukan karena mau minta perceraian yang sesungguhnya kan Re." Reina menatapku penuh selidik.


Aku menggedikan kedua bahuku, lalu menatap wajah penasaran Reina.


"Kita lihat aja nanti." Aku tersenyum. Senyuman paksa sebenarnya.


"Ngeselin!" umpat Reina. Wanita itu kembali memakan rujak yang dibawanya dengan kesal.


"Jujur aku nggak rela lho kalau kamu sampai beneran minta cerai sama Kak Adrian. Padahal Kak Adrian nggak salah apa-apa. Aku adalah orang pertama yang paling nggak setuju."


Beberapa saat kemudian tiba-tiba ponselku berdering.


Aku mengambil dan melihat sebuah nama yang tertera di layar ponselku.


"Siapa?" tanya Reina.


"Adrian." Aku langsung mengangkat telpon dari Adrian.


"Hallo ada apa Mas," ucapku sebaik mungkin.


Karena tidak ada gunanya juga kalau aku ketus-ketus bicaranya dengan Adrian yang masih berstatus sebagai suamiku.


"Hum, Rea. Mas kayanya nggak bisa ketemu kamu deh hari ini. Soalnya tiba-tiba tadi pagi mas harus berangkat ke Jakarta, karena ada urusan yang harus mas selesaikan di sini."


"Oh yaudah, nggak apa-apa. Kita bisa bicarakan ini kalau mas udah punya cukup waktu."


Padahal aku ingin sekali bertemu Adrian.


"Nggak bisa Re. Mas mau secepatnya kita bicarakan ini, agar semua nya jelas. Sedangkan mas kayanya nggak bisa balik ke Surabaya lagi untuk beberapa hari ke depan."


Aku mendengus, lalu apa mau pria ini.


"Yaudah, kalau gitu mas maunya gimana? Apa kita bahasnya lewat telpon aja. Sekarang!"


"Nggak Re, nggak baik ngomong masalah rumah tangga lewat telpon. Gimana kalau kamu aja yang datang ke Jakarta. Nanti mas nyuruh Sam buat jemput kamu di Surabaya. Gimana?"


Aku terbelalak. What?! Ke Jakarta? Huh, malas sekali jika harus kembali ke Jakarta. Dan kalau aku kembali ke Jakarta, otomatis aku akan kembali ke rumah mewah Adrian.


Ya, di mana lagi. Tidak mungkin di apartemenku, kan sudah aku jual. Sebenarnya sah-sah saja jika aku kembali ke rumah itu, mengingat aku masih berstatus sebagai istri sah Adrian. Tetapi rasanya seperti ada yang sedikit berbeda jika harus kembali ke rumah itu.


Karena aku sudah terlalu nyaman di rumahku yang berada di Surabaya ini.


"Rea, kamu masih di sana kan," tanya Adrian dari seberang sana.


"Eh, i-iya mas. Hmm, tapi emangnya harus banget aku yang ke Jakarta?"


"Iya Re. Mau ya."


"Yaudah deh."


"Okey, mas tunggu kedatangan kamu ya. Love you."

__ADS_1


"Hmm."


__ADS_2