
"Tante ... biar aku saja yang mendonorkan ginjal ku untuk Rea."
Dokter Laras menghela nafas.
"Tidak bisa Satria. Rea pasti tidak akan setuju dengan keputusan kamu."
"Ah persetan dengan setuju atau tidaknya!! Kita kan bisa melakukan itu secara diam-diam tanpa sepengetahuan Freya. Katakan saja pendonor nya adalah orang lain bukan aku."
Melihat keras kepala sang keponakan, membuat Laras hanya bisa memijat keningnya. Satria begitu menyayangi Freya, hingga rela mengorbankan apa saja demi wanita malang itu.
"Maaf ... Tante tidak bisa melakukan itu. Kalau kamu mau, kamu bisa membujuk Freya agar mau untuk menerima pendonoran ini."
"Ck!! Sudah jelas dia akan menolak Tan."
...****************...
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Hari demi hari berlalu begitu saja.
Begitupun dengan kehidupan rumah tangga Adrian dan Freya. Semuanya berjalan lancar, penuh kebahagiaan dengan banyak rahasia yang masih mereka tutupi satu sama lain.
Belum ada yang saling mengutarakan rahasia yang mungkin akan menjadi bumerang dalam kehidupan rumah tangga mereka ke depan. Atau justru malah sebaliknya.
Rea yang menutupi penyakit yang diam-diam semakin mengerogoti tubuh nya dan Adrian yang masih menutupi tentang Ardan.
Ya, Ardan. Adiknya sendiri. Adik yang lahir akibat kesalahan Papa nya di masa lalu. Adik yang memutuskan hubungan dengan keluarga Mahesa semenjak beberapa tahun lalu hingga memutuskan untuk menetap di London.
Hingga suatu saat, Ardan memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Dan saat itulah semua permasalahan ini di mulai.
Dan semuanya saling berkaitan layaknya benang yang kusut. Ardan, Vania, Daffa, Freya, Adrian dan keluarga Mahesa. Hingga apa yang sebenarnya terjadi pada Ardan, hanya keluarga besar Mahesa dan Vania lah yang tahu.
Semua rahasia itu masih setia Adrian tutupi karena ada alasannya.
Saat ini juga usia kehamilan Freya sudah memasuki usia kehamilan yang ke 8 bulan. Dan itu artinya bulan depan Freya akan melahirkan anak pertama mereka ke dunia.
Adrian sangat bahagia akan hal itu. Dia bahkan dengan senang hati menyiapkan segala kebutuhan calon anaknya nanti. Semua sangat lengkap dengan kualitas yang cukup mumpuni.
Bahkan Adrian juga mengurangi jadwal kerjanya hanya untuk menemani Freya di rumah dan memiliki lebih banyak waktu untuk istirnya yang sedang hamil besar.
"Sayang ..." panggil Adrian ketika mendapati Freya di dapur.
"I-iya."
Freya sedikit kaget akan kehadiran Adrian yang sudah berdiri bersisihan dengan nya.
"Ada apa sayang?"
"Aku cariin malah di sini. Kamu lagi ngapain sih di sini hmm?" Adrian mendekati Freya, mengikis jarak diantara keduanya.
"Kamu jangan kebanyakan cape, harus banyak-banyak istirahat sayang. Kalau butuh sesuatu di dapur kan bisa minta tolong pelayan atau aku."
"Iya sayang."
Mata Adrian melirik ke tangan Freya.
"Itu apa?"
Refleks Freya menyembunyikan tangannya ke belakang.
"Ah bukan apa-apa sayang." Sambil tersenyum kikuk.
Freya sebenarnya sedang menyembunyikan botol obat yang baru saya dia minum.
__ADS_1
"Bukan apa-apa kok malah di sembunyiin. Mana aku mau lihat."
Freya segera mencegat tangan Adrian yang hendak mengambil botol itu dari tangan Freya.
"Bukan apa-apa sayang, ini cuma Pill vitamin kesehatan yang dikasih dokter buat aku. Katanya menjelang lahiran aku harus banyak-banyak minum vitamin."
Adrian menatap mata Freya.
"Yakin cuma vitamin?"
Freya mengangguk cepat.
"Iya sayang, cuma vitamin kok."
"Kalau cuma vitamin, aku mau lihat. Mana? Aku cuma mau memastikan vitamin yang kamu minum itu kualitas nya okey atau enggak."
Adrian menyodorkan tangan nya ke Freya, meminta botol obat tersebut.
Dan dengan berat hati terpaksa Freya harus memberikan botol tersebut kepada Adrian. Karena percuma saja jika Freya terus menyembunyikan itu, maka Adrian akan semakin curiga padanya.
Dia belum bisa jujur kepada pria itu. Pria yang teramat mencintai nya. Jikapun dia harus pergi, sebaiknya dia pergi secara diam-diam daripada harus membebani Adrian dengan penyakit nya.
Adrian menatap botol itu, kemudian kembali menatap manik mata Freya. Tatapan pria itu sangat misterius, sulit bagi Freya untuk menebak isi fikiran Adrian.
Adrian menghela nafas. Kemudian kembali memberikan botol obat tersebut kepada istrinya.
"Kamu harus banyak istirahat dan minum vitamin. Soalnya wajah kamu akhir-akhir ini makin pucat sayang dan tubuh kamu juga semakin kurus."
"Mungkin karena efek kehamilan sayang. Jadi kaya gini." Freya sambil mengelus perutnya.
Adrian hanya mengangguk menyetujui ucapan istrinya.
Adrian ternyata juga menyadari perubahan yang ada di dalam tubuh Freya. Semakin kurus dan pucat. Tidak seperti kebanyakan Ibu hamil lainnya.
...****************...
"REAAAAAA!!!"
Seperti biasanya aku sudah sangat hafal siapa pemilik dari suara cempreng itu.
"Kebiasaan banget, kalau datang nggak ngucapin salam dulu." Ucapku sambil meletakkan buku yang aku baca.
Reina menyengir kuda, lalu duduk di samping ku dan memelukku.
"Aaaaaa Kangennnnnn!!"
"Baru juga nggak ketemu 2 bulan Rein."
Terkadang memang sepupuku ini suka berlebihan.
"2 bulan itu lama Re."
"Iyain deh."
"Achel mana?" Tanyaku sambil celingak-celinguk mencari keberadaan anak Reina yang pipinya sangat gembul.
Kalian ingat? Waktu itu kan Reina sedang hamil besar dan dia sudah melahirkan seorang anak perempuan yang sangat amat menggemaskan bernama Rachael yang kini sudah memasuki usia ke 6 bulan.
"Sama susternya, paling bentar lagi masuk. Aku kan tadi lari dari depan rumah kamu karena saking kangen sama sepupu somplakku ini."
Aku hanya menggeleng. Walaupun sudah memiliki anak, tapi itu tidak membuat sikap kekanakan dan manja Reina hilang.
__ADS_1
"Terserah kamu lah Rein."
"Ngomong-ngomong kamu kok makin kurus sih Re. Kamu nggak dikasih makan sama Adrian ya?"
Reina memperhatikan ku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tatapan nya penuh selidik.
"Adrian ngelakuin KDRT ya sama kamu? Trus kamu nggak dikasih makan. Sampe-sampe wajah kamu pucat udah kaya hantu gini trus badan kamu juga semakin kurus."
Reina bahkan memegang kedua pipiku, menelisik wajah pucatku.
"AWWWW!!!""
Aku menyentil kening Reina, sangat gemas dengan ucapan dan ekspresinya.
"Sembarangan kalau ngomong!"
"Kamu tau kan Adrian sangat mencintai aku. Tidak mungkin dia ngelakuin hal yang nyakitin aku Rein."
"Trus apa kalau Adrian nggak kaya gitu sama kamu?"
"Bawaan Ibu hamil kali," jawabku seadanya.
"Bawaan Ibu hamil dari mananya. Nih ya setahu aku orang kalau hamil dan gizinya terpenuhi, badannya nggak sekurus dan sepucat kamu Re."
Aku mengedikkan kedua bahuku.
"Setiap orang hamil kan beda-beda Rein hormonnya. Mungkin ya aku kaya gini." Aku berusaha meyakinkan Reina.
"Nggak, nggak. Ini salah Reaaaa!! Kayanya kamu harus periksa lengkap deh ke dokter. Kita pergi sekarang aku temenin, biar Achel sama susternya." Reina hendak berdiri, namun langsung aku cekal.
"Aku udah tanya dokter dan dia ngomong kalau ini normal kok." Aku berusaha lagi untuk meyakinkan Reina, karena dia adalah tipe orang yang keras kepala. Apapun itu harus dia dapatkan jawaban yang pasti, jika tidak dia akan terus menggali hingga ke akar-akarnya.
Bisa bahaya kalau Reina tahu.
Reina menghela.
"Yakin nih?"
"Iya Rein."
"Kata dokter nggak ada apa-apa?"
"Nggak ada."
"Huh! Yaudah deh ... tapi perasaan aku kok enggak enak ya?" ucap Reina.
"Nggak enak gimana?"
"Ya nggak enak aja, aku takut terjadi apa-apa sama aku Rea."
"Nggak bakalan terjadi apa-apa sama aku Rein. Tenang aja. Semua akan baik-baik aja."
Reina mengangguk.
"Amin. Pokoknya kamu harus sehat-sehat terus. Kalau butuh apa-apa atau kalau mau cerita telpon aku aja Re."
"Iya."
Reina tersenyum.
"Achel!!" panggil ku begitu melihat kemunculan Racheal yang digendong susternya. Wajahnya sangat menggemaskan.
__ADS_1
Anakku juga pasti akan sama menggemaskan seperti Racheal nanti. Huh! Tapi akankah aku bisa melihat dia tumbuh sampai besar? Atau hanya ...