
"Kalau kamu nggak percaya sama apa yang aku ucapkan barusan. Kamu bisa tanya semuanya ke Sam langsung. Sam nggak mungkin akan berbohong Rea."
Aku menatap Sam, kemudian beralih menatap Adrian. "Mas, ini bukan waktunya untuk membicarakan semua kebohongan mas itu. Karena sampai kapanpun aku nggak bakalan percaya lagi sama apa yang mas ucapkan barusan."
"Tapi aku punya buktinya Rea. Aku bisa membuktikan semuanya ke kamu."
Dengan marahnya aku berdiri kemudian berjalan mendekati Adrian, menatapnya dengan tatapan datar yang dipenuhi oleh luka. Bahkan saking marahnya aku, kedua pelupuk mataku kini sudah berair. Ingin rasanya aku mengeluarkan semua kemarahan dan unek-unekku ini kepada Adrian sekarang juga, dan ingin sekali aku menangis histeris sekarang juga di hadapannya.
Menangisi hal yang sebenarnya tidak perlu Adrian pertahankan.
Ya aku, tidak layak untuk Adrian pertahankan. Karena aku bukanlah wanita yang pantas untuk Adrian, bahkan jika kembali bersamanya itu hanya akan membuat Adrian semakin terluka jika mengetahui tentang apa yang aku sembunyikan selama ini darinya.
Ah, seharusnya aku bisa menahan semua ini dan tidak mengatakan semua ini pada kalian. Karena selain Adrian yang mempunyai rahasia, sebenarnya aku juga memiliki sebuah rahasia yang akan membuat kalian kaget.
"Lebih baik sekarang juga mas Adrian dan Sam pulang! Karena aku nggak mau lagi mendengar kebohogan kalian. Dan aku juga nggak butuh tanggungjawab dari mas Adrian. Aku bisa mengurus anak ini sendiri tanpa sosok Ayahnya. Tanpa kamu anak ini juga bisa hidup mas dan dia juga pasti nggak butuh sosok Ayah seperti kamu!!"
Adrian menatapku kaget. Mungkin dia berfikir dan kaget kenapa aku dengan teganya bisa mengatakan hal menyakitkan seperti ini langsung di hadapannya.
"Rea! Jangan bicara seperti itu nak." Suara Papa terdengar begitu tegas.
"Sekarang lebih baik kamu duduk dulu dan kita dengarkan penjelasan Adrian!" perintah Papa padaku.
Aku pun kembali duduk di tempatku semula.
"Sekarang Papa minta penjelasan kamu sedetail-detailnya. Sebenarnya apa yang sudah terjadi Adrian? Jangan membuat Papa dan Mama kebingungan seperti ini nak." Papa menatap Adrian meminta penjelasan.
Adrian menghembuskan nafasnya, kemudian beralih menatap Sam.
Sam yang langsung tahu maksud Adrian pun langsung mengeluarkan beberapa lembar berkas dari amplop coklat yang dia bawa sedari tadi. Dan bodohnya aku baru menyadari hal itu.
"Semuanya sebenarnya hanya manipulasi ku saja Pah. Tentang perceraian aku dan Rea sebenarnya semua berkas-berkasnya sudah aku manipulasi. Papa bisa membuktikannya sendiri."
Adrian memberikan lembaran berkas itu kepada Papaku.
"Papa adalah orang yang sangat teliti dan tau mana yang asli dan yang nggak asli. Dan aku merencanakan ini semua juga karena yakin bahwa Papa juga nggak bakalan melihat surat perceraian kami, jadi aku bisa memanipulasi semua data-data ini sehingga perceraian kami nggak sah dimata hukum dan juga agama."
Aku terbelalak, bagaimana bisa ...,
Dan ya benar waktu perceraian kami terjadi. Aku memutuskan untuk tidak menghadiri sidang perceraian kami dan hanya diwakilkan oleh pengacaraku saja. Saat itu aku pergi menyusul Kakak keduaku yang berada di luar negeri untuk berlibur sekaligus menenangkan fikiranku.
Dan setelah sidang di putuskan, pengacaraku hanya memberikan kabar melalui telpon bahwa kini aku sudah resmi bercerai dengan Adrian. Dan surat perceraian kami akan segera ia kirim ke rumahku yang ada di Surabaya.
Surat perceraianku itu juga sama sekali tidak disentuh oleh Papa dan juga Mama ku. Mereka tidak melihatnya, karena ketika aku pulang ke Indonesia. Surat itu masih utuh dan langsung mereka kirimkan lagi ke Apartemen ku yang berada di Jakarta.
Karena waktu itu aku masih menetap di Jakarta setelah perceraian kami.
__ADS_1
Aku pun bahkan karena saking sakit hatinya, sampai hanya melihat sekilas surat perceraian itu dan menyimpannya tanpa di sentuh sama sekali sampai sekarang. Entah surat itu palsu atau benar, aku juga tidak tau.
Oh, sialnya kenapa aku bisa sebodoh ini. Jika benar apa yang Adrian katakan, maka akulah yang paling bodoh karena tidak memastikan hal itu.
"Adrian, coba kamu jelaskan lebih detail lagi tentang ini nak. Papa dan Mama butuh penjelasan kamu yang lebih detail lagi. Agar kami bisa mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi!"
Adrian mengangguk.
"Iya Ma. Jadi sebenarnya ...,"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
FLASHBACK ....
Hari ini, tepatnya di hari Rabu pukul 11.05 siang.
Sam mengetuk pintu Adrian, kemudian Adrian mempersilahkannya untuk masuk.
Sam menunduk sebentar kemudian berucap.
"Maaf tuan, saya baru saja mendapatkan surat dari pengadilan negeri tentang sidang perceraian nyonya dan tuan yang akan berlangsung lusa."
Sam meletakkan sebuah amplop berwarna coklat berisi surat itu di atas meja kerja Adrian.
Adrian tidak menggubris nya dan masih tetap fokus dengan pekerjaannya.
"Kalau begitu saya permisi dulu."
Tetapi sebelum Sam benar-benar melangkah pergi, Adrian berucap.
"Duduklah sebentar Sam! Aku membutuhkan mu." Adrian menatap Sam.
"Ta-tapi tuan-"
"Hanya ada kita berdua di sini dan kita sedang nggak membicarakan pekerjaan tapi kehidupan pribadiku Sam. Panggil saja Adrian seperti biasanya. Saat ini kamu bukanlah orang kepercayaanku tapi saat ini kamu adalah sahabatku."
"Baiklah. Jadi apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Sam kepada Adrian. Sam kini sudah duduk di hadapan Adrian dan sudah tidak bersikap formal lagi, tetapi tetap terlihat sopan.
Bagaimana pun walaupun Adrian adalah sahabatnya tapi Adrian tetap menjadi atasannya di kantor.
"Aku nggak mau cerai dari Rea! Kamu tau kan, bagaimana aku begitu mencintainya Sam!" Dengan wajah lesunya Adrian berucap.
"Lalu apa yang sedang kamu rencanakan? Kamu nggak mau cerai dari Rea kan, maka lakukan sesuatu untuk mencegah perceraian ini."
Ya memang benar. Adrian tidak ingin bercerai dari Rea. Freya Ranita Ganney adalah belahan dan separuh hidup Adrian. Dan Adrian tidak akan pernah bisa menceraikan Freya dan meninggalkan wanita itu.
__ADS_1
Apalagi pernikahan mereka juga baru berjalan 3 tahun. Masih terlalu dini untuk bercerai di usia pernikahan seperti itu. Apalagi dengan alasan yang sebenarnya tidak Adrian lakukan, semuanya hanya kesalahpahaman saja.
Adrian akui, bahwa Freya terlalu dini untuk mengambil keputusan untuk menggugat cerainya. Tapi apalah daya, keputusan istrinya itu sudah bulat dan tidak bisa Adrian ubah lagi.
Adrian juga tidak menduga bahwa ternyata kedekatannya bersama Vania sahabatnya, bisa berujung perceraian seperti ini. Padahal niat dari Adrian hanya ingin membantu Vania untuk merawat Daffa dan menyadarkan Vania yang waktu itu hampir saja lalai melakukan kesalahan.
Dan karena itu, semuanya berujung perceraian dan hancurnya rumah tangga Adrian bersama Freya.
"Aku udah nggak bisa membatalkan perceraian ini Sam."
"Lalu? Kamu akan tetap membiarkan perceraian ini terjadi dan menyerah begitu saja? Dan membuat Freya meninggalkan kamu? Oh ayolah An, jangan seperti ini. Mana Adrian yang aku kenal? Adrian yang selalu mempertahankan miliknya," omel Sam.
"Kamu masih sangat mencintai Freya begitu pun dengan Freya. Ini semua terjadi hanya karena kesalahan. Ayolah kamu bisa pertahankan rumah tangga mu. Jangan seperti ini An," lanjut Sam lagi.
Adrian mengambil amplop coklat yang dibawah Sam tadi. Kemudian mengambil surat itu dan merobeknya sampai berkeping-keping. Hal itu sontak membuat Sam terheran-heran.
"Aku mungkin memang nggak bisa mencegah perceraian ini terjadi, karena jika Freya mendengarnya dia pasti akan marah besar padaku dan semakin membenciku. Tapi Sam, aku bisa memanipulasi kan perceraian ini." Adrian mengangkat sudut bibirnya.
Sam mengangguk dan tersenyum, ini lah Adrian yang dia kenal.
"Ini baru Adrian yang aku kenal. Aku akan membantumu untuk memanipulasi perceraian ini dan pelan-pelan setelah Freya pulang dari luar negeri, kita akan kembali menyakinkan nya tentang kesalahanpahaman ini.
Dan mengatakan bahwa kalian berdua sebenarnya belum resmi bercerai," ucap Sam.
"Yup benar sekali Sam. Berapa pun akan aku bayar Sam pada pengacara Rea. Asalkan kamu harus bisa meyakinkan dia dan membuatnya bungkam. Jangan sampai juga dia datang ke persidangan nanti, dan datanglah ke pengadilan untuk membatalkan perceraian ini secara diam-diam. Juga satu lagi, buatkan surat perceraian palsu dan suruh pengacaranya untuk mengirimkan ke Surabaya. Karena Rea saat ini lagi di luar negeri."
"Dengan senang hati akan aku lakukan. Tapi gimana dengan Papa Rea? Dia orang yang sangat teliti, bagaimana kalau sampai dia mengetahui bahwa surat perceraian itu palsu."
"Mereka tidak akan melihat dan membuka surat itu. Bisa aku pastikan itu Sam. Dan Rea pun juga pasti nggak akan sadar kalau itu adalah surat perceraian palsu."
Sam mengangguk. "Kalau gitu aku akan segera mengurus semuanya."
"Ohiya, jangan lupa. Katakan pada pengacaranya itu untuk menghubungi Freya dan katakan pada Freya bahwa kami berdua sudah benar-benar bercerai."
"Dan satu lagi. Rahasiakan ini semua dari orang-orang," tambah Adrian.
Sam pun mengangguk mantap dan setelahnya segera pergi untuk melaksanakan perintah Adrian. Sebagai sahabat dan orang kepercayaan Adrian, Sam akan membantu Adrian dengan berbagai cara. Apapun itu.
Setelah kepergian Sam, Adrian berdiri dan mengambil bingkai kecil berisi foto pernikahannya dan juga Freya yang selalu dia simpan di atas meja kerjanya.
Adrian menatap foto itu, kemudian mengecupnya sebentar.
"Sampai kapanpun, aku nggak akan pernah melepaskan kamu Rea!"
"Dan sampai kapanpun kamu juga nggak akan bisa pergi dari hidupku. Karena kamu adalah cintaku dan milikku." Adrian mengembangkan senyumannya.
__ADS_1
"Kamu mungkin akan marah besar begitu mengetahui rencanaku ini. Tapi aku yakin, kamu juga pasti akan berterima kasih padaku suatu saat nanti. Dan maaf untuk semuanya Rea karena aku terlalu egois."