
POV ADRIAN
"Dinda, segera ke ruangan saya segera!" perintahku kepada Dinda, kemudian langsung menutup sambungan teleponnya.
Tak lama Dinda pun datang.
"Maaf ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya Dinda, karena memang semua berkas yang aku butuhkan tadi pagi sudah Dinda serahkan kepadaku.
Dan sebenarnya aku juga tidak berniat menyuruhnya yang berhubungan dengan pekerjaan saat ini.
"Belikan saya rendang segera untuk makan siang nanti," perintahku.
Sedangkan Dinda terlihat sudah melongo di tempat menatapku tak percaya.
"Pak. Maaf sebelumnya, ta-tapi ini Prancis Pak. Bukan Indonesia, bagaimana bisa saya menemukan rendang di negara ini. Bahkan saya pun tidak terlalu mengenal tempat ini."
Ah, sepertinya sekertarisku ini tambah cerewet saja. Ya, aku juga tahu jika ini Prancis dan sangat susah untuk mendapatkan makanan khas Indonesia seperti rendang dan sejenisnya.
"Saya nggak mau tahu, siang ini juga makanan itu harus ada di hadapan saya. Kamu bisa meminta tolong pada Sam, dia sangat mengenali tempat ini. Mungkin dia bisa membantu mu."
Terdengar Dinda menghela nafasnya, aku tahu ini berat baginya. Tapi mau bagaimana lagi, saat ini aku sangat menginginkan rendang sebagai hidangan makan siang ku.
"Apa tidak ada yang lain lagi Pak? Seperti makanan khas Prancis atau yang lain semacamnya, setidaknya yang bisa ditemukan dengan mudah di sini." Sepertinya Dinda ingin bernegosiasi denganku, tetapi sayangnya itu semua tidak bisa.
"Tetap rendang, tidak ada yang lain. Bagaimana pun caranya dan mau diambil dari manapun, saya tetap mau makan rendang siang ini."
"Ta-tapi Pak."
"Tidak ada penolakan." Ini sudah keputusan final ku.
"Jika sampai siang nanti, makan siangku tidak ada di sini. Maka Gaji mu akan saya potong 20%." Ancam ku sambil menatap Dinda yang sudah mulai gelisah dan mungkin juga bercampur sedikit kekesalan. Terlihat dari raut wajahnya.
"Jangan pak. Gaji saya jangan di potong."
"Kalau begitu, lakukan tugasmu. Batas nya jam makan siang nanti."
Dinda pun segera keluar dengan raut wajahnya yang gelisah sambil menggeser layar ponselnya. Mungkin ingin menghubungi Sam atau siapapun yang bisa membantunya.
Dan entah kenapa, akhir-akhir ini aku sangat menginginkan makan makanan yang aneh-aneh. Padahal sebelumnya aku sangat jarang makan-makanan yang aneh-aneh, kecuali di rumah Mommy.
Berbicara tentang rumah, aku juga jadi kangen masakan buatan Mommy. Apalagi perkedel jagung dan rendang buatan Mommy, sangat begitu menggiurkan.
Entah kenapa aku bisa seperti ini. Padahal sebelum-sebelumnya aku sangat jarang merindukan masakan Mommy ku, karena terlalu sibuk dengan pekerjaanku.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
POV FREYA
Setelah kemarin malam, aku mendapatkan pesan dari Adrian membuatku kembali dibuat kesal membaca pesannya itu.
Dan jangan kalian tanyakan aku membalas pesan darinya atau tidak. Jawabnya adalah tidak. Aku tidak membalas pesannya sama sekali, aku hanya membacanya dan membiarkan pesan itu.
Lagian dari mana dia tahu bahwa aku sedang menyembunyikan sesuatu darinya dan jalan dengan pria lain. Huh, mungkin dari mata-mata yang disewakannya untuk memata-mataiku.
Dasar pria menyebalkan. Setelah melakukan dan menyalurkan semua h*sr*tnya padaku, dia malah menghilang entah kemana. Dan tiba-tiba mengirimkan pesan singkat padaku seperti ini.
Lihat saja, akan aku buat kapok. Tidak akan aku balas semua pesannya.
"Rea! Ayo cepat turun sarapan bareng Mama Papa," teriak Mama membuyarkan lamunanku.
Hari ini aku akan pergi ke restoran bersama Mama, seperti biasanya. Aku pun juga sudah selesai bersiap-siap dan setelah selesai bukannya turun untuk sarapan malah jadi melamun kan Adrian.
Sadar Rea, dia hanya masa lalu mu. Okey, lupakan pria br**ngs*k itu. Dan jalani hidupmu yang baru.
Setelah turun aku, Mama dan Papa pun sarapan pagi bersama seperti biasanya.
"Ekhm, nak Papa mau bicara serius sama kamu." Setelah selesai sarapan, tiba-tiba Papa berucap jika ingin berbicara serius denganku.
Aku pun langsung dibuat tak berkutik sedikitpun. Jujur aku sangat takut jika Papa sampai tahu, kalau saat ini aku sedang hamil.
Bisa saja kan. Jadi aku patut waspada dengan semua ini.
"Kamu akhir-akhir ini Papa perhatiankan agak beda. Sebenarnya kamu ada masalah apa? Dari raut wajahmu terlihat tidak baik-baik saja akhir-akhir ini nak. Cerita kan semua pada Papa, siapa tahu Papa bisa bantu," jelas Papa panjang lebar.
Sedangkan Mama sedang sibuk membantu ART di rumahku untuk membereskan sisa sarapan tadi.
Aku hanya tertunduk mendengar ucapan Papa. Sebenarnya aku ingin sekali menceritakan semuanya pada Papa maupun Mama, tetapi aku belum siap untuk menceritakan itu semua.
Aku hanya takut mereka akan kecewa padaku. Dan bukan hanya itu saja, mereka juga pasti akan meminta Adrian untuk bertanggung jawab dan kembali rujuk denganku, terlepas dari semua permasalahan kami. Tetapi aku tetap tidak mau itu terjadi.
"Pah, sebenarnya Rea punya masalah yang nggak bisa Rea ceritakan sekarang. Tetapi secepatnya, Rea akan ceritakan semuanya ke Papa dan Mama. Tolong kasih Rea waktu Pah, karena jujur Rea juga masih belum bisa menerima semua ini." Ucapku sambil menatap Papa.
Papa menggenggam kedua tanganku yang berada di atas meja, kemudian mengelusnya dengan sayang.
"Baiklah kalau itu mau kamu, Papa akan kasih kamu kesempatan. Dan Papa harap kamu bisa menceritakan semuanya kepada Papa dan Mama segera." Papa tersenyum menatapku.
Melihat senyuman Papa, membuat hatiku menghangat. Papa adalah cinta pertamaku dan aku yakin kalian juga begitu, cinta pertama kalian adalah sosok seorang Ayah.
Oh, andaikan Adrian memiliki sifat seperti Papa. Pasti rumah tangga kami akan baik-baik saja kan.
"Papa percaya sama kamu nak."
__ADS_1
Aku mengangguk dan tersenyum tulus. Aku sangat bersyukur memiliki Papa dan Mama yang begitu menyayangi aku dengan sepenuh hati mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sore ini setelah pulang dari Restoran, aku mampir sebentar ke sebuah Cafe yang tak jauh dari rumahku. Untungnya Mama menyuruhku untuk pulang terlebih dahulu, karena Mama akan ada arisan di rumah temannya sore ini. Jadinya aku pulang sendiri.
Dan ini adalah kesempatan baik untuk aku bertemu seseorang. Seseorang yang sangat membantuku selama ini.
Tetapi sebelum itu aku mampir dulu ke toilet umum untuk mengganti pakaianku, agar tidak ada yang mengenaliku. Aku menggunakan topi hitam, rambut dikuncir kuda, jaket jeans cokelat serta celana jeans hitam panjang.
Terlihat seperti bukan gayaku sama sekali, aku dikenal sebagai wanita modis dan selalu feminim di mana pun aku berada. Tetapi ini terlihat berbeda dari penampilanku sebelumnya, dan aku yakin tidak ada yang akan mengenaliku sama sekali.
Aku memasuki cafe tersebut dan langsung duduk berhadapan langsung dengan orang di hadapanku.
"Bagaimana, kamu udah nemuin apa yang sebenarnya terjadi?" tanyaku.
Orang dihadapanku tersenyum. "Belum sih, tapi aku menemukan satu fakta. Kamu pasti akan tertarik mendengarnya."
"Mau dengerin?" tanyanya sambil menaik turunkan alisnya.
"Apa? Cepat katakan, aku tidak punya banyak waktu" tanyaku yang sudah mulai tergesa-gesa.
"Wehh, slow aja Ra. Nggak akan ada yang bakalan curiga kok, aman. Bahkan mata-mata mantan suami kamu itu nggak bakalan tahu. Kamu tahu kan aku ini cerdik, nggak mungkin aku datang nemuin kamu gitu aja tanpa mengalihkan perhatian mereka."
"Iya, aku tahu. Ayo cepat katakan apa yang kamu ketahui."
Orang itu mengambil rokok di saku celananya kemudian membakar ujungnya dan menghisapnya.
"Satu fakta yang aku tahu adalah kenapa kamu bisa ada di sini sekarang, bukannya di London."
Aku sedikit tidak mengerti dengan ucapan orang ini.
"Maksud kamu?"
"Yup, posport kamu hilang karena ulah Adrian. Entah bagaimana juga aku nggak tahu, tapi pasport lama kamu ada di Adrian. Dan dia menyewa orang-orang imigrasi untuk memperlambat urusan pembuatan pasport baru kamu. Cuma itu aja sih yang aku tahu."
Aku mengepalkan kedua tanganku, aku sangat kesal dan marah kenapa Adrian bisa-bisanya melakukan itu semua. Dan dari mana dia bisa mendapatkan posportku? Dari Mama? Papa? Atau ART di rumahku? Tetapi tidak mungkin juga. Mereka adalah orang-orang yang aku percayai.
Tidak mungkin.
Lalu siapa yang membantu Adrian untuk mengambil pasportku? Tidak mungkin jin kan.
"Terimakasih, kalau begitu aku pergi dulu sebelum mata-mata Adrian tahu tentang pertemuan kita."
"Sampai jumpa nanti." Orang itu memberikan hormat padaku. Dan aku pun segera pergi dari sana.
__ADS_1