
Setelah di rawat inap selama beberapa hari di rumah sakit, akhirnya hari ini aku pun diizinkan untuk pulang ke rumah. Kata Dokter Laras, kondisi kesehatanku sudah lebih membaik dan aku harus tetap menjaga kesehatanku.
Tak lama mobil yang aku dan Adrian tumpangi, kini sudah memasuki kediaman rumah kami.
Saat aku hendak bergegas turun, Adrian langsung menahanku dan membukakan aku pintu mobil. Sangat perhatian bukan.
Tapi sedetik kemudian aku kembali dibuat kesal atas tindakan Adrian, tanpa izinku dia langsung menggendongku dan membawaku masuk.
"Mas, apa-apaan sih. Aku masih bisa jalan kali, ngapain di gendong segala," kesalku.
"Kamu itu masih belum kuat sayang, kamu belum sepenuhnya pulih. Pokoknya ikutin aja kemauan mas, toh ini juga demi kebaikan kamu dan anak kita sayang."
"Tapi kan aku nggak lumpuh mas, masih bisa jalan sendiri. Kamu terlalu lebay deh." Aku mengerucutkan bibirku, semakin bertambah kesal.
Adrian tidak menanggapi ucapanku lagi. Dia terus berjalan hingga sampai di ruang keluarga, Adrian mengentikan langkahnya.
Aku menoleh menyamakan tatapanku dengan tatapan Adrian ke arah seseorang.
"Daddy," gumamku pelan.
Tumben sekali Daddy datang ke rumah ini. Padahal Daddy sangat jarang datang ke rumah kami karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya, kecuali ada hal penting yang ingin dibicarakan ataupun acara penting yang diadakan di rumah ini.
Atau mungkin Daddy di paksa Mommy untuk datang bersamanya ke sini? Tapi dimana Mommy? Aku bahkan tidak melihat keberadaannya di sini.
Tak lama Sam pun datang dengan wajah yang begitu serius dan tegang. Sebenarnya ada apa ini?
Sepertinya ada masalah yang sangat gawat.
"Dad, aku nganterin Rea ke kamar dulu."
"Silahkan An. Menantu Daddy harus banyak beristirahat. Rea kamu sama cucu Daddy harus sehat-sehat terus ya nak." Daddy tersenyum ke arahku, walaupun dari raut wajahnya yang sudah mulai menua itu menyiratkan sebuah kegelisahan yang sulit untuk ditebak.
"Iya Dad, pasti." Aku membalas ucapan Daddy sambil tersenyum dengan posisi yang masih dalam gendongan Adrian.
Malu? Ya tentu saja malu, apalagi digendong di hadapan mertua sendiri.
Kembali ke topik.
Karena seolah-olah Adrian tahu apa yang sedang terjadi saat ini dengan maksud kedatangan Daddynya ke sini, dia pun langsung mengantarkan aku ke kamar.
Aku pikir mungkin ini adalah masalah perusahaan, sehingga aku tidak perlu untuk ikut campur tentang persoalan ini.
"Kamu istirahat dulu ya di kamar, mas mau ngomong penting sama Daddy. Nggak lama kok, okey." Adrian mengecup keningku lembut setelah mendudukkan aku di atas kasur.
Aku mengangguk patuh, kemudian tersenyum.
__ADS_1
Aku cukup mengerti keadaan Adrian saat ini, karena Adrian adalah seorang pimpinan di perusahaanya. Jadi aku harus bisa memaklumi kesibukan Adrian dan setiap masalah yang harus Adrian hadapi sebagai seorang pimpinan perusahaan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi ini seperti biasanya, sebelum Adrian berangkat ke kantor. Maka kami berdua akan melakukan sarapan bersama terlebih dahulu dan itu sudah menjadi suatu keharusan dari setiap rutinitas kami di pagi hari.
"Sayang, udah berapa kali aku ngingetin kamu. Jangan makan makanan yang banyak lemak jahatnya kaya gini. Ini tuh nggak baik buat kesehatan kamu dan anak kita." Adrian mencegahku saat aku hendak menyendok beberapa makanan sifud.
"Lagipula sepertinya koki-koki di rumah ini harus aku kasih pelajaran. Pagi-pagi bukannya nyiapin sarapan sehat buat kamu, malah nyiapin makanan sifud kaya gini." Ucap Adrian dengan wajah kesal sambil menyingkirkan makanan-makanan itu dari hadapanku.
"Mas aku tuh lagi pengen banget makan sifud pagi ini, makanya aku nyuruh mereka masak ini. Jadi jangan salahin mereka mas."
Adrian tidak menanggapi ucapanku, dengan sekali tepukan para pelayan datang kemudian langsung membawa makanan-makanan itu dan menggantinya dengan makanan sehat yang membuatku muak melihatnya.
"Mas ...,"
"Ini lebih sehat buat kamu, dibandingkan dengan makanan-makanan itu sayang."
Aku menatap jengah Adrian, dasar pria tidak peka. Padahal istrinya sedang ngidam makanan-makanan itu, tetapi malah tidak diizinkan. Huh!
"Emang kamu mau, gara-gara makanan nggak sehat kaya gitu. Bayi kita nanti kenapa-napa, kamu mau? Hmm?"
"Huh! Iya-iya," ucapku dengan nada sedikit tidak rela.
Mendadak nafsu makanku menghilang entah kemana.
Tetapi mau tidak mau, aku harus tetap menghabiskan sarapanku sebelum Adrian mengomel lagi.
Di tengah-tengah sarapan kami, tiba-tiba ponselku bergetar. Ada sebuah pesan masuk.
Satria
Temui aku siang ini di cafe biasa. Ada hal penting yang harus kita bicarakan. Ingat, siang ini! PENTING!
Penting? Ada apa lagi sih! Aku mendengus.
"Dari siapa sayang?"
"Ah-anu ... dari Asri. Biasalah Mas, mereka ngajak aku makan siang bareng entar siang. Sama anak-anak kantor yang lain kok, rame gitu. Hmm, kira-kira boleh nggak mas aku pergi?"
"Rame-rame kan?" Adrian menatapku.
Aku mengangguk. "Iya. Rame-rame mas, boleh kan mas. Please, kali ini aja ya."
"Okey, boleh. Asalkan habis makan siang kamu langsung pulang dan nggak boleh ke mana-mana lagi. Dan satu lagi, makannya juga harus yang sehat-sehat dan jangan terlalu kecapean. Aku takut kaya kemaren-kemaren lagi, kamu masuk RS."
__ADS_1
"Siap Mas. Aku bakalan ikutin semua ucapan mas. Makasih ya mas, aku jadi tambah sayang sama mas."
"Cintanya nggak?"
"Ya itu juga dong. I love you mas."
"Love you to sayang." Adrian langsung berdiri dan mencium kening, kedua mata, pipi, hidung dan yang terakhir bibirku.
"Kalau gitu, mas berangkat dulu ya. Sarapannya harus di habiskan, okey."
"Iya mas. Hati-hati di jalan."
Adrian segera pergi belalu meninggalkan aku yang masih setia duduk di kursiku.
"Ada apa lagi ya?" gumamku.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ini ...,"
Satria mengangguk.
"Ya dia Ardan. Ternyata foto yang aku kasih tunjuk ke kamu waktu itu adalah foto Ardan saat SMP dulu. Waktu dia masih sekolah di Indonesia, bisa dibilang sebelum kalian bertemu di London. Jadi kita nggak ngenalin."
Air mata Freya jatuh dan membasahi pipinya.
"Dan setelah aku selidiki, ternyata Ardan masih ada hubungannya dengan keluarga Mahesa. Bisa jadi kehilangan Ardan disebabkan oleh keluarga Mahesa Re."
Freya menggeleng lemah.
"Ini bohong kan."
"Nggak! Aku juga awalnya nggak percaya, tapi setelah aku selidiki sendiri dari bukti-bukti yang berhasil kita kumpulkan 6 tahun silam setelah hilangnya Ardan. Dan bukti-bukti yang baru aku temukan, ternyata semuanya berhubungan Re."
"Bagaimana bisa ... hiks, hiks. Ba-ba-bagaimana bisa Sat." Satria langsung memeluk Freya dari samping, menenangkan wanita itu.
Dia tahu apa yang Freya rasakan saat ini, karena dia juga merasakan hal yang sama. Yaitu kehilangan seseorang yang sampai saat ini tidak mereka ketahui keberadaannya.
Bahkan walaupun semuanya sudah berlalu setelah sekian lamanya, namun rasa sakit dan kehilangan ini masih terus terasa.
"Tinggal selangkah lagi Re! Tinggal selangkah lagi, maka semuanya akan terbongkar. Siapa Ardan sebenarnya dan hubungannya dengan keluarga Mahesa. Dan tentang hilangnya Ardan, semuanya akan segera terungkap Re. Secepatnya, dan aku janji akan membongkar semuanya Re."
"Hiks ... hiks. Aku takut!"
"Jangan takut Re, kalau seandainya semuanya akan mengecewakan pada akhirnya. Masih ada aku Re, aku nggak bakalan tinggalin kamu. Serumit apapun nantinya permasalahan ini. Ingat itu!"
__ADS_1