Setelah Bercerai

Setelah Bercerai
BAB 11 KEMARAHAN ADRIAN


__ADS_3

"FREYA RANITA GANNEY! Sudah saya ingatkan berulang kali, jangan pernah meminum minum sialan itu. Kamu nggak ingat apa kata saya HAH!? Kamu ini perempuan Freya, perempuan." Adrian menatapku tajam mengucapkan setiap kata dengan penuh penekanan, membuat bulu kudukku meremang.


Apalagi ditambah dengan kepalaku yang mulai pusing dan kesadaranku yang sudah tidak seperti orang normal pada umumnya.


Aku sadar bahwa sekarang aku sudah dipengaruhi oleh minuman sialan itu, yang sayangnya membuatku sampai ketagihan untuk meminumnya. Oh, ternyata minuman keras rasanya seperti itu. Baru tahu aku, karena ini pertama kalinya aku mencoba minum itu.


Dengan perasaan was-was aku mencoba untuk menatap mata Adrian lalu berucap dengan sedikit keberanian yang ada. Mungkin karena pengaruh minuman ini, sehingga aku memiliki sedikit keberanian untuk melawan Adrian. "Lalu urusannya sama kamu apa hah?! Toh juga minuman itu disediakan untuk diminum, bukan di lihat saja kan. Lagian nggak ada larangan di situ yang tertulis bahwa perempuan dilarang untuk meminumnya. Nggak salah dong."


Adrian semakin emosi mendengar ucapanku yang begitu beraninya.


"Sekarang kamu ikut saya!" Adrian menarik tanganku lagi dan aku langsung menepis dengan kasar tangannya.


Ohiya, saat ini kami sedang berada di parkiran hotel tempat acara pernikahan Alya berlangsung.


"Saya nggak mau, saya mau pulang sendiri."


Adrian mencekal tanganku. "Nggak, kamu mabuk dan saya tidak akan membiarkan kamu untuk pergi sendirian. Jadi sekarang kamu ikut saya. Nggak ada penolakan."


Aku berdecih. "Jangan sok perhatian sama saya dan memaksa saya deh. Saya muak sama kamu."


Mata Adrian semakin menajam menatapku.


"Ikut saya!" Dengan kasar Adrian menarik aku untuk kembali masuk ke dalam hotel.


Apa dia ingin membawaku kembali ke acara pernikahan Alya dan mempermalukan aku di depan para undangan?


Tapi tunggu dulu! Kenapa dia malah menekan tombol menuju lantai 8 sedangkan acara pernikahannya di adakan di aula lantai 6.


Ah, biarlah terserah dia saja. Sekarang kepalaku begitu pusing dan perutku seperti ada yang perlu untuk dikeluarkan sekarang juga.


Tetapi aku mencoba untuk menahannya. Sesampainya di depan salah satu kamar di hotel tersebut, Adrian langsung membuka pintunya dan menyuruhku untuk masuk.


Dengan sisa kesadaranku aku melirik Adrian penuh curiga. Huh, dasar om om pedofil. Memang dia fikir aku ini wanita murahan gitu, dengan seenaknya memesan kamar dan membawa seorang wanita yang sedang mabuk ke dalam kamar hotel. Ya, walaupun aku adalah mantan istrinya tetapi hal ini tidak boleh terjadi bukan.


"Masuk sekarang dan istirahat!" ucap Adrian penuh ketegasan.


"Nggak mau. Kamu fikir saya ini wanita apaan? Walaupun saya adalah mantan istri kamu, tetapi saya bukan wanita murahan yang dengan gampang bisa kamu ajak ke kamar hotel." Untung saja saat ini aku sedang mabuk dan pusing, jadi untuk berjalan sedikit sempoyongan. Kalau tidak, sudah dipastikan aku akan segera pergi dari tempat ini.


"Cepat masuk sekarang Freya! Kamu sedang mabuk berat. Saya nggak mau terjadi hal-hal diluar dugaan yang akan terjadi, jika kamu dengan keadaan mabuk seperti ini pulang. Ini Jakarta bukan Surabaya."


Aku tersenyum sini. "Alah basi. Tuan Adrian yang terhormat, mending sekarang anda biarkan saya pergi dari sini. Karena saya bukan wanita murahan sama seperti selingkuhan anda itu, Vania kan namanya."


"Jangan bawa-bawa nama Vania!"

__ADS_1


"Kenapa? Nggak rela kalau dia dijelek-jelekkin?"


"Semuanya tidak seperti yang kamu fikirkan Rea."


"Lalu yang sebenarnya seperti apa? Seperti yang saya lihat waktu itu hah!? Kamu bermesra-mesraan sama dia dibelakang saya. Seperti itu? Iya?"


Dari raut wajah Adrian, pria itu tampak semakin marah. Ah, minuman sialan. Minuman ini semakin menguasaiku, sehingga membuatku semakin berani untuk mengeluarkan semua unek-unekku.


Lain kali sepertinya aku harus menghindari minuman itu. Harus lebih berhati-hati lagi jika berada satu tempat dengan Adrian. Seperti hari ini.


Tanpa aba-aba, Adrian langsung dengan paksa menggendongku di pundaknya layaknya seperti memikul beras sekarung penuh.


Aku berusaha untuk lepas dari gendongannya dengan memukul-mukul pundaknya dan meminta untuk diturunkan, tetapi Adrian tidak menggubris hal tersebut. Adrian melangkah memasukki kamar hotel tersebut dan menurunkan aku di atas ranjang hotel tersebut.


Dengan perasaan was-was aku menatap Adrian.


"Sekarang istirahat lah, besok kamu akan merasa lebih baik lagi."


Apa ini! Seorang Adrian menyuruhku untuk tidur? Apa ini adalah salah satu rencananya menyuruhku tidur dan setelah itu dia akan melakukan aksinya?


Tidak, tidak akan semudah itu! Aku akan melawan.


"Nggak mau!"


Adrian menghela nafas kasar. "Ayolah, sekali ini saja kamu nurut sama saya. Istirahat lah, saya tidak akan melakukan hal bodoh yang kamu fikirkan itu, kecuali ...,"


Dan dari mana dia tahu aku memikirkan hal bodoh itu? Adrian sudah berubah menjadi cenayang kah? Kenapa setiap fikiranku selalu dia ketahui.


"Kecuali kamu menggoda saya. Dan saya yakin kamu tidak akan melakukan itu. Tetapi ...," Sekali lagi Adrian mengantungkan ucapannya sambil menatapku dan tersenyum.


"Tetapi apa lagi sih?" kesalku.


"Tetapi ... mungkin kamu akan melakukan hal itu. Mengingat sekarang kamu sedang dipengaruhi oleh minuman keras."


APA! Dia mengatakan apa? Oh tidak semudah itu , enak saja.


"Enak aja, nggak bakalan."


Adrian mengedikkan kedua bahunya. "Sekarang lebih baik kamu istirahat aja."


"Saya nggak akan tidur, sebelum kamu keluar dari sini tuan Adrian."


Aku berharap Adrian segera keluar karena kepalaku sudah semakin nyut-nyutan dan rasa mualku kembali lagi.

__ADS_1


Dan benar sedetik kemudian aku langsung menutup mulutku menggunakan kedua tanganku


dan berlari ke arah toilet.


Sedangkan Adrian bukannya keluar dari sini, dia malah menyusulku ke toilet.


"Muntahlah dan keluarkan semua isi perutmu, biar kamu bisa merasa lebih lega lagi," perintah Adrian.


Aku langsung mengeluarkan semua isi perutku, tepatnya semua minuman yang tadi kuminum.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah mengeluarkan semua isi perutku, Adrian langsung menyuruhku untuk berendam di air dingin agar rasa mabukku bisa sedikit menghilang dan agar aku bisa kembali segar lagi.


Dan aku pun menuruti perintahnya, bukannya aku sudah mulai patuh kepadanya. Tetapi aku melakukan ini semua agar bisa menghilangkan rasa mabukku yang membuatku sampai mual.


Aku keluar dari kamar mandi menggunakan handuk yang melilit sempurna di tubuhku, dan membuatku sedikit risih. Karena Adrian masih di sini, sedangkan aku keluar dengan menggunakan handuk yang sialannya begitu sangat pendek.


"Baju mu sudah saya suruh asisten saya untuk mengambilkannya, mungkin dia akan sampai dalam waktu 10 menit lagi." Ucapnya dengan santai sambil mengotak-atik remot tv.


"What! 10 menit?"


"Iya 10 menit."


"Trus saya harus menggunakan handuk ini selama 10 menit? Di depan kamu?"


Adrian mengalihkan pandangannya yang semula menatap layar tv kemudian menatapku.


"Emang kenapa kalau hanya memakai handuk?"


Adrian bangkit berdiri menghampiriku, aku melangkah mundur. Oh apa-apaan ini? Untung saja mabukku sudah sedikit menghilang, sehingga fikiranku bisa sedikit jernih.


"Ehm ... ya nggak apa-apa sih. Tapi saya bakalan kedinginan kalau kaya gitu. Lagian kenapa kamu nggak nyuruh asisten kamu itu buat lebih cepat lagi sih."


"Kalau saya menci*m kamu sekarang, kamu bakalan marah?"


Aku melototkan kedua bola mataku. Bukannya menjawab pertanyaanku, Adrian malah balik bertanya.


Dan lebih parahnya, dia menanyakan hal yang sudah dia tahu jawabannya. Ya, pasti aku akan marah lah. Untuk apa dia bertanya seperti itu.


"Kamu fikir s-" Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, Adrian langsung mendorongku ke tembok dan mengunciku dengan kedua lengan kekarnya. Membuatku sulit untuk melawan, apalagi tenaga Adrian lebih besar dibandingkan dengan tenagaku.


Adrian langsung memangut bibirku dengan lembut. Aku langsung dibuat kanget atas tindakan tak terduga Adrian ini. Mimpikah aku?

__ADS_1


Dan untuk sesaat aku menikmat hal itu.


Aku tidak munafik dan berani jujur bahwa cium*n Adrian begitu memabukkan dan dulu sempat menjadi candu bagiku.


__ADS_2