
Aku tak berhenti berdecak kesal sedari tadi, berjalan mondar-mondir di kamarku sambil mengingat kembali ucapan Adrian kemarin siang di restoran. Membuatku semakin kesal dan tak habis fikir dengan jalan fikiran seorang Adrian Mahesa.
Dan kini, jam sudah menunjukkan pukul 23.15 tapi aku belum juga kunjung tidur.
Ah berbicara tentang tidur. Ternyata aku sudah dari kemarin malam sehabis pulang dari restoran itu, tidak bisa tidur sama sekali karena memikirkan ucapan Adrian.
Padahal mataku sudah benar-benar mengantuk sekarang, tetapi entah mengapa fikiranku justru malah melawan rasa kantuk itu.
Yaampun ada apa dengan diriku ini?
Ditambah lagi kiriman paket yang aku terima tadi sore, membuatku semakin dilanda rasa gundah gulana bercampur kekesalan.
Tadi sore sehabis pulang dari restoran Mama, aku mendapatkan paket yang dikirim dari Jakarta. Dan orang yang mengirimkan paket itu adalah Alya Mahesa. Yup, Alya. Adik Adrian Mahesa.
Dan kalian mau tahu apa isinya?
Isinya adalah gaun. Yah, gaun. Bukan gaun pernikahan ya. Tetapi gaun yang harus aku pakai di acara pernikahan Alya dan tunangannya nanti.
Kata Alya melalui telpon tadi sore, gadis itu mewajibkan aku untuk menggunakan gaun tersebut dan aku juga harus wajib datang ke acara itu. Acara pernikahannya.
Jika tidak maka dia akan marah kepadaku dan tidak akan pernah mau memaafkanku sampai kapanpun. Membuatku semakin merasa tidak enak hati. Tapi juga merasa kesal. Ternyata sama saja sifat Alya dan Adrian. Sama-sama tukang paksa.
Benar kan. Tetapi kembali lagi, aku masih tetap tidak enak hati mendengar ucapan Alya tadi sore.
Apalagi saat aku masih menjadi istri dari Adrian. Alya, Mommy dan Daddy begitu baik padaku.
Daddy dan Mommy begitu menyayangiku melebihi rasa sayang mereka terhadap anak-anak kandung mereka.
Begitu pun juga Alya yang sangat akrab denganku dan membantuku waktu aku masih menjadi menantu keluarga Mahesa.
Maka dari itu saat ini aku semakin gundah gulana. Aku harus datang atau tidak.
Aku jadi merasa bersalah dan tidak enak hati jika tidak datang. Pasti Daddy, Mommy dan Alya akan sangat kecewa denganku.
Sedangkan jika aku memaksakan diri untuk datang, maka itu artinya aku akan kembali ke Jakarta dan bertemu Adrian lagi. Aku benar-benar muak melihat wajah Adrian dan mendengar suaranya. Menyebalkan.
__ADS_1
Dengan malas aku melangkah ke arah tempat tidurku, untuk merebahkan tubuhku sebentar. Karena sedari tadi aku hanya berjalan mondar-mandir mengelilingi kamar ini, jadi wajarlah jika aku sedikit capek.
"Aku datang nggak ya?" gumamku sambil menatap langit-langit kamarku.
"Tapi, kalau aku datang berarti resiko untuk ketemu lagi sama Mas Adrian akan semakin besar dong. Tapi emang Mas Adrian bakalan datang nggak ya." Dengan polosnya aku berbicara seperti itu.
"Lah iyalah bodoh. Kan yang mau nikah itu adiknya Mas Adrian. Otomatis aku pasti akan bertemu dengan Mas Adrian." Gumamku lagi kemudian memukul pelan keningku. Meratapi nasibku yang begitu naasnya dan bodoh.
Ah, sudahlah daripada pusing memikirkan itu semua. Lebih baik aku segera tidur karena hari esok akan lebih panjang dan menantang yang harus kulalui. Jadi tubuhku butuh istirahat, apalagi jam dinding sudah menunjukkan pukul 00.54.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari ini, setelah berdebat dengan fikiranku selama hampir satu minggu lamanya. Akhirnya aku putuskan untuk datang ke acara pernikahan Alya.
Setidaknya dengan kepuasanku ini, bisa membuat Alya, Daddy dan Mommy tidak kecewa dan aku juga sangat menghargai mereka sebagai orang tuaku juga. Jadi aku putuskan untuk hadir dalam acara pernikahan Alya dan tunangannya, tanpa memikirkan Adrian nantinya.
Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menghindarinya nanti.
Dan kini aku tengah sibuk merapikan dandanan ku dibantu oleh Safira di Apartemennya. Gadis itu ternyata memiliki bakat terpendam sebagai MUA juga ya. Aku begitu sangat kagum dengan dandanannya yang membuatku semakin bertambah cantik dan elegan dengan polesan make up naturalnya.
"Wah aku sampe terkagum-kagum lho mbak. Mbak Freya cantik banget deh. Aku jamin, Pak Adrian pasti bakalan klepek-klepek kalau ngeliat Mbak Freya dengan dandanan kaya gini." Goda Safira begitu selesai merapikan dandanan ku.
Safira terlalu berlebihan, dia hanya ingin menggodaku. Dasar gadis nakal.
"Kamu apa-apa sih Fir. Nggak mungkin lah kalau Adrian sampe klepek-klepek sama penampilan aku. Biasa aja kok." Aku berusaha untuk biasa saja menanggapi ucapan Safira, padahal dalam hatiku berkata lain.
Aku berharap Adrian benar-benar klepek-klepek nanti dan aku akan membuatnya menyesal karena telah meninggalku demi wanita jalangnya.
"Tapi benar kok Mbak. Mbak Freya cantik banget lho!" seru Safira.
"Kamu nih ada-ada aja deh. Ohiya ini udah selesai kan make up nya," tanyaku.
"Udah dong mbak. Udah beres, udah cantik pula."
"Yaudah, thanks ya Fir udah mau dandanin aku. Kamu emang yang terbaik deh." Aku memeluk Safira sebentar dan membereskan beberapa barang-barangku untuk aku masukkan ke dalam sling bag yang akan aku bawa nanti.
__ADS_1
Tetapi di tengah kesibukanku, tiba-tiba ponselku berdering. Dan tertera nama orang yang membuatku harus berakhir di acara pernikahannya.
"Hallo Mbak. Ini mbak Rea jadi datang kan ke acara nikahan Alya." Ucap Alya dari seberang sana dengan nada bicara yang sedikit panik.
Itu yang aku tangkap dari nada suaranya. Mungkin dia panik takut aku tidak akan datang ke acara pernikahannya nanti.
Aku tersenyum simpul, walaupun bisa dipastikan Alya tidak akan bisa melihat senyumanku ini.
"Pasti mbak datang kok Al. Kamu tenang aja ya, ini mbak udah habis siap-siapnya. Mungkin setengah jam lagi mbak udah nyampe di hotel tempat resepsi pernikahan kamu Al."
"Oh syukurlah kalau gitu, aku lega sekarang. Aku tuh takut Mbak Rea ngingkarin janjinya dan nggak datang."
"Ya nggak mungkin dong Al. Mbak kan sudah janji sama kamu mau datang ke acara nikahan kamu. Ya pasti mbak tepatin dong."
"Iya mbak. Kalau gitu mbak hati-hati di jalan ya. Aku tunggu."
"Iya Al."
"Ohiya aku hampir lupa. Mbak sama siapa datangnya?"
"Hmm, paling naik taksi sih. Mbak udah nyuruh teman mbak buat pesenin. Paling 5 menit lagi nyampe taksinya."
"Oh gitu ya. Padahal aku mau nyuruh Mas Adrian buat jemput mbak tadinya."
Aku sontak langsung membulatkan mataku. Tidak, tidak. Jangan Adrian. Kalau dia yang menjemputku, maka suasananya akan terasa berbeda dan lagian apa kata orang nanti jika aku datang bersama Adrian ke acara pernikahan Alya.
Bisa jadi bahan gosip di kalangan Ibu-ibu nih, kalau kami akan rujuk jika kami datang bersama.
Maka sebaiknya tidak usah, lebih baik aku pergi sendiri saja ke sana. Mengindari itu lebih baik daripada mengatasinya.
"Ehm, nggak usah Al. Mbak pake taksi aja."
"Yaudah deh kalau gitu. Sampai ketemu nanti ya mbak."
"Iya Al. See you."
__ADS_1
Sambungan telepon pun terputus. Huh! Untung saja aku pintar dalam mencari alasan. Kalau tidak, bisa dipastikan Adrian akan menjemputku dan kami akan berangkat bersama. Dan akan semakin banyak spekulasi orang-orang tentang hubungan ku dan Adrian.
Apalagi jika ada wartawan, sudah dipastikan aku akan masuk koran pagi dan berita pagi di keesokan harinya. Mengingat keluarga Mahesa merupakan keluarga yang paling dilirik oleh masyarakat luas karena kekayaannya dan ketenarannya di dalam dunia perbisnisan.