
DUA MINGGU SEBELUMNYA ...
"Sam kamu dimana? Cepat ke sini dan bantu aku. Cepatlah, ini sangatlah gawat. Nasib karirku ada di tanganmu, cuma kamu yang bisa membantuku." Dinda menelpon Sam begitu keluar dari ruangan Adrian.
Gadis berkacamata itu benar-benar dibuat gelisah sekarang karena ulah bos besarnya itu.
Bagaimana mungkin bosnya meminta untuk dihidangkan rendang sebagai makan siangnya.
Tidak sadarkah bosnya itu, jika saat ini mereka sedang berada di negara orang? Bagaimana bisa mendapatkan makanan Indonesia di sini.
Dimana Dinda harus mencarinya, jika Dinda tidak bisa menemukan makanan yang diinginkan oleh Adrian. Maka gajinya lah yang akan menjadi taruhannya.
Padahal cicilan Dinda sudah menumpuk, belum lagi harus membayar biaya kuliah adik dan membayar biaya rumah sakit Ibu nya.
Setelah menelpon Sam, akhirnya beberapa saat kemudian Sam pun datang dan menghampiri Dinda yang kini tengah gelisah sambil berjalan bolak balik di depan ruangan Adrian.
"Ada apa Din?" tanya Sam langsung to the point. Karena saat ini dia benar-benar sangat sibuk dan Dinda menelponnya.
"Gawat Sam, gawat!" panik Dinda. Ya, itulah Dinda yang terkadang kalau sudah gelisah, maka akan sangat gelisah. Walaupun dihadapkan dengan masalah yang sepele sekalipun.
"Gawat kenapa? Okey, sekarang kamu tenangin diri kamu dulu. Habis itu cerita ke aku."
Setelah tenang Dinda pun menceritakan semuanya, tentang keinginan Adrian yang tiba-tiba ingan makanan siangnya adalah rendang. Membuat Sam hanya bisa memijit pelipisnya.
Sam saja sudah dibuat pusing oleh ulah Adrian belakang ini dan sekarang giliran Dinda lagi. Ada apa dengan tuannya itu.
"Aneh sekali, entah kenapa belakangan ini tuan Adrian selalu meminta yang aneh-aneh. Terakhir dia memintaku untuk menghadirkan langsung koki dari Italia untuk memasakkannya makan malam dan itu tidak seperti biasanya."
Dinda mengangguk menyetujui, mengingat kejadian yang membuat Sam harus bolak balik Italia dalam 2 hari hanya untuk mewujudkan keinginan bos nya itu.
"Lalu sekarang kita harus bagaimana? Kamu tahu kan, kalau sampai gajiku bulan ini terpotong. Nanti bagaimana dengan pembayaran rumah sakit dan biaya kuliah adikku." Dinda menatap Sam lesu.
Sam menepuk sebelah bahu Dinda.
"Jangan khawatir, aku akan coba berdiskusi dengan tuan Adrian. Siapa tahu dia mau untuk mendengarkan saranku. Lagipula, di negara seperti ini mana bisa kita menemukan rendang."
Sam akan membantu Dinda, bagaimana pun sebagai sesama rekan kerja harus saling membantu bukan. Dan Sam juga sangat paham bagaimana kondisi Dinda dan keluarganya.
Sam memasukki ruangan Adrian, dimana pria itu masih sibuk berkutat dengan leptopnya.
"Maaf tuan, saya sudah mendengarkan apa yang tuan inginkan."
"Tetapi, sayang sekali untuk mendapatkan makanan yang tuan minta tidak bisa kami lakukan. Mengingat ini di negara orang dan tidak mudah untuk mendapatkannya." Sam menunduk.
Adrian menghentikan pekerjaannya.
"Saya tetap mau makanan itu. Tidak ada penolakan."
"Ta-tapi tuan kami ...,"
"Bagaimana pun itu, kamu harus menemukan makanan itu. Dan entah kenapa sialnya saya sangat menginginkan makanan itu saat ini."
Sam menghela nafasnya. Tuannya sungguh keras kepala. Sam harus memikirkan cara lain.
__ADS_1
Di tengah pergulatannya dengan fikirannya. Tiba-tiba ponsel Sam berdering.
Sam pun izin untuk mengangkat telepon.
"Hallo."
"....."
"Katakan, informasi apa yang kamu dapatkan."
"..."
"Apa?! Kamu yakin? Sudah kamu pastikan dengan benar?" tanya Sam beruntun begitu mendengar ucapan orang di seberang sana.
"...."
"Baiklah, akan saya beritahukan kepada tuan Adrian. Biar dia sendiri yang akan memastikan kebenarannya."
"....."
"Baiklah, terimakasih. Dan terus kamu pantau dia."
Sam kembali setelah sambungan teleponnya terputus.
"Tuan ...,"
"Ada apa lagi? Sudah berapa kali saya katakan, jika saya tetap akan memilih makanan itu."
"Tidak tuan, ada berita penting. Yang mungkin menjadi berita yang tuan Adrian tunggu-tunggu."
"Bukan tuan. Tetapi ini tentang nyonya Freya."
Adrian semakin penasaran.
"Freya? Ada apa dengan Freya? Apa dia baik-baik saja?" tanya Adrian beruntun. Dia takut hal-hal yang tidak dia inginkan terjadi pada Freya.
"Nyonya baik-baik saja tuan." Sam mengulas senyumnya.
"Lalu?"
"Saya mendapatkan kabar dari bawahan saya, jika dia melihat nyonya membeli beberapa testpack melalui rekaman CCTV di apotek yang kebetulan di sana adalah tempat istrinya bekerja."
"Jadi maksud kamu Freya ...,"
"Menurut informasi yang bawahan saya dapatkan dari penjaga apotek saat itu, kalau sepertinya nyonya sedang mengandung tuan."
"Informasi ini sudah kamu konfirmasi kebenarannya?"
"Walaupun belum akurat, tetapi menurutnya nyonya sepertinya benar-benar hamil tuan sehingga membeli beberapa testpack di sana. Dan mereka akan segera mengirimkan bukti CCTV nya ke email tuan segera," jelas Sam.
Adrian langsung dibuat tersenyum oleh ucapan Sam. Entah kenapa dia benar-benar yakin jika Freya sedang mengandung, mengandung darah dagingnya.
Mungkin kah ini akan jadi alasannya untuk kembali bersama Freya? Sepertinya anak itu akan menjadi pemersatu hubungannya dengan Freya.
__ADS_1
"Segera adakan rapat darurat agar proyek ini cepat terselesaikan. Dan aku bisa segera kembali ke Indonesia."
"Biak tuan."
"Siapkan juga beberapa ajudan ku di Indonesia untuk menjaga dan mengawasi Freya, walaupun dari kejauhan."
"Baik, akan segera saya lakukan perintah tuan Adrian."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
POV FREYA
Aku menghela nafas kasar berulang kali. Melihat Adrian yang kini duduk di hadapanku sambil menatapku tajam. Untung saja aku ini baik, jika tidak matanya akanku colok.
Setelah selesai dari dokter kandungan, dan setelah Adrian memastikan kalau aku benar-benar hamil dan bayi di dalam rahimku sehat begitu pun juga denganku.
Adrian tidak langsung mengantarku untuk pulang, tetapi malah membawa ku ke salah satu restoran bintang lima.
Katanya sih untuk sarapan agar bayi di dalam kandunganku ini tetap sehat dan tumbuh dengan baik.
Ah, perhatiannya sungguh membuatku muak.
"Cepatlah makan sarapan mu. Ini adalah sarapan yang paling sehat. Saya tidak ingin anak saya kekurangan gizi karena ulah ibu nya yang keras kepala." Omel Adrian masih dengan menatapku tajam tanpa ekspresi.
Aku mendengus. "Anakmu? Bukan ini adalah anakku. Mas nggak berhak atas anak ini. Anak ini adalah milik aku."
"Kamu lupa? Kalau bukan karena kontribusi saya juga, maka tidak mungkin anak itu akan ada di dalam rahim kamu sekarang."
Iya tahu aku tahu. Tetapi anak ini akan tetap menjadi anakku, tidak akan aku biarkan kamu mengambilnya ataupun bersama kami lagi. Aku tidak ingin hal itu terjadi.
"Aku nggak butuh tanggungjawab dari mas."
Lagipula aku juga tidak membutuhkan tanggung jawabnya.
"Kalau saya mau bertanggung jawab atas anak itu gimana? Saya adalah ayah dari anak yang ada di dalam kandungan kamu Rea. Ingat itu."
"Iya, tetapi mas nggak punya hak atas anak ini. Dan apapun yang terjadi, saya dan anak ini tidak akan kembali bersama mas. Kami akan menghilang dari kehidupan mas. Jadi, mas Adrian jangan banyak berharap. Saya takut itu hanya akan melukai mas Adrian saja."
"Kamu sudah gila Rea!" Masih dengan raut wajah datar, Adrian menatapku.
"Iya, saya memang sudah gila. Semenjak mengetahui semua kebenaran tentang mas Adrian, tentang bagaimana mas menghianati saya!"
Aku langsung bangkit berdiri.
"Rea saya ... saya benar-benar tidak ingin kehilangan kamu. Saya mohon beri saya satu kesempatan lagi." Wajah tampan nan datar itu berubah menjadi sendu.
Air mataku pun tak bisa aku tahan lagi.
"Sudahlah mas. Sudah tidak ada lagi kesempatan untuk mas. Sudah cukup dan biarkan saya bahagia bersama anak ini. Tidak lebih dari itu."
"Ta-tapi, bagaimana saya bisa hidup tanpa kamu Rea? Kamu adalah hidup saya. Saya, saya tidak bisa kehilangan kamu."
Aku menatap Adrian. "Pada akhirnya mas akan terbiasa hidup tanpa saya kok. Saya yakin mas bisa."
__ADS_1
"Saya permisi." Aku pun langsung pamit dan bergegas meninggalkan Adrian. Berada lama-lama bersama Adrian bukanlah ide yang tepat. Dan aku tidak bisa melakukan hal itu.