
"Bagaimana kabar Rea? Aku lihat keluarga kalian semakin bahagia ya," ucap Vania.
Setelah selesai rapat bersama Adrian tadi, Vania langsung ke ruangan Adrian ditemani Sam juga agar tidak terjadi kesalahpahaman lagi.
"Ya begitulah. Tadi pagi juga kami sempat ke Dokter kandungan bersama."
"Oh yah. Bagus dong, trus apa kata Dokter?"
"Kondisi Rea dan calon anak kami sehat. Itu kata Dokter, aku juga di minta untuk menjaga Rea agar dia nggak boleh terlalu stres."
Vania tersenyum. "Memang seperti itu An, seorang Ibu hamil emang nggak boleh terlalu stres dan banyak fikiran. Dulu waktu aku mengandung Daffa juga Dokter mengatakan hal yang sama."
"Ohiya, ngomong-ngomong soal Daffa. Apa dia bisa ke rumahku besok sore?" tanya Adrian pada Vania.
Vania menaikkan sebelah alisnya bertanya.
"Rea yang memintanya agar aku meminta izin ke kamu langsung. Untuk mengizinkan Daffa ke rumahku besok sore. Bisa kan."
Vania mengangguk pelan. "Bisa saja, tetapi ak-"
"Jangan khawatir Van, Daffa akan aman bersama kami. Dan dari yang aku lihat, Daffa juga begitu akrab dengan Rea walaupun mereka baru bertemu, makanya Rea menyuruhku untuk memberitahu soal ini ke kamu," ucap Adrian.
"Benar apa kata Adrian. Daffa dan Rea baru saja bertemu kemarin. Namun mereka begitu sangat akrab hanya dengan hitungan beberapa jam saja," sahut Sam.
"Okey, aku izinkan. Tapi nggak apa-apa kan."
Sam menepuk sebelah pundak Vania pelan. "Tenang saja, jangan terlalu khawatir Van."
"Ohiya aku juga lupa untuk memberikan kalian ini." Sam menunjukkan sesuatu yang dia keluarkan dari jas kerja nya.
"Apa ini?" tanya Vania.
"Lihat saja." Vania langsung membuka perlahan amplop kecil yang diberikan Sam.
Adrian pun ikut memperhatikannya.
Perlahan air mata Vania pun terjatuh dari kedua pelupuk matanya, begitu wanita itu melihat isi daripada amplop yang diberikan Sam.
Tak hanya itu saja, Adrian pun juga dibuat begitu sangat amat kaget dengan hal ini.
"Ba-ba-bagaimana bisa ... hiks," lirik Vania.
"Sam!" Adrian menatap Sam tidak percaya.
"Aku juga sempat nggak percaya awalnya, tapi melihat dari bukti ini. Aku pun akhirnya percaya, walaupun masih sedikit bingung dengan semua ini."
Adrian menatap tajam benda yang di pegang Vania.
"Selidiki secepatnya Sam. Aku ingin semuanya segera terbongkar."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Sedangkan di tempat yang berbeda.
Tepatnya di sebuah apartemen elit yang terletak di tengah Ibu Kota.
Terlihat dua orang wanita dan seorang pria yang sedang duduk sambil mengobrol sesuatu yang sedang mereka sembunyikan.
Salah satu dari wanita itu kemudian berucap. "Keadaan kamu lumayan membaik, ini semua berkat terapi yang kamu jalankan sebelum kamu dinyatakan hamil."
Wanita yang tak lain dan tak bukan adalah Freya itu mengangguk.
"Apa ini tidak akan berpengaruh pada janinnya?" tanya pria yang tak lain dan tak bukan adalah Satria.
"Untuk sementara tidak akan, tapi kita lihat dulu untuk kedepannya. Apalagi, kehamilan Rea ini baru berjalan beberapa bulan. Dan Rea juga sedang hamil muda. Kita siapkan saja untuk kemungkinan terburuk dan terbaiknya." Wanita itu tersenyum simpul.
"Apapun yang terjadi di kemudian hari, seperti yang pernah Rea minta sama Dokter Laras. Tolong Dokter kabulkan permintaan itu ya," ucap Freya.
Dokter Laras menatap sendu ke arah Freya.
"Tapi bagaimana pun kamu harus memberitahu kan ini semua sama Adrian. Jangan kamu tutup tutupi ini lagi."
Freya menunduk, rasanya dia belum siap untuk mengatakan ini semua pada Adrian. Pria yang sangat dia cintai.
"Tante ngerti kalau kamu belum siap, tapi sebaik mungkin secepatnya kamu harus memberitahu dia sebelum semuanya terlambat."
"Iya Dok."
"Panggil Tante aja. Dan kamu Satria, bagaimana dengan orang suruhan kamu itu? Apa dia sudah berhasil masuk ke rumah Rea dan Adrian untuk membantu Rea nantinya?"
Satria mengangguk mantap mengiyakan ucapan Tantenya yaitu Dokter Laras.
"Terimakasih banyak ya Tan. Tante udah banyak banget bantuin Rea, semenjak hari itu. Rea nggak tau lagi kalau bukan Tante, pasti sekarang Rea-"
"Shutt, udah nggak usah di lanjutkan lagi." Laras langsung memeluk Freya.
"Rea ... aku bisa tanya sesuatu ke kamu?" tanya Satria sejak beberapa saat yang lalu terdiam.
Rea berbalik. "Tanya apa?"
"Selama kamu menjadi menantu keluarga Mahesa, apa kamu pernah merasakan sesuatu yang janggal dari keluarga itu?"
Freya menggeleng. Ya, menurut Freya tidak ada yang janggal ataupun aneh dari keluarga suaminya. Semuanya biasa saja dan berjalan dengan baik.
"Nggak tuh, memangnya ada apa? Apa kamu merasa bahwa keluarga Mahesa sedang menyembunyikan sesuatu? Apa Wildan mendapatkan suatu kejanggalan lagi?"
"Entahlah, tapi mungkin saja. Soalnya aku mendapat foto ini dari Wildan."
Freya mengambil foto itu dan langsung terbelalak kaget melihat siapa yang berada di dalam foto itu.
"Kamu kenal sama dia?"
"Ya, sepertinya. Atau bisa saja aku belum terlalu mengenalnya lebih dekat. Tapi kami pernah bertemu beberapa kali dan dia sendiri yang mengajakku untuk berkenalan."
__ADS_1
Satria menatap Freya, ternyata orang ini sudah terlebih dahulu mendekati Freya. Ada apa ini sebenarnya? Adrian? Orang itu? Vania? Dan Daffa. Apa ini?
"Menarik."
"Menarik? Maksudnya?" tanya Freya yang masih belum mengerti dengan jalan fikiran Satria.
"Ya menarik. Kamu tau, bisa jadi orang ini adalah kunci kita untuk memecahkan semua teka-teki ini. Terlebih lagi tentang Daffa dan siapa suami Vania sebenarnya." Satria tersenyum sinis.
"Aku harap itu bukan Adrian." Gumam Freya sambil menunduk.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di malam hari ...
Freya yang sedang asik menonton beberapa film di leptopnya mendadak dikagetkan dengan kedatangan Adrian yang langsung memeluknya dari belakang.
"Eh mas. Kamu udah pulang?"
"I Miss you so bad." Bukannya menjawab pertanyaan Freya, Adrian malah semakin mempererat pelukannya pada sang istri.
Bahkan kini sebagian wajahnya sudah ia tenggelamkan di ceruk leher istrinya.
"Geli ah mas. Kamu mending mandi dulu sana, datang-datang bukannya bersih-bersih malah langsung main peluk-peluk aja," omel Freya.
"Bentar aja, biar gini dulu."
Adrian sangat capek hari ini, pekerjaannya di kantor begitu menumpuk karena sebentar lagi akan ada proyek besar.
Untuk itu Adrian membutuhkan istrinya sebagai penyemangat sekaligus obat melepas lelahnya setelah seharian penuh bekerja dan menghabiskan banyak waktu di kantor.
Dengan posisi memeluk istrinya seperti ini saja sudah membuat sebagian lelahnya hilang. Apalagi kalau ...
"Besok temenin aku di kantor dong," rengek Adrian. Huh, seperti anak kecil saja.
"Kenapa? Kan ada Sam dan Dinda, kenapa aku harus nemenin kamu segala di kantor sih. Lagian kamu ini udah kaya anak TK aja mas, yang mau nya di temenin mulu."
Adrian terkekeh mendengar penuturan Freya.
"Bukannya gitu sayang. Aku tuh mau kamu temenin biar aku tambah semangat kerja nya. Bosen tau kalau setiap hari harus ngadepin muka datar Sam dan muka tegang Dinda ataupun karyawan lain."
Freya tersenyum dan berbalik menatap suaminya.
"Gimana mereka nggak datar sama tegang coba. Orang kamu nya aja sebagai bos mereka, selalu aja menunjukkan ekspresi datar dan mengintimidasi kaya mau makan orang gitu. Ya, pasti Dinda bakalan takut lah. Kalau Sam sih lebih ke profesional. Kalau Dinda dan karyawan yang lain malah takut banget ngeliat kamu udah kaya ngeliat hantu."
Freya tertawa di akhir ucapannya membuat Adrian mendengus. Memang nya sehoror itu kah Adrian sebagai Direktur di perusahaan nya?
"Udah ketawanya?" tanya Adrian begitu Freya selesai tertawa. Jujur dia sangat merasa lucu apalagi melihat ekspresi Adrian saat ini, begitu lucu dan menggemaskan seperti Daffa pikirnya.
"Udah dong mas. Puas banget aku ketawanya."
"Ah, udah lah mas mau mandi dulu. Mood mas udah nggak baik lagi. Habis ini kamu bakalan dapat hukumannya karena udah ngetawain mas." Diakhir ucapannya, Adrian berbisik pelan kemudian mengigit ujung telinga Freya pelan.
__ADS_1
Hal itu sontak membuat bulu kuduk Freya meremang.
"Mampus aku!"