Setelah Bercerai

Setelah Bercerai
BAB 45 BUKAN WAKTU YANG TEPAT


__ADS_3

Setelah makan malam, aku dan Adrian pun memutuskan ke kamar untuk beristirahat.


Adrian mengelus-elus lembut perutku yang sudah membesar, sesekali Adrian mengecupnya.


"Sehat selalu ya nak. Papa sayang sama kamu."


Aku tersenyum melihat perlakuan manis Adrian. Tidak salah keputusanku untuk kembali bersama Adrian, pria ini begitu menyayangiku dan bayi yang ada di dalam kandunganku.


"Cuma sama anaknya aja nih?" godaku.


"Mas nggak adil deh," lanjutku langsung cemberut.


Adrian terkekeh, mencubit gemas pipiku yang sudah mulai mengembul. Biasalah pengaruh efek kehamilan.


"Ya kalau sama Mama nya beda dong."


"Kok beda? Oh aku tahu, mas sekarang lebih pilih sayang sama anaknya daripada sama istri ya." Aku memasang wajah jutek.


"Bukan gitu sayang, makanya kalau mas ngomong jangan dipotong dong. Maksudnya mas, mas lebih sayang sama kamu. Sayangnya mas ke kamu melebihi segalanya di dunia ini, kamu lah pendamping yang akan mendampingi mas sampai tua nanti. Dan ya jelas beda dong sama anak, mas sayang banget sama anak kita juga. Cuma kan anak itu akan punya masa depannya sendiri nantinya. Sedangkan kamu adalah masa depannya mas. Jadi sayang mas ke anak ya beda sama sayang mas ke kamu," jelas Adrian panjang kali lebar.


Membuat ku cukup tercengang. Jarang-jarang Adrian berbicara sepanjang ini. Ini adalah sesuatu hal yang begitu sangat langka menurutku.


"Kok malah diam sih sayang." Adrian menjentikkan jarinya membuat aku kaget.


"Eh."


"Kok malah diam sih. Kenapa?"


"E-enggak apa-apa sayang. Aku cuma kagum aja, ternyata seorang Adrian bisa ngomong panjang kali lebar kaya tadi juga ya. Heheh." Aku terkekeh diakhir kalimat.


"Aku juga manusia sayang. Wajarlah."


"Iya, aku tahu ini wajar. Tapi langkah banget buat kamu yang bernotaben sebagai orang paling irit bicara."


"Kata siapa?"


"Kata aku."


Adrian menggeleng sebentar. "Yaudah sekarang kamu tidur, nggak baik buat Ibu hamil begadang."


Adrian langsung menarik selimut untuk menutupi setengah tubuhku. Dan dia pun ikut berbaring di sampingku, memeluk pinggangku erat dan aku menggunakan lengannya sebagai bantalanku. Pelukan hangat Adrian membuat tidurku sangat nyenyak.


Tetapi tiba-tiba aku tersadar akan sesuatu. Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan dari beberapa hari yang lalu. Hal yang sangat mengganjal bagiku.


Apalagi jika bukan tentang perubahan sikap Adrian yang akhir-akhir ini sering sekali murung seperti memikirkan sesuatu semenjak kepulanganku dari rumah sakit.


Aku rasa ini saat yang tepat untuk aku tanyakan pada Adrian.


"Mas ...,"


"Hm."


Adrian masih memejamkan matanya.

__ADS_1


"Mas."


"Ada apa sayang?" tanya Adrian lembut. Matanya kembali dibuka, kemudian manatapku.


"Aku boleh tanya sesuatu sama kamu?"


"Boleh, mau tanya apa?"


Aku sedikit ragu, haruskah aku tanyakan sekarang saja?


"Hmm ... kamu lagi ada masalah ya?"


"Enggak, nggak ada sayang. Mending sekarang kamu istirahat, biar nggak terlalu kecapean. Kamu ingat kan kata Dokter kalau kamu nggak boleh terlalu kecapean."


Aku tahu Adrian sedang menyembunyikan sesuatu dan mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.


"Mas, akhir-akhir ini aku sering ngeliat kamu murung. Seperti ada sesuatu yang kamu pikirkan, apalagi semenjak hari dimana Daddy ke rumah ini. Kalau kamu punya masalah, cerita ke aku. Sekali pun itu masalah perusahaan atau apapun itu. Walaupun cuma bisa bantu kamu dengan ngasih sedikit solusi, setidaknya kan kamu bisa berbagi masalah kamu sama aku. Itu akan terasa jauh lebih baik mas. Jangan dipendam sendiri mas, nggak baik."


Adrian tertegun mendengar penuturanku.


Dia menghela napasnya kasar.


"Aku akan ceritakan, tapi nggak sekarang sayang. Akan ada waktunya. Lebih baik sekarang kamu istirahat ya." Adrian mengecup keningku. Lalu kembali memelukku dan memejamkan matanya.


"Akan ada waktunya sayang. Dimana kamu sendiri yang akan tahu tentang semua kebenarannya. Dan di saat itu tiba, aku harap kamu tidak membenciku," batin Adrian.


Mungkin Adrian tidak ingin menceritakannya sekarang. Dan sepertinya ini adalah masalah yang cukup besar. Aku tahu Adrian membutuhkan waktu, agar bisa menceritakan semuanya padaku.


Dan aku akan menunggu waktu itu tiba. Kapan pun itu.


Keesokan harinya tepat pukul 06.54 pagi, aku menemani Adrian untuk berjoging di taman kompleks dekat rumah.


Sebelumnya Adrian sudah bersikeras melarangku agar aku tidak ikut dengannya, karena aku sedang hamil. Adrian takut terjadi apa-apa denganku dan calon anak kita kalau aku terlalu kecapean.


Tetapi karena keras kepala, aku tetap memohon pada Adrian untuk ikut. Sesekali tidak masalah kan, lagipula aku sangat bosan jika berada di rumah terus. Adrian juga begitu protektif padaku dan melarang aku untuk melakukan hal-hal yang biasanya sudah menjadi rutinitasku.


Alhasil, Adrian pun mengizinkan aku untuk ikut bersamanya. Tetapi tetap dengan sebuah syarat, yaitu aku tetap ikut dengannya tetapi tidak boleh ikut berolahraga bersamanya.


Aku hanya akan duduk dan menunggu Adrian berberjoging di taman. Tanpa ikut serta.


Ya walaupun hal itu sama membosankan, tetapi yasudah lah. Akan aku turuti, yang penting aku bisa ikut menikmati udara segar pagi hari di taman.


Pukul 08.03 pagi, aku masih setia menunggu Adrian sambil duduk di kursi taman dengan sebotol air mineral dan sambil menikmati udara segar pagi di taman ini.


Taman ini cukup ramai, banyak orang-orang yang sedang melakukan olahraga pagi di sini. Mulai dari berjoging, ada yang sedang merenggangkan ototnya ataupun ada beberapa pasangan dengan anak-anak mereka yang sedang berjalan santai menggelilingi taman ini.


Tidak hanya itu saja, ada pula yang bersepeda atau sekedar menikmati sarapan pagi yang dijual oleh pedagang kaki lima di depan taman. Seperti bubur ayam, mie ayam dan masih ada beberapa lagi.


Ah, berbicara tentang makanan membuatku lapar.


Adrian juga belum kelihatan dari tadi. Padahal istri dan anak dalam kandungan ini sudah lapar dari tadi karena belum sarapan.


Aku menghela napas.

__ADS_1


"Hai ...,"


Sapaan seseorang membuatku mendongak.


Anak kecil ini, bukankah dia adalah Daffa? Anak dari Vania.


Daffa tersenyum manis padaku, begitu sangat menggemaskan dengan pipi gembulnya.


"Tante baik apa kabar? Kita udah lama ya nggak ketemu." Daffa duduk di sampingku.


"Alhamdulillah baik sayang. Daffa juga apa kabar? Eh, iya yah kita udah lama nggak ketemu Daffa tambah gemesin aja deh."


Daffa terkekeh. Walaupun baru berusia 5 tahun, tapi aku akui Daffa ini adalah anak yang cukup pintar.


"Alhamdulillah baik juga Tante. Ohiya Tante ke sini sama siapa?" tanya Daffa penasaran.


"Sama Papa An, kalau Daffa sama siapa?"


"Hmm, Daffa ke sini bareng Mbak Fina. Daffa pengen main sepeda, cuma tiba-tiba ban nya kempes. Jadi Mbak Fina lagi pergi ke tukang tambal ban di depan sana." Daffa menunjuk ke arah depan, dimana ada sebuah bengkel di sana.


Aku mengangguk paham.


"Yaudah kalau gitu kita tunggu sini aja sama Tante."


"Okey Tante baik." Daffa mengembangkan senyumnya.


"Eh, Tante baik serius Papa An di sini juga?"


"Iya sayang. Papa An kamu lagi joging, paling bentar lagi datang. Jadi kita tunggu di sini aja."


Daffa mengangguk antusias.


Aku tahu Adrian sangat dekat dengan Daffa dan Daffa begitu menyayangi Adrian. Mereka bahkan terlihat seperti layaknya seorang Ayah dan anak karena memiliki wajah tampan yang sama.


Tetapi bedanya wajah tampan Daffa seperti tidak asing lagi bagiku, sedikit unik dan sangat familiar denganku. Sangat mirip dengan seseorang yang aku kenali, tetapi siapa?


"Nah, itu Papa An." Tunjukkan begitu Adrian menghapiri kami.


Adrian sedikit kaget dengan kehadiran Daffa di sini.


"Papa An!" teriak Daffa lalu berlari mendekati Adrian, mereka saling berpelukan.


Daffa seperti nya sangat merindukan Adrian.


Adrian menatapku dengan penuh tanda tanya.


"Daffa ke sini sama Pengasuh nya mas. Katanya mau main sepeda, tapi bannya bocor dan pengasuh nya lagi di bengkel depan," jelasku menjawab semua pertanyaan Adrian.


"Daffa kangen banget sama Papa."


"Papa juga kangen sama Daffa." Adrian tersenyum lembut dari senyumannya aku bisa membaca bahwa Adrian sangat menyayangi Daffa.


Tetapi di sini yang menjadi pertanyaannya, siapa Ayah kandung Daffa yang sebenarnya?

__ADS_1


Vania bahkan tidak pernah menceritakan tentang ayah kandung Daffa. Seperti sengaja di sembunyikan atau memang Vania tidak ingin membuka luka lama?


Huh! Sungguh membingungkan.


__ADS_2