Setelah Bercerai

Setelah Bercerai
BAB 42 SAKIT?


__ADS_3

"Sam ... apa Mom dan Alya akan pergi ke tempat itu sore ini?" tanya Adrian.


Sore ini Adrian dan Sam sedang duduk berbincang-bincang di ruang kerja pribadi Adrian yang berada di rumah nya, kedua pria itu sedang membahas mengenai rencana mereka kedepannya.


Sam mengangguk. "Iya, aku dengar dari asisten Mommy Sarah. Sore ini Mom Sarah dan Alya akan berziarah ke sana."


Sam dan Adrian tentu tahu bahwa hari ini adalah hari peringatan kepergian orang itu. Orang yang dengan sengaja mereka sembunyikan identitas nya.


"Bagaimana dengan Vania?"


"Kalau Vania, seperti biasanya An. Dia bakalan pergi setelah Mommy Sarah dan Alya pergi dari sana."


Adrian hanya terdiam, kini fikiranya sedang berkelana ke beberapa tahun silam. Andaikan waktu bisa diputar kembali, Adrian ingin sekali menyelamatkan orang itu. Agar keluarga nya tidak perlu menyembunyikan banyak rahasia seperti ini.


"Aku ingin semua rahasia ini terungkap."


Sam menatap Adrian. "Maksudnya?"


"Kamu tau lah Sam. Semua rahasia ini buat aku selalu nggak tenang. Fokusku juga jadi terbagi antara rahasia ini dan juga keluargaku. Apalagi sekarang Rea lagi hamil, aku nggak mau kedepannya rahasia ini akan menjadi boomerang


yang akan membuat istri dan anakku pergi."


"Jadi apa rencana kamu selanjutnya An?" tanya Sam.


"Aku ingin segera menyelesaikan semuanya, biar hidupku dan keluargaku lebih tenang. Kita jalankan semuanya sekarang bagaimana?"


Sam mengangguk mantap. "Okey, aku bakalan siapkan semuanya."


Adrian mengangkat sudut bibirnya, tersenyum tipis. Bahkan senyumannya lebih terlihat menyeramkan jika dilihat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


FREYA POV


Beberapa bulan kemudian ...


Pukul 10.30 pagi


Aku bangun, mengusap mataku pelan dan mengedarkan pandanganku ke sekeliling kamar, kemudian menatap jam dinding di kamar.


Sepertinya Adrian sudah pergi ke kantor. Mengingat ini sudah pukul 10.00 pagi.


Karena usia kehamilanku yang kini sudah memasuki usia kehamilan ke 6 bulan, jadi akhir-akhir ini aku sering sekali bangun terlambat.


Dan bukan hanya itu saja, aku juga jadi malas untuk bergerak karena bobot tubuhku yang bertambah berat dan juga perutku yang semakin membesar.


Aku pun langsung bergegas ke kamar mandi untuk melakukan ritual mandi pagi, setelah selesai mandi tiba-tiba ponselku berdering nyaring.

__ADS_1


Aku melirik menggunakan ekor mataku, melihat siapa yang menelepon dan ... huh!


"Hallo, ada apa Sat?" Telpon itu dari Satria. Aku sangat kesal karena ini sering terjadi, setiap pagi Satria selalu saja menelpon ku hanya sekedar untuk mengingatkan aku tentang itu.


"...."


"It's okey Sat. Udah kok udah, tenang aja. Aku nggak bakalan lupa, lagian juga pagi ini aku nggak ngerasain kram kaya biasanya kok."


"...."


"Okey, bye. Besok aku bakalan ke rumah Dokter Laras."


Aku pun langsung menutup telponnya, karena berlama-lama berbicara dengan Satria akan membuatku semakin pusing.


"Akhh ...," lirihku. Baru juga diomongin sekarang malah beneran sakit.


Perutku malah kembali kram, seperti biasanya. Aku pun langsung bergegas mengambil pil pereda nyeri yang biasa aku minum jika mengalami kram seperti ini.


"Nak, Mama harap kamu bisa bertahan di sana ya. Kita sama-sama berjuang, Mama juga bakalan ngelakuin apa aja demi untuk mempertahankan kamu. Mama sayang banget sama kamu." Aku mengusap-usap pelan perutku.


Dan entah kenapa rasa kram ini semakin menjadi-jadi, membuat buliran air mata dan keringat mendominasi di kedua pipi dan seluruh wajahku.


Aku tidak boleh panik, dan harus tetap tenang. Ini sudah biasa terjadi semenjak usia kehamilanku bertambah. Bahkan Adrian juga belum tahu tentang ini, karena aku belum siap untuk memberitahu kan soal ini kepadanya.


Rasa sakitnya semakin menjadi-jadi lagi, sepertinya aku harus segera ke rumah sakit tempat praktek Dokter Laras. Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, bahkan obat pun tak bisa meredakan rasa sakitnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Rea, sepertinya ini semakin parah. Kita har-"


"Apa nggak bisa nunggu sampai bayi ini lahir Dok? Dokter tau kan kalau aku ... aku,"


Dokter Laras mengangguk. "Dokter tau, tapi ini yang terbaik untuk kamu Rea."


"Nggak ada cara lain lagi Dok?"


Dokter Laras menggeleng pelan.


Tiba-tiba pintu ruangan tempatku di rawat mendadak di buka dengan kasar oleh seseorang. Karena aku sangat lemah untuk dibawa pulang, terpaksa Dokter Laras menyuruhku dirawat inap saja untuk beberapa hari kedepan sampai kondisiku membaik.


Di balik pintu, terlihat Adrian yang langsung berlari ngos-ngosan ke arahku dengan wajah penuh keringat dan kekhawatiran.


Ah aku lupa, para pelayan di rumah pasti sudah memberitahukan ini kepada Adrian. Sehingga pria itu bisa berakhir di sini.


"Sayang kamu nggak apa-apa? Apa ada yang sakit? Apa bayi kita baik-baik saja?" tanya Adrian beruntun, dia terlihat begitu panik.


Aku menggeleng pelan, walaupun rasa kram di perutku sudah berkurang. Tapi tetap saja masih terasa sedikit kram yang membuatku begitu lemah.

__ADS_1


"Dokter, istri saya baik-baik saja kan?" Adrian beralih bertanya kepada Dokter Laras.


Dokter Laras melirikku sebentar, kemudian tersenyum menatap Adrian.


"Bapak tenang saja, istri Bapak dalam kondisi yang baik. Hanya saja ...," Dokter Laras menggantung ucapannya membuatku was-was.


"Hanya saja apa Dok?" tanya Adrian bertambah panik.


"Hanya saja dia sepertinya terlalu kecapean Pak dan seperti lagi banyak yang difikirkan. Sehingga membuat kram di perutnya. Bapak tidak usah khawatir, setelah di opname beberapa hari, kondisinya akan kembali membaik kok."


Adrian menghela napas lega.


"Kalau begitu saya permisi dulu Pak, Bu Freya."


Aku dan Adrian pun mengangguk dan Dokter Laras segera pergi dari ruangan tersebut.


Aku juga merasa sedikit lega karena lagi-lagi Dokter Laras mau membantuku.


"Sayang kamu tuh gimana sih? Kalau ada apa-apa itu langsung hubungin aku, untung aja pelayan di rumah ngasih tau ke aku. Kalau nggak mana tau aku kalau kamu masuk rumah sakit," omel Adrian.


Oh ya, aku lupa bahwa Adrian sekarang semakin bertambah cerewet setelah kehamilanku. Tidak boleh ini lah, harus itu lah dan masih banyak lagi.


"Iya iya mas. Cerewet banget sih."


"Kan demi kebaikan kamu dan anak kita juga. Ohiya kamu udah makan?"


Aku menggeleng.


"Mau makan apa? Biar mas beliin."


"Hmm, apa aja deh. Terserah mas, bakalan aku makan kok. Tapi entaran aja ya."


"Hah, kok entaran sih. Kamu itu nggak boleh telat makan sayang, nanti tambah sakit. Aku beli makan buat kamu dulu ya." Adrian yang hendak berdiri dan melangkah langsung aku cekal.


"Bentar aja mas. Sekarang aku nggak lagi pengen makan, aku maunya kamu mas. Aku mau kamu nemenin aku di sini pokoknya, nggak boleh ke mana-mana."


Aku memasang wajah secemberut mungkin agar Adrian luluh dan tidak meninggalkan aku. Karena aku hanya ingin Adrian berada di sisiku saat ini.


"Okey okey. Mas bakalan di sini dan nggak bakal ke mana-mana. Biar Dinda yang beli aja."


"Emang Dinda di sini?"


"Di luar." Ucap Adrian kemudian mengecup keningku.


"Kenapa nggak di suruh masuk aja mas?" Kasihan sekali kalau Dinda harus menunggu Adrian di luar.


"Ganggu. Lagian dia kan jomblo, nanti malah panas dingin ngeliat kemesraan kita."

__ADS_1


Aku mendengus. Adrian memang ada-ada saja.


__ADS_2