Setelah Bercerai

Setelah Bercerai
BAB 37 ANAK SIAPA DIA?


__ADS_3

Sebuah mobil mewah hitam memasukki kediaman Adrian dan Freya. Di sambut oleh beberapa penjaga di rumah itu.


Kemudian turunlah seorang wanita paruh baya yang masih terlihat begitu sangat cantik dari mobil tersebut.


"Pak, Freya nya ada di dalam kan?" tanya wanita itu kepada salah satu penjaga di rumah itu.


"Iya nyonya. Nyonya Freya ada di dalam."


Wanita itu langsung bergegas dan memasuki rumah itu dengan penuh binar kebahagiaan. Diikuti asistennya dari belakang.


"Freya!" panggil wanita itu.


Freya yang sedang asik membaca majalah pun mengangkat wajahnya dan mendapati mertuanya yang kini sedang berdiri di hadapannya.


"Mom!" Freya langsung berdiri dari duduknya. Lalu memeluk mertuanya sebentar.


"Gimana kabar kamu sama calon cucu Mommy. Sehat-sehat aja kan."


"Alhamdulillah Mom."


"Ohiya, Mommy bawakan bingkisan beberapa cemilan kesukaan kamu lho. Kamu pasti senang banget deh. Tunggu Sebentar ya."


Mommy Sara langsung memanggil asistennya untuk membawakan bingkisan yang ia maksud.


"Letakan di situ saja ya!" Asisten pribadinya itu langsung meletakan beberapa bingkisan cemilan itu di hadapan Freya. Lumayan cukup banyak, sehingga membuat Freya berdecak kagum.


"Mom, apa ini nggak terlalu kebanyakan untuk Freya." Freya menatap mertuanya.


Mertuanya itu langsung tersenyum. "Nggak sayang, ini semua buat kamu. Buat stok cemilan kamu. Soalnya kan kata Mbok Atun, kamu itu sekarang lagi suka ngemil-ngemil kaya gini. Jadi sekalian aja Mommy bawain yang banyak buat kamu."


"Tapi tetap ingat ya, jaga pola makan kamu biar seimbang. Antara makanan yang sehat dan cemilan-cemilan kaya gini, ya."


"Siap Mom."


Setelah itu Mbok Atun langsung datang dan membawakan Mommy Sarah minuman, seperti biasa teh hijau dengan sedikit gula. Mbok Atun sudah sangat hafal itu.


"Seperti biasa, teh hijau dengan sedikit takaran gula," ucap Mbok Atun setelah meletakan minuman Mommy Sarah di atas meja.


"Makasih ya Mbok. Mbok emang paling tau deh."


Kemudian setelah itu Freya dan Mommy Sarah pun berbincang-bincang tentang beberapa hal. Mulai dari tentang kehamilan dan beberapa hal lainnya. Tetapi kebanyakan tentang edukasi kehamilan. Karena baru pertama kali hamil, maka Freya menanyakan banyak hal kepada Ibu mertuanya itu. Maklum lah, Freya juga tidak terlalu paham banyak hal seputar kehamilan.


"Selamat siang Nyonya Sarah, Nyonya Freya!" sapa seseorang yang membuat perbincangan antara mertua dan menantu itu terhenti.


Kedua wanita itu sama-sama mengalihkan pandangannya dan mendapati Sam yang sudah berdiri di depan mereka.


"Sam ...," Mommy Sarah mengalihkan pandangannya melihat jam tangan yang melingkar indah di pergelangan tangannya.


"Baru jam segini. Tumben kamu udah di sini, mana Adrian? Apa kali ini pekerjaan kalian nggak terlalu banyak sehingga kalian pulang di jam seperti ini?"


Pantas saja Mommy terheran-heran melihat kedatangan Sam. Ini masih jam kerja dan biasanya di jam seperti ini Sam dan putranya itu pasti masih sibuk dengan urusan kantor.


"Ehmm, maaf Nyonya. Untuk hari ini saya tidak menemani tuan Adrian di kantor, Dinda yang mengatur semua jadwal dan membantu pekerjaan tuan Adrian."


Mommy menghela nafasnya. "Bicaralah sesantai mungkin Sam. Biar bagaimanapun juga kamu sudah Mom anggap sebagai putra Mom sendiri. Bicaralah seperti biasanya, toh juga kita sekarang lagi di rumah Sam."

__ADS_1


Sam tersenyum kemudian mengangguk kecil.


"Jadi khusus hari ini kamu di liburkan sama Adrian?"


"Ehmm, tidak jug- ah maksud Sam iya. Sam hari ini di kasih libur sama Adrian."


Mommy Sarah dan Freya hanya mengangguk.


Tetapi mendadak pandangan Freya langsung berpindah pada seseorang yang berdiri di belakang Sam.


Seorang anak kecil lebih tepatnya. Ah, mungkin lebih tepatnya anak kecil itu sedang bersembunyi di balik tubuh kekar milik Sam, sehingga menghalangi pandangan Freya dan Mommy padanya.


Freya bahkan baru menyadari hal itu.


"Siapa itu Sam? Ehm, maksudku anak kecil yang berada di belakangmu," ucap Freya.


Mommy mengarahkan pandangannya ke arah yang sama dengan Freya. Menatap seseorang yang berada di belakang Sam. Dan masih belum terlihat dengan jelas wajahnya.


Sam perlahan menggenggam tangan mungil yang berdiri di belakangnya dan membawanya untuk keluar dari persembunyian.


Freya tersenyum lembut melihat anak kecil yang tak lain dan tak bukan adalah Daffa. Baginya anak kecil itu terlihat sangat menggemaskan dengan kedua pipi gembulnya.


"Anak ganteng, kenalin ini adalah Oma Sarah dan yang satunya lagi adalah Tante Rea."


Daffa berbalik menatap Mommy Sarah dan Freya secara bergantian.


"Hallo Tante Rea, hallo Oma Sarah. Kenalin aku Daffa." Dengan suara imutnya Daffa menyapa Mommy Sarah dan Freya.


"Yaampun, kamu menggemaskan sekali. Sini duduk di dekat Tante." Freya berdiri dan membawa Daffa untuk duduk di sampingnya.


Sam tersenyum.


"Ohiya, nama kamu siapa tadi? Daffa ya?" tanya Freya dengan suara lembutnya.


Daffa mengangguk antusias.


"Hmm, Daffa udah umur berapa tahun sih? Kok menggemaskan banget, mana udah pake seragam TK lagi."


"5 tahun Tante," jawab Daffa antusias.


"Wow, udah gede dong."


"Iya dong Tante, Daffa juga udah bisa naik sepeda."


"Wow, keren banget dong. Berarti kapan-kapan Tante boleh dong minta di boncengin sama Daffa."


"Boleh dong. Ohiya Tante baik cantik deh. Kaya Bunda Daffa."


"Ah kamu nih bisa aja, heheh." Freya mencolek ujung hidung Daffa.


"Eh Daffa boleh panggil Tante dengan sebutan Tante baik kan."


"Hmm, boleh dong sayang. Daffa boleh panggil Tante dengan sebutan apa aja. Bebas pokoknya."


"Sam, Daffa ini sebenarnya anak siapa sih?" Tanya Mommy Sarah yang sudah sangat kepo sejak pertama kali melihat anak kecil itu. Dia bertanya-tanya dalam benaknya siapa anak kecil itu dan mengapa tiba-tiba Sam membawanya ke sini.

__ADS_1


Berbeda dengan Mommy Sarah yang kepo dengan Daffa. Freya malah justru sebaliknya, Freya tidak begitu kepo dengan siapa Daffa sebenarnya. Walaupun namanya seperti tidak asing di telinga Freya. Tetapi Freya masa bodoh dengan hal itu. Malahan kini Freya dan Daffa malah berbincang-bincang tanpa memperdulikan Sam dan Mommy Sarah.


"Apa jangan-jangan dia adalah anak kamu ya? Kamu ngehamilin anak orang tanpa sepengetahuan kami? Mana anaknya udah gede lagi. Mama dan Papa kamu udah tau tentang ini? Trus Ibu nya mana?" tanya Mommy Sarah secara beruntun membuat Sam meringis meratapi nasibnya.


Kenapa malah dia yang kena. Boro-boro dia mau menghamili anak orang, pacar saja Sam tidak punya. Mana bisa menghamili anak gadis orang. Bisa digantung hidup-hidup dia sama Kakek dan Papa nya.


"Nggak Mom. Bukan Sam. Daffa bukan anak Sam, tapi anak dari-" Sam menghentikan ucapannya.


"Anak dari siapa?"


"Ehmm, itu Mom. Anu ...,"


"Ngomong itu yang jelas Sam. Apa jangan-jangan benar ya, dia anak kamu. Jujur aja deh."


Sam berdecak. "Bukan Mom bukan. Bukan anak Sam. Percaya deh sama Sam. Dia itu anak dari Vania dan suaminya."


Mommy Sarah menajamkan matanya. "Vania? Kamu bilang Vania?" bisik Mommy Sarah agar tidak terdengar oleh Freya dan Daffa yang sedang asik mengobrol.


Namun walaupun begitu, Freya sempat mendengar ucapan Sam yang menyebutkan nama Vania. Tetapi wanita itu malah memilih untuk diam.


"Pantas saja aku seperti tidak asing dengan namanya, ternyata Daffa adalah anak Vania," batin Freya.


"Rea, kamu bincang-bincang sama Daffa dulu yah. Mommy sepertinya butuh berbicara dengan Sam mengenai bisnis baru Mom. Ayo Sam." Mommy Sarah langsung memberikan isyarat pada Sam untuk berbicara 4 mata.


"Sudah berapa kali Mommy katakan Sam. Jangan pernah kamu bawa Vania ataupun yang berhubungan dengan Vania ke dalam keluarga Mahesa. Kamu ingat itu kan."


"Apa kamu lupa dengan kejadian 6 tahun lalu, Sam?"


Sam menghela nafasnya. " Tentu saja Sam ingat, Sam sangat ingat bahkan tentang kejadian 6 tahun lalu."


"Lalu kenapa kamu membawa Daffa ke sini?"


"Nggak ada salahnya kan Mom. Lagi pula Vania sekarang sudah punya kehidupannya sendiri dengan suaminya, bahkan sudah memiliki seorang anak juga Mom. Nggak ada salahnya kan kita memaafkan semua kesalahan Vania."


"Apa Adrian yang menyuruh kamu?"


Sam tidak menjawab, pria itu hanya terdiam.


"Okey, diam kamu adalah jawaban iya. Dan Mommy tau, kita memang harus memaafkan Vania. Tetapi itu nggak mudah Sam, Mommy nggak bisa segampang itu memaafkan Vania. Mommy harap kamu dan Adrian tau itu."


"Dan satu lagi, Mommy akan tetap menerima Daffa karena dia adalah anak dari Vania dan suaminya yang baru. Bukan anak dari keturunan keluarga Mahesa."


Sam tetap terdiam.


"Katakan Sam, dia bukan keturunan Mahesa kan." Mommy menatap Sam.


Perlahan Sam menggeleng. "Bukan Mom." Pria itu menunduk.


Untuk sesaat Mommy Sarah menghela nafas lega.


"Syukurlah kalau begitu karena Mommy nggak sudi jika keturunan Mahesa lahir dari rahim wanita pembawa sial seperti Vania. Dan satu lagi, kamu dan Adrian jangan terlalu dekat dengan anak itu Sam."


"Ayolah Mom. Mom tau kan, Vania itu adalah sahabat dekat Sam dan Adrian. Maka dari itu Sam dan Adrian sangat dekat dengan Daffa. Itu adalah hal yang sangat wajar bukan. Sam juga mengajak Daffa ke sini untuk berkenalan dengan kalian. Tidak ada salahnya kan, dan lupakan tentang semua dendam Mommy pada Vania."


Mommy Sarah tersenyum sinis mendengar ucapan Sam. Satu kenyataan yang sangat dia benci sampai sekarang adalah kenyataan bahwa Sam dan Adrian adalah sahabat dari wanita yang dia sangat benci. Dan itu semua tidak bisa dipungkiri lagi.

__ADS_1


Dan tanpa mereka sadari, ada seseorang yang mendengarkan sekilas perbicangan Sam dan Mommy Sarah.


"Sebenarnya apa yang di sembunyikan keluarga ini? Sungguh teka-teki yang sulit untuk dipecahkan," batin orang itu.


__ADS_2