Setelah Bercerai

Setelah Bercerai
BAB 18 ADRIAN MENGETAHUINYA


__ADS_3

DUA MINGGU KEMUDIAN ...


Hari ini merupakan hari minggu, hari dimana aku akan menghabiskan banyak waktuku dengan bersantai-santai di rumah saja.


Tetapi tidak seperti minggu pagi yang sebelum-sebelumnya, pagi ini aku ingin mengawali minggu pagi ku dengan hal-hal yang lebih positif dan bermanfaat. Tidak bermalas-malasan seperti minggu-minggu sebelumnya.


Ya, aku akan melaksanakan senam hamil pagi ini. Karena kebetulan dari kemarin malam Mama menemani Papa untuk perjalanan dinas ke Bandung dan akan pulang pada Senin sore nanti. Jadi ini kesempatanku.


Demi kesehatan bayiku, aku akan melakukan senam hamil mengikuti instruksi dari video YouTube yang sudah aku download sebelumnya.


Aku akan melaksanakannya di balkon kamarku yang kebetulan luas dan sangat pas digunakan untuk senam hamil. Karena tetap saja, walaupun Papa dan Mama pergi, tetapi masih ada para ART di rumah ini. Pasti mereka akan curiga jika aku tiba-tiba melakukan senam hamil seperti ini dan akan memberitahukan kepada Papa dan Mama. Bisa gawat kan.


Tetapi setidaknya mereka tidak akan dengan lancang membuka pintu kamarku untuk masuk.


Jadi aman. Kalau Mama kan terkadang pasti akan mengetuk sekali saja dan langsung masuk jika pintu tidak dikunci.


Sebelum melakukan senam hamil seperti instruksi yang ada di dalam video, aku memutuskan untuk merenggangkan otot-ototku sekaligus pemanasan terlebih dahulu.


Tetapi di tengah pemanasan, tiba-tiba pintu kamarku di ketuk. Aku sangat yakin itu adalah Mbok Tuti, ART di rumahku.


Karena senamnya belum dimulai, tidak apa-apa lah mbok Tuti masuk. Mungkin untuk mengantarkan sarapan pagi ku. Aku pun langsung menyuruhnya untuk masuk, tanpa melihatnya.


Sedangkan aku tetap melakukan pemanasan. Cuma pemanasan saja jadi aku yakin mbok Tuti tidak akan curiga.


Tetapi pada saat aku membalikkan tubuhku untuk berbicara dengan mbok Tuti, tiba-tiba tubuhku menegang melihat siapa yang kini telah ada di hadapanku saat ini sambil membawakan nampan berisi sarapan pagi ku.


Dia tersenyum kepadaku, lalu meletakkan nampan itu di atas nakas.


Aku mendengus, melihat tampang tak berdosanya orang di hadapanku saat ini.


Ya, siapa lagi kalau bukan Adrian Mahesa. Pria yang bawaannya selalu membuatku kesal dan selalu menghancurkan setiap mood baikku.


Dengan gagahnya dia berjalan ke arahku yang kini sedang berada di balkon.


Dan tunggu, kenapa tiba-tiba dia ada di sini? Siapa yang mengizinkannya masuk?

__ADS_1


Ah, aku lupa. Pria ini adalah Adrian Mahesa, pria yang akan selalu mendapatkan semua yang dia mau.


Bisa saja dia memaksa mbok Tuti untuk membiarkan dia masuk ke rumah ini.


"Ngapain kamu ke sini?" tanyaku ketus.


"Mas Adrian, okey." Koreksinya. Pemaksaan sekali harus memanggilnya dengan sebutan 'mas' padahal waktu itu dia fine-fine saja jika aku tidak memanggilnya dengan sebutan 'mas'.


"Ngapain mas Adrian ke sini?" ucapku menekankan kata 'mas Adrian' dengan kesal.


Dan lagian ini masih pagi sekali menurutku. Ini baru pukul 07.00 pagi dan pria ini sudah berada di rumahku, tepatnya di kamarku. Lancang sekali.


Kalau tahu dia yang akan datang ke kamarku, sebaiknya aku langsung kunci saja pintunya tadi dan tidak menyuruhnya untuk masuk.


"Kamu tanya saya ngapain ke sini?" Bukannya menjawab malah tanya balik. Ya iyalah aku bertanya kenapa dia ke sini kalau tidak punya urusan denganku sama sekali.


Aku tidak menjawab pertanyaannya dan tetap diam menatapnya tanpa ekspresi.


Melihat senyuman yang masih setia bertengger di wajah menyebalkannya, membuatku bertambah kesal.


Huh! Ada apa dengan diriku, ayolah Rea. Kamu pasti bisa melupakan Adrian kan.


"Ya tentu saja untuk menjenguk anak dan istri saya tercinta," jawabnya dengan santai.


Kemudian dia berbalik dan masuk ke kamarku, duduk di atas sofa kecil yang kebetulan tersedia di sudut kamarku.


Aku melototkan kedua bola mataku tak percaya dengan apa yang barusan Adrian katakan. Anak? Istri? Bagaimana mana bisa dia ...


"Kamu ...," Aku menyusulnya masuk ke kamarku dan berdiri di hadapannya.


"Saya tahu kamu sedang mengandung anak saya, Freya. Jadi jangan meremehkan pengaruh seorang Adrian."


Untuk sesaat aku dibuat terdiam. Tetapi beberapa saat kemudian aku tertawa di hadapan Adrian.


Bukan Freya Ranita Ganney, jika tidak licik dan memiliki banyak alasan.

__ADS_1


"Kamu bilang apa tadi? Aku, aku mengandung anakmu? Hei, tuan Adrian Mahesa. Anda sedang bermimpi? Apa mas yakin, kalau aku sedang mengandung? Lagian kalau emang aku lagi mengandung, apa mas yakin kalau aku sedang mengandung anak dari mas Adrian?" Aku masih saja berusaha tertawa di hadapannya walaupun tidak ada yang lucu di sini.


Anggap saja aku sedang gila sekarang. Ah, terkadang kenapa keadaan juga bisa membuat kita gila.


Tetapi aku harus berusaha sebaik mungkin agar akting ku terlihat seperti benar-benar nyata di mata Adrian.


Sedangkan Adrian sudah menatapku datar dengan mata tajamnya. Sungguh mengerikan. Tetapi aku tidak boleh takut. Tidak semudah itu.


Bahkan wajahnya sudah memerah dan rahangnya sudah mengeras, kedua tangannya pun ia kepalkan sampai urat-uratnya terlihat. Adrian sedang marah besar dan bisa gawat ini.


Aku sudah memancing kemarahan Adrian. Ah, bisa-bisanya aku melakukan ini semua.


"Ikut saya sekarang!" Adrian menarik tanganku kasar. Membuat aku merintih kesakitan.


Oh ayolah, ini adalah kesalahanku karena telah membuat Adrian marah besar padaku.


"Tunggu, tunggu. Mas mau bawa aku ke mana?" tanyaku begitu kami sampai di ambang pintu kamarku.


Adrian tersenyum sini. "Kamu fikir, apa yang kamu ucapkan barusan itu. Membuat saya percaya dengan ucapan kamu?"


"Kita akan pergi ke dokter kandungan untuk memastikan, bahwa anak di kandungan kamu itu adalah anak saya. Dan kamu saat ini sedang mengandung anak saya. Berapa pun akan saya bayar kepada siapapun dokter itu."


Aku tersenyum miris. Mana ada dokter yang bisa mendeteksi bahwa anak di kandungan ku ini adalah anaknya. Sebanyak apapun uang yang akan dia keluarkan, tidak akan bisa melakukan itu semua.


"Lagipula dari informasi yang saya dapatkan. Kamu tidak pernah berhubungan dengan lelaki manapun, hanya pergi sekali bersama pria wisatawan itu dan tidak melakukan apa-apa. Dan itu artinya, kamu hanya melakukannya bersama saya sekali itu saja. Jadi, saya bisa pastikan bahwa anak itu adalah anak biologis saya," jelas Adrian.


Orang ini benar-benar tidak bisa aku anggap remeh. Sepertinya dia tahu semua informasi.


Aku harus berhati-hati sepertinya.


"Percaya diri sekali kamu mas. Mana mungkin benih kamu bisa langsung jadi begitu saja, hanya dalam sekali berhubungan," ucapku.


"Saya yakin ini anak saya, walaupun kita melakukannya sekali saja. Tetapi saya yakin, benih itu benar-benar jadi. Jadi, saya harap kamu tidak akan mengelaknya lagi."


Aku mendengus.

__ADS_1


Dan Adrian tetap menarikku untuk pergi bersamanya ke dokter kandungan. Entah ke dokter kandungan yang mana, aku hanya bisa pasrah. Pria menyebalkan.


__ADS_2