
"Karena aku nggak bisa tinggal diam, ngeliat sahabat aku di giniin sama suaminya sendiri. Jadi izinin aku buat ngebuktin bahwa semua dugaanku benar Re."
Freya mengusap kasar air matanya, kemudian dengan sedikit ragu wanita itu mengangguk menyetujui ucapan Satria.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah melalui beberapa perdebatan antara Satria dan Freya. Dan juga setelah mendapatkan informasi tentang di lantai berapa dan kamar nomor berapa yang Adrian pesan.
Akhirnya Satria dan Freya kini sudah berada di lantai 3, tempat di mana kamar hotel yang Adrian pesan berada.
Mereka berdua berjalan sambil melihat-lihat nomor kamar hotel yang sesuai dengan apa yang dikatakan oleh resepsionis di lobi hotel tadi.
"Coba lihat lagi deh Sat, kamu yakin nomor kamar hotelnya itu 209?"
Satria menggangguk yakin. "Iya lah, percaya sama aku deh Re."
"Nah ini dia kamarnya." Tunjuk Satria begitu mereka sampai di depan kamar nomor 209.
Freya tampak terlihat sangat gugup dan gelisah. Fikirannya kini sudah berkelana ke mana-mana. Dan bagaimana jika semua ini benar.
Bagiamana jika Adrian benar-benar berselingkuh dengan wanita lain?
"Kita grebek aja langsung ya Re," ucap Satria.
"Tapi ... aku takut Sat. Gimana kalau itu benar-benar Adrian?"
"Kamu nggak usah takut. Ada aku di sini yang bakalan selalu ngejaga kamu Re. Tenang aja. Lagian kalau itu benar-benar Adrian, ya berarti kecurigaan kita benar dong. Dan kamu tinggalin aja cowok berengsek kaya gitu, karena kamu nggak pantas untuk bersanding dengan cowok kaya Adrian."
"Sat ... aku belum siap," lirih Freya. Sungguh dia belum siap melihat ini semua.
"Ayo lah Re. Kamu bisa, ada aku di sini." Satria menggenggam kedua tangan Freya.
Freya menarik dalam nafasnya kemudian mengeluarkannya secara perlahan, hal itu Freya lakukan beberapa kali. Agar dapat membuatnya sedikit lebih tenang.
Dan akhirnya Freya dengan hati yang lebih tenang lagi menatap Satria dan mengangguk seolah memberikan isyarat persetujuan kepada Satria untuk membuka pintunya.
Satria memejamkan matanya sebentar kemudian kembali membukanya.
Pria itu mengambil ID akses nya lalu membuka pintu kamar hotel dengan tangan sebelahnya, sedangkan tangan yang satunya dia gunakan untuk menggenggam erat tangan Freya.
Mencoba menyalurkan semua energi positifnya agar Freya bisa lebih tenang dan kuat untuk menghadapi ini semua. Karena Satria sangat yakin, pria di dalam kamar hotel itu adalah Adrian.
Dan pastinya Freya akan sangat terluka jika melihat Adrian bersama wanita lain di dalam kamar hotel ini yang bertepatan dengan perayaan hari pernikahan mereka yang ke 3 tahun.
__ADS_1
Pintu pun akhirnya terbuka.
Dengan langkah pelan dan penuh dengan keheningan yang menyelimuti, Freya dan Satria memasukki kamar hotel tersebut.
Agar tidak ketahuan, mereka melangkah dengan sangat pelannya melewati lorong kecil yang akan terhubung langsung dengan kamar utama.
Hati Freya semakin berdebar lebih kencang lagi dari yang sebelumnya. Tangannya pun terasa sangat dingin, seperti mayat hidup. Dan Satria bisa merasakan itu dari genggaman tangan Freya yang ia genggam dengan begitu eratnya.
"I'ts okey Re." Satria tersenyum sebentar, senyuman yang ingin dia keluarkan agar Freya bisa merasa lebih tenang lagi. Walaupun senyuman itu adalah senyuman paksaan, mengingat ini bukan waktunya untuk main-main.
Dan sesampainya di dekat ranjang yang berada tepat di kamar hotel tersebut.
Deg!
Tiba-tiba mereka melihat satu pemandangan yang membuat hati Freya seperti teriris-iris ribuan belatih yang sangat amat tajam.
BRAKK!
Freya tak sengaja menjatuhkan vas bunga yang berada di salah satu meja panjang yang berisi beberapa pajangan bunga di kamar hotel tersebut.
Sontak membuat kedua sejoli yang sedang berada di posisi yang tidak benar itu langsung terbelalak kaget melihat keberadaan Freya yang kini sedang menatap mereka berdua dengan air mata yang sudah membendung di kedua pelupuk matanya.
Yang jika Freya mengedipkan matanya sekali saja, maka air mata itu akan langsung turun dan membasahi kedua pipinya. Bahkan tidak hanya itu saja, tubuh Freya juga kini sudah bergetar hebat menahan isakan tangis.
Apalagi bagi seorang istri seperti Freya yang mendapati suaminya langsung yang tengah berselingkuh dan bermesraan dengan seorang wanita di kamar hotel.
Dengan wanita yang bahkan sangat amat Freya kenal. Wanita yang sudah Freya anggap sebagai sahabat sekaligus saudaranya sendiri.
Wanita yang selalu Freya percaya tidak akan melakukan hal sekeji dan senajis ini.
Tetapi ternyata Freya salah besar. Wanita itu ternyata selama ini justru malah bersembunyi di balik status persahabatannya bersama suaminya. Ternyata di balik kata 'sahabat' ada kata lain lagi yang menghubungkan keduanya yaitu 'selingkuhan'.
Okey, Freya paham sekarang. Kenapa Freya bisa sebodoh ini? Kenapa Freya dengan mudahnya percaya dengan persahabatan yang berkedok selingkuhan? Kenapa.
Dan bagaimana dengan suaminya tercinta yang telah ia percaya melebihi ia mempercayai dirinya sendiri. Dengan begitu teganya telah mengkhianati Freya.
Apalagi tepat di perayaan 3 tahun pernikahan mereka. Apa mereka tak memiliki hati nurani lagi? Kenapa bisa melakukan ini semua di belakang Freya dan bersikap seolah tak terjadi apa-apa di depan Freya.
Sungguh sandiwara yang begitu hebat, menyakitkan bagi Freya dan begitu mencengangkan.
"Sweetie ini nggak seperti yang kamu liat, percaya sama aku ini semua cuma-"
"CUMA APA MAS? Kamu mau bilang kalau ini semua cuma salah paham? Iya? Padahal jelas-jelas aku lihat dengan mata kepalaku sendiri, kalian ... kalian ...." Freya tak sanggup lagi untuk melanjutkan kata-katanya.
__ADS_1
"Re ini tuh ...," Freya mengangkat sebelah tangannya dan memberikan isyarat agar Vania diam.
Sungguh dia tidak lagi membutuhkan penjelasan apapun lagi. Semuanya sudah cukup jelas bagi Freya, wanita itu sudah melihat semuanya langsung menggunakan kedua matanya.
Bahkan kini raut wajahnya sudah memerah menahan amarah yang akan meledak kapan saja.
Dengan air mata yang semakin menderas, Freya menatap Vania. Ya, orang yang bersama Adrian di kamar hotel tersebut adalah Vania. Kalian juga pasti tahu siapa itu Vania.
"Dan kamu Vania ... upss, sepertinya nggak pantas kalau aku manggil dengan sebutan nama karena kamu lebih pantas untuk disebut j*lang. Kenapa kamu bisa setega ini sama aku? KENAPA? KURANG BAIK APA AKU SAMA KAMU VAN, HAH!" Suara Freya naik satu oktaf, membuat Satria yang berada di sampingnya hanya bisa mengelus lembut punggung sahabatnya itu.
"Re ... aku minta maaf Re. Aku benar-benar minta maaf sama kamu ... tapi jujur ini semua-" Air mata Vania pun kini sudah berderai.
"STOP! Aku muak sama kebohogan kalian, aku benar-benar jijik sekarang sama kalian berdua. Terlebih kamu mas, kenapa kamu setega ini sama aku. Kenapa mas," lirih Freya. Bahkan untuk melanjutkan kata-katanya saja, rasanya Freya sudah tidak sanggup lagi.
Kedua kakinya bahkan sudah lemas, tak sanggup lagi untuk menopang bobot tubuhnya dan untungnya ada Satria di samping Freya yang membantunya.
"Rea, kamu salah paham sweetie. Aku bisa jelasin semuanya. Sekarang lebih baik kamu tenang dulu okey." Ucap Adrian sambil melangkah mendekati Freya, istrinya.
"STOP DI SITU. JANGAN BERANI KAMU DEKETIN AKU LAGI! AKU JIJIK SAMA KAMU MAS! KAMU BUKAN MILIKKU LAGI, TAPI SEKARANG UDAH MILIK WANITA ****** INI! Hiks ... hiks ..." teriak Freya sambil diikuti dengan tangisan pilu.
"Rea, lebih baik kamu tenangin diri kamu dulu ya," ucap Satria.
Freya menggeleng lemah. "Nggak bisa Sat. Aku ... aku nggak bisa lagi Sat. Hatiku benar-benar hancur sekarang, kamu tau itu kan." Tangisan Freya semakin pilu, membuat Satria tak tega untuk melihatnya.
Ingin sekali rasanya Satria ikut campur dalam masalah rumah tangga Freya dan menghajar Adrian habis-habisan sekarang juga, tapi pria itu sadar diri bahwa dia tak berhak untuk mencampuri ini semua.
Lagian juga ini bukanlah saat yang tepat untuk menghajar Adrian habis-habisan.
"Rea ...," Adrian mendekat dan langsung ingin meraih tangan Freya tapi langsung di tepis dengan kasar.
"Aku bilang jangan sentuh-sentuh aku Mas!"
"Tapi kamu perlu untuk mendengar penjelasan aku dulu Re. Ayolah jangan kaya anak kecil."
"Jangan kaya anak kecil kamu bilang?! Sekarang aku tanya sama kamu, istri mana yang nggak akan murkah kalau ngelihat suaminya bermesraan dengan wanita lain di kamar hotel? Jawab mas, jawab! Nggak ada mas, nggak ada. Bahkan semua istri di dunia ini pasti akan setuju dengan ucapanku mas."
"Jadi berbahagia lah sama j*lang kamu ini. Mungkin dia lebih butuh belaian kamu mas dibandingkan aku."
"STOP FREYA! Dia bukan j*lang. Dia punya nama Re, Vania. Itu namanya. DAN KAMU JANGAN PERNAH SEBUT DIA DENGAN SEBUTAN ITU LAGI!" Tatapan Adrian berubah menjadi tajam kepada Freya. Dan ini pertama kalinya Freya melihat tatapan tajam itu untuk dirinya. Tatapan lembutnya kini telah berubah menjadi tatapan tajam, hanya karena wanita itu.
"OKEY FINE! SILAHKAN KAMU BELAIN DIA MAS! KITA CERAI. JADI KAMU BISA BEBAS UNTUK NIKAHIN DIA." Dengan langkah gontai, Freya pun langsung melangkah pergi meninggalkan kamar hotel tersebut.
"FREYA! JANGAN MAIN AMBIL KEPUTUSAN SEBELUM TAU AKAR PERMASALAHANNYA RE!" teriak Adrian mengejar Freya sampai pintu kamar hotel.
__ADS_1
"ARRGGGGGHHHHH!" Adrian memukul tembok dengan begitu kuatnya. Membuat darah segar mengalir dari kedua tangannya.