Setelah Bercerai

Setelah Bercerai
BAB 38 KE DOKTER KANDUNGAN


__ADS_3

Di sebuah ruangan.


"Tuan, saya sudah mencari tahu tentang keluarga Mahesa dan saya menemukan ini. Hanya ini yang bisa saya dapatkan untuk saat ini." Pria itu meletakkan sebuah foto di atas meja kerja pria yang dia sebut sebagai tuannya.


Tuannya itu langsung mengambil foto itu dan melihatnya secara seksama.


"Siapa dia?"


"Saya juga belum tau tentang siapa dia. Karena data-data nya seperti sengaja di sembunyikan oleh keluarga Mahesa. Sangat sulit untuk bisa mengetahui siapa orang ini dan apa hubungannya dengan keluarga Mahesa. Tetapi akan saya usahakan untuk mencari tau."


"Bagus. Cari tahu lebih dalam lagi tentang orang ini. Saya kasih kamu waktu dua bulan, lebih daripada itu kamu akan menanggung resikonya." Pria itu menyeringai.


"Baik tuan. Saya juga sudah mengatur jadwal baru untuk Nona Freya."


"Bagus, saya akan segera memberitahukan ini padanya. Kamu bisa pergi sekarang."


Pria itu memberi hormat pada tuannya, lalu segera pergi dari sana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saat ini Adrian dan Freya sedang berada di balkon kamar mereka. Sambil menikmati pemandangan langit malam yang dipenuhi oleh bintang-bintang indah di angkasa.


Sore tadi juga, Daffa sudah pulang diantar oleh Sam untuk kembali ke rumahnya. Anak kecil itu juga sempat bertemu dengan Adrian dan menyalurkan semua rasa rindunya pada Papa An nya itu.


Dan Freya juga sudah tahu bahwa Daffa adalah anak dari Vania. Anak dari sahabat suaminya, dia pun juga memaklumi jika Daffa memanggil Adrian dengan sebutan 'Papa An'. Toh juga antara Vania dan Adrian sudah sangat lama menjalin hubungan persahabatan. Tidak ada salahnya juga kan.


Sama seperti dirinya yang selalu dipanggil Bunda oleh keponakan-keponakannya maupun anak dari sahabat-sahabatnya. Jadi Freya tidak mempermasalahkan hal itu sama sekali.


"Mas, kok aku nggak pernah lihat suaminya Vania ya? Bahkan semenjak kita nikah, Vania nggak pernah tuh memperkenalkan suaminya sama aku." Freya mendoak melihat Adrian yang kini sedang memeluk nya dari samping.


"Padahal kan Vania itu udah aku anggap sebagai saudaraku sendiri. Masa dia nggak mau memperkenalkan suaminya ke aku sih. Hmm, kamu tau kan suaminya siapa?"


"Iya. Aku tau," jawab Adrian masih menatap langit malam yang bertaburan bintang.


Kemudian beberapa saat kemudian Adrian memandang istrinya.


"Untuk sekarang Vania emang nggak bisa memperkenalkan suaminya ke kamu sayang. Belum saatnya, suatu saat kamu pasti akan tau alasannya."


"Tapi kan aku kepo mas, aku yakin banget suaminya Vania itu adalah orang baik dan pastinya ganteng banget deh. Buktinya Daffa aja ganteng banget gitu, trus anaknya juga sopan banget. Oh iya, sama satu lagi gemesin banget. Aku pengen deh, suatu saat nanti anak kita bakalan ngemesin kaya Daffa."


Adrian tersenyum kemudian mencolek ujung hidung Freya.


"Anak kita pasti bakalan lebih menggemaskan lagi. Kamu tau kenapa?"


"Kenapa?"


"Karena Ibu nya gemesin juga, pasti anaknya juga gitu. Tapi tetap, kalau cowok ya genteng nya harus ikut Papa nya. Nah kalau cewek ya harus ikut Mama nya. Biar cantik plus gemesin kaya gini." Adrian menoel-noel Pipi Freya.


"Ah mas Adrian, emang paling bisa deh."


"Tapi aku serius mas, aku tuh kepo banget sama siapa suaminya Vania."

__ADS_1


"Nanti deh, nanti mas kenalin ya sama kamu. Tapi belum saatnya."


Freya mendengus kesal. "Bakalan lama dong." Wanita itu cemberut, membuat Adrian semakin gemas dengan tingkah konyol istrinya itu.


"Nggak kok sayang. Kita tunggu waktu yang pas dulu ya. Mas janji, Mas sendiri yang akan kenalin kamu sama dia. Okey."


"Kenapa nggak besok aja sih."


"Belum saatnya sayang, nanti ya. Btw semenjak hamil, kamu tuh tambah cerewet tau." Adrian mencium mesra pipi istrinya.


"Masa sih? Perasaan enggak deh. Hmm, mungkin pengaruh hormon kehamilan."


Adrian tidak lagi menanggapi ucapan istrinya, melainkan malah semakin mempererat pelukannya pada tubuh istrinya itu.


"Mas Rea udah ngantuk, kita tidur yuk." Adrian pun langsung mengangguk dan segera menggendong tubuh istrinya ala bridal style menuju kasur empuk yang berada di kamar mereka.


"Good night my wife." Adrian mencium lembut kening Freya setelah membaringkan tubuh Freya di atas kasur.


"Good night to my husband." Freya tersenyum.


Mereka pun akhirnya sama-sama menjelajahi alam mimpi bersama dengan saling berpelukan mesra.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


FREYA POV


Pagi ini adalah jadwalku untuk cek kandungan ke Dokter spesialis kandungan di salah satu rumah sakit milik Adrian.


Aku kembali mengecek beberapa berkas-berkas dan barang penting yang akan aku masukkan ke dalam tas slempang ku untuk aku bawa ke rumah sakit.


Dan karena jadwal cek kandunganku yang di jadwalkan pagi, maka Adrian sudah memberi tahukan pada Sam untuk menggantikannya menangani sebagian pekerja Kantor Adrian di pagi hingga siang nanti.


"Sayang, kamu udah siap?" Tanya Adrian lalu mengecup pundak ku.


Aku mengangguk. Aku rasa semuanya sudah siap dan tinggal berangkat saja, lagipula ini kan hanya cek kandungan. Bukan mau melahirkan yang mengharuskan aku untuk membawa banyak barang seperti perlengkapan bayi.


Ah, berbicara tentang bayi. Aku sudah tidak sabar menunggu kelahiran bayi ini. Aku harap semuanya akan berjalan lancar, tapi entahlah. Kita serahkan saja pada Tuhan semuanya.


Kami pun akhirnya berangkat menuju rumah sakit menggunakan mobil Adrian. Seperti biasanya, jika hanya aku dan Adrian. Maka pria itu akan lebih memilih untuk menyetir sendiri tanpa sopir.


"Aku udah nggak sabar menunggu kelahiran anak kita," ucap Adrian yang masih tetap fokus menyetir dan melihat jalanan Ibu kota yang sudah lumayan ramai di jam seperti ini.


"Sama aku juga mas. Tapi kita harus menunggu beberapa bulan lagi mas."


"Hmmm. Kira-kira dia cewek atau cowok ya?"


Aku menggeleng. "Mau cewek ataupun cowok yang penting sehat mas. Itu udah lebih dari cukup."


Adrian tersenyum. "Iya sayang. Mas beruntung banget punya istri kaya kamu. Ohiya, gimana kalau entar kita cek aja jenis kelaminnya. Siapa tahu udah bisa ketahuan."


Aku mengangguk antusias. "Boleh mas."

__ADS_1


Sesampainya kami di rumah sakit besar itu, aku dan Adrian pun langsung menggunakan lift dan naik ke lantai 3. Tempat dimana ruangan Dokter kandungan berada.


"Selamat Pagi Pak Adrian, Bu Freya," sapa salah satu suster begitu kami sampai di depan ruangan Dokter kandungan.


Aku tersenyum dan langsung membalas sapaan itu dengan ramah. "Selamat pagi juga Sus."


Sedangkan Adrian malah menampilkan wajah datarnya dan hanya bergumam menangapi sapaan suster tersebut. Dasar pria kaku.


Di depanku saja dia menjadi tidak kaku, sedangkan di depan orang lain malah berubah menjadi kaku dan dingin.


"Silahkan masuk Pak, Bu. Dokter Citra sudah menunggu di dalam." Suster itu langsung mempersilahkan kami untuk masuk.


"Selamat pagi Pak Adrian, Bu Freya." Sapa Dokter Citra sambil tersenyum hangat menyambut kedatangan kami.


Aku dan Adrian pun langsung membalas sapaan Dokter yang bisa diperkirakan umurnya sama seperti umur Mama ku.


"Gimana kabarnya Bu Freya?" tanya Dokter itu sekedar basa-basi.


"Alhamdulillah baik Dok."


"Alhamdulillah ya."


Setelah itu Dokter menanyakan beberapa hal padaku, mulai tentang aku yang masih sering mual-mual atau tidak dan sampai pada hal lainnya yang menyangkut kehamilanku.


"Yaudah kalau begitu kita USG dulu ya Bu."


Aku mengangguk dan langsung berdiri dan segera merebahkan tubuhku di atas tempat tidur rumah sakit dan langsung di USG untuk melihat jenis kelamin dari bayiku.


Dokter Citra mengoleskan gel di atas perutku dan mulai menggerakkan alat USG nya di perutku.


"Waduh, kayanya bayinya masih malu-malu nih buat tunjukkin jenis kelaminnya. Mungkin mau ngasih surprise buat Papa dan Mama nya nih. Kita coba di cek up selanjutnya aja ya, mungkin udah bisa ditunjukkin," ucap Dokter Citra dengan begitu ramahnya.


Aku tersenyum dan mengangguk. Mungkin belum saatnya.


Aku melirik Adrian yang berdiri di sampingku. Pandangan Adrian tak lepas dari layar monitor USG yang menunjukkan janin bayi kami.


Pria itu nampak serius memperhatikan layar monitor itu, namun di detik berikutnya ku lihat Adrian tersenyum. Sepertinya dia sangat bahagia dan aku sangat bersyukur akan hal itu.


"Bayi yang ada dalam kandungan Bu Freya sehat ya Pak. Saya juga akan meresepkan beberapa obat untuk mual Bu Freya dan beberapa vitamin untuk Bu Freya minum. Dan kalau bisa jangan terlalu banyak fikiran ya Bu." Ucap Dokter Citra sambil menulis beberapa resep obat untukku.


Adrian mengangguk. "Tapi untuk saat ini, istri saya dan bayi kami sehat-sehat saja kan Dok."


Dokter Citra melirik ku sebentar, kemudian tersenyum menatap Adrian.


"Insyaallah Pak. Tolong di jaga ya kehamilan Bu Freya, jangan membuatnya terlalu banyak fikiran karena itu juga bisa mempengaruhi kondisi Ibu hamil, apalagi Bu Freya lagi hamil muda Pak. Saran saya cuma itu, apa ada yang mau ditanyakan lagi Pak?"


Adrian menggeleng. "Tidak, terimakasih sebelumnya Dok."


"Kalau begitu kami permisi dulu Dok," pamit ku.


Lalu aku dan Adrian pun langsung pergi dari ruangan Dokter Citra.

__ADS_1


__ADS_2