Setelah Bercerai

Setelah Bercerai
BAB 23 FLASHBACK 3


__ADS_3

Sebuah senyuman yang terukir indah di wajah cantik Freya tak henti-hentinya luntur begitu saja.


Wanita cantik itu sangat bahagia karena sebentar lagi ia dan suaminya akan mengadakan dinner romantis untuk merayakan hari jadi pernikahan mereka yang ke tiga tahun.


Freya terus saja memastikan riasanya di depan cermin. Apakah sudah terlihat pas atau belum.


Terkadang Freya juga memutar-mutarkan tubuhnya di depan cermin, sambil memastikan gaun yang ia kenakan sudah pas atau belum.


Biasalah namanya juga wanita.


Freya hanya ingin semuanya malam ini akan berjalan sesuai dengan harapannya.


"Perfect, akhirnya selesai juga." Ucap Freya setelah memastikan penampilannya sudah sempurna. Sesuai dengan keinginannya.


Dan sekarang tinggal menunggu Sam untuk menjemputnya. Karena tadi siang, suaminya sempat mengirimkan pesan bahwa Sam lah yang akan menjemput Freya menuju restoran tempat mereka mengadakan dinner malam ini.


Ah, Freya begitu bahagia.


Tak berselang lama, sesuai dengan apa yang suaminya katakan. Sam pun akhirnya datang dan langsung mengantarkan nyonya nya itu menuju salah satu restoran bintang lima di kawasan Ibu kota.


"Nyonya ...," panggil Sam di tengah-tengah perjalanan mereka.


Freya yang duduk di belakang tersenyum.


"Jangan panggil aku nyonya Sam. Di sini hanya kita berdua, panggil saja Freya. Lagipula ini bukan kantor ataupun depan umum."


Freya sering sekali memperingatkan Sam agar manggilnya Freya saja, jika mereka berada di tempat selain kantor ataupun di depan umum.


Toh juga, Sam itu merupakan sahabat baik Adrian. Jadi di situasi seperti ini, tidak ada salahnya kan untuk bersikap tidak terlalu formal.


"Tapi anda it_"


"Nggak ada tapi, tapian Sam. Panggil aja Freya. Okey. Dan tolong jangan terlalu bicara padaku dengan bahasa yang formal seperti ini. Ini perintah Sam."


Sam mengangguk. "Baiklah."


"Saya ... ehmm maksudnya aku cuma sampaikan kalau tuan Ad ... maksudku Adrian akan sedikit terlambat nantinya untuk datang ke acara dinner nya. Karena masih ada beberapa pekerjaan yang harus Adrian beresin."


Freya sedikit berdecak. Ah, suaminya itu selalu saja mementingkan pekerjaannya. Bahkan di momen-momen spesial seperti ini, masih saja Adrian sibuk dengan urusan pekerjaan.


"Okey, nggak apa-apa kok. Aku bisa nunggu bentar." Walaupun dalam hatinya wanita itu sedikit menyayangkan hal itu.


Tapi ya bagaimana lagi? Suaminya itu selalu saja gila kerja. Padahal sudah sangat kaya.


Setelah sampai Freya pun turun dan langsung menuju sebuah restoran bintang lima yang telah di pesan Adrian.


Suasana restoran ini begitu romantis. Adrian menyiapkan nya dengan sepenuh hati.


Restoran ini memiliki 6 lain dan begitu mewah.


Adrian sengaja menyewa seluruh lantai lima di restoran ini agar hanya ada mereka berdua. Dan mereka juga akan mengadakan dinner di balkon lantai 5 yang memiliki pemandangan indah Ibu kota.


Tak lupa juga hiasan mawar merah yang ditabur di atas lantai balkon ditambah dengan lilin-lilin kecil di sekitarnya membentuk hati, yang mengelilingi meja dinner mereka. Membuat suasana ini semakin romantis.


Freya tidak menyangka bahwa Adrian akan seromantis ini. Ini bahkan mungkin akan menjadi dinner teromantis yang Adrian siapkan untuknya.


Wanita itu bahkan sudah tidak sabar menunggu kedatangan Adrian, suaminya tercinta.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kini 30 menit telah berlalu, tetapi Adrian belum juga kunjung datang. Membuat Freya sedikit gelisah. Dia takut akan terjadi hal-hal di luar dugaan yang akan terjadi pada Adrian, saat pria itu dalam perjalanan ke sini.


Dan kini berbagai fikiran buruk kembali datang menghantuinya, setelah 40 menit wanita itu menunggu kedatangan Adrian yang tak kunjung datang juga.

__ADS_1


"Kenapa mas Adrian belum datang juga ya?" Freya terus berjalan mondar-mandir, ia gelisah takut hal buruk terjadi pada Adrian.


Dia bahkan sudah menelpon Adrian berulang kali, tetapi tak diangkat sama sekali oleh Adrian.


Dan hal itu juga berlaku pada Sam. Bedanya Adrian tidak mengangkat telpon nya, sedangkan telpon Sam tidak aktif sama sekali.


Freya bahkan sampai mengumpat beberapa kali, ada apa dengan orang-orang ini?


Apakah ini termasuk ke dalam kejutan yang akan Adrian berikan padanya?


Ah tetapi kalau ini kejutan, maka tidak akan selama ini. Ada apa dengan Adrian? Apa dia baik-baik saja? Pertanyaan itu selalu terulang-ulang bagaikan kaset rusak di dalam otak Freya.


Dringgg!! Dringgg!!


Tak lama ponsel Freya berbunyi, ia yang awalnya mengira itu Adrian langsung sumbringah. Akhirnya suaminya itu mengabari dirinya.


Tetapi pada saat dilihat nama yang tertera di layar ponselnya, membuat Freya berdecak kesal.


Freya pun langsung mengeser tombol hijau untuk menjawab telpon dari orang itu.


"Ada apa Sat?" Dengan malas Freya langsung bertanya tujuan orang itu menelpon dirinya malam-malam seperti ini.


"...."


"Nggak mungkin Sat, kamu tau kan aku malam ini ada janji dinner sama mas Adrian. Nggak mungkin kalau itu mas Adrian."


"....."


"Emang kamu udah pastikan lagi kalau itu benar-benar mas Adrian?"


"...."


"Ah, aku nggak percaya sama kamu. Lagian ini kayanya mas Adrian lagi di jalan deh. Mungkin kamu salah lihat orang kali."


"...."


"...."


"Tapi gimana kalau aku pergi ke sana, trus mas Adrian datang dan nyariin aku?"


"...."


"Okey, okey. Aku ke sana sekarang, aku pakai taxi aja. Tapi kamu harus tanggung jawab ya, kalau itu bukan mas Adrian, aku nggak akan pernah memaafkan kamu sampai kapanpun Sat. Ingat itu."


"..."


"Yaudah, kirim alamat nya biar aku langsung ke sana."


"..."


"Hmmm"


Sambungan telpon pun langsung terputus.


Freya menarik sebelah bibirnya. "Aku yakin sih kalau Satria salah ngeliat orang. Nggak mungkin mas Adrian ngelakuin itu semua sama aku. Apalagi bertepatan sama perayaan hari ulang tahun pernikahan kami. Lagian Satria ada-ada aja, liat aja. Kalau itu bukan mas Adrian, aku bakalan marah besar sama dia."


Freya mencoba menyingkirkan semua fikiran buruk tentang suaminya, setelah mendapatkan informasi dari sahabat dekatnya.


Wanita itu mencoba menampik bahwa itu adalah Adrian suaminya. Bisa saja itu adalah om-om hidung belang yang kebetulan memiliki paras yang sama dengan Adrian suaminya.


Walaupun di dalam relung hatinya, Freya sangat takut dan sedikit was-was jika apa yang dikatakan Satria itu benar adanya.


Baiklah sepertinya Freya harus memastikan langsung agar ia bisa tenang.

__ADS_1


Tak membutuhkan waktu lama, akhirnya Freya sampai juga di depan sebuah alamat yang Satria kirimkan. Yaitu di sebuah hotel mewah di kawasan Ibu kota.


Freya langsung turun dari taxi dan segera menghampiri Satria yang sudah menunggunya di depan lobi hotel.


"Akhirnya kamu datang juga Re," ucap Satria begitu melihat kedatangan Freya.


Freya mendengus. "Kalau yang kamu tuduhkan itu salah, maka siap-siap aja. Aku bakalan musuhin kamu setahun Sat."


"Aku yakin yang aku lihat itu benar Re. Aku masih muda dan mataku cukup jeli untuk melihat Adrian yang datang bersama seorang wanita di hotel ini."


"Kalau kamu nggak percaya, mending sekarang kita buktikan aja. Gimana? Kita bisa lihat siapa aja yang barusan cek in di hotel ini."


Freya memutar bola matanya malas. "Gimana caranya Sat? Nggak mungkin pihak hotel akan ngasih informasi dengan cuma-cuma ke kita tentang pengunjung hotel ini, Sat."


Satria tersenyum. "Tenang aja Re. Kamu lupa aku ini siapa?" Dengan senyuman tengilnya Satria mengeluarkan sebuah ID Card yang menunjukkan identitasnya.


Lebih tepatnya identitas tentang siapa dia. Pemilik saham terbesar di beberapa hotel bintang lima di dalam maupun luar negeri. Termasuk di hotel ini. Dan sebenarnya masih banyak lagi bisnisnya.


Freya bahkan sampai lupa tentang status dan pengaruh sahabat dekatnya ini.


"Yaudah, kamu tanyain aja langsung ke resepsionis nya."


Tanpa basa-basi, Satria langsung menunjukkan ID Card nya kepada sang resepsionis dan setelah itu resepsionis itu langsung mengatakan apa yang mereka butuhkan.


"Kami mencari salah satu tamu di hotel ini, atas nama Adrian Mahesa," ucap Freya.


"Baiklah Bu, akan saya lihat dulu ya. Kalau boleh tau, mereka cek in nya kapan ya?"


"Barusan," kali ini Satria yang menjawab.


"Bagaimana mbak, ada?"


"Atas nama Bapak Adrian Mahesa ya. Memang benar Bu, dari data kami memang ada tamu yang barusan cek in atas nama tuan Adrian Mahesa bersama seorang wanita."


Deg!


Nafas Freya tercekat begitu mendengar ucapan sang resepsionis. Lidahnya mendadak keluh untuk mengucapkan satu kata pun.


Air matanya pun juga sudah tergenang di pelupuk matanya. Sekali berkedip, maka air mata itu langsung membasahi pipinya.


Apa itu benar-benar Adrian suaminya?


Atau mungkin hanya nama orang yang kebetulan sama dengan suaminya?


Satria yang memahami situasi ini pun langsung mengusap punggung Freya dengan lembut untuk menenangkan sahabatnya itu.


"Makasih ya mbak," ucap Satria pada resepsionis tersebut.


"Re ... sekarang kamu percaya kan sama aku. Aku nggak mungkin salah lihat."


Freya menggeleng dan kini air matanya sudah turun membasahi kedua pipinya.


"Nggak Sat. Mungkin aja ada nama yang kebetulan sama kaya nama Adrian. Iya kan."


Sebesar itu kah cinta Freya pada Adrian? Bahkan sampai dalam situasi seperti ini pun Freya masih membela bahwa itu bukanlah Adrian. Padahal Satria melihat dengan jelas bahwa itu adalah suami sahabatnya.


"Kamu masih ngebela cowok kurang ajar kaya gitu. Okey, gimana kalau kita memastikan lagi tentang semua ini. Kita langsung aja grebek ke kamar hotelnya. Kebetulan dengan akses aku, aku punya ID Card cadangan untuk ngebuka tiap kamar di hotel ini." Dengan sedikit emosi Satria berbicara seperti itu.


"Tapi kalau kita salah orang gimana Sat."


"Nggak akan salah Re. Percaya sama aku. Kita nggak bakalan salah orang, itu adalah Adrian. Kalaupun salah orang, biar aku yang akan tanggung jawab."


"Karena aku nggak bisa tinggal diam, ngeliat sahabat aku di giniin sama suaminya sendiri. Jadi izinin aku buat ngebuktin bahwa semua dugaanku benar Re."

__ADS_1


Freya mengusap kasar air matanya, kemudian dengan sedikit ragu wanita itu mengangguk menyetujui ucapan Satria.


__ADS_2