
"An aku rasa project kali ini akan berhasil dan akan membuat perusahaanku dan perusahaanmu mendapatkan keuntungan lebih banyak lagi." Vania menatap antusias ke arah Adrian.
Adrian mengangguk mantap sambil memperhatikan layar leptopnya. Membaca beberapa email dari beberapa anak perusahaan nya di luar negeri.
Tokk! tokk!
Ketukan pintu menyadarkan Adrian dan membuat Vania mengalihkan pandangannya.
"Permisi Pak! Maaf ganggu."
"Ada apa?" tanya Adrian dengan tatapan datarnya, dari nada suaranya juga mampu membuat siapa saja akan bergidik ngeri jika berhadapan langsung dengan Adrian.
"Eh ini Pak ... anu ... emm, ini Asri mau n-ngaterin berkas. Tadinya ma-mau ngasih ke Bu Dinda tapi katanya Bu Dinda lagi cuti hari ini." Asri sudah keringat dingin di tempatnya.
Vania hanya bisa menahan tawa melihat kegugupan Asri yang berhadapan langsung dengan Adrian.
"Taru aja di situ. Kamu bisa pergi sekarang."
Asri pun langsung meletakan berkas itu dengan perasaan was-was dan penuh ke hati-hatian di atas meja kerja Adrian.
"Kalau begitu saya permisi dulu Pak." Pamit Asri, tetapi sebelum wanita itu benar-benar pergi dari sana, Adrian kembali berucap.
"Eittsss, tunggu dulu. Berkas apa ini?" Adrian lupa menanyakan berkas apa yang dibawa oleh Asri.
"Oh itu, itu kan berkas calon manajer baru Pak yang Pak Adrian minta beberapa minggu lalu untuk mengantikan posisi manajer HRD yang lama."
"Okey, kamu bisa pergi." Nada bicara Adrian lebih terdengar seperti mengusir.
"Jangan terlalu kaku dan galak sama karyawan-karyawan kamu An. Bisa-bisa karena terlalu takut sama kamu, mereka bakalan resign dari perusahaan ini."
Vania berjalan mendekati Adrian. Mengambil berkas yang dibawa Asri tadi kemudian langsung membuka nya.
"Demi apa! An kamu harus lihat ini." Vania menyodorkan berkas itu kepada Adrian.
Dengan malas Adrian mengambilnya dan melihat berkas itu. Dan ...
Adrian terbelalak kaget.
"Dia kan Dewi! Mantan terindah kamu bukan," ledek Vania menatap Adrian.
Adrian mendengus kesal. Mendengar nama wanita itu membuat Adrian muak.
"Jangan sebut nama wanita j*lang itu!" sarkas Adrian.
Sungguh sepertinya kedatangan Dewi akan membawa malapetaka bagi Adrian. Huh, baru saja permasalahan antara Adrian, Freya dan Vania selesai. Sekarang apa lagi ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
FREYA POV
Setelah selesai memasak khusus untuk Adrian, aku pun langsung memberinya kabar bahwa siang ini juga aku akan pergi ke Kantor, sekalian membawakan makan siang.
__ADS_1
Karena usia kandunganku yang sudah memasuki usia kehamilan 5 bulan dan perutku sudah mulai membuncit. Maka aku lebih memilih untuk menggunakan dress yang longgar agar lebih nyaman.
Setelah menempuh perjalanan 30 menit lamanya, akhirnya aku pun sampai di Perusahaan Mahesa.
Aku langsung berjalan memasuki perusahaan itu dan langsung di sambut ramah oleh beberapa karyawan yang kebetulan melintas dan melihat kedatanganku.
Aku hanya bisa tersenyum dan sesekali menyapa mereka.
Saat aku hendak berjalan menuju lift, aku tak sengaja melihat Safira dan Adit yang kebetulan berjalan dari arah yang berlawanan denganku.
Aku pun langsung menghampiri mereka dengan antusiasnya.
"Fira, Adit!" panggilku.
"Eh- yaampun Mbak Freya!" pekik Safira langsung berlari mendekatiku. Wanita itu langsung memelukku erat.
"Aaaaa ... kangen banget, aku kangen banget nget ... nget deh sama Mbak."
Aku tersenyum. "Sama, Mbak juga kangen sama kalian semua."
"Aku juga kangen sama Mbak, boleh peluk kan?" tanya Adit yang mendekati ku untuk memelukku.
Tetapi sebelum itu semua terjadi, aku langsung memberi kode pada Adit.
"Kamu nggak lihat perut Mbak ini?" Aku menunjuk ke arah perutku.
Membuat Adit dan Safira melotot kan bola mata mereka.
Karena aku sangat tahu, jika sampai Adrian mengetahui bahwa aku dipeluk oleh pria lain. Walaupun pria itu adalah temanku sendiri, bisa habis orang itu. Apa lagi kalau pria itu adalah karyawannya sendiri.
Aku hanya ingin menyelamatkan karir Adit agar tidak hancur dengan sia-sia hanya karena kecemburuan Adrian.
"Iya sih Mbak, maaf deh."
"OMG! Mbak lagi hamil? Yaampun, bakalan punya ponakan aku, selamat ya Mbak," ucap Safira dengan antusias.
"Iya, makasih ya Fir."
"Wah, Pak Adrian okey juga ya. Sekali tancap langsung dapat hasil. Tokcer deh." Adit menyengir.
Kami pun tertawa bersama. Ada-ada saja Adit ini.
"Yaudah kalau gitu Mbak pamit ke ruangan Mas Adrian dulu ya. Kalian yang semangat karjanya, biar cepat naik gaji sama naik pangkat, hehehe."
"Amin." Adit dan Safira berucap bersama.
Aku langsung melangkah meninggalkan Adit dan Safira, menuju ruang Adrian menggunakan lift.
Tidak mungkin kan menggunakan tangga darurat. Bisa tepar aku sebelum sampai ke ruangan Adrian.
"Eh, Vania ... udah mau pulang?" tanyaku begitu bertemu dengan Vania setelah keluar dari lift.
__ADS_1
Karena aku sudah memaafkan Vania, maka ketika bertemu dengannya sudah tidak ada lagi kecanggungan ataupun rasa benci seperti dulu.
Dan aku juga tahu kalau Vania berada di kantor Adrian karena mereka berdua saat ini sama-sama sedang memiliki project bersama. Jadi wajar saja.
"Ha-hai Re. Ehmm, kamu udah datang ya. Pasti mau nganterin makan siang buat Adrian kan?" tebak Vania. Terlihat dia sedikit gugup menjawab pertanyaanku.
Sepertinya ada udang dibalik bantal.
Eh, salah maksudnya ada udang di balik batu.
Tak hanya itu, Vania juga terlihat beberapa kali berbalik menatap pintu ruangan Adrian dengan gelisah dan Vania juga tak henti-hentinya meremas jari-jari tangannya.
Ada apa ya?
"Mas Adrian di dalam kan?" tanyaku. Vania kan baru keluar dari sana, pasti dia tau.
"Iya. Adrian di dalam, tapi ...,"
"Tapi apa? Oh, lagi ada tamu?"
Dengan cepat Vania menggeleng. Wah, sepertinya benar ada sesuatu yang mereka sembunyikan.
"Dia lagi ... lagi interview. Nggak mau di ganggu dulu, ehmm ... mending sekarang temenin aku minum kopi di cafetaria yuk. Kita bisa ngobrol sebentar di sana, sambil nunggu interview nya selesai."
"Interview? Karyawan baru?"
Vani kembali mengangguk.
"Oh kalau cuma interview karyawan baru mah nggak apa-apa lagi. Adrian bakalan tetap ngizinin aku buat masuk, lagian kan aku istrinya Adrian. Nggak apa-apa kali, santai aja."
"Kalau gitu aku masuk dulu ya Van."
Aku tersenyum dan langsung melangkah menuju ruangan Adrian yang tak jauh dari tempat kami berdiri.
"Mampus kamu An!" gumam Vania menatap naas kepergian Freya.
Aku mengetuk pintu dan langsung membukanya.
"Permi--"
Aku menghentikan ucapanku kala melihat siapa orang yang sedang di interview oleh Adrian. Sedangkan Adrian sudah melototkan bola matanya di tempat.
Oh jadi ini alasan dari kegugupan Vania tadi.
Siapa yang tidak mengenal wanita itu, wanita yang bernama Dewi. Wanita yang aku tahu sebagai mantan terindah Adrian.
Aku tahu itu dari Vania, karena dulu aku dan Vania sering curhat mengenai mantan-mantan Adrian.
Bahkan untuk beberapa kali, kami pernah bertemu. Jadi melihat wajah nya, aku langsung mengenali nya.
"Hai, Freya!" Dewi melampaikan tangannya padaku.
__ADS_1