Setelah Bercerai

Setelah Bercerai
BAB 44 CEMBURU


__ADS_3

Malam ini aku dan Adrian sedang menikmati makan malam kami bersama yang hanya di selimuti oleh bunyi-bunyian sendok dan garpu.


Tak ada pembicaraan seperti biasanya.


Entahlah semenjak hari itu, hari dimana Papa mertuaku datang ke rumah ini mengunjungi kami. Andrian tampak menjadi orang yang semakin pendiam, ia hanya berbicara jika diperlukan. Terkadang aku juga sering melihat Adrian melamun, entah apa yang Adrian pikirkan.


Sepertinya ada sesuatu yang sedang berusaha Adrian sembunyikan dari ku. Apa ini ada hubungannya dengan Ardan?


Ya, sedikit aku ceritakan. Dulu sebelum bertemu dengan Adrian, aku sempat melanjutkan pendidikanku di London bersama Satria. Karena kami sudah bersahabat sejak kecil, membuat aku dan Satria selalu saja berada di sekolah yang sama.


Singkat cerita, ketika kami melanjutkan pendidikan di sana. Aku dan Satria tak sengaja menemukan sahabat baru yaitu Ardan. Kami pun akhirnya bersahabat dan sering menghabiskan waktu bersama saat bersekolah di London dulu.


Tetapi seiring berjalannya waktu, akhirnya ditengah-tengah persahabatan kami ternyata di antara aku dan Ardan tumbuh sebuah perasaan yang sering orang-orang namakan dengan kata 'cinta'.


Awalnya aku mencoba menepis semua itu, tetapi Satria yang bernotaben sebagai orang terpeka sedunia sepertinya menyadari bahwa aku dan Ardan saling mencintai. Sehingga akhirnya, Satria pun mengatakan pada Ardan untuk mengungkapkan perasaannya padaku karena Satria sangat yakin bahwa aku juga mencintai Ardan.


Akhirnya setelah melalui beberapa proses, aku dan Ardan pun berhasil menjalin hubungan. Dan itu semua berkat kegigihan Satria yang sering menjodoh-jodohkan kami, dan mengatur berbagai strategi untuk membuat kami bersama.


Sangat lucu bukan, tapi itulah Satria. Satria sahabat baikku yang selalu ada untuk aku dan juga Ardan.


Hubungan aku dan Ardan pun berjalan mulus, kami melewati hari-hari bersama dengan penuh cinta. Begitu pun dengan Satria dan mantan pacar bule nya pada saat itu.


Hingga suatu hari, Ardan memutuskan untuk kembali ke Indonesia setelah kami lulus karena ada beberapa urusan penting menurutnya. Aku yang pada saat itu masih ada urusan di London, tidak bisa mengikuti Ardan untuk kembali ke Indonesia.


Akhirnya aku dan Ardan pun memutuskan untuk menjalin hubungan jarak jauh, hanya untuk 4 sampai 5 bulan ke depan karena setelah itu aku juga akan pulang kembali ke Indonesia setelah semua urusan ku di London selesai. Dan rencananya setelah pulang ke Indonesia, Ardan akan segera melamarku.


Sungguh betapa bahagianya aku saat itu. Bisa kalian bayangkan, bahwa kalian akan dilamar oleh pria yang sangat kalian cintai. Membahagiakan bukan.


Dan itulah yang aku rasakan pada saat itu.


Hari-hari pun berlalu, bulan berganti bulan. Hingga tiba saat dimana tinggal beberapa hari lagi aku akan kembali ke Indonesia.


Tiba-tiba nomor Ardan tidak bisa dihubungi. Aku menjadi begitu sangat khawatir pada saat itu. Satria yang kebetulan sudah berada di Indonesia, tiba-tiba mengabariku bahwa Ardan tidak bisa ditemukan dimana pun itu.


Bahkan saat orang-orang suruhan Satria sekalipun sangat sulit melacak keberadaan Ardan.


Ardan seolah hilang ditelan bumi. Tak ada satupun kabar darinya. Di Apartemen yang Ardan tinggali selama di Indonesia pun tak ada. Orang-orang yang menjadi kenalan Ardan pun tak mengetahui keberadaan Ardan dimana.


Hal itu tentu saja membuatku frustasi, cemas bahkan hampir mau gila rasanya. Ardan tidak mungkin dengan sengaja mau menjauhi aku.


Entahlah firasatku mengatakan bahwa ini semua sepertinya sudah di rencanakan. Mengingat hubungan Ardan dengan keluarga besarnya dan beberapa orang di Indonesia tak pernah baik-baik saja, itu lah yang pernah Ardan ceritakan.


Dan tidak hanya itu saja, bahkan untuk melacak tentang keluarga besar Ardan pun sangat sulit bagi Satria dan aku. Padahal kami sudah menyewa beberapa orang pintar, agar bisa menemukan kebenaran Ardan. Tetapi itu semua hanya sia-sia belaka.

__ADS_1


Sepertinya dibalik hilangnya Ardan, ada pengaruh besar dari orang-orang yang memiliki kuasa. Tidak mungkin ini hanya dilakukan oleh orang biasa.


Awalnya aku sempat berpikir jika, mungkin saja Ardan pergi ke luar negeri. Tetapi menurut data transmigrasi, Ardan Wardana tak pernah sekalipun pergi ke luar negeri semenjak kepulangannya dari London. Itu berarti Ardan masih di Indonesia. Bahkan mungkin sampai sekarang.


Bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Walaupun telah berlalu sekian lama, tetapi aku dan Satria tak pernah sekalipun menyerah untuk mencari keberadaan Ardan. Tidak peduli dia masih hidup ataupun sudah berpulang, aku dan Satria tetap bertekad untuk menemukan keberadaan Ardan dan mencari tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan mantan kekasihku itu.


Walaupun sekarang aku sudah menikah, tetapi itu tidak pernah menyurutkan tekadku. Ardan adalah pria yang sangat baik, lemah lembut dan sangat perhatian. Dan aku yakin, suatu saat nanti akan mengetahui semua kebenaran tentang Ardan. Tentang hilangnya Ardan beberapa tahun lalu tanpa sebuah alasan yang jelas.


Untuk itu aku berharap, semoga ini semua tidak ada hubungannya dengan Adrian dan keluarganya. Aku hanya berharap demikian, karena jika iya. Maka ... maka mungkin saja aku akan sangat kecewa dengan Adrian.


Semoga saja aku salah.


Aku menghela nafas gusar.


"Ada apa sayang?" Aku kaget dan langsung tersadar dari lamunanku begitu mendengar suara Adrian.


"Eh-"


"Makanan nya nggak enak?!" Adrian masih menatapku intens.


Aku langsung gelagapan, lalu menggeleng pelan.


"Nggak kok sayang. Ini enak, sangat enak bahkan." Aku tersenyum simpul. Senyuman yang sebenarnya terpaksa aku keluarkan. Karena jujur saat ini hatiku sangat gundah memikirkan ini semua.


Aku tahu Adrian sangat mencintaiku, dia tidak mungkin melakukan hal yang akan menyakiti hatiku. Tidak akan, mungkin hanya waktu bersama Vania. Tapi itu semua kan cuma salah paham.


"Maaf tuan, ada tamu di depan." Ucap salah satu pelayan yang datang menghampiri kami.


"Siapa?"


"Tuan Satria namanya."


Aku langsung membulatkan mata. Untuk apa dia datang ke sini malam-malam seperti ini.


"Satria?" Adrian mencoba untuk memastikan lagi tentang apa yang dia dengar barusan.


Pelayan tersebut mengangguk dengan sopan. "Benar tuan."


"Untuk apa dia datang malam-malam seperti ini," gumam Adrian yang masih aku dengar dengan jelas.


Aku yang berniat ingin menghampiri Satria, langsung dicegat oleh Adrian.


"Mau ke mana?"

__ADS_1


"Ah, itu. Temuin Satria sayang."


"Biar aku aja."


Aku menggeleng dengan cepat. Bisa gawat kalau hanya Adrian dan Satria saja yang bertemu.


"Nggak bisa sayang, pokoknya aku mau temuin Satria." Aku tetap bersih keras untuk menemui Satria. "Kamu bisa ikut. Kita berdua."


Adrian mengangguk kecil, kemudian berjalan mengekoriku dari belakang.


"Hai, selamat malam Freya ...." Satria tersenyum manis begitu aku membukakan pintu.


Namun langsung hilang begitu melihat Adrian dengan wajah datar. "Malam An. Akhirnya kita ketemu lagi." Satria tersenyum sinis.


"Ini sudah malam. Kalau kamu hanya datang untuk membuang-buang waktu saya dan istri saya, sebaiknya kamu pergi dari sini!" Adrian juga sepertinya tak kalah sinisnya menatap Satria.


"Oh ho. Sorry-sorry, kalau saya ganggu malam-malam kaya gini. Tapi saya cuma mau nganterin ini dari Oma saya buat Freya. Saya rasa kamu cukup tahu kan bagaimana kedekatan antara saya dan istri kamu." Ucap Satria dengan senyuman tengilnya.


"Apa itu?"


"Makanan, ini makanan kesukaan Freya."


"Bawa pulang saja, bisa saja kamu sudah mencampurkan bubuk racun atau apapun itu yang bisa membahayakan nyawa anak dan istri saya."


Satria terbelalak. Bisa-bisanya Adrian berfikiran seperti itu, padahal sudah jelas-jelas ini makanan yang diminta Freya dari Oma nya Satria. Lagipula Satria dan Freya sudah dekat dan bersahabat dari kecil, sehingga tidak mungkin juga Satria memiliki niat untuk mencelakai Freya.


"Mas, kamu apa-apa sih. Ini tuh dari Oma Irma. Aku nggak bisa nolak, lagian ini juga aku yang minta kok udah dari lama. Karena kangen sama masakan Oma. Cuma baru dibuatnya sekarang." Kesal Freya kemudian mengambil rantang berisi makanan itu dari Satria.


Satria tersenyum puas sambil menatap Adrian dengan tatapan mengejek.


"Thanks ya Sat. Sampaikan salamku untuk Oma Irma ya. Maaf kalau udah ngerepotin Oma."


"It's okey Re. Oma malah senang kok direpotin sama kamu. Tau sendiri kan dari dulu Oma tuh lebih sayang ke kamu daripada aku, cucu kandungan nya sendiri hehehe."


"Hehehe iya iya."


"Udah malam, nggak baik lama-lama di rumah orang," ketus Adrian. Membuat Satria menggeleng.


"Yaudah aku pulang dulu ya Re. See You next time." Satria melirik Adrian.


"Bilangin ke suami tercinta kamu ini, jangan jadi orang yang cemburuan entar cepat tua. Kalau dia udah tua dan nggak menarik lagi, kabarin aku ya Re." Dengan jahilnya Satria mengedipkan sebelah matanya membuat Adrian bertambah kesal.


"Kurang ajar, awas saja kalau ketemu!"

__ADS_1


"Udah sayang. Satria cuma bercanda kok, jangan diambil hati. Dia emang gitu orang nya."


__ADS_2