
Sore ini tampak seorang anak kecil laki-laki sedang bermain sepeda di halaman rumahnya, ditemani seorang pengasuh.
Anak laki-laki itu terlihat sangat bahagia karena baru mendapatkan sepeda baru dari seseorang.
"Bos kecil, jangan terlalu kencang mendayung sepedanya. Nanti bos kecil bisa jatuh." Peringat pengasuhnya yang bernama Fina, sambil berlari mendekati bos kecilnya itu.
"Aduh mbak Fina ini cerewet banget deh. Daffa nanti nggak konsen dayung sepedanya," omel Daffa.
Anak kecil itu terlihat sangat kesal terhadap pengasuhnya. Tetapi walaupun begitu, dia masih tetap terlihat imut dan menggemaskan dengan pipi gembulnya.
"Mbak cuma mau ingatin bos kecil aja. Nanti kalau bos kecil jatuh, trus luka. Nanti malah mbak Fina yang kena omelan dari nyonya Vania."
Daffa tidak mengindahkan ucapan Fina dan kembali mendayung sepeda barunya mengelilingi halaman rumahnya.
Fina terus mengawasi Daffa yang sedang bermain sepeda. Hingga, seseorang datang dan menghampiri mereka berdua.
Daffa yang melihat kedatangan orang tersebut langsung turun dari sepedanya dan berlari mendekati orang itu.
Dan orang itu adalah Vania, Bunda nya.
"Hati-hati sayang, nanti kamu jatuh." Vania memperingati Daffa agar berhati-hati.
"Bunda ... Daffa kangen deh sama Bunda."
Vania tersenyum, lalu mencium gemas pipi Daffa.
"Tadi pagi kan kita baru ketemu, masa Bunda baru pergi beberapa jam aja kamu udah kangen sama Bunda sih."
"Ya kan beberapa jam itu lama Bunda."
Selain menggemaskan, ternyata putra Vania ini cukup cerewet juga ya.
"Kamu nih bisa aja deh ngelesnya." Vania yang saking gemasnya dengan Daffa, kembali mencium Daffa.
"Bunda ah, nanti pipi Daffa meleyot lagi karena di cium Bunda terus." Daffa mencebikkan bibirnya.
Sangat lucu.
"Ih kamu, belajar dari mana sih kata-kata kaya gitu, hmm. Dan kenapa juga anak Bunda ini cerewet banget sama gemesin lagi. Jadinya Bunda selalu pengen nyium kamu terus kan."
"Iya lah, aku kan anak Bunda ... sama Papa."
"Kamu nih, bisa aja. Oh iya, itu sepeda siapa?" Vania keheranan melihat sepeda yang sudah terparkir di halaman rumahnya dan tadi juga sempat dinaiki oleh putranya.
Daffa tersenyum. "Sepeda Daffa dong Bunda."
Vania menyerit. "Perasaan Bunda nggak pernah beliin kamu sepeda deh."
"Itu sepeda dari tuan Adrian, nyonya." Fina menjawab pertanyaan Vania.
"Adrian yang mengantarkan ke sini?"
Fina menggeleng. "Tuan Sam yang mengantarkan ke sini dan katanya ini adalah pemberian hadiah dari Tuan Adrian untuk Daffa."
"Oh gitu ya."
__ADS_1
"Trus kata Om Sam. Papa An nanti bakalan nyuruh om Sam datang lagi lho Bunda. Dan coba Bunda tebak untuk apa?"
"Hmm, untuk apa?"
"Papa An mau ngajak Daffa ke rumahnya Bunda. Daffa senang banget, itu kata Om Sam ke Daffa tadi pagi. Daffa udah nggak sabar deh, mau ke rumah Papa An." Daffa berjingkrak-jingkrak di tempatnya, anak itu tampak sangat senang.
Dan wajahnya pun tampak sangat berseri-seri.
"Nanti Bunda ikut kan?"
Vania terdiam untuk sesaat.
"Kenapa Adrian harus melakukan hal ini tanpa berbicara denganku dulu," batin Vania.
"Bunda," panggil Daffa membuyarkan lamunan Vania.
"Iya sayang."
"Nanti Bunda ikut kan ke rumah Papa An."
"Ehmm ... kita lihat nanti aja ya sayang. Soalnya akhir-akhir ini Bunda lagi sibuk banget di kantor. Pekerjaan Bunda banyak banget sayang."
Daffa menampilkan wajah kecewanya. "Yah, sayang banget kalau Bunda nggak ikut."
Vania hanya tersenyum menanggapi ucapan Daffa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
FREYA POV
"Jadi gimana keputusan kamu Rea?" tanya Adrian.
"A-aku ...," Duh, kenapa aku jadi gugup seperti ini ya.
Dan kenapa juga Adrian menatapku seperti itu. Aku malah jadi salah tingkah, dan tidak hanya itu saja. Adrian bahkan duduk sangat dekat denganku.
Siapapun tolong selamatkan aku.
"Kamu ingin kembali lagi bersamaku atau kita ...,"
Tanpa Adrian melanjutkan ucapannya pun aku sudah tau maksud dari lanjutan kata-katanya itu.
"Sebenarnya ... sebenarnya aku mau kita pisah mas."
Adrian tersenyum kecut, mendengar ucapanku.
Pria itu mengalihkan pandangannya dariku.
"Okey. Okey kalau itu mau kamu. Mas hargai keputusan kamu. Mas akan menyuruh Sam untuk mengurus perceraian kita, secepatnya setelah bayi kita lahir." Mata pria itu sedikit memerah.
Aku tersenyum melihat Adrian. Belum juga aku menyelesaikan ucapanku.
Adrian berdiri dan berniat untuk pergi, namun aku dengan cepat mencekal tangannya.
"Aku belum selesai bicara mas. Jangan main pergi-pergi aja dong," kesalku.
__ADS_1
"Yaudah mau bicara apa lagi? Tentang harta gono-gini? Kamu tenang aja kalau soal itu, bila perlu mas akan kasih perusahaan dan rumah mas atas nama kamu sama anak kita, kalau kamu mau. Yang penting kalian berdua bahagia, itu udah lebih dari cukup buat mas."
Aku kembali tertawa geli mendengar penuturan Adrian.
Rumah dan perusahaannya akan di kasih atas namaku dan bayi ini? Ada-ada saja. Tapi kalau memang benar ya lumayanlah.
Aku mendadak bisa menjadi janda kaya nih, setelah bercerai dari Adrian jika seperti itu.
Tapi aku juga tidak akan setega itu juga kali untuk merebut semua yang sudah Adrian bangun susah payah, dan di serahkan ke aku secara cuma-cuma. Tidak akan.
"Kenapa tertawa? Apa ada yang lucu dari mas?" Adrian menatapku penasaran.
"Eh nggak kok. Nggak ada yang lucu. Lagian mas Adrian aneh-aneh aja. Masa mau ngasih perusahaan sama rumah ke aku secara cuma-cuma. Aneh deh. Dan aku nggak gila harta juga ya."
"Kamu nggak percaya sama mas? Okey, setelah kita bercerai nanti. Mas akan urus semuanya atas nama kamu."
Adrian tampak serius dari raut wajahnya, aku bahkan sampai tak percaya. Sebesar itu kah cintanya padaku? Sehingga dia rela memberikan semua hartanya padaku?
Ah ya. Cinta terkadang membuat orang buta. Aku sempat melupakan istilah itu.
"Nggak mas, aku percaya kok. Cuma bukan itu maksudku. Lagian aku belum selesai ngomong, tapi mas Adrian udah berspekulasi yang aneh-aneh."
Adrian kembali duduk di sampingku.
"Ya sudah. Katakan,"
Adrian tampaknya sangat pasrah.
"Aku memang pengen kita bercerai mas. Tapi itu adalah pemikiran ku pas di Surabaya."
"Maksudnya?"
"Ya aku sekarang udah berubah pikiran. Awalnya, aku pikir bercerai akan lebih baik untuk kita berdua. Tetapi setelah sampai di Jakarta. Semuanya hilang seketika, semua rencanaku untuk mengatakan ingin bercerai dari mas malah hilang entah kemana."
"Jadi ... aku mau kita kembali untuk melanjutkan bahtera rumah tangga ini. Dan aku harap nggak ada kebohongan lagi di antara kita mas. Mulai sekarang kita harus saling jujur satu sama lain. Mas Adrian, nggak boleh bohongin aku dan apapun masalahnya ... mas harus cerita ke aku."
Adrian tampak mengembangkan senyumannya. "Kamu lagi nggak becanda kan. Ini serius?"
Aku mengangguk mantap.
Adrian langsung membawaku ke dalam pelukan hangatnya. Pria itu juga berkali-kali mengecup keningku dan kembali memelukku dengan begitu erat.
Sepertinya tidak ada salahnya jika aku memberikan kesempatan pada Adrian.
Walaupun sebenarnya hatiku merasa bersalah. Aku takut semua hal yang aku takuti selama beberapa bulan ini akan terjadi. Dan tentunya resiko ini sudah aku pertimbangkan secara matang-matang.
Dan satu lagi, sepertinya aku harus mempersiapkan telingaku agar bisa mendengarkan omelan Satria yang akan datang setelah dia mengetahui keputusanku ini.
Keputusan yang sempat aku tantang mati-matian dulu.
Huh! Entahlah, aku yang awalnya ingin pergi malah kembali terjebak. Hidup memang sekonyol ini kah?
"Terimakasih banyak Rea! Terimakasih, karena kamu udah memberikan kesempatan untuk mas. Mas janji, akan memberikan yang terbaik untuk kamu dan anak kita. Mas nggak akan lagi membuat kalian pergi dari mas. Mas sayang banget sama kalian."
"Love you." Adrian mendekat, lalu mengecup singkat bibirku.
__ADS_1
Hal itu sontak membuat kedua pipiku kembali merona dan jantungku berdetak tak karuan. Ah, Adrian selalu saja seperti ini. Perlakuannya yang secara tiba-tiba, selalu membuat kedua pipiku merona dan jantung tak aman.
Haruskah aku pergi ke Dokter Ahli jantung saja?