Setelah Bercerai

Setelah Bercerai
BAB 8 UNDANGAN PERNIKAHAN ITU


__ADS_3

"Kamu kenapa? Kok kelihatan kaget gitu. Ada yang salah?"


"E-eh nggak. Nggak ada yang salah, ternyata benar ...,"


"Benar?"


"Eh, bukan apa-apa kok. Lupain aja."


Ternyata benar, kalau bukan Adrian yang mau menikah lagi. Lalu siapa?


Jawabannya adalah Alya. Alya Mahesa, mantan adik ipar ku alias adik kandung dari Adrian Mahesa.


"Saya harap kamu bisa datang ke acara pernikahan Alya nanti." Adrian menatapku.


Aku kembali menatapnya, setelah beberapa saat menatap undangan pernikahan yang ada di hadapanku.


"Acaranya bakalan diadakan Minggu depan," lanjut Adrian lagi.


"Jadi?"


"Ya kamu harus datang! Nggak ada penolakan kali ini. Biar bagaimanapun, Alya itu adik ipar kamu Rea."


"Bukan adik ipar lagi Mas, tapi mantan adik ipar," koreksiku sambil menekankan kata 'mantan' agar Adrian lebih paham.


Adrian hanya diam tanpa menanggapi ucapanku barusan, dia hanya menghela nafasnya.


Sambil kembali menyesap kopi yang dipesannya setelah kami selesai makan tadi.


Tetapi sesaat kemudian Adrian kembali berucap, ucapannya bahkan membuatku sedikit kaget dan tidak menyangka atas apa yang Adrian fikirkan ternyata sama.


"Biar saya tebak. Tadi kamu pasti berpikir bahwa saya yang akan menikah lagi kan, bukan Alya." Adrian mengangkat sebelah alisnya, yang membuat kadar kegantengannya bertambah.


Oh ****! Sadar Freya, sadar! Lagian juga kenapa Adrian pakai acara tahu isi fikiranku sih.


"Nggak kok, lagipula kalau kamu mau menikah lagi ya itu terserah kamu. Bukan urusan saya lagi Mas."


"Kamu yakin nggak akan cemburu kalau saya nikah lagi?" Tanya Adrian lagi yang kuyakini dia hanya ingin menggodaku dan membuatku semakin emosi.


Sabar Freya, sabar!


"Ya enggak lah. Ngapain saya cemburu, kita kan udah nggak ada hubungan apa-apa lagi. Jadi wajar-wajar aja kan kalau Mas Adrian mau nikah lagi. Terserah Mas."


"Yakin?"


Aku hanya bergumam. Sekarang entah mengapa tingkat kekesalanku semakin bertambah.


"Hmm, kayanya saya nggak bakalan nikah lagi deh."


"Kenapa? Kalau Mas mau nikah lagi, ya nikah lagi aja. Saya nggak apa-apa kok walaupun kita baru cerai dan Mas jangan pikirkan apa kata orang."


Mungkin Adrian memang ingin menikah lagi. Tapi mungkin dia sungkan karena perceraian kami baru saja terjadi beberapa bulan lalu. Dia mungkin merasa sungkan dan tidak enak hati jika harus menikah secepat itu. Benar kan?!


Apalagi Daddy dan Mommy pasti tidak akan setuju jika ia menikah lagi secepat itu. Mengingat Daddy dan Mommy bahkan sampai sekarang masih ingin mempertahankan aku untuk tetap menjadi manantu mereka.

__ADS_1


"Gimana saya mau nikah lagi Rea, kalau saya masih punya istri yang sangat saya cintai."


"Hah! Maksud Mas?"


Adrian tersenyum simpul. Oh tampannya.


Sadar please! Sadarlah Freya Ranita Ganney.


"Iya, saya nggak bisa nikah lagi karena saya punya istri."


"Hahah, oh maksudnya Mas Adrian ternyata diam-diam Mas udah punya istri lagi tanpa sepengetahuan orang-orang ya." Tawaku miris.


Sejak kapan Adrian menikah dan punya istri lagi. Miris sekali, aku mantan istrinya tapi tidak tahu apa-apa. Daddy dan Mommy juga tidak memberitahukan ke aku.


Ah, tapi apa urusanku dengan itu semua. Sudahlah. Aku kan bukan siapa-siapa mereka lagi, apa pentingnya aku untuk tahu tentang itu.


"Btw, siapa istri baru Mas itu? Vania ya?"


Vania adalah selingkuhnya itu. Dan akan bertambah miris jika benar Vania yang menikah dengan Adrian.


"Bukan. Kamu."


WHAT!!


Tunggu, tunggu. Aku jadi sulit mencerna ucapan singkat Adrian. Dasar pria kaku, biacaranya selalu saja tidak lengkap dan jelas. Bisu atau gimana!


"Aku kenapa?" Aku mengambil sisa jus alpukat yang ku pesan tadi kemudian meminumnya. Lumayan untuk menetralisir keadaan dan perasaan.


"Kamu istri saya." Dengan santainya Adrian berucap seperti itu.


Adrian dengan sigapnya langsung mengambil tisu dan memberikan padaku untuk membersihkan bajuku.


"Kalau minum itu hati-hati Rea!" omel Adrian.


"Mas udah gila ya!" Marah ku lalu bangkit berdiri meninggalkan Adrian, menuju toilet umum yang berada di restoran tersebut untuk membersihkan sisa minuman yang tumpah ke bajuku. Sekaligus untuk menetralkan pikiranku atas ucapan Adrian barusan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Guys, guys aku punya gosip terbaru deh. Ada yang mau dengerin nggak?" ucap Asri heboh.


Tiada hari tanpa bergosip ria.


"Nggak ah Sri. Aku lagi sibuk banget nyusun laporan. Lagian kamu tiap hari kerjaannya gosip mulu, heran aku. Kaya nggak ada kerjaan lain aja," omel Safira.


"Iya benar banget Mbak Fira. Emang mbak Asri nggak ada kerjaan apa gitu yang lebih bermanfaat," tambah Santi. Karyawan baru di divisi keuangan yang baru masuk 4 bulan yang lalu.


Asri menyengir. "Ada sih, tapi udah beres beberapa. Sisanya dikerjain entar aja, masih ada waktu kok. Soalnya waktu sekarang itu pas banget buat bergosip ria."


"Ini tuh kantor Sri, bukan tempat bergosip. Kalau mau bergosip, noh bareng ibu-ibu kompleks di rumah aku aja." ucap Adit yang baru saja datang kemudian duduk di tempatnya.


"Ish! Yaudah kalau kalian nggak mau dengerin. Padahal ini tuh tentang manajer divis keuangan, pengganti Mbak Freya."


Safira yang tadinya fokus dengan layar monitornya mendadak mengangkat kepalanya menatap Asri.

__ADS_1


"Trus!? Bukannya pengganti Mbak Freya itu, baru bisa masuknya Minggu depan ya," ucap Safira.


"Iya emang," jawab Asri.


"Lah, trus apa masalahnya?"


"Itu dia, emang kalian udah tahu siapa yang bakalan jadi pengganti mbak Freya?"


Sontak Adit, Safira dan Santi menggelengkan kepala secara bersamaan menatap Asri.


"Emang siapa?" tanya Adit yang sudah mulai kepo.


"Tadi katanya nggak tertarik." Asri mendengus.


"Yaudah kalau nggak mau ngasih tau." Adit kembali sibuk dengan kertas-kertasnya.


Lagian juga Adit banyak pekerjaan yang belum terselesaikan, jadi daripada buang-buang waktu untuk bergosip. Lebih baik acuhkan saja ucapan Asri.


Selang beberapa menit Asri terdiam sambil berfikir, entah apa yang wanita itu fikirkan.


"Vania! Kalian tahu Vania kan." Ucap Asri pada akhirnya.


Safira, Adit dan Santi langsung menatap Asri penuh tanda tanya. Baiklah sepertinya gosip terbaru Asri kali ini akan laku.


"Iya kenal, kenapa?" tanya Safira.


"Yang jadi pelakor di rumah tangga Pak Adrian sama Mbak Freya kan," timpal Santi.


"Yup. Benar banget." Layaknya seorang detektif handal, Asri berjalan mengelilingi tempat rekan-rekannya.


"Apa hubungannya Vania sama Manajer baru kita?" tanya Santi lagi.


"Ada dong. Coba kalian pikirkan lagi."


"Apa jangan-jangan ...," Adit mengantung ucapannya.


"Jangan bilang, Vania yang bakalan jadi pengganti Mbak Freya?" timpal Safira cepat.


Mereka semua langsung melototkan mata tak percaya begitu tahu siapa yang akan menjadi pengganti Freya. Sang manajer baik hati kebanggaan mereka.


"Nggak! Nggak mungkin. Masa si pelakor itu yang bakalan jadi manajer kita. Kaya nggak ada yang lain aja," omel Adit.


Kemarahannya sudah diatas kadar rata-rata yang seharusnya.


"Lagian kaya nggak ada malunya banget sih jadi orang. Bisa-bisanya dia jadi manajer di sini, iya nggak, gantiin posisi Mbak Freya. Urat malunya udah putus kali ya," kesal Asri.


Tadi dia sudah bergosip dengan karyawan divisi marketing membicarakan tentang hal ini. Dan sekarang dia bergosip lagi di sini.


Hebat bukan sang ratu gosip kita ini.


"Kalau aku jadi dia sih udah malu banget buat kerja di tempat ini. Apalagi ya, satu kantor tuh udah tahu tentang perselingkuhan mereka. Apa dia nggak malu, heran aku." Adit menghela nafas, mengingat bagaimana perselingkuhan itu terjadi dan menghancurkan hati orang sebaik Freya.


"Benar banget Dit apa kata kamu."

__ADS_1


"Mungkin urat malunya udah putus kali."


__ADS_2