Setelah Bercerai

Setelah Bercerai
BAB 20 FLASHBACK 1


__ADS_3

BEBERAPA BULAN SEBELUM PERCERAIAN ADRIAN DAN FREYA ...


Pagi ini seperti biasanya Freya menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya. Dengan sumbringah Freya menatap satu persatu makanan yang telah tersedia di atas meja makan.


Semuanya adalah makanan kesukaan Adrian, suaminya tercinta.


"Perfecto ... pasti mas Adrian bakalan suka banget sama masakan aku." Freya tersenyum bangga pada dirinya sendiri, karena tidak sia-sia dia berkutat dari subuh hingga sekarang hanya untuk membuatkan sarapan spesial untuk Adrian.


Tentu nya dengan di bantu oleh Mbok Atun, kepala pelayan di rumah ini.


Apalagi ini adalah hari jadi pernikahannya yang ke tiga tahun. Makanya khusus sarapan pagi ini, Freya lah yang akan memasak khusus untuk suaminya.


Dan tidak terasa pernikahan mereka sudah masuk usia 3 tahun, padahal Freya merasa baru kemarin-kemarin dia menikah dengan Adrian.


Eh, tidak tahunya malah sekarang sudah tiga tahun berlalu dia menjalani kehidupan rumah tangga bersama Adrian. Waktu memang cepat berlalu.


Di tengah-tengah menyiapkan sarapan, tiba-tiba Adrian datang dengan stelan jas nya yang sudah rapi dan memeluk Freya dari belakang. Wangi maskulin pria itu membuat Freya di buat mabuk kepayang.


Freya akui bahwa Freya selalu jatuh cinta pada Adrian di setiap harinya.


Perlakuan romantis dan kasih sayang yang selalu Adrian berikan padanya membuat Freya bersyukur memiliki Adrian di hidup nya.


Ya, Adrian adalah hidupnya. Separuh nyawanya. Mungkin Freya tidak akan bisa melakukan apa-apa tanpa hadirnya Adrian di sisi Freya.


Walaupun terkadang Adrian suka sekali membuatnya kesal dan menjahili dirinya, tetapi Freya tetap mencintai separuh jiwanya itu.


"Tumben pagi ini kamu masak?" tanya Adrian pada istri tercintanya. Kemudian mengecup mesra kepala istrinya.


Karena seorang Freya tidak biasanya masak seperti ini. Apalagi Freya tidak hanya berstatus sebagai seorang istri saja tetapi juga sekaligus berstatus sebagai sekertaris pribadi Adrian di kantor. Jadi, tidak ada waktu bagi Freya untuk berkutat dengan peralatan dapur di pagi harinya.


Paling kalau memasak, Freya akan melakukannya di waktu senggang. Tetapi itu pun jarang, karena keposesifan Adrian dan manjanya seorang Adrian pada istrinya. Jadi jika ada waktu senggang, pasti Adrian akan menggunakan waktu itu untuk bermesra-mesraan dengan Freya.


Hal itu terkadang membuat Freya kesal, karena tidak bisa menggunakan waktu senggang itu untuk memasak atau hal lainnya.


Tetapi juga membuat Freya bahagia, setidaknya dengan seperti ini akan membuat wanita itu yakin bahwa Adrian tidak akan bisa melirik wanita lain di luar sana.


"Emang aku nggak boleh masak? Lagian emang kamu lupa mas, kalau ini hari apa?"


Dengan santainya Adrian menjawab. "Hari Rabu lah." Adrian masih setia memeluk istrinya dari belakang.

__ADS_1


"Salah. Ishhh, masa gitu aja mas Adrian nggak tau sih," Freya berdecak kesal.


Adrian melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuh istrinya. Melihat raut wajah kesal Freya membuat Adrian tertawa.


"Ya emang kan. Ini hari Rabu, aku lihat di kelender kok tadi. Kamu yang salah kali sweetie." Adrian mencubit gemas pipi Freya.


"Ishh bukan mas. Bukan gitu maksud aku, mas Adrian mah nggak peka banget deh. Okey kalau gitu, ini hari Rabu kan. Trus tanggal berapa dan bulan berapa?" Freya menatap Adrian.


"Hmm, tanggal 18 Februari kan."


"Coba mas ingat-ingat lagi. Ada apa di tanggal 18 Februari. Masa bisa lupa sih, padahal baru tiga tahun lho. Ah, males ah kalau kaya gini."


Adrian mencoba berfikir sebentar karena bisa gawat kalau istrinya ini sudah merajuk. Bisa-bisa Freya akan mendiami Adrian selama berhari-hari.


Dan .... ya Adrian ingat sekarang.


"Duh, maaf sweetie aku lupa. Bukannya aku sengaja, tapi aku benar-benar lupa. Mungkin karena akhir-akhir ini banyak kerjaan. Maaf sekali lagi ya." Adrian benar-benar menyesali kebodohannya yang tidak mengingat sama sekali tanggal pernikahan mereka.


"Alah, mas Adrian mah banyak alasannya. Lagian aku juga kerja sama mas kan, tapi walaupun gitu aku nggak lupa kok sama tanggal pernikahan kita."


"Iya makanya, mas minta maaf sama kamu sweetie. Mas janji untuk kedepannya nggak akan melupakan tanggal pernikahan kita lagi."


"Bohong."


"Bener sweetie. Mas janji, okey."


"Beneran?" tanya Freya lagi.


"Iya sweetie, beneran." Adrian pun bernapas lega setelah akhirnya meyakinkan Freya.


"Dan sebagai gantinya, malam ini mas akan ngajakin kamu dinner gimana?" Adrian tersenyum manis begitu pun juga Freya.


"Hmm, okey. Tapi kalau cuma dinner doang nggak seru ah."


"Akan ada kejutan dong. Yang pastinya buat istri mas yang tercinta ini. Mas akan menyuruh Sam untuk menyiapkan semuanya untuk malam ini. So, siapin diri kamu sweetie. Kamu pasti akan senang sama kejutan dari mas malam ini." Adrian mengedipkan sebelah matanya.


Freya tersenyum sumringah. "Aku jadi nggak sabar. Yaudah, kita sarapan dulu yuk. Aku udah masakin makanan kesukaan mas Adrian. Dijamin enak deh."


Freya mempersilahkan Adrian untuk duduk, menyendokkan nasi ke piring Adrian dan dirinya. Setelah itu mereka sarapan bersama, sesekali membicarakan beberapa hal tentang pekerjaan dan hal lainnya.

__ADS_1


Setelah selesai sarapan, Adrian kembali berucap. "Ohiya, jam 10 nanti kamu jadi ke rumah Mommy?"


"Iya jadi lah. Makanya aku mau izin nggak masuk sehari dulu sama mas. Boleh ya, jarang-jarang lho aku punya waktu bareng Mommy. Please, sekali ini aja ya mas." Freya memohon pada Adrian.


Karena kesibukannya sebagai sekertaris Adrian, membuat Freya akhir-akhir ini jarang sekali berkunjung ke rumah mertuanya dan menghabiskan waktu bersama seperti sebelum-sebelumnya.


Membuat Freya merasa bersalah setiap kali menolak ajakan mertuanya yang menyuruhnya untuk berkunjung ke rumah, dengan alasan sedang banyak pekerjaan di kantor.


Bahkan terkadang saking kangennya mommy Adrian kepada menantunya itu, maka dia akan dengan sendirinya datang berkunjung ke kantor untuk menemui menantunya itu.


"Pasti ada arisan di rumah. Kamu yakin mau ke rumah mommy? Kamu tahu sendiri kan konsekuensinya kalau bertemu sama teman-teman mommy yang cerewet-cerewet itu."


Bukannya Adrian melarang Freya untuk ke rumah mommy nya, tetapi Adrian hanya takut istrinya itu akan merasa bersalah dan sakit hati dengan ucapan teman-teman mommy nya.


Yang akan selalu menanyakan kenapa Freya yang belum juga hamil dan memiliki anak, padahal sudah lama menikah, apakah Freya mandul dan lain sebagainya. Dan pertanyaan itu selalu diulang-ulang terus oleh teman-teman mommy, jika bertemu dengan Freya.


Itulah yang Adrian takutkan. Sebagai suami, dia harus bisa melindungi istrinya. Dia tidak ingin melihat Freya bersedih, karena ucapan orang-orang itu. Dia ingin menjaga hati istrinya.


"Ayolah mas. Kali ini aja izinin aku ke sana. Lagian juga, kata mommy hari ini nggak ada arisan ataupun kumpul-kumpul bareng teman-temannya. Mommy hanya ingin bertemu denganku."


Adrian menghela nafas. "Baiklah, tapi kamu harus kabarin aku kalau ada teman-teman mommy di sana. Aku nggak mau kamu sedih lagi kaya waktu itu, karena dengerin ucapan mereka. Kamu ngerti kan."


Freya mengangguk. "Iya, kamu tenang aja."


"Hmm, ohiya jangan lupa bersiap-siap untuk acara kita malam ini. Aku berangkat dulu, love you." Adrian mengecup lembut kening Freya.


"Love you to Mas. Ohiya, hari ini kamu ada rapat sama perusahaannya Vania kan?"


Adrian mengangguk mengiyakan.


"Kamu yakin bisa menghadle semuanya tanpa aku?"


"Tenang aja, ada Sam kok."


"Okey, salam buat Vania ya."


"Nanti mas sampaikan ya ke Vania."


Vania itu adalah salah satu sahabat baik Adrian. Vania sangat dekat dengan Adrian dan juga Freya yang bernotaben sebagai istri Adrian.

__ADS_1


Note : Vania adalah orang yang dituduh sebagai selingkuhan Adrian.


__ADS_2