Setelah Bercerai

Setelah Bercerai
BAB 28 RASA BERSALAH


__ADS_3

Hari ini pukul 09.00 aku sudah bersiap-siap dengan begitu rapinya.


Menggenakan dress selutut berwarna coklat, sepatu heels yang tingginya pas-pasan, rambut yang digerai dan juga tak lupa tas slempang berwarna putih tulang yang sudah berisi beberapa keperluan yang akan aku butuhkan nantinya.


Hari ini aku berencana untuk menemui Dokter Laras. Dokter yang menangani aku selama berada di Jakarta setiap aku sakit. Kebetulan hari ini dia akan ada praktek di Surabaya dan memintaku untuk menemuinya. Katanya akan ada beberapa hal yang akan dia bahas bersamaku.


Yang tentunya hal itu bersifat rahasia. Tidak boleh ada yang tahu, bahwa aku akan menemui Dokter Laras. Nantinya juga aku akan beralasan pada Papa dan Mama, bahwa aku akan menemui Dokter kandungan di salah satu rumah sakit yang ada di Surabaya.


"Mah, Rea pergi dulu ya." Aku meyalimi Mama.


"Kamu mau ke mana nak? Restoran lagi? Kan Mama udah bilangin, kamu itu sekarang lagi hamil. Jadi untuk sementara nggak usah dulu ke restoran deh. Mama nggak mau lho kamu kecapean, trus cucu pertama Mama kenapa-kenapa. Ih amit-amit deh."


Huh, kenapa semenjak mengetahui bahwa aku hamil Mama sangat cerewet padaku. Tidak boleh ini lah, tidak boleh itu lah. Dan masih banyak lagi kecerewetan Mama yang melarangku untuk melakukan kebiasaan-kebiasaan anehku.


"Aku mau ke dokter kandungan Mah, cuma mau ngecek kandunganku kok. Lagian semenjak aku hamil kan, baru sekali lho aku ke dokter kandungan. Itu pun karena paksaan Adrian." Aku mengecilkan suaraku ketika menyebutkan nama Adrian.


Mama tersenyum. "Kalau ke Dokter kandungan, ya nggak apa-apa deh. Mama izinin. Ah atau kamu Mama temenin aja ya."


Aku menggeleng cepat. Bisa gawat kalau Mama ikut. "Nggak ah Mah, nggak usah. Mama kan harus ke restoran, Rea sendiri aja nggak apa-apa kok."


"Nanti kalau kamu kenapa-kenapa di jalan gimana? Oh atau Mama telpon Adrian aja, biar nemenin kamu. Bagaimana pun kan, ini juga anaknya Adrian."


"Iih nggak usah Ma. Nanti mood Rea bakalan ancur kalau ke Dokter nya bareng dia."


Mama menghela nafasnya. "Yaudah deh. Tapi ingat ya, kalau ada apa-apa kamu langsung telpon Mama, Adrian atau nggak Papa. Okey. Ingat itu."


Aku mengangguk sekali lagi. "Iya Mah, iya."


"Yaudah, Rea berangkat ya."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Lho, kamu ngapain di sini Sat?" tanyaku heran begitu melihat Satria yang kini sedang berdiri dengan santainya di tempat parkir rumah sakit.


"Nungguin kamu lah!"


"Aku?"


"Iya Re. Masa aku nunggu mbak jamu gendong di sini. Nggak mungkin lah."


Aku mendengus. "Kan aku udah bilangin sama kamu Sat. Kalau aku bisa sendiri temuin Dokter Laras. Lagian kamu kan punya banyak kerjaan yang harus ditangani."


"Alah, kamu kaya sama siapa aja. Aku ini sahabat kamu Re. Aku pengen selalu ada dan temenin kamu di saat susah maupun senang. Apalagi ini kan kamu mau ketemu Dokter Laras. Jadi aku harus ikut."


Di sisi lain aku sangat bersyukur sekaligus bahagia karena memiliki sahabat seperti Satria, yang selalu ada bersama ku. Bahkan dia selalu menemaniku di saat-saat sulitku.


Tapi di sisi lain, aku juga merasa sedih. Ah, andaikan saja Satria itu adalah Adrian. Yang akan selalu menemaniku di saat-saat susahku. Pasti aku akan lebih lagi bahagia dan bersyukur.


Ya sudahlah. Lupakan.


"Ngelamun aja terus. Yuk langsung masuk aja, Dokter Laras udah nunggu dari tadi Re." Satria langsung menarikku untuk masuk ke dalam rumah sakit tersebut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kini pemeriksaan yang aku lakukan sudah selesai, tetapi hal itu tidak membuatku senang. Aku justru malah semakin bersedih mendengar perkataan Dokter Laras tadi.


Akankah aku bisa?


Aku bahkan harus melakukan pemeriksaan hampir satu setengah jam. Dan setelah itu aku juga sempat mendengarkan beberapa saran dari Dokter Laras yang lumayan memakan waktu.

__ADS_1


"Udahlah Re. Jangan sedih-sedih kaya gitu ah. Nanti baby yang ada di dalam kandungan kamu juga ikutan sedih kaya Ibu nya. Mana Rea yang aku kenal, hmm? Ayolah, semangat Re. Semangat!" Satria mencoba untuk menghiburku.


"Eh gimana kalau kita makan siang aja di restoran kesukaan kamu. Gimana? Atau kamu lagi pengen makan apa gitu. Tenang aku yang traktir deh kali ini."


"Ohiya aku lupa, ini udah jam makan siang ya." Aku menepuk jidatku.


Saking lamanya di dalam ruangan Dokter Laras. Membuatku sampai lupa waktu.


"Tapi beneran kan kamu yang traktir Sat."


Satria mengangguk dengan penuh keyakinan.


Kapan lagi bisa mendapatkan traktir dari pengusaha sukses seperti Satria. Ini gunanya sahabat heheh.


Setelah makan siang bersama Satria.


Aku mengajak Satria untuk berkeliling-keling kota Surabaya hingga pukul setengah tiga sore. Dengan alasan bahwa ini adalah keinginan bayi yang ada di dalam kandungan ku.


Tentunya dengan senang hati Satria langsung mengiyakan permintaanku. Walaupun aku sangat tau dari ekspresi pria itu sudah menunjukkan rasa bosan, karena kami hanya berkeliling dan menghabiskan bensin mobilnya.


Ya lumayan lah, menjahili sahabat sendiri tidak akan dosa kan.


Tidak hanya itu saja, aku juga sempat memintanya untuk menemaniku membeli beberapa cemilan di supermarket.


Hingga akhirnya kini, Satria pun menghantarkan aku pulang ke rumah dan kami sampai di rumah tepat pukul 4 sore.


Dan karena aku juga tadi sempat memberitahukan kepada Mama, bahwa aku akan terlambat pulang karena berkeliling sebentar dulu bersama Satria.


Mama pun langsung menyetujuinya, entahlah mendengar nama Satria, Mama menjadi lebih tenang dan tidak menerorku lewat telpon lagi. Seperti menanyakan keberadaan ku, kenapa terlambat pulang dan masih banyak lagi.


Mungkin karena aku dan Satria sudah bersahabat sejak lama. Jadi Mama tidak begitu khawatir jika aku pergi bersama Satria.


Ya Satria memang yang mengantarkan aku karena mobilku sudah aku suruh supir Papa untuk mengambilnya sejak siang tadi.


Aku menoleh dan melihat Adrian yang sedang duduk di teras rumahku sambil memperhatikan layar ponselnya dengan serius.


"Ngapain dia ke sini," ucapku ketus.


Satria berdecak. "Jangan galak-galak Re. Nanti hati nya kecantol lagi, tau rasa hehehe."


"Apaan sih Sat."


"Dia ke sini ya pasti mau ketemu istri dan calon anaknya lah. Masa mau ketemu mbok Tuti. Nggak mungkin kan, nanti malah kamu yang cemburu," goda Satria.


"Satriaaaa!" Aku mencubit lengan Satria karena senang sekali menggodaku.


"Aaaww! Issssshhh, sakit Re. Kalau cubit pakai hati kek."


"Kalau aku pake hati, nanti kamu baper lagi!" Kena kamu. Sekali-sekali menggoda Satria tidak salah kan.


"Najis!" ucap Satria.


"Udah sana turun, bojo mu udah nungguin tuh."


"Bojo pala mu!" Sebelum aku pergi, aku menoyor kepala Satria. Membuat pria itu kembali meringis kesakitan. "Bye Satria, thanks buat hari ini ya! Hati-hati di jalan, jaga tuh mata. Jangan ngelirik j*lang-j*lang yang bertebaran di luar sana ya." Teriakku begitu keluar dari mobil Satria. Aku bahkan sangat yakin Adrian mendengar teriakkan ku ini.


Sedangkan Satria sudah melongo di tempatnya. "Untung Ibu hamil sekaligus bestie. Sabar Sat, sabar. Memuliakan orang hamil akan banyak dapat pahala, plus jodoh yang cantik dan baik dunia akhirat. Amin." Ucap Satria lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.


"Dari mana kamu?" tanya Mas Adrian dengan wajah datar begitu aku sampai di depan teras.

__ADS_1


Dan sejak kapan dia sudah berganti posisi menjadi berdiri seperti ini? Oh apakah setelah mendengarkan ucapan ku tadi?


"Satria yang nganter?"


"Hm."


"Kenapa nggak minta aku aja sih."


"Maksudnya?"


"Aku masih bisa nganterin kamu ke Dokter kandungan Re. Kenapa harus ngerepotin orang lain sih."


Hem, pasti ini semua ulah Mama yang memberitahukan kepada Adrian. Karena jika tidak, bagaimana bisa Adrian tau bahwa aku dari Dokter kandungan.


"Satria itu bukan orang lain. Dia sahabat aku Mas. Udahlah aku lagi malas berdebat sama kamu. Mood ku jadi ancur tau nggak gara-gara kehadiran mas Adrian."


Aku yang berniat meninggalkan Adrian untuk masuk ke dalam rumah langsung di cegat oleh Adrian.


"Ada apa lagi sih mas. Aku capek, butuh waktu untuk istirahat mas."


Aku melihat Adrian mengeluarkan sebuah benda kecil dari saku jas nya dan menyerahkan kepadaku benda kecil itu.


Aku menyerit. "Apa ini?"


"Flashdisk." Mendengar ucapan Adrian aku mendengus. Ya aku juga tau ini adalah flashdisk. Tapi maksudku bukan begitu. Ah, Adrian memang sulit untuk peka.


"Aku tau mas ini namanya flashdisk. Tapi kenapa di kasih ke aku mas."


"Ini adalah bukti yang kamu minta Re."


"Bukti? Bukti apa?" tanya ku, tapi bukannya menjawab Adrian malah meminta maaf padaku.


"Maaf karena terlambat, memang agak susah untuk mendapatkan bukti ini. Karena CCTV di beberapa tempat sebelum kejadian waktu itu rusak. Aku bahkan sampai frustasi karena itu. Tetapi beberapa minggu lalu aku mendapatkan informasi dari Sam, bahwa ternyata ada CCTV cadangan tersembunyi yang memang bersifat privasi di kamar hotel itu. Dan Sam berhasil mendapatkannya."


"Sekali lagi aku minta maaf Re. Seharusnya waktu itu aku langsung bergerak cepat untuk mendapatkan bukti-buktinya, tetapi ternyata aku terlambat. Di tambah kamu yang sama sekali nggak mau mendengarkan penjelasan ku, membuat aku semakin frustasi waktu itu Re."


"Kamu harus menontonnya, karena ternyata sekarang aku menyadari satu hal. Mengenal seseorang lama, tidak akan menjamin orang itu akan tau dan memahami segalanya tentang kita. Terimakasih Re, udah mau mengenal aku. Walaupun ternyata aku sadar, bahwa selama ini kamu benar-benar nggak mengenalku sama sekali. Kamu hanya sekedar mencintai ku, tapi nggak mengenalku."


Aku terdiam mendengar ucapan Adrian.


Adrian tersenyum, kemudian menggenggam kedua tanganku dengan begitu erat.


"Setelah menontonnya, kalau kamu berubah fikiran. Kamu bisa ngehubungin aku Re. Tapi kalau enggak. Its okey, aku akan menggugat cerai kamu sesuai kemauan kamu tapi setelah bayi ini lahir. Dan tenang aja, aku akan tetap bertanggung jawab sebagai ayah dari bayi ini."


Aku tak bergeming sama sekali mendengar penuturan Adrian.


"Aku pamit Re. Jaga diri kamu baik-baik. Dan kalau kamu nggak berubah fikiran tolong jangan pergi dulu ke London. Setidaknya sampai bayi ini lahir, izinkan aku untuk menemani kelahiran anak kita dan melihatnya walaupun hanya sesaat. Setelah itu kamu bisa pergi membawa dia."


Apa? Adrian sudah tau lagi, bahwa dalam waktu dekat ini aku akan pergi? Ah sial sekali. Kenapa Satria bisa kecolongan rahasia seperti ini, sampai orang-orang Adrian mengetahui rencana ini.


Adrian mengecup lembut tangan dan berpindah ke keningku. Aku tetap terdiam, tanpa adanya sedikitpun penolakan ketika Adrian menciumku.


Setelah itu Adrian langsung pergi meninggalkan rumahku menggunakan mobilnya.


Melihat kepergian Adrian membuat rasa bersalah itu semakin menggerogoti perasaanku. Apakah aku sangatlah keterlaluan terhadap Adrian?


Entah lah, tapi perasaan bersalah ini tiba-tiba muncul.


"Andaikan kamu tau mas ...,"

__ADS_1


__ADS_2