
Pukul 10.00 pagi adalah waktu penerbangan ku menuju Surabaya.
Setelah bersiap-siap dengan koper-koperku, pukul 09.15 aku berangkat ke bandara. Dan hanya membutuhkan waktu 15 menit saja, aku sudah sampai di bandara dengan beberapa koperku. Mengingat setelah dari Surabaya, aku akan langsung pergi ke London. Jadi aku membawa semua pakaian-pakaianku.
Hari ini juga aku menggunakan pakaian yang cukup simpel dan terkesan santai. Kaos oblong berwarna putih polos, dipadukan dengan sneakers berwarna senada dan juga celana jeans hitam panjang. Dan tak lupa tas samping yang sangat simpel, yang berisi beberapa kelengkapanku seperti pasport, KTP, tiket, ponsel dan masih banyak lagi yang akan aku butuhkan.
Tetapi sebelum penerbangan ke Surabaya, setelah check ini aku memutuskan untuk ke Starbucks terlebih dahulu untuk membeli kopi latte kesukaanku. Inilah salah satu kebiasaanku, tiada hari tanpa kopi latte.
Setelah membeli kopi latte kesukaanku, aku putuskan untuk duduk di dalam ruang tunggu sambil menikmati kopiku dan tentunya sambil menunggu jadwal keberangkatanku tiba.
Selain itu juga sambil memikirkan kejadian semalam yang membuatku tercengang. Kejadian dimana Adrian untuk kedua kalinya setelah kami bercerai, dia mengecup keningku.
Membuat aku bertanya-tanya, apakah yang semalam itu benar-benar Adrian yang kukenal atau memang pria itu sedang kerasukan jin sehingga dengan beraninya mengecup keningku tanpa seizin ku.
Ah, memikirkannya saja sudah membuatku pusing. Kenapa Adrian seperti itu? Apa yang salah dengannya? Kenapa seolah-olah dia seperti kembali memberiku harapan? Seolah-olah dia tidak ingin kami berpisah, padahal jelas-jelas dia yang menginginkan kami untuk bercerai dengan cara berselingkuh.
Dan mengenai keberangkatanku ke Surabaya ini diketahui oleh Adrian dan tadi pagi juga dia sempat meneleponku. Tidak banyak yang pria itu katakan, ia hanya mengatakan agar aku menjaga diriku. Itu saja dan setelah itu ia kembali mematikan sambungan teleponnya.
Tetapi mengenai rencanaku untuk melarikan diri ke London, masih belum diketahui Adrian. Aku masih merahasiakan itu semua dan berharap Adrian tidak akan mengetahuinya.
"Permisi mbak, boleh duduk sini?" tanya seorang pria, membuyarkan semua pemikiranku mengenai Adrian.
Aku menoleh menatap pria tersebut, kemudian mempersilahkannya untuk duduk.
"Boleh kok Mas, lagian kan ini tempat umum. Jadi siapapun boleh duduk di sini," ucapku.
Pria berkulit sawo matang itu tersenyum. Senyuman yang cukup manis, pikirku.
"Kenalkan saya Romi." Ucapannya sambil menjulurkan tangannya.
"Freya," balasku.
"Hmm, btw mbak Freya mau ke mana?" tanyanya.
"Surabaya. Kamu sendiri?" jawabku dan kembali bertanya sekedar basa-basi, daripada aku melamun dan memikirkan Adrian. Lebih baik berbicara dengan pria dihadapanku ini agar semua pemikiranku mengenai Adrian bisa teralihkan.
__ADS_1
"Wah, sama dong Mbak. Saya juga mau ke Surabaya, mau liburan sambil berburu kuliner khas sana. Mbak juga mau liburan ya?" tanyanya lagi, kali ini lebih antusias.
Aku tersenyum dan menggeleng. "Bukan. Saya orang Surabaya cuma udah lama kerja di sini, ini mau pulang ke rumah orang tua di Surabaya."
"Oalah gitu ya mbak."
Aku mengangguk menanggapinya.
Kami pun sempat mengobrol beberapa hal mengenai Surabaya dan tempat-tempat yang wajib dikunjungi oleh Romi. Aku memberikan beberapa saran padanya dan Romi langsung menulisnya di bucket list-nya selama berlibur. Aku jadi senang bisa membantu Romi. Sekaligus memperkenalkan Surabaya pada wisatawan seperti Romi.
Setelah menunggu beberapa saat, suara panggilan untuk masuk ke dalam pesawat terdengar. Aku dan Romi yang kebetulan satu pesawat pun langsung menuju ke pesawat tujuan kami.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah beberapa jam di pesawat, akhirnya aku sampai juga di kota kelahiranku.
Huh! Akhirnya, aku sangat merasa lega begitu sampai di sini.
Setelah menunggu beberapa saat di bandara, akhirnya sopir Papa menjemputku untuk pulang ke rumah. Rumah dimana aku menghabiskan masa kecilku, banyak suka dan duka yang kulalui di sana.
Ah, wangi ini, suasana tenang ini. Wangi rumah dan suasana ini adalah wangi dan suasana yang sangat aku rindukan semenjak aku bekerja di Jakarta.
"Aaaa Mama! Rea rinduuuu." Ucapku menghampiri wanita paruh baya yang kini sedang berjalan ke arahku. Wanita yang sudah tidak muda lagi, tapi masih tetap terlihat begitu cantik di usianya.
"Akhirnya anak kesayangan Mama pulang juga setelah bertahun-tahun."
Ya memang benar, aku sudah lama tidak pulang ke Surabaya. Terakhir aku pulang adalah waktu meminta izin dan dilamar oleh Adrian. Dan setelah itu kami menikah di Jakarta, bukan di Surabaya.
Aku langsung memeluk Mamaku dan dibalasnya. Pelukannya begitu menenangkan dan hangat, untuk sesaat aku menjadi lupa akan semua masalahku.
Memang benar kata orang, seberat apapun masalahmu ... solusi terbaiknya adalah pulang. Pulang ke rumah mu sendiri, dan ceritakan pada mereka. Niscaya, semua masalah yang kamu hadapi akan lebih terasa ringan.
Mama tersenyum dan berucap. "Udah ah, mending sekarang kamu mandi. Habis itu kita makan malam bareng Papa ya, Mama udah masakin makanan kesukaan kamu."
"Yaudah Ma, kalau gitu Rea ke kamar dulu ya. Love you Ma." Aku mengecup pipi Mama.
__ADS_1
"Love you to."
Membuat Mama menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkahku yang masih sama manjanya. Walaupun aku sudah pernah menikah dan menjalani kehidupan rumah tangga, itu tidak pernah membuat sifat manjaku ke Papa dan Mama hilang begitu saja.
Mungkin karena aku anak bungsu dan dari kecil aku lah yang selalu bersama Papa dan Mama ku di rumah, jadi sampai kapanpun sifat manjaku tidak akan pernah hilang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
ADRIAN POV
Perkenalkan namaku Adrian Mahesa, kata orang aku adalah mantan suami dari Freya Ranita Ganney alias Rea. Tetapi kenyataannya tidak seperti yang kalian bayangkan.
Hari ini aku mendengar kabar bahwa Rea akan pergi ke Surabaya dan menurut penuturan orang-orang suruhanku, Rea ternyata akan menetap di Surabaya.
Hal ini membuatku begitu sangat senang, itu artinya Rea tidak akan pergi jauh dariku. Surabaya dan Jakarta tidak sejauh itu. Mungkin nantinya, di sela-sela pekerjaanku. Aku bisa pergi ke Surabaya dan menjenguknya di sana. Tentunya dengan alasan-alasan mautku, jika ingin menemuinya.
Tadi pagi juga aku sempat meneleponnya. Aku sangat yakin, bahwa Rea pasti akan kembali bersamaku dan mempercayaiku kembali seperti dulu.
Oh, membayangkannya membuatku begitu merindukannya. Padahal pagi tadi dia baru saja ke Surabaya dan ini belum genap sehari Rea pergi dari jangkauanku.
Aku hanya berharap suatu saat nanti bisa membuktikan kepadanya, bahwa ia salah selama ini. Dan kami bisa kembali lagi. Saat ini juga aku sedang mengumpulkan bukti-bukti yang kuat agar bisa meyakinkan Rea.
Mengingat Rea adalah tipe orang yang tidak gampang percaya dengan orang lain, jadi bukti-bukti yang aku kumpulkan juga harus kuat.
Aku juga bahkan sempat menentang keputusan Rea untuk resign dari perusahaanku waktu itu.
Tetapi Daddy mengatakan dan mencoba membujukku bahwa inilah yang terbaik. Sebaiknya Rea harus resign dari perusahaan ini, sembari menunggu rencana selanjutnya dari Daddy.
Dan sebagai gantinya, Daddy tetap pastikan Rea akan tetap diawasi secara diam-diam demi keselamatannya selama di Surabaya. Dan Daddy juga bisa menjamin bahwa Rea tidak akan pergi ke mana-mana selain ke Surabaya, rumah kedua orang tuanya.
Itu membuatku sedikit lega. Karena aku takut jika Rea akan pergi menjauh dariku, ke tempat yang aku sendiri tidak tahu. Itu akan sangat sulit bukan dan tentunya aku tidak akan pernah bertemu dengannya lagi jika itu terjadi.
***Hmmm, kira-kira apa ya Rencana Adrian?
Sepertinya Daddy tahu sesuatu deh tentang perceraian Adrian dan Freya.
__ADS_1
Jadi penasaran aku🤧🤔***