
Aku menatap Adrian. "Pada akhirnya mas akan terbiasa hidup tanpa saya kok. Saya yakin mas bisa."
"Saya permisi." Aku pun langsung pamit dan bergegas meninggalkan Adrian. Berada lama-lama bersama Adrian bukanlah ide yang tepat. Dan aku tidak bisa melakukan hal itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
FREYA POV
Keesokan harinya, ketika di sore hari setelah pulang dari restoran aku mampir sebentar ke apartemen seseorang yang selalu membantuku dalam berbagai hal selama ini.
Tentunya dengan diam-diam aku pergi ke sana dan memastikan aku tidak akan ketahuan oleh siapa pun. Apalagi mata-mata Adrian.
"Gimana keadaan bayi kamu?" Tanya orang itu sambil membawakan aku jus jeruk dan meletakkannya di atas meja.
Aku menyerit keheranan, dari mana dia tahu kalau aku sedang hamil.
"Dari mana kamu tau tentang kehamilanku."
Orang itu menaikkan sebelah bibirnya. "Aku selalu tau semua hal tentang kamu Re. Bahkan tentang kehamilan kamu juga, bahkan aku yang mengetahuinya terlebih dahulu sebelum suamimu itu."
Oh ya, aku lupa bahwa orang dihadapanku saat ini adalah mata-mata terbaikku yang selalu mempunyai banyak informasi.
Dan tentunya dia juga bisa dengan mudah mengetahui tentang aku.
"Kemarin Adrian datang menemui aku." Ucapku sambil melihat ke arah jendela besar yang menunjukkan pemandangan indah Ibu kota.
Orang itu terlihat tidak kaget sama sekali, dia pasti sudah mengetahui hal ini.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan untuk selanjutnya Re?"
Aku menggedikan kedua bahuku. "Mungkin aku akan pergi dan berlari menjauhinya. Entahlah, sekarang aku juga bingung. Aku nggak tau harus ngelakuin apa. Tetap di sini dan kembali bersama Adrian atau justru malah berlari sejauh mungkin untuk menghindari Adrian."
Orang itu memegang kedua tanganku. "Apapun keputusan kamu, aku akan selalu mendukungmu Re."
"Aku tau kamu bukan Freya yang lemah dan memiliki pemikiran dewasa untuk kedepannya. Dan semua keputusan kamu adalah keputusan yang paling terbaik."
Aku mengangguk. Cuma orang ini lah selalu tau tentang masalah ku dan selalu mau untuk membantuku. Aku sangat bersyukur akan hal itu.
"Kamu ... kamu akan tetap mempertahankan bayi ini?" tanya orang itu lagi.
Dengan penuh keyakinan aku mengangguk. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa apa pun yang terjadi, bayi tak bersalah ini harus tetap hidup.
Terdengar orang itu menghela nafasnya kasar.
"Tapi kamu tau kan apa konsekuensinya, kalau kamu tetap mempertahankan bayi ini."
Aku kembali mengganguk. "Aku tau kok. Tapi bayi ini nggak salah apa-apa. Yang salah adalah aku, untuk itu dia harus tetap hidup."
"Re ...,"
Aku tersenyum. "Ini udah keputusanku dari awal. Its okey. Semua akan baik-baik saja."
"Tapi mau sampai kapan kamu menyembunyikan tentang keadaan kamu ini sama Adrian? Sekarang Adrian udah tau tentang kehamilan kamu Re. Dan aku yakin, cepat atau lambat kalian akan kembali rujuk. Dan na_"
__ADS_1
"Shuuutt, udah ya. Aku nggak mau denger kelanjutannya lagi. Maka dari itu, aku di sini butuh bantuan kamu untuk bisa lari dari Adrian." Aku memotong ucapan orang itu.
"Ke mana pun itu, asalkan Adrian tidak akan bisa melacak dan menemukan aku."
Orang itu mengangguk pasti. "Aku pasti akan bantuin kamu kok, tenang aja. Semua demi kebaikan kamu Re."
"Jadi kamu maunya kapan, untuk pergi dari Adrian. Aku bisa menyiapkan segalanya dengan bantuan koneksi orang-orang berpengaruh yang
aku kenal." Orang itu kembali melanjutkan ucapannya.
"Secepatnya. Aku mau secepatnya kalau bisa. Besok, lusa atau minggu depan. Aku bisa."
Orang itu tersenyum simpul menatapku, dia sangat mengerti perasaanku dan keadaanku. Berbeda dengan Adrian.
"Okey. Aku akan hubungin kamu, kalau semuanya udah siap."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah beberapa hari berlalu, kini aku sedang duduk di taman kecil depan rumahku. Sambil menatap bunga-bunga yang di tanam oleh Mama. Yang kini sedang bermekaran indah di pagi yang cerah ini.
Aku mengelus lembut perutku yang sudah mulai sedikit membesar. Dan hal ini membuatku harus mengenakan pakaian yang sedikit kebesaran agar tidak menimbulkan pertanyaan-pertanyaan dari Papa ataupun Mama.
Aku juga sudah mendapatkan kabar baik dari orang yang membantuku. Bahwa minggu depan aku bisa segera berangkat ke suatu tempat yang sudah ia sediakan. Tentunya tempat yang akan sangat sulit untuk dijangkau oleh Adrian.
Aku begitu senang mendengar kabar itu, walaupun ada kesedihan yang sedikit menyelinap masuk ke dalam hatiku.
Aku jadi tidak tega untuk meninggalkan Mama dan Papa. Mengingat di rumah ini hanya ada Mama dan Papa saja ditemani ART. Pasti jika aku pergi, maka mereka akan kesepian.
Sedangkan kakakku yang pertama sudah menikah dan kini tinggal di Bandung. Tapi terkadang jika libur mereka sering ke Surabaya bersama istri dan kedua anaknya.
Maka dari itu, aku jadi merasa bersalah jika harus meninggalkan Papa dan Mama ku.
Di tengah-tengah lamunanku yang memikirkan tentang Papa dan Mama yang akan kembali sendiri setelah kepergianku. Tiba-tiba Mama manggilku dari arah belakang.
"Rea ...,"
"Iya Ma? Mama nggak jadi pergi arisan?" Karena tadi Mama sempat bilang kalau dia akan pergi arisan ke rumah temannya pagi ini.
Mama menggeleng. "Nggak, arisan hari ini di batalin."
Aku mengangguk. "Oh gitu."
"Rea ... mama sebenarnya mau ngomong serius sama kamu." Mama duduk di sampingku kemudian menggenggam kedua tanganku
"Mau ngomong apa Ma?"
Mama menghela nafasnya, kemudian kembali berucap.
"Mama nggak tau, sekarang kamu lagi membunyikan apa dari Mama dan Papa. Tapi belakang ini, Mama perhatian kamu sedikit berbeda sayang. Kamu bahkan sering muntah-muntah saat pagi hari dan masih banyak hal lainnya yang membuat kamu sangat berbeda dari yang biasanya."
"Maksud Mama?"
"Sebenarnya Mama masih nunggu kamu untuk menceritakan semuanya dan jujur sama mama dan Papa. Mengingat ucapan kamu waktu itu sama Papa, kamu minta untuk di berikan waktu kan agar bisa menceritakan ini semua sama kami. Tapi rasanya, waktu yang kami berikan sepertinya sudah cukup Rea. Dan sebenarnya juga nggak seharusnya Mama dan Papa ikut campur dalam masalah yang kamu hadapi. Tapi, setelah dipikir-pikir kalau Mama dan Papa nggak ikut campur. Maka kamu pasti tidak akan memberitahukan pada kami sampai kapanpun itu."
__ADS_1
Ucapan Mama sedikit membuatkan takut dan gugup. Sepertinya aku tidak bisa lagi menyembunyikan tentang kehamilanku ini lagi pada kedua orang tuaku.
Aku harus mengakuinya sekarang. Ya, harus.
Aku menarik nafas dalam-dalam kemudian mengeluarkannya perlahan.
Sambil menatap Mama, air mataku pun turun seketika.
Jujur aku tidak bisa mengatakan ini. Tapi harus aku katakan, bagaimana ini?
"Ma ... maafin Rea ma. Freya salah ma, seharusnya semua ini nggak terjadi. Freya ngaku salah ... hiks."
"Mama mau nanya sekarang sama kamu, apa benar ... sekarang kamu sedang hamil nak?"
Aku mengangguk pelan.
Terlihat Mama menutup matanya sebentar sambil menarik nafasnya. Kemudian kembali membuka matanya.
"Freya salah ... hiks, nggak seharusnya ini semua terjadi Ma."
"Siapa?"
"Siapa ayah nya?"
Mama kembali bertanya padaku. Ya, tentu saja dia bertanya seperti itu. Orang tua mana yang tidak akan bertanya siapa ayah dari anak yang dikandung putrinya. Apalagi kini statusku adalah seorang janda yang tidak memiliki suami. Bagaimana bisa aku hamil, jika tidak bersama ayah dari anak di dalam kandunganku ini.
Ingin sekali rasanya aku menjawab bahwa ayah dari anakku adalah Adrian. Mantan suamiku.
Tetapi entah kenapa lidahku terasa keluh. Aku seolah-olah seperti tidak bisa berbicara lagi saat ini.
"Apa Adrian?"
Mendengar nama itu membuat tangisku semakin pecah, air mataku seolah-olah tak bisa berhenti barang sejenak saja.
"Mama juga sempat mendapatkan informasi dari penjaga rumah, kalau beberapa hari yang lalu Adrian datang ke sini saat Mama dan Papa nggak ada di rumah. Dan kalian pergi bersama setelah itu. Apa benar Adrian? Ayah dari anak ini?"
Aku kembali mengangguk pelan, masih dengan tangisan yang pilu. Rasanya badanku begitu lemah tak berdaya, lidahku keluh. Bahkan untuk menatap mata Mama saja aku tidak bisa melakukan itu.
Dari susut mataku, aku juga bisa melihat air mata Mama yang mulai berderai di kedua pipinya.
Dengan suara yang sedikit gementar, Mama kembali berucap padaku.
"Apapun itu. Mama nggak mau tau, sore ini juga Adrian sudah harus di sini. Adrian harus bertanggung jawab atas semua ini. Terlepas dari semua masalah kalian, Mama akan tetap meminta pertanggung jawaban Adrian."
"Mama juga akan segera menghubungi Papa kamu," lanjut Mama lagi.
Dengan sedikit keberanian aku pun menatap Mama dengan tatapan sendu. "Ta-tapi Ma ...,"
"Adrian harus bertanggung jawab. Mama nggak menerima penolakan Re. Mama juga akan segera menghubungi Adrian dan keluarganya."
Aku menggeleng, aku tidak mau seperti itu. Aku tidak butuh tanggungjawab Adrian sama sekali.
Mama mengelus lembut punggungku. "Ini sudah konsekuensinya sayang. Apapun itu, Mama nggak mau anak ini terlahir tanpa keluarga yang lengkap. Kamu harus bisa menyingkirkan ego kamu, demi anak ini."
__ADS_1
Mama kemudian bangkit berdiri dan meninggalkan aku seorang diri, meratapi nasibku.
Oh Tuhan, kenapa semua jadi lebih rumit seperti ini? Kenapa begitu rumit hidupku ini?