
Setelah menemani Adrian seharian di kantor hingga sore hari. Kami akhirnya pulang ke rumah. Ke rumahku dan Adrian.
Hah, rasanya aku sangat merindukan suasana rumah itu.
Selama perjalanan tak ada yang membuka suara, baik aku maupun Adrian.
Aku yang sibuk bergulat dengan fikiranku sendiri, sedangkan Adrian yang fokus menyetir mobil karena di jam seperti ini, jalanan Ibu kota sangatlah ramai dan macet.
Tiba-tiba, ponselku berdering pertanda ada sebuah pesan masuk. Aku melihat notifikasi itu dan tertera nama Satria di sana.
SATRIA
Rea! Kenapa bisa kamu mengambil keputusan tanpa membicarakan denganku dulu. Kita sudah berjanji tentang ini kan.
Aku ingin berbicara denganmu, kita ketemu besok sore. Bagaimana? Itu pun kalau kamu masih mengingat bahwa aku ini adalah sahabatmu.
Aku mendengus membaca pesan singkat dari Satria. Sudah kuduga.
"Dari siapa?" Adrian menoleh sebentar kemudian bertanya.
"Dari Reina." Bohongku, padahal ini dari Satria.
Adrian hanya mengangguk. "Kamu nggak pengen makan sesuatu gitu? Biar sekalian kita beli."
"Hmm, nggak deh. Aku lagi nggak pengen makan apapun mas. Aku cuma pengen istirahat aja mas. Capek soalnya. Abis aku dari Surabaya langsung di bawa ke kantor dan temenin kamu sampai jam segini."
Adrian menggenggam tanganku kemudian mengecup tanganku dengan lembut. Sedangkan tangan yang satunya ia gunakan untuk menyetir.
"Maafin mas ya."
"Its okey mas. Lebih baik mas fokus nyetirnya deh." Aku melepaskan tangan Adrian agar pria itu bisa menyetir dengan kedua tangannya, karena menyetir hanya dengan satu tangan sangatlah berbahaya bukan.
"Iya sayangku."
Tak terasa beberapa menit menepuh perjalanan dari perusahaan Adrian, akhirnya kami pun sampai di rumah ini. Rumah yang sangat aku rindukan suasananya.
Adrian pun langsung turun dan membukakan pintu mobil untukku, padahal sebelumnya aku sudah melarangnya. Tetapi dengan sedikit paksaan, Adrian tetap melakukannya untukku.
Terlihat di depan pintu utama, tampak para pelayan, penjaga rumah dan beberapa koki rumah ini yang sudah berjejer rapi untuk menyambut kedatanganku.
Apa ini tidak berlebihan?
"Selamat datang kembali di rumah Nyonya Freya!" Mbok Atun datang menghampiri aku dan Adrian. Kalau kalian lupa, Mbok Atun adalah kepala pelayan di rumah mewah ini.
Aku tersenyum dan langsung memeluk mbok Atun. Dan tampaknya wanita paruh baya itu sedikit terkejut atas tindakanku.
"Terimakasih Mbok. Aku kangen banget sama mbok Atun."
"Sama. Mbok juga kangen banget lho sama nyonya Freya."
"Jangan nyonya dong. Panggil aja kaya biasa Mbok," kesalku. Entahlah, aku merasa terlalu ketuaan jika harus dipanggil nyonya di rumah ini.
"Ah, nggak bisa nyonya kalau masih panggil non Freya. Kan bentar lagi bakalan ada nona/tuan muda yang bakalan lahir. Jadi, mbok panggil nyonya aja ya." Mbok Atun menyengir.
"Huh, okeylah. Rea ijinkan, heheh. Mulai sekarang Mbok bisa bebas panggil Rea apa aja. Terserah mbok Atun deh."
"Nah, gitu dong."
__ADS_1
Mbok Atun ini adalah orang yang sangat humble. Jadi tak heran jika aku sangat akrab dengannya.
"Yaudah mbok, aku dan Rea ke lantai atas dulu ya," pamit Adrian yang langsung di angguki mbok Atun.
Aku dan Adrian langsung menuju ke kamar utama yang berada di lantai 3 rumah ini menggunakan lift.
Dan kenapa kami tidak menggunakan tangga saja? Jawabnya karena mulai sekarang Adrian tidak akan mengizinkan aku untuk menggunakan tangga di rumah ini dengan alasan tidak ingin aku terlalu kecapean.
Apalagi kondisi kehamilanku ini yang masih berada di usia kehamilan yang sangat rentan akan keguguran, bila tidak berhati-hati.
"Beristirahat lah sebentar, karena setelah ini kita akan ke rumah Mommy dan Daddy." Ucap Adrian setelah kami sampai di kamar utama.
"Mau ngapain mas?"
"Hmm, katanya mereka ingin merayakan syukuran kembalinya kamu menjadi menantu kesayangan mereka dan sekaligus merayakan rujuknya rumah tangga kita."
Aku melongo di tempat.
"Mengadakan syukuran? Apa ini nggak terlalu berlebihan mas?" Aku rasa tidak harus seperti ini juga kan.
"Nggak sayang. Ini semua mereka lakukan karena mereka sangat bahagia, akhirnya kamu bisa kembali menjadi menantu mereka. Dan satu lagi yang membuat kebahagiaan mereka semakin bertambah ...," Adrian mengusap lembut perutku yang sudah mulai sedikit membesar.
"Karena sebentar lagi cucu yang selama ini mereka tunggu-tunggu akan segera hadir. Cucu pertama keluarga Mahesa."
Aku tersenyum.
"Yaudah mending sekarang kamu istirahat ya. Karena jam 7 nanti kita bakalan ke rumah Mommy dan Daddy."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pukul 18.30
Aku menggenakan dress selutut berwarna coklat
dengan model sabrina yang membuat kedua punggungku terekspos bebas.
"Yaudah, kita jalan sekarang kan mas," tanyaku.
Aku melihat Adrian sudah rapi. Bahkan pria itu sangatlah tampan.
Adrian menatapku dari ujung kaki hingga kepala.
"Kita batalin aja. Nggak usah pergi."
Aku terbelalak.
"Lho, kenapa mas? Jangan bercanda deh. Aku udah siap-siap dan rapi gini malah nggak jadi jalan. Lagian pasti Mommy, Daddy dan yang lainnya udah nunggu kita. Yuk mas, ini bukan waktunya buat bercanda." Aku menarik paksa tangan kekar Adrian, tetapi pria itu masih tak bergeming di tempatnya.
Aku mendengus kasar. Bagaimana bisa pria itu dengan gampangnya membatalkan semua ini. Padahal aku sudah susah-susah berdandan dan aku juga sudah sangat siap untuk pergi sekarang.
"Ayo mas ...,"
"Kan udah mas bilangin. Kita nggak jadi ke sana, nanti mas hubungin Mommy deh."
"Iiisshh, lagian mas kenapa sih main bantal-bantalin aja. Aku kan jadi nggak enak sama Mommy kalau kaya gini, mas ngeselin deh."
"Baju kamu. Baju kamu itu terlalu terbuka Rea. Mas nggak mau ada orang yang ngelihat gratis tubuh kamu."
__ADS_1
Aku menatap penampilan ku di depan cermin. Aku rasa baju ini tidak terlalu terbuka, paling ya hanya kedua punggungku saja. Lagipula baju dengan model seperti ini banyak di gunakan oleh orang-orang. Lalu salahnya dimana?
Adrian terlalu berlebihan menurutku.
"Mas ... baju ini tuh nggak terlalu terbuka deh. Cuma punggung aja palingan. Lagian baju kaya gini juga banyak yang gunain. Kenapa mas jadi posesif banget sih. Dan satu lagi, acara syukuran nya pasti cuma keluarga aja kan. Siapa juga yang mau ngeliatin aku coba, paling cuma keluarga doang ini."
"Nggak sayang. Keluarga besar Mahesa nggak sedikit, kamu tau itu kan. Belum lagi sahabat-sahabat Daddy dan Mommy yang akan datang juga. Di tambah beberapa keluarga suaminya Alya."
"Maka dari itu, aku nggak mau kamu pakai baju kaya gini. Aku nggak mau tubuh kamu terekspos sedikit pun di depan orang-orang. Karena kamu adalah milikku. Hanya milik Adrian Mahesa. Itu pun kalau kamu lupa bahwa aku ini masih suami kamu, kamu bebas pakai baju kaya gini" lanjut Adrian.
Perlahan Adrian mengecup keningku lalu berpindah mengecup pundakku yang terbuka. Seketika aku menjerit pelan karena merasa sesuatu yang aneh di pundak ku.
Dan ternyata ... oh Tuhan!
Aku langsung berlari ke depan cermin dan mendapati satu kissmark di sana yang terlihat sangat jelas. Dan semua itu akibat ulah Adrian.
Aku menatap nya kesal. Kalau seperti ini, mau tidak mau aku harus mengganti baju. Jika tidak, aku hanya akan dibuat malu oleh orang-orang yang melihatnya.
"Sebagai tanda, bahwa kamu hanyalah milik Adrian Mahesa." Adrian tersenyum miring.
"Mas Adrian ih, kesal aku sama mas kalau kaya gini!"
"Tinggal 30 menit lagi acaranya di mulai. Lebih baik sekarang kamu ganti baju sana, Mommy pasti sudah menunggu kedatangan kita di rumah utama." Tanpa sedikitpun rasa bersalah, Adrian melirik jam tangannya kemudian kembali tersenyum.
Benar-benar menyebalkan.
Setelah aku selesai berganti pakaian dengan dress yang tidak terlalu terbuka. Aku dan Adrian pun langsung bergegas ke rumah utama keluarga Mahesa yang tak jauh dari rumah kami.
Jaraknya hanya 10 sampai 16 menit dari rumah kami.
Selama perjalanan aku tidak berbicara sepatah katapun karena masih kesal dengan Adrian.
"Jangan ngambek trus, nanti kecantikan kamu luntur!" Ucap Adrian yang masih tetap fokus menyetir.
"Rayuan basi. Lagian nggak ada yang lagi ngambek kok."
"Trus kenapa muka kamu ditekuk gitu hmm, kalau nggak lagi ngambek."
"Aku cuma lagi kesal aja sama mas."
"Sama aja kan sweetie. Lagian mas melakukan ini semua demi kebaikan kamu kok."
"Mas emang nyebelinnya nggak pernah ilang ya. Kesal aku sama mas."
Dan entah kenapa melihat aku yang sedang kesal atas tindakannya malah membuat Adrian tersenyum. Bahkan dari rumah tadi hingga saat ini, senyumannya itu tak pernah sedikitpun luntur. Aneh memang.
"Sama mas juga." Aku menoleh, maksudnya dia kesal denganku juga?
"Mas kesal sama aku juga?" tanyaku yang sudah bersiap-siap untuk memarahi Adrian saat ini juga.
"Sama mas juga. Juga mencintai kamu. I really love you. Now and forever."
"Mas!! Ih, tuh kan tambah nyebelin."
Bukannya kesal, pipiku malah merona. Aku malah salah tingkah.
"Lah, salah nya mas dimana coba."
__ADS_1
"Pokoknya mas salah! Titik nggak pake koma!"