Setelah Bercerai

Setelah Bercerai
BAB 15 MENGUMPULKAN BUKTI


__ADS_3

Sesampainya aku di rumah. Aku langsung masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu dari dalam. Takut-takut jika nantinya Mama akan membukanya saat aku melakukan testnya dan akan menghujami aku dengan bermacam-macam pertanyaan. Bisa gawat kan.


Setelah mengambil air seni dan menaruhnya di sebuah wadah kecil, aku membawa wadah itu dan meletakkannya di atas nakas samping tempat tidurku dan mencelupkan semua jenis testpack di dalamnya.


Dan setelah menunggu 3 menit kemudian, dengan perasaan campur aduk sambil menutup kedua mataku dan membaca doa dalam hati berulang -ulang kali. Agar semua perkiraanku salah tentang kehamilan ini, sekali lagi bukannya aku mau menolak karunia Tuhan.


Tetapi ini bukan waktu yang tepat dan posisiku di sini sebagai seorang janda. Tidak mungkin untuk hamil secara tiba-tiba seperti ini, apalagi di luar nikah. Orang-orang pasti akan menganggap anak ini sebagai anak haram, dan aku tidak menginginkan hal itu terjadi.


"Tuhan, semoga saja tidak! Jangan kau berikan karunia itu padaku dulu. Tunggu sampai aku menikah lagi saja." Dalam hati aku terus mengulang ucapan itu.


Sehabis mengucapkan hal itu, dengan perlahan aku membuka kedua mataku melihat satu persatu testpack yang tadi aku celupkan di dalam wadah berisi air seni tadi.


Deg!


Perlahan air mataku pun turun dengan sendirinya melihat hasil testpack ku. Semua testpack yang ku beli tadi menunjukkan hasil yang sama semua. Tak ada satupun yang sesuai harapanku. Semuanya sama dan ini begitu menyakitkan.


Ya, hasilnya adalah positif. Aku ternyata positif hamil anak dari Adrian Mahesa.


Dan aku tidak bisa mengelak lagi. Ini sudah yang paling akurat dan aku tidak bisa mengelaknya lagi. Bahkan sampai ke lima testpack yang aku beli tadi hasilnya sama semua.


Aku harus bagaimana sekarang? Apa yang akan aku katakan pada kedua orang tuaku?


Kini sebuah nyawa kecil telah hidup dan tumbuh di dalam rahimku. Haruskah aku bahagia? Marah? Ataukah aku harus bersedih meratapi nasibku?


Bagaimana aku bisa mengatakan ini semua kepada kedua orang tuaku? Apakah mereka akan marah dan kecewa padaku?


Dan apa aku bisa mempertahankan bayi tak berdosa ini? Apa aku bisa menjadi orang tua yang baik untuk nya tanpa sosok seorang Ayah? Apa aku bisa?


Tuhan sekarang apa yang harus aku lakukan?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


POV ADRIAN


Sudah hampir sebulan ini aku sedang menangani proyek besar di Prancis. Dan sudah sebulan ini juga aku tinggal menetap sementara di Prancis agar dapat mengontrol proyek besar ini.


Karena jika bukan aku sendiri yang turun tangan langsung untuk menangani proyek ini, maka sampai kapanpun proyek ini tidak akan pernah selesai dan hanya akan membuat perusahaanku mengalami kerugian besar lagi.

__ADS_1


Proyek ini padahal sudah berjalan hampir satu tahun lamanya, tetapi tidak pernah selesai juga. Dan akibatnya perusahaan ku mengalami kerugian.


Ini semua adalah akibat penghianatan dari salah satu orang yang aku tunjuk untuk memegang proyek ini. Ternyata selama ini dia telah memanipulasi data-data untuk proyek ini sehingga membuat kerugian besar di perusahaanku selama hampir setahun.


Dan bodohnya saking sibuknya aku dengan urusan masalah rumah tanggaku, sampai-sampai aku tidak menyadari hal ini.


Sehingga sebulan yang lalu setelah mengetahui hal ini, aku segera datang ke Prancis dan langsung turun tangan untuk menangani sendiri proyek ini.


Hal ini sangat membuatku begitu kesal dan marah. Aku bahkan sampai melampiaskan kemarahanku pada sekertaris dan orang kepercayaanku. Dinda dan Sam William.


Seharusnya saat ini aku sedang berada di Indonesia dan mencoba untuk memperbaiki hubunganku dengan Freya, wanitaku.


Tetapi karena masalah ini aku harus berada di Prancis selama satu bulan lamanya.


Ya, walaupun sebenarnya ini semua karena kelengahanku dan orang kepercayaanku yang tidak bisa dengan cepat mendeteksi penghianatan ini.


Mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi.


Dan berbicara soal Freya, aku jadi merindukan wanitaku itu. Bahkan sangat amat merindukan nya. Dia sedang apa ya di sana. Ah, sial sekali aku ini.


Entah bagaimana kabarnya sekarang ini, aku jadi merasa bersalah. Karena setelah kejadian malam itu, aku bahkan tidak pernah menghubungi nya lagi.


Dan selama di Prancis aku juga tidak sempat untuk menghubunginya karena aku begitu sangat sibuk untuk menghandle pekerjaanku yang ada di Jakarta dan juga pekerjaanku di Prancis.


Ah, bahkan waktu tidurku sampai berkurang. Aku pun begitu lelah belakang ini, terkadang aku juga sering merasa pusing.


Huh! Andaikan ada Freya di sini, mungkin aku akan lebih bersemangat menjalani ini semua.


Aku harap dia akan baik-baik saja di sana. Aku akan segera kembali dan memperbaiki hubunganku secepatnya dengan dia. Dan rumah tangga kami akan kembali semula, seperti dulu lagi.


Aku juga akan membuktikan bahwa semua ini sebenarnya hanya kesalahpahaman saja. Tunggu aku Rea, aku pasti akan memberikan semua buktinya padamu.


Beberapa menit kemudian pintu ruanganku di ketuk dan masuklah seorang pria gagah yang sudah hampir belasan tahun menjadi orang kepercayaan keluarga besar Mahesa.


Bahkan Kakeknya hingga Ayahnya adalah orang kepercayaan Kakekku hingga Daddyku dulu, sebelum mereka pensiun. Dan kini putra merekalah yang meneruskan menjadi tangan kananku alias orang kepercayaanku dan keluarga besar Mahesa.


Tidak hanya menjadi orang kepercayaan saja, tetapi Sam William juga adalah sahabat baikku. Sejak kecil karena keluarganya begitu dekat dengan keluargaku, akhirnya kami pun bersahabat hingga saat ini.

__ADS_1


"Ada apa?" tanyaku begitu melihat Sam masuk.


Sam menunduk sebentar kemudian berucap. "Maaf tuan, tetapi saya menemukan bukti yang tuan Adrian minta." Sam memberikan amplop berwarna coklat itu padaku.


Walaupun kami bersahabat, tetapi jika sudah menyangkut pekerjaan ataupun jika sudah di kantor maka kami berdua akan bersikap profesional. Bukan sebagai sahabat, tetapi sebagai atasan dan bawahan.


Aku menyerit. Kemudian membuka amplop tersebut.


"Walaupun bukti ini belum terlalu akurat untuk membuktikan pada nyonya Freya, tetapi saya rasa ini akan sedikit membantu."


"Okey. Kalau begitu saya minta sama kamu untuk mencari bukti tambahan lagi. Dan harus secepatnya, saya tidak mau berlama-lama lagi. Apalagi sampai kehilangan Freya." Aku menyimpan amplop tersebut ke atas meja kerjaku.


"Kamu tahu kan, kita hanya bisa menahan posport nya selama 2 bulan. Selebihnya orang-orang imigrasi tidak bisa membantu kita lagi, dan kita tidak akan bisa mencegah kepergian Freya lagi. Dan saya tidak ingin itu terjadi, kamu paham kan maksud saya."


"Iya tuan, akan saya selidiki lagi segera. Saya juga sudah menggerakkan beberapa anak buah saya untuk menyelidiki hal ini lagi di Indonesia."


"Bagus. Saya percayakan semua sama kamu."


Setelah mengucapkan hal itu tiba-tiba entah kenapa, aku jadi merasa perutku bergejolak.


Ah, sialan. Sepertinya aku akan memuntahkan isi perutku.


Karena tidak tahan dengan perutku yang terus bergejolak, aku pun langsung bergegas menuju toilet pribadi di ruanganku dan memuntahkan ini semua.


Sam langsung menyusulku ke dalam toilet dengan panik. "Tuan Adrian, apa tuan baik-baik saja? Apa perlu saya panggilkan dokter?"


"Tidak perlu. Sepertinya saya terlambat makan, jadi masuk angin. Lebih baik kamu belikan saya makanan saja."


"Baik tuan, tetapi tidak apa-apa kan kalau saya tinggal," ucap Sam masih dengan nada kekhwatiran nya.


"Tidak apa-apa. Kamu pergi saja."


"Baik tuan." Setelah menunduk sebentar, Sam kemudian pergi untuk membelikan aku makanan.


Mungkin karena akhir-akhir ini aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku, akhirnya aku sampai melupakan makan dan kecapean. Dan inilah akibatnya.


Bahkan beberapa hari ini, setiap pagi aku sering merasa mual.

__ADS_1


Apakah aku harus memeriksakan kesehatanku ke rumah sakit? Takutnya karena terlalu kelelahan bekerja, membuat aku memiliki penyakit lain.


Huh! Entahlah, tetapi semoga saja tidak.


__ADS_2