
Menjelang sore hari, entah kenapa aku menjadi begitu sangat takut dan gelisah. Bukan karena memikirkan tentang akan semarah apa nantinya Papa pada Adrian dan akan sekecewa apa Mama dan Papa terhadapku.
Bukan tentang itu semua, tetapi aku menjadi begitu takut dan gelisah karena Adrian. Ya Adrian.
Aku takut Adrian melakukan segala cara nantinya yang akan membuat Papa dan Mama, akan memintannya untuk bertanggung jawab atas bayi ini dan juga kembali menjadikan aku istrinya.
Aku tidak bisa membiarkan ini semua terjadi.
Aku mengambil ponselku yang berada di atas nakas kemudian menghubungi seseorang.
"Hallo, gimana Sat? Aku bisa berangkatnya kapan, kalau bisa dipercepat aja ya? Karena kita udah nggak ada waktu lagi. Papa dan Mama sudah tau tentang kehamilan aku dan meminta Adrian untuk segera datang ke rumah sore ini juga. Bagaimana ini ...," cecarku pada orang di seberang sana yang menerima telponku.
"....."
"Tidak bisa Sat. Kita nggak punya banyak waktu. Aku takut rencana ini akan gagal."
"...."
"Kamu yakin?"
"....."
"Okey, aku harap kamu bisa secepatnya mengurus keberangkatanku. Kalau bisa besok ataupun lusa. Aku ingin segera pergi dari sini."
"....."
"Ya tentu saja, aku akan pergi diam-diam tanpa sepengetahuan Papa dan Mama juga. Dan mungkin aku akan ngasih kabar ke mereka setelah sampai di tempat tujuanku."
"..."
"Thanks ya Sat. Kamu udah banyak bantu aku."
"...."
Sambungan telpon pun terputus. Aku menghela nafas kasar, memikirkan tentang kehidupanku yang selalu dihantui oleh banyak masalah.
Tapi ya mau bagaimana lagi, namanya juga hidup.
Tak lama, aku mendengar suara deru mobil yang berhenti tepat di halaman rumahku. Dan aku sangat yakin, bahwa suara deru mobil itu berasal dari mobil Adrian.
Dan benar saja ketika aku melihatnya dari balik jendela balkon kamarku. Aku melihat sosok Adrian yang baru saja turun dari mobil mewahnya dan juga Sam, orang kepercayaan Adrian sekaligus sahabatnya.
"Aku akan berada di situasi sulit, oh Tuhan bantu aku," gumamku.
Perasaan gugup, takut dan juga gelisah semakin menghantuiku seolah tak memberiku jeda untuk menetralkan perasaan ini.
__ADS_1
Bagaimana ini?
Tak lama Mbok Tuti datang dan mengetuk pintu kamarku. Sudah kuduga.
Aku pun membukanya, Mbok Tuti tersenyum pada ku. "Non dipanggil sama Bapak untuk ke bawah."
Aku hanya bisa mengangguki ucapan Mbok Tuti.
Seolah mengetahui bagaimana perasaanku saat ini, mbok Tuti pun kembali berucap. "Semangat Non. Non Rea pasti bisa melewati ujian ini. Lagian apapun itu keputusannya, maka itu adalah takdir dari Allah yang sudah ia tetap kan untuk Non Rea, Den Adrian dan calon bayi yang ada di perut Non Rea saat ini."
"Makasih ya Mbok, udah mau nyemangatin Rea."
"Sama-sama Non. Yaudah yuk, mbok antar ke bawah."
Mbok Tuti pun mengandeng sebelah tanganku dan mengantarkan aku ke ruang tamu yang memang berada di lantai satu rumah ini.
Sesampainya di sana aku melihat sudah ada Papa, Mama, Adrian dan juga Sam. Terlihat dari kejauhan, Papa sedang mengobrol serius dengan Adrian. Sesekali Sam juga ikut berbicara, mungkin mencoba untuk menjelaskan sesuatu pada Papa dan juga Mama.
Entah apa yang mereka bicarakan, aku juga tak tahu.
Aku pun langsung duduk di samping Mama, begitu sampai di ruang tamu. Tempat mereka mengobrol.
"Jadi sejak kapan?"
Aku menyerit, maksud Papa apa sih? Sepertinya lama-lama Papaku akan menjadi seperti Adrian yang kalau berbicara tidak pernah lengkap.
"Hubungan kalian. Sejak kapan kalian memulai dan membangun hubungan baru lagi secara diam-diam di belakang kami."
Aku kaget mendengar ucapan Papa. Bagaimana bisa Papa memiliki pemikiran sejauh itu? Papa berfikir bahwa selama ini aku dan Adrian, kembali menjalani hubungan baru secara diam-diam?
Oh astaga yang benar saja.
Jangankan untuk memulai hubungan baru bersama Adrian, melihat wajahnya saja aku sudah sangat muak. Apalagi menjalani hubungan baru dengan Adrian lagi. Huh, rasanya tidak akan mungkin.
"Nggak ada Pah. Aku dan mas Adrian sebenarnya ngga punya ...,"
Belum selesai aku berbicara, Adrian langsung memotongnya.
"Maaf Pah, tapi Adrian sangat mencintai putri Papa ini. Kami memang nggak sedang mempunyai hubungan diam-diam di belakang kalian. Tapi jujur, kami melakukan ini semua dengan cinta Pah. Dan Adrian juga yakin, kalau Rea masih mencintai Adrian juga," jelas Adrian membuat aku terbelalak tak percaya.
Apa yang dia katakan barusan? Masih mencintaiku? Huh! Omong kosong.
"Nggak Pah, bukan gitu. Aku dan Adrian sebenarnya sudah melakukan kesalahan besar. Ini semua hanya insiden yang tidak di sengaja Pah. Dan Papa tau kan, kalau Rea udah move on. Ini cuma kesalahan yang terjadi karena kelainan kami berdua."
Ku lihat Papa dengan tenangnya mengambil kopi yang dibuatkan mbok Ina dan menyesapnya perlahan.
__ADS_1
Aku bahkan sampai bertanya-tanya. Apa ini benar-benar Papa ku? Kenapa dia tidak marah sama sekali pada Adrian atau padaku? Kenapa dia bisa setenang ini? Dan tunggu dulu ... Mama ku juga sama. Mereka berdua sama-sama terlihat tenang menghadapi masalah ini.
Padahal tadi Mama sempat menangis begitu mendengar kabar kehamilanku.
Ah, ekspetasiku yang sepertinya terlalu tinggi atau memang seperti ini ya.
Aku bahkan sudah sangat amat berharap Mama atau Papa akan marah besar pada Adrian dan mengusir pria ini, layaknya di film-film karma yang sering aku tonton setiap pagi atau sore di tv.
Yang kemudian si pemeran pria akan menyesal di suatu hari nanti, setelah mencampakkan si pemeran wanita karena wanita lain.
Tapi ya balik lagi, ini kehidupan nyata. Bukan kehidupan di perfilman Freya. Sadarlah!
"Kamu bilang ini insiden kan? Tapi kalian melakukan nya secara sadar kan. Kalau bukan karena cinta yang masih ada di dalam perasaan kalian masing-masing, maka ini semuanya tidak akan terjadi Rea! Dan Papa sangat mengenal kamu, kamu nggak akan mau sama orang yang nggak kamu suka sama sekali. Kalau udah nggak ada perasaan cinta di hati kamu lagi, seharusnya kamu sudah menolak Adrian kan dan bukannya malah menerima Adrian. Alhasil sekarang kamu sudah mengandung anak dari buah cinta kalian kan."
"Uhukk ... uhukk ...," Aku yang sedang meminum air putih untuk menetralkan perasaan gugup mendadak dibuat tersedak dengan minuman yang ku minum setelah mendengarkan ucapan Papa barusan.
Deg!
"Kamu kalau minum yang hati-hati Rea." Mama mengelus belakangku dan memberikan aku beberapa lembar tisu.
Kenapa Papa harus berbicara seperti itu sih di depan Adrian.
"Kamu nggak apa-apa Rea?" Kali ini Adrian yang bertanya dengan nada khawatirnya.
Aku menggeleng pelan, sangat malas jika harus menanggapi ucapan Adrian sebenarnya. Tapi ya karena ini di hadapan Papa dan Mama, jadi aku harus bersikap sebaik mungkin.
"Okey, jadi untuk kelanjutan gimana? Yang jelas Papa tetap mau mempertahankan cucu Papa. Papa nggak mau kehilangan cucu Papa, hanya karena keegoisan kedua orangtuanya. Dan kalau kalian nggak mau ngerawat anak ini, biar Papa dan Mama yang akan merawatnya," jelas Papa.
"Mama juga, sangat setuju dengan ucapan Papa!"
"Dan Papa juga yakin, Mommy dan Daddy Adrian juga pasti akan sependapat dengan Papa dan Mama. Kamu juga kan Sam." Papa mengalihkan pandangannya ke arah Sam.
Sam yang dari tadi hanya duduk diam dan menyaksikan drama antara aku dan Adrian ini pun langsung menyetujui ucapan Papa.
"Sebagai Ayah dari anak ini. Tidak mungkin aku akan membuangnya. Aku akan tetap mempertahankannya juga dan akan bertanggung jawab Pah." Adrian menatap Papa, tanpa keraguan sedikitpun.
"Dan lagipula ini kan memang sudah kewajiban ku Pah. Mengingat Rea masih menjadi istriku dan sekarang sedang mengandung anakku."
Aku menatap Adrian kesal, sekali lagi dia mengungkapkan hal seperti itu. Dia ini sedang menghayal atau bagaimana? Istri dari mananya sih. Orang kami sudah benar-benar bercerai dan surat perceraian juga masih aku simpan rapih dan aku yakin Adrian juga menyimpannya. Apa perlu aku mengeluarkannya lagi untuk Adrian melihatnya?
"Mas Adrian, jangan mengada-ada lagi deh. Kalau mau berbohong lagi, jangan di depan kedua orang tuaku mas."
Adrian menggeleng. "Siapa yang berbohong? Nggak ada yang berbohong di sini dan ini bukan saat yang tepat untuk berbicara bohong Rea."
Dari suaranya, Adrian terlihat sangat serius.
__ADS_1
"Kalau kamu nggak percaya sama apa yang aku ucapkan barusan. Kamu bisa tanya semuanya ke Sam langsung. Sam nggak mungkin akan berbohong Rea."