Setelah Bercerai

Setelah Bercerai
BAB 46 KEBENARAN


__ADS_3

"Ada apa Sat? Cepat katakan karena aku datang ke sini diam-diam tanpa ngasih tau ke Adrian." Ucapku begitu mendapati Satria.


Aku tak sadar jika ada orang lain bersamanya yang kini sedang duduk bersisihan dengan Satria.


Seorang wanita yang sangat aku kenal. Wanita yang selalu membantuku selama ini.


"Tante Laras ...,"


"Perut kamu semakin membesar, sudah 6 bulan kan?" tanya Dokter Laras sambil tersenyum simpul.


Aku mengangguk pelan.


"Masih sering kram perutnya?" tanya Dokter Laras lagi.


"Terkadang tante."


Dokter Laras terdiam, masih memandangiku dengan raut wajah yang sulit di artikan.


Beberapa menit kemudian dia mengeluarkan selembar amplop cokelat dari dalam tasnya. Dan menyerahkan kepadaku.


Aku langsung mengambil dan membukanya.


"Itu adalah hasil tes terbaru kamu Re yang Tante lakukan saat kamu masuk RS beberapa Minggu lalu." Dokter Laras terdiam sejenak, mengambil nafas dalam-dalam dan membuangnya.


"Kamu udah nggak bisa terus-terusan bergantung dengan pil-pil itu Rea. Memang pil-pil itu bisa mengurangi rasa sakit kamu, tapi juga bisa membahayakan untuk kamu dan bayi yang di dalam kandunganmu kapan saja."


"Untuk itu, kamu harus segera jujur sama Adrian tentang penyakit kamu. Adrian berhak tau, agar dia tidak merasa bersalah jika suatu saat nanti terjadi sesuatu sama kamu."


Aku melihat hasil-hasil pemeriksaan itu, tanpa sadar air mataku pun menetes. Apalagi ketika mendengar penuturan Dokter Laras yang memintaku untuk segera jujur ke Adrian.


"Tapi Tan ... aku takut."


Satria yang duduk berhadapan dengan ku berdecak.


"Rea, ayolah mau kamu ngasih tau Adrian langsung atau aku?" ucap Satria.

__ADS_1


Air mataku semakin deras. Aku tidak tau harus bagaimana menghadapi Adrian jika dia tahu tentang penyakit ini.


Penyakit yang baru aku ketahui saat perceraian kami. Saat itu, aku yang patah hati karena kesalahpahaman menyangka Adrian berselingkuh dariku.


Memutuskan untuk pergi berlibur ke London untuk melupakan semua rasa sakitku terhadap Adrian waktu itu.


Namun, nyatanya bukannya melupakan rasa sakit. Aku malah mendapat satu kenyataan pahit lagi. Tiba-tiba ketika berada di London aku jatuh sakit dan didiagnosa menderita penyakit ginjal kronis.


Yang menyebabkan aku harus sering mencuci darah 2 sampai 3 kali dalam seminggu ketika masih berada di London.


Dan satu-satunya orang yang mengetahui itu semua adalah Satria. Dia adalah orang pertama yang aku ceritakan tentang penyakit ini sebelum Dokter Laras. Dia juga yang membantuku selama berada di London dan mencarikan aku Dokter-dokter spesialis terbaik, demi kesembuhanku.


Hingga akhirnya, keadaan ku kembali lumayan membaik berkat usaha dan doaku bersama Satria. Namun, tiba-tiba beberapa minggu sebelum aku kembali ke Indonesia.


Keadaan kembali memburuk dan mengharuskan aku mengambil tindakan untuk operasi dan harus terpaksa hidup dengan satu ginjal, akibat infeksi yang aku alami. Ginjalku yang satunya harus diangkat. Sembari menunggu pendonoran ginjal yang sampai saat ini belum aku dapatkan.


Dan semuanya berlalu begitu saja, aku yang mencoba menyembunyikan penyakitku sampai mendapatkan pendonor ternyata tak semudah itu.


Setelah kembali ke Indonesia. Aku dikenalkan dengan Dokter Laras. Dokter yang memang sudah ahli menangani pesien-pasien dengan penyakit yang sama sepertiku ini.


Hingga suatu saat Adrian kembali membawaku ke dalam kehidupannya dan membongkar tentang semua kesalahpahaman ini.


Awalnya aku sudah tidak ingin lagi bersama Adrian walaupun semua kenyataan telah terbongkar. Karena aku tahu, hidupku yang tidak akan lama lagi akan menyakitkan Adrian.


Dia sangat mencintai ku dan aku tahu itu. Dan tidak mudah bagi Adrian untuk menerima kenyataan pahit ini. Aku hanya tidak ingin melihat Adrian terluka. Karena aku tahu, bagaimana rasanya terluka karena kehilangan.


Namun, karena kelalaian kami berdua di malam itu. Membuatku tak bisa pergi dari kehidupan Adrian. Aku hamil. Dan sejak saat itu, aku berjanji pada diriku sendiri untuk tetap mempertahankan janinku walaupun Dokter Laras mengatakan ini akan sangat membahayakan kesehatanku.


Aku tak peduli akan hal itu. Jika suatu saat nanti aku harus meninggalkan dunia ini, setidaknya aku bisa meninggalkan seorang anak yang aku pertahanan kan untuk menemani Adrian sebagai penggantiku kelak. Seorang anak yang melambangkan betapa besarnya rasa cintaku terhadap Adrian karena mempertahankannya sampai akhir hayatku.


"Satria, biar aku yang ngasih tau Adrian. Aku nggak mau dia tahu tentang ini dari orang lain." Aku mengusap air mataku.


Dengan kedua mata yang memerah aku menatap Satria dan Dokter Laras bergantian.


"Aku bisa melahirkan anak ini kan? Tante ...,"

__ADS_1


Dokter Laras kembali terdiam. Kedua wajahnya berpaling beberapa saat dariku, aku tahu dia sedang menahan tangisnya. Apalagi kami begitu sangat dekat. Dokter Laras bahkan sudah menganggap ku sebagai putri nya sendiri.


"Setidaknya ...,"


Aku menghela nafas berat.


"Kalau aku nggak bisa diselamatkan, tapi anak ini bisa selamat." Aku mengelus perutku dengan lembut sambil tersenyum getir.


"Aku rela pergi Dok, kalau misalkan anak ini lahir dengan selamat. Dan tumbuh menjadi anak yang sehat bersama Papa nya. Aku pasti akan menjadi wanita dan Ibu terbahagia di surga sana, jika itu -"


"Kamu ngomong apa sih," Satria menyela ucapanku.


Wajahnya terlihat kesal dan marah.


"Nggak ada yang pergi. Kamu dan anak itu, akan tetap baik-baik aja. Kita akan melakukan banyak pengobatan, kamu akan kembali sehat Re. Jangan ngomong sembarangan deh. Adrian pasti bakalan nggak suka juga kalau denger ucapan kamu yang ngaco itu."


"Iya kan Dok?"


"Satu-satunya cara adalah mendapatkan pendonor Sat. Dan sampai saat ini kita belum bisa mendapatkan itu," jawab Dokter Laras.


"Aku yang donorin aja kalau gitu."


Freya memukul lengan kekar Satria.


"Jangan coba-coba membahayakan diri kamu sendiri untuk aku Sat. Karena aku benci itu."


"Trus mau gimana lagi? Mau sampai kapan kita cari pendonor yang cocok sama kamu? Sedangkan kesempatan kamu untuk hidup semakin menipis ditambah usia kehamilan kamu yang semakin bertambah? "


"Lebih baik aku yang donorin aja," keukeh Satria.


"Nggak Satria. Aku bilang enggak ya enggak."


"Hugh! Terserah kamu deh Re."


Aku hanya tidak ingin membahayakan orang-orang yang aku sayangi demi untuk penyembuhanku.

__ADS_1


__ADS_2