
"Dinda, cepatlah ke ruangan saya segera!" ucap Adrian, kemudian kembali menutup sambungan telponnya.
"Iya Pak, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Dinda kemudian melirik sedikit ke arah Vania yang sedang duduk di salah satu sofa yang berada tak jauh dari meja kerja Adrian, wanita itu tampak serius membaca beberapa berkas.
"Tolong buatkan kopi untuk saya dan ... Vania kamu mau minum apa?" tanya Adrian kepada Vania.
Dinda memutar bola matanya jengah melihat Vania. "Emang ya Pak bos, nggak tobat-tobat gitu dekat-dekat mbak Vania. Padahal bentar lagi mau balikan sama Bu bos lho," batin Dinda.
"No thanks. Aku lagi nggak pengen minum apapun An." Vania tersenyum.
"Bagus lah, biar nggak merepotkan aku," batin Dinda.
"Yaudah, buatkan kopi aja buat saya. Takarannya seperti biasa."
Dinda menganggukkan kepalanya kemudian pergi dari ruangan Adrian.
Dinda pun pergi membuatkan kopi untuk Adrian. Ya, dialah yang membuatnya sendiri tanpa menyuruh OB.
Karena Dinda lah yang tau takaran kopi yang pas untuk Adrian, selain Pak Tono. Salah satu OB yang yang sedang cuti untuk beberapa minggu ke depan.
"Mbak Dinda, kok malah begong sih." Salah satu OG (office girl) membuyarkan lamunan Dinda.
"Eh, nggak kok."
"Lagi ada masalah ya?" tanyanya lagi.
Dinda menggeleng. "Nggak sih, cuma lagi kesel aja sama Pak Bos. Dia tuh nggak ada kapok-kapoknya ya, masih aja deketin si Vania itu. Kesel aku, apalagi ngeliat tampang Vania."
"Si mbak Vania itu lagi di ruangan Pak Bos Adrian ya?" tanya OG yang diketahui bernama Santi.
"Iya, apalagi setahu aku hari ini Pak bos nggak punya jadwal apapun deh sama perusahaannya Vania. Tapi kok bisa-bisanya dari pagi, si Vania itu udah ada di ruangan Pak bos."
"Yah, mungkin mau cari muka lagi sama Pak bos. Biasalah janda tuh suka kaya gitu," cibir Santi.
"Atau bisa jadi dia mau ngegoda Pak bos lagi," tambah Santi.
"Nggak mungkin lah kalau itu. Soalnya aku tuh dapat kabar dari Sam, kalau Pak bos sama Bu bos tuh mau rujuk."
"Hah? Beneran? Iihh kalau kaya gitu mah ini adalah berita bahagia atuh mbak. Kayanya Santi wajib nyebarin berita bahagia ini deh ke seluruh penghuni kantor," ucap Santi penuh kebahagiaan.
"Gosip terus, sampai sukses!" Tiba-tiba Asri datang menghampiri Santi dan Dinda.
"Bilang aja mak lambe mau tau kan tentang gosip apa," cibir Santi.
Ya, Asri kan adalah Mak lambe di kantor ini. Jadi ya wajib harus mengetahui berita dan gosip terbaru yang ada di kantor ini.
"Emang ada gosip apa sih? Bagi-bagi dong, biar dosanya semakin ringan." Asri mendekati Dinda dan Santi.
Dinda menggeleng melihat tingkah Asri.
"Ah udah lah, kalian berdua gosip aja. Aku mau nganterin kopi Pak bos dulu, sebelum Pak bos murkah trus aku dipecat. Nanti keluargaku makan apa kalau aku di pecat. Bye."
__ADS_1
Dinda pun meninggalkan Santi dan Asri yang sudah mulai bergosip ria.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
FREYA POV
Setelah beberapa pertimbangan dan melalui persetujuan Mama dan Papa. Aku akhirnya memutuskan untuk berangkat ke Jakarta bersama Sam yang menjemputku ke Surabaya.
Tetapi hal itu tidak membuatku bahagia sama sekali, malah justru membuatku semakin kesal.
Bagaimana aku tidak kesal coba. Setelah aku sampai di Jakarta. Sam langsung membawaku ke Kantor Adrian.
Sesampainya di kantor Adrian, aku langsung diantar Sam ke ruangan Adrian. Dan sesampainya aku di sana, aku mendapati keberadaan Vania yang juga berada di ruangan Adrian.
Vania bahkan sempat menyapaku dan aku hanya mengulas senyuman kecil padanya.
Bagaimana pun juga walaupun Vania tak bersalah, tetapi aku tetap saja kesal melihat wajahnya itu.
Apalagi melihat dia yang berada di ruangan Adrian. Ya walaupun tanpa Adrian, karena saat ini Adrian sedang mengadakan meeting mendadak.
Kata Sam sih tak akan lama. Dan aku di suruh untuk menunggu bersama Vania di sini.
Memang menyebalkan.
Tapi apa peduliku juga. Untuk apa aku memperdulikan itu semua. Ah, sudahlah.
"Hmm, kamu apa kabar Re?" tanya Vania yang kebetulan duduk di sampingku.
Tidak Adrian, tidak Vania, tidak Satria. Semua sama saja, sama-sama menyebalkan bagiku.
"Re ...," Vania menggeser posisi duduknya dan mendekatiku.
"Aku sebenarnya mau minta maaf sama kamu dari jauh-jauh hari. Tapi kamu nggak mau untuk mendengarkan sedikitpun ucapanku. Dan aku rasa ini adalah saat yang tepat."
"Aku minta maaf yang sebesar-besarnya ya sama kamu. Karena aku, kamu dan Adrian hampir aja bercerai. Andaikan saja waktu itu Adrian nggak datang, pasti rumah tangga kalian nggak akan seperti ini. Aku juga sebenarnya nggak menyangka kalau akhirnya ini semua akan berimbas sama rumah tangga kalian. Untuk itu sekali lagi aku minta maaf banget sama kamu."
Air mata Vania berhasil lolos, wanita itu menggenggam kedua tanganku.
"Dan aku mohon sama kamu ... hiks, untuk memaafkan Adrian juga ya. Aku nggak minta banyak sama kalian, aku cuma pengen lihat rumah tangga kalian bisa seperti dulu lagi. Bisa harmonis lagi Re, tolong ya kamu kasih Adrian kesempatan untuk bisa memperbaiki semuanya. Adrian itu nggak bisa hidup tanpa kamu, karena hidup dia adalah kamu. Sampai kapanpun itu nggak akan berubah dan aku bisa melihat itu dari setiap sorot mata Adrian. Dia sangat mencintai kamu."
"Bahkan selama kamu pergi, Adrian itu hancur banget Re. Dia seperti kehilangan dunianya. Dia mungkin akan terlihat baik-baik aja di depan banyak orang, tetapi di belakang ... dia hancur. Hancur banget Re. Dan aku lihat sendiri bagaimana seorang Adrian yang dulunya memiliki watak yang keras, bisa sehancur itu karena seorang wanita. Wanita yang sangat dia cintai, yaitu kamu. Freya Ranita Ganney."
"Jadi aku mohon, tolong kasih Adrian kesempatan lagi ya Re." Vania mengusap air matanya menggunakan tisu yang tersedia di atas meja.
Kemudian beralih memelukku sebentar dan melepaskannya.
Aku hanya bisa terdiam mendengar setiap ucapan Vania. Lidah ku terasa kelu, aku tidak tau harus berkata apa sekarang.
Perlahan air mataku pun jatuh dan membasahi pipiku. Aku menatap Vania.
"Van ... hiks ..., aku juga minta maaf sama kamu. Aku juga salah di sini, karena nggak pernah mau untuk mendengarkan penjelasan kamu dan Adrian, hiks ...," Aku mulai terisak.
__ADS_1
Vania kembali membawaku ke dalam pelukannya. Dia pun ikut kembali menangis bersamaku.
Aku cukup merasa bersalah karena telah menuduh Vania yang tidak-tidak.
Cukup lama acara tangis-tangisan kami, akhirnya selesai juga. Wow, seperti sebuah acara saja.
Sepertinya aku harus memasukkan ini ke dalam sejarah ku.
Tak lama pintu ruangan Adrian terbuka.
"Sweetie, kamu akhirnya datang juga?"
Adrian pun masuk ke dalam ruangan diikuti Sam dari belakang dan langsung menghampiriku dan duduk di sofa yang bersebelahan dengan sofa yang aku duduki.
Adrian menyerit keningnya menatap aku dan Vania.
"Kalian berdua habis menangis?" tanya Adrian.
Ya, ketahuan.
"Nggak, aku sama Rea habis balapan." Vania sambil membereskan beberapa berkas-berkas di atas meja dan menyatukan kembali ke dalam map.
Adrian hanya mengangguk, dia pasti sudah sangat paham betul. Kalau kami berdua ini habis menangis, tetapi kenapa malah dia tanya lagi.
"Jadi, acara maaf-maafan nya udah selesai nih. Berarti aku telat dong." Adrian tersenyum menatap kami berdua secara gantian.
"Eh, mau ke mana Van?" tanya Adrian kepada Vania yang kini sudah bangkit dari duduknya.
Vania tersenyum. "Ya mau pergi lah, acara maaf-maafan nya kan udah selesai. Lagian aku juga nggak mau ya, ngelihat kemesraan suami istri yang baru aja rujuk ini. Iya kan Sam."
Sam hanya tersenyum kikuk di tempatnya.
"Yaudah sana. Aku mau melepas rindu dengan istriku. Kalau kalian berdua Sam tetap berada di sini, aku takutnya kalian tidak akan tahan dengan kemesraanku dan Rea."
"Dan kamu Sam. tolong perintahkan kepada Dinda untuk kosongkan semua jadwalku sore ini. Aku ingin menghabiskan waktuku bersama istriku."
Sam dan Vania saling berpandangan, mereka cukup memaklumi hal ini. Vania langsung menghampiri Sam dan menarik tangan pria itu untuk keluar dari sana.
Tetapi sebelum Vania dan Sam benar-benar pergi. Vania kembali berucap. "Bermesraan lah sepuasnya. Dan jangan lupa, buatkan aku ponakan yang banyak ya An. Bye."
Mendengar ucapan Vania, tiba-tiba kedua pipiku langsung memerah. Ah, seperti orang yang baru jatuh cinta saja.
Setelah Vania dan Sam keluar. Adrian langsung mengunci pintu ruangannya.
Oh Tuhan, apa yang akan Adrian lakukan?
Kenapa aku jadi deg-degan seperti ini ya. Seperti orang yang baru pacaran saja. Oh bodoh kamu Rea!
"Kenapa di kunci sih mas?" Bukannya merasa risih, tapi aku malah berasa sedikit canggung jika berada di satu ruangan berduaan bersama Adrian.
Maklumlah aku dan Adrian sudah cukup lama tidak bersama seperti ini.
__ADS_1
"Biar nggak ada yang ganggu Rea."