
Setelah pulang dari Jakarta 2 hari yang lalu, hingga hari ini aku jadi malas untuk melakukan apa-apa dan sering murung, bahkan aku sampai izin ke Mama untuk tidak datang ke Restoran beberapa hari ke depan.
Mood ku benar-benar di buat berantakan semenjak kejadian malam itu di hotel bersama Adrian.
Aku jadi memikirkan banyak hal, entah apa yang akan terjadi padaku kedepannya. Aku akan siap menerima segala konsekuensinya, apapun itu.
Bahkan Mama sering bertanya mengapa aku sering sekali murung belakangan ini bahkan sampai tidak ke restoran beberapa hari ini dan dengan seribu alasan aku akan menjawab, bahwa aku sedang tidak enak badan dan akan baik-baik saja.
Dan alhasil, sebagai Putri bungsu Mama. Mama pun mencurahkan segala kasih dan sayangnya padaku dengan membawakan aku sarapan setiap pagi ke kamarku.
Aku tahu ini sangat merepotkan bagi wanita karir seperti Mama yang harus mengurus anak dan suaminya, setelah itu baru berangkat kerja ke restorannya.
Yah mau bagaimana lagi, Mama yang memaksa untuk melakukan ini semua padaku dan aku bahkan sampai melarang Mama. Tetapi Mama tidak bisa ditentang, jika dia ingin melakukannya maka akan dia lakukan tanpa adanya paksaan. Karena semuanya berasal dari hati yang tulus.
Seperti pagi ini, Mama sudah mengetuk pintu kamarku dan membawakan aku sarapan pagi.
"Dimakan ya. Kali ini Mama nggak mau tahu, sarapan ini harus kamu habiskan. Jangan kaya sebelum-sebelumnya, sarapan kamu nggak habis." Ucap Mama sambil meletakkan sarapanku di atas nakas.
Aku tersenyum menatap Mama. "Iya Ma, pasti Rea habisin kok. Tenang aja."
Mama kembali tersenyum, kali ini dengan tatapan sendu menatapku.
Kemudian duduk di atas ranjang di sampingku sambil mengelus-elus rambutku lembut.
"Mama nggak tahu masalah apa yang saat ini sedang kamu hadapi. Tetapi saran dari Mama, kamu jangan terlalu larut dalam kesedihan dan ketakutan sama masalah itu. Hadapilah sayang, jangan takut. Karena kamu punya Mama dan Papa, yang akan selalu mendukung setiap keputusan yang akan kamu ambil."
"Setiap masalah itu sebenarnya gampang untuk diselesaikan, tergantung kitanya saja bagaimana cara menyikapi masalah itu. Mama yakin kamu bisa melewati ini semua dengan sikap yang dewasa sayang, karena kamu adalah anak yang kuat. Dan satu lagi, setiap masalah harus diselesaikan dengan kepala dingin. Jangan asal main marah-marah aja, seperti sifat kamu yang suka sekali asal marah-marah tanpa tahu kejelasannya."
Mama mengakhiri ucapannya dengan mencium keningku dengan sayang dan tersenyum lembut.
Senyuman yang seolah-olah menjadi obatku untuk kembali bangkit dari keterpurukan ini.
Tepatnya keterpurukan yang aku lalui semenjak kejadian malam itu.
__ADS_1
Jujur aku hanya takut saja jika kejadian malam itu akan membuahkan hasil. Bukannya aku menolak karunia dari Tuhan, tetapi apa kata orang jika kejadian malam itu benar-benar menghasilkan. Sedangkan aku sudah bercerai dari Adrian.
Dan pastinya kedua orang tuaku akan sangat kecewa denganku.
"Ya udah ya, Mama mau siap-siap dulu ke restoran. Kamu baik-baik ya di rumah. Kalau butuh apa-apa langsung telpon Mama atau Papa aja ya."
Aku mengangguk. "Iya Ma. Pasti. Mama juga hati-hati ya, jaga kesehatan."
"Iya sayang."
Mama pun pergi meninggalkan aku yang masih mencerna setiap kata-kata yang Mama ucapkan barusan. Dan aku menyadari satu hal, bahwa aku seharusnya tidak boleh mudah putus asa seperti ini bukan dan memikirkan sesuatu yang belum tentu akan terjadi.
Jadi untuk apa dipikirkan, lebih baik aku melakukan hal-hal yang akan membuatku bahagia tanpa harus memikirkan hal-hal yang akan membuatku bersedih.
Lagipula kami hanya melakukannya sekali, jadi tidak mungkin jika kami melakukannya sekali dan akan langsung membuahkan hasil kan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
1 Bulan kemudian ....
Dan malah masih di Surabaya.
Jawabnya adalah karena beberapa Minggu sebelumnya, tepatnya sebelum keberangkatanku ke London. Tiba-tiba pasport ku mendadak tidak bisa ditemukan padahal seingatku, aku menaruh nya di tepat yang aman yaitu laci lemariku.
Aku bahkan sudah menanyakan kepada orang-orang rumah, tetapi mereka bilang tidak tahu dimana keberadaan pasportku. Dan aku mencium adanya sesuatu kejanggalan yang aneh di sini, tetapi aku belum pastikan apa itu. Akan ku selidiki diam-diam.
Dan alhasil akhirnya aku harus menunggu satu bulan lebih atau bahkan hampir 2 bulan untuk kembali membuat pasport ku. Itu kata petugasnya, dan entah karena terlalu bodoh atau apa aku dengan mudah menyetujuinya.
Sehingga berakhirlah aku di sini. Masih tetap di Surabaya mengantikan posisi Mama ku untuk menangani restoran untuk sementara waktu, karena keadaan Mama ku juga akhir-akhir ini tidak begitu baik. Penyakit jantung nya kembali kambuh, mungkin karena terlalu kecapean.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi ini aku begitu bersemangat menjalani hari-hari ku seperti biasanya. Entahlah, semenjak kejadian malam itu Adrian tidak lagi datang mengunjungi ku selama sebulan ini ke Surabaya seperti yang dia lakukan sebelumnya.
__ADS_1
Dan karena itu setiap hariku, aku jalani dengan penuh semangat karena tanpa kehadiran Adrian yang akan menganggu kehidupan ku lagi. Huh, betapa lega nya aku.
Akhirnya pria itu tidak datang untuk menganggu hidupku lagi dan membiarkan aku untuk bisa menjalani kehidupan ku dengan tenang. Oh, terimakasih Tuhan. Engkau begitu baik pada gadis bodoh seperti ku.
Ya, walaupun belakang ini di sela-sela semangatku menjalani hari-hariku tanpa Adrian. Aku juga sering merasa cepat capek, padahal kerjaku hanya di ruangan pribadi Mama khusus di restoran dan menghitung pendapatan dan pengeluaran restoran.
Tidak banyak yang aku kerjakan, selain itu aku juga hanya berkeliling sambil meninjau kerja para karyawan. Tetapi entah kenapa aku sering merasa cepat kelelahan. Tidak seperti biasanya.
Apa karena pengaruh umur ya? Entahlah.
Saat akan keluar dari ruangan pribadi Mama untuk mengecek beberapa persediaan bahan-bahan makanan, perutku tiba-tiba bergejolak hebat dan dengan cepat aku kembali masuk ke dalam ruangan.
Dan untungnya di ruangan Mama itu terdapat toilet pribadi. Aku pun langsung memuntahkan semua isi di dalam perutku ke dalam wastafel di toilet itu. Tetapi anehnya, semua yang aku keluarkan adalah cairan. Tidak seperti biasanya.
Biasanya jika asam lambung ku naik, maka aku akan mengeluarkan isi perutku tetapi bukan cairan seperti ini yang aku keluarkan. Melainkan, ya kalian tahu sendiri bukan apa yang akan keluar. Kurasa tidak perlu aku jelaskan.
Atau apa mungkin aku sedang masuk angin ya? Mengingat beberapa hari belakangan ini aku begitu bersemangat menjalani hariku, sampai-sampai melupakan kewajiban ku sebagai manusia yang harus makan agar asam lambungku tidak naik dan tidak masuk angin.
Eits, tapi tunggu dulu. Biasanya aku kalau masuk angin bukan karena terlambat makan. Karena kalau aku terlambat makan, berarti asam lambung ku akan naik. Dan kalau aku masuk angin itu pun karena habis perjalanan jauh. Tapi aku tidak pergi ke mana-mana belakangan ini, hanya ke Jakarta saja beberapa Minggu lalu.
Dan ya, aku baru menyadari bahwa akhir-akhir ini setiap pagi aku selalu mual-mual entah kenapa.
Dan tunggu .... sepertinya aku menyadari satu hal.
Apa jangan-jangan ...
Sial, bodoh sekali kamu Freya sampai tidak mendari itu.
Aku mendoakkan kepalaku, menatap cermin besar yang ada di hadapanku saat ini dan mulai panik.
Tidak, ini tidak benar. Ini tidak boleh terjadi. Ini salah. Tidak, tidak! Ini pasti hanya mimpi kan.
Aku mencubit kedua pipi dengan sekeras-kerasnya. Dan ...
__ADS_1
"Aaww!" Ini tidak mimpi.
Ini nyata! Nyata dan apa yang harus aku lakukan?