Setelah Bercerai

Setelah Bercerai
BAB 34 BERTEMU SATRIA


__ADS_3

Setelah beberapa saat menempuh perjalanan, kami pun akhirnya sampai di kediaman utama keluarga Mahesa.


Aku dan Adrian di sambut dengan antusiasnya oleh Mommy Sarah dan yang lainnya.


"Menantu kesayangan Mom akhirnya datang juga!" Mommy Sarah menghapiri kami.


Aku tersenyum lalu menyalimi Mommy Sarah. Kemudian Mommy langsung memelukku.


"Mom apa kabar?"


"Alhamdulillah, Mom baik-baik aja. Apalagi ngeliat rumah tangga kalian yang sudah kembali akur seperti ini. Rasanya Mommy begitu bahagia."


"Ohiya, kamu sendiri gimana kabarnya Re? Trus cucu Mommy ini juga apa kabarnya?" Mommy mengelus perutku.


"Alhamdulillah baik Mom."


"Syukurlah kalau gitu. Mommy tuh senang banget pas tau dari Adrian, kalau kamu sedang hamil, ah akhirnya doa Mommy selama ini terkabulkan juga. Mommy akhirnya punya cucu dari Adrian dan kamu."


Mommy Sarah menampilkan raut wajah yang begitu bahagia.


"Ohiya kamu udah makan?"


Aku menggeleng.


"Yaudah kamu mau makan apa? Biar Mommy ambilkan ya, soalnya Mommy udah masak banyak khusus buat kamu dan calon cucu Mommy."


"Ehmm, nggak usah repot-repot Mom. Nanti biar Rea yang ambil sendiri aja ya."


Aku hendak mencegah Mommy Sarah yang merniat untuk mengambilkan ku makanan. Tetapi Mommy tetap memaksa dan menyuruhku untuk tetap duduk manis di salah satu kursi yang sudah disediakan dan dia lah yang akan mengambil makanannya.


Aku memandang sekelilingku, ternyata Mommy dan Daddy mengundang cukup banyak orang. Ada keluarga besar Mahesa, beberapa sahabat Mommy dan Daddy, dan juga ada orang tua dari keluarga suaminya Alya.


Ah, andaikan Mama dan Papa ku tidak tinggal di Surabaya. Pasti mereka juga akan menghadiri acara ini.


Berbicara tentang Mama dan Papa, aku malah jadi merindukan mereka.


Ohiya, kalian jangan tanyakan tentang Adrian. Pria itu entah sudah menghilang kemana, aku pun tak tau. Ketika aku sedang mengobrol dengan Mommy tadi, Adrian malah pergi entah kemana.


Dan kini aku malah di tinggal sendiri. Ya, walaupun tidak benar-benar sendirian sih. Karena ada beberapa kerabat Adrian yang datang menghampiriku untuk mengucapkan selamat dan kami juga sempat berbincang-bicang sedikit. Setelah itu mereka pergi untuk mengambil makanan.


"Mbak Reaaa!" pekik Alya, adik kandung Adrian dari arah pintu utama.


Alya yang baru saja datang langsung berlari menghampiriku.


Aku langsung merentangkan kedua tanganku dan kami pun langsung berpelukan layaknya teletubbies.


"Aku kangen banget sama Mbak Rea!"


"Sama, Mbak juga kangen banget sama adik Mbak yang cerewet ini." Aku mencubit gemas pipi Alya. Ini sudah menjadi kebiasaan ku dan Alya tidak pernah mempermasalahkan hal itu.


"Ohiya, Alya dengar dari Mommy sama dari grup WA keluarga. Katanya Mbak Rea lagi hamil ya. Ini beneran nggak sih?"


Aku mengangguk antusias menjawab pertanyaan Alya.


"Wah, berarti bentar lagi Alya bakalan punya ponakan dong. Selamat ya Mbak. Ih nggak nyangka deh ... akhirnya Alya bakalan di panggil Aunty Alya. Cocok nggak sih kalau manggil Aunty, hehehe. Secara kan walaupun Alya udah nikah, tapi masih tetap kelihatan kaya ABG."

__ADS_1


"Heheh, kamu ini bisa aja Al. Iya deh, Aunty Alya. Cocok kok dipanggil Aunty, daripada di panggil Oma. Itu baru nggak cocok."


Aku dan Alya pun tertawa bersama.


Aku sangat bersyukur karena memiliki mertua dan ipar yang begitu humble dan begitu menyayangiku.


Acara syukuran nya pun diadakan dengan meriah dan berjalan dengan lancar. Semua keluarga Mahesa bahkan begitu tak sabar untuk menyambut kelahiran anakku. Padahal kalau dipikir-pikir, masih sangat lama juga.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah semalam menghabiskan waktu bersama keluarga Mahesa di acara syukuran yang diadakan dengan begitu meriahnya.


Maka hari ini, walaupun masih sedikit capek dan ingin sekali bermalas-malasan di kasur.


Tetapi aku harus menghilangkan itu semua, karena mau tidak mau aku harus pergi untuk menemui Satria.


Aku sudah terlanjur membuat janji dengan Satria, jadi aku harus pergi untuk menemuinya.


Karena aku bukanlah tipe orang yang akan mengingkari janjiku sendiri.


Aku dan Satria berjanji untuk bertemu di salah satu Cafe yang berada di Mall yang tak jauh dari Perusahaan Adrian.


Karena aku berencana setelah pulang dari menemui Satria, aku akan langsung pergi ke perusahaan untuk menemui Adrian.


"Hai Sat! Udah lama ya nunggunya," sapaku begitu sampai di hadapan Satria.


Aku langsung duduk di hadapan Satria.


"Hmm lumayan lah."


Satria langsung mengambil buku menu dan langsung memesankan minuman untuk kami berdua.


Tak butuh waktu lama, akhirnya minuman yang kami pesan pun datang.


Karena aku sedang kehausan, jadi aku langsung menyeruput minumanku. Sedangkan Satria malah menatapku dalam.


"Apa apa?" tanyaku.


Satria hanya menggeleng.


"Nggak apa-apa. Ohiya gimana kabar Adrian?"


Aku mengerutkan keningku, tumben sekali Satria mau untuk menanyakan tentang kabar Adrian.


"Tumben tanyain kabar mas Adrian." Rasanya aku ingin sekali tertawa, ini bener-benar hal yang sangat langkah. Seorang Satria menanyakan kabar Adrian? Wow, luar biasa.


"Aku serius Rea!" Raut wajahnya berubah bete, karena melihatku yang sedang menahan tawa.


"Iya iya, aku tau Sat. Jangan bete gitu dong. Mas Adrian baik-baik aja."


"Hmm. Jadi kamu udah yakin?" tanya Satria.


"Yakin sama apa dulu nih? Sama keputusan ku untuk kembali bersama Adrian atau sama keputusanku untuk nggak mau mendengarkan semua ucapan kamu dan melanggar janji yang udah aku buat sama kamu."


"Dua-duanya, lagian sama aja kan." jawab Satria.

__ADS_1


"Satria ... kamu tau kan, semua keputusan ini sudah aku pikirkan secara matang-matang dan ini semua memang nggak mudah untuk aku. Waktu sebelum aku berangkat untuk datang ke Jakarta, di Bandara aku sempat nelpon kamu kan secara diam-diam di toilet tanpa sepengetahuan Sam," ucapku.


"Kamu sempat nangis juga," tambah Satria.


"Itu kamu tau. Berarti ini semua bukanlah keputusan yang sangat mudah untuk aku ambil, aku juga memikirkan resiko kedepannya Sat. Untuk itu aku mohon sama kamu, karena kamu adalah satu-satunya orang yang sangat aku percaya. Dan satu-satunya orang yang tau semua tentang aku. Aku butuh dukungan kamu Sat, biar aku bisa lewati ini semua."


"Aku masih sangat mencintai Adrian dan kamu tau itu. Aku memang terlalu egois untuk ini. Tapi, jujur aku nggak bisa Sat. Nggak bisa kalau terus ngebohongin diriku sendiri."


Satria mengangkat ujung bibirnya.


"Tapi percuma Re, mau sampai kapan kamu menyembunyikan tentang ini sama Adrian. Sampai kapan? Semuanya udah basi sekarang Re, lebih baik kamu mikirin tentang kebaikkan diri kamu sendiri."


"Aku cuma nggak mau kamu kenapa-kenapa Re. Cuma itu aja, karena aku sayang sama kamu ... sebagai sahabat mungkin."


"Iya aku tau Sat. Tapi izinkan aku, kali ini aja sampai anakku lahir. Aku mungkin ... mungkin akan menitipkan dia sama Adrian."


Satria menggeleng tak setuju.


"Nggak, kamu nggak boleh lakuin itu. Apa kamu mau, suatu saat nanti di saat anak itu udah besar. Dia akan membenci kamu Re sebagai Ibu kandung yang sudah meninggalnya di saat dia masih membutuhkan kamu. Ayolah Re, jangan mikirin hal sekejam itu."


"Aku tau bagaimana rasanya di posisi seperti itu. Karena Ibu ku juga seperti itu. Untuk itu aku minta kamu jangan egois dan ngelakuin hal bodoh kaya gitu. Aku nggak setuju."


Aku mendengus kasar, menatap manik mata Satria.


"Lalu aku harus gimana? Kamu sendiri bahkan nggak punya solusi untuk ini semua."


Aku dan Satria sama-sama terdiam.


Tiba-tiba ada seorang pelayan yang datang sambil membawakan pesanan minuman untuk meja yang berada di belakangku.


Namun tak sengaja karena tersandung sesuatu, tiba-tiba minuman coffee latte panas itu tumpah dan mengenai sebelah tanganku.


"Aaawww!" jeritan ku tiba-tiba karena minuman itu begitu panas dan bisa dipastikan tanganku pasti akan melepuh.


"Aduuhh maaf Mbak. Saya betul-betul tidak sengaja, maaf sekali lagi Mbak." Pelayan itu menunduk panik di hadapanku.


"Rea, kamu nggak apa-apa? Apa perlu kita ke rumah sakit aja, kebetulan nggak jauh dari sini. Biar tangan kamu nggak melepuh dan bisa di obati dengan tepat," panik Satria yang kini sudah berdiri di sampingku.


Aku menggeleng. "Nggak usah Sat. Aku nggak apa-apa kok, dan kalau melepuh pun pasti cuma dikit aja."


"Nggak apa-apa gimana? Coffee tadi tumpahnya lumayan banyak lho di tangan kamu Re."


"Nggak apa-apa Sat. Percaya sama aku deh."


"Mbak, tolong ambilkan es batu ya," ucap Satria pada salah satu pelayan di sana.


Sambil menunggu pelayan mengambilkan es batu, Satria meniup-niup tanganku agar dapat meredakan panas di tanganku. Selain panas, tanganku juga sangat perih.


"Rea!" panggil seseorang membuatku kaget.


Suara itu, suara yang sangat aku kenali.


Aku berbalik dan ...


"Mas Adrian, kamu ... kamu kok bisa di sini?"

__ADS_1


__ADS_2