Setelah Bercerai

Setelah Bercerai
BAB 7 MENIKAH LAGI


__ADS_3

Sore ini aku baru pulang dari restoran yang baru dibuka Mama seminggu yang lalu dan kebetulan ini adalah hari ke 5 aku di Surabaya.


Di restoran aku membantu Mama untuk mengecek bahan makanan yang habis dan mengevaluasi kinerja para karyawan-karyawan Mama. Karena ini adalah usaha yang dibuka Mama pertama kali, jadi aku ikut membantu Mama. Ya, lumayan lah untuk mengisi waktu luangku selama 3 minggu di sini.


Sesampainya di rumah, aku langsung dikagetkan dengan kedatangan sepupuku yang kini sedang mengandung anak pertamanya.


Namanya adalah Reina. Dan kami cukup akrab, mengingat dari SMP sampai SMA aku dan Reina selalu satu sekolah dan satu kelas dulu.


"Reaaa!" sapanya begitu melihatku di ambang pintu utama.


"Yaampun Rein! Kamu apa kabarnya?" ucapku yang langsung berjalan antusias ke arahnya.


"Alhamdulillah baik Rea, kamu sendiri gimana kabarnya? Udah lama nggak ketemu, kamu makin cantik aja Re."


"Ah bisa aja kamu. Baik juga. Alhamdulillah." Reina memelukku, aku pun membalas pelukannya.


"Pelukannya jangan kekencangan Rea. Itu sepupumu lagi hamil besar itu," peringat Mama yang baru saja datang sambil membawa toples-toples berisi cemilan.


"Eh iya, kamu udah hamil aja. Padahal seinget aku dulu kamu masih sering curhat soal mantan-mantan kamu ke aku. Eh, taunya sekarang seorang Rein yang punya banyak mantan. Udah mau punya anak aja."


Reina mengulas senyumannya "Hehehe, namanya juga roda kehidupan Rea. Ada waktunya untuk main-main dan ada waktunya untuk serius. Dan ini bukti keseriusannya." Reina menunjuk perutnya yang sudah lumayan besar.


Aku tersenyum menanggapi ucapan konyol Reina. Ada-ada saja.


"Berapa bulan?" aku menanyakan usia kehamilannya. Maklumlah karena saking sibuknya aku dengan urusan rumah tanggaku dan perceraian dulu, aku sampai tidak tahu kalau sepupuku ini sudah mengandung anak pertamanya.


"Baru 7 bulan."


"Wah, berarti udah nggak lama lagi nih, aku udah bisa gendong ponakan baru. Heheh."


"Ya gitulah."


"Ohiya, jadi kamu bakalan menetap di sini kan," tanya Reina lagi.


"Eh i-iya dong." Jawabku bohong. Sekali lagi, aku masih merahasiakan kepergian ku setelah dari sini.


"Yeyy, berarti itu artinya aku bisa sering datang ke sini. Jadi ada teman curhat lagi deh sekarang." Aku jadi merasa bersalah, karena telah membohongi Reina.


"Tapi kamu udah benar-benar move on dari Kak Adrian kan Re," tanya Reina lagi.

__ADS_1


"Eh, ya pasti udah dong. Ngapain coba aku nggak move on dari penghianat."


"Bagus deh kalau gitu. Pokoknya kamu tenang aja, nanti aku bakalan kenalin kamu sama teman-teman Yuda. Biar kamu nggak ngenes-ngenes amat."


Yuda adalah suami Reina.


"Yaampun Rein, nggak secepat itu juga kali. Aku baru cerai 3 bulan yang lalu lho. Apa kata orang kalau tiba-tiba aku udah punya gandengan lagi. Nggak ah!" tolakku.


"Temenan aja dulu, nggak ada salahnya kan. Pokoknya harus ya, nggak ada penolakan," ucap Reina tak terbantahkan. Dasar bumil.


Dan percuma kalau aku membantah ucapannya, maka dia akan tetap berusaha dengan berbagai cara agar aku mau mengikuti keinginannya. Aku sudah sangat hafal sifat Reina yang satu ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


2 Minggu Kemudian ....


Sudah dua Minggu aku berada di Surabaya dan itu artinya waktuku di Surabaya tinggal 1 Minggu lagi. Setelah itu aku akan langsung berangkat ke London. Semuanya sudah aku persiapkan secara diam-diam, hanya Papa dan Mama saja yang mengetahui keberangkatanku ke London nanti.


Aku menjalani hari-hariku di Surabaya dengan cukup semangat. Ya, walaupun terkadang aku sering dibuat kesal dengan kedatangan Adrian yang selalu datang tiba-tiba ke Surabaya.


Entah apa maksudnya, tapi sampai dengan detik ini Adrian masih tetap datang ke Surabaya di sela-sela kesibukannya.


Bayangkan saja jika kalian menjadi aku, mengelilingi satu kota tanpa tujuan yang jelas. Sangat unfaedah bukan, dan kalian juga pasti akan merasa kesal. Waktuku yang berharga pun jadi terbuang sia-sia.


"Jadi kita mau ke mana sih, dari tadi muter-muter nggak jelas," ucapku dengan nada yang tak bersahabat lagi.


Lagipula bodohnya aku, kenapa tadi aku langsung mengiyakan ajakan Adrian sih.


Aku sempat melirik ke arah Adrian, tampak dari raut wajahnya pria itu sedang berfikir.


"Kita makan siang aja dulu gimana? Ini kan juga udah waktunya makan siang."


Aku menghela nafas kasar. Kayanya dia hanya mengulur-ulur waktu agar bisa mengajakku makan siang deh. Tapi kalau seperti itu, kenapa tidak dikatakan dari tadi? Kalau kaya gini caranya kan buang-buang waktu jadinya.


"Bilang aja Mas dari tadi mau ngajakin saya makan siang bareng. Gengsi amat."


Adrian menyengir. "Kalau saya jujur ke kamu, mau ngajak makan siang bareng pasti kamu tolak. Jadi ya, cara satu-satunya kaya gini."


Aku mendengus mendengar penuturan Adrian.

__ADS_1


"Ya tapikan ini namanya buang-buang waktu Mas. Bayangin aja, kita dari tadi pagi keliling kota Surabaya sampai siang gini. Tanpa tujuan dan kejelasan, siapa yang nggak kesal coba," jelasku mengeluarkan seluruh unek-unekku.


"Lagipula emang Mas nggak ada kerjaan apa, setiap 3 hari sekali selalu datang ke Surabaya kaya gini cuma mau jalan sama saya. Kita ini udah cerai Mas, cerai. Apa kata tetangga coba kalau Mas Adrian selalu datang ke rumah, padahal status kita bukan lagi suami istri."


Heran aku, kenapa semenjak aku datang ke Surabaya. Mas Adrian semakin gencar mendekatiku, waktunya tiap 3 hari sekali selalu ia sisihkan untuk bertemu denganku di Surabaya.


Jangan bilang dia mau balikan. Oh no! Aku sudah terlanjur sakit hati dengan penghianatan Adrian. Jadi biarpun mau sampai manapun, aku akan tetap pada pendirianku. Aku tidak akan kembali ke lubang yang sama. Ya, berbalikan dengan Adrian sama saja dengan masuk ke dalam lubang yang sama. Dan aku tidak mau hal itu terjadi lagi.


Dan ya, setelah melalui perdebatan yang begitu sangat panjang antara aku dan Adrian. Akhirnya aku menyetujui ajakannya untuk makan siang bersama di sebuah restoran favoritku akhir-akhir ini selama di Surabaya.


Setelah selesai makan, aku melihat Adrian mengeluarkan sebuah benda yang kuyakini adalah undangan pernikahan. Tetapi untuk yang jelasnya aku tidak tahu menahu, mengenai surat undangan siapa itu.


Siapa yang ingin menikah?


Apakah Adrian yang ingin menikah?


Secepat itukah dia akan melepas status duda nya hanya dalam kurun waktu 3 bulan setelah kami bercerai?


Aku memang sudah move on dan tidak masalah sama sekali jika Adrian sudah mendapatkan wanita pengantiku, tetapi tidak seperti ini juga. Menurutku terlalu cepat jika Adrian mau menikah lagi.


Apa kata orang nanti. Oh ataukah dia mau menikah dengan wanita selingkuhannya itu? Sudah kuduga. Dasar wanita ******. Karena aku sudah resign dan pindah ke Surabaya, jadi sekarang mereka berdua sudah lebih berani. Bahkan sampai ingin menikah.


Aku tidak menyangka Adrian akan Setega ini.


Adrian menyodorkan undangan itu dan aku langsung tersenyum sinis. Mengingat Adrian dan selingkuhannya itu akan segera menikah dan lebih mirisnya mereka malah mengundangku. Orang yang dengan tidak tahu malunya, telah mereka khianati. Sepertinya mereka berdua memang sudah tidak memiliki urat malu.


"Aku harap kamu bisa datang nanti."


Dengan malas aku bergumam, kemudian mengambil undangan tersebut dan berinisiatif untuk mengecek tanggal pernikahan mereka akan diadakan kapan. Huh, semoga saja bertepatan dengan hari keberangkatanku ke London. Setidaknya dengan begitu aku bisa terhindarkan dari yang namanya sakit hati.


Dan setelah aku melihat, aku langsung dibuat terkejut lagi, mataku langsung melotot sempurna. Ternyata ....


"Jadi ...,"


"Kamu kenapa? Kok kelihatan kaget gitu. Ada yang salah?"


"E-eh nggak. Nggak ada yang salah, ternyata benar ...,"


"Benar?"

__ADS_1


__ADS_2