Setelah Bercerai

Setelah Bercerai
BAB 12 KEHILANGAN KENDALI (21++)


__ADS_3

Cukup lama Adrian melakukan hal gila itu kepada, hingga aku menyadari bahwa ini semua salah dan tidak seharusnya terjadi.


Aku langsung mendorong tubuh Adrian untuk menjauh dariku dengan sisa tenaga yang ku punya, namun naasnya pria itu malah semakin menghimpitku di tembok hotel tersebut.


"Kamu tidak akan bisa menghentikan saya Rea! Dan kamu fikir, saya ini pria bodoh? Hah! Saya tidak sebodoh itu, bahkan sampai tidak tahu bahwa kamu akan segera berangkat ke London minggu depan tanpa sepengetahuan orang-orang, termasuk saya," bisik Adrian tepat di telingaku.


Aku langsung terbelalak kaget. Adrian ternyata sudah mengetahui rencanaku? Dari mana dia mengetahui nya? Padahal aku sudah menutup rapat rencanaku ini agar tidak mudah di lacak oleh Adrian bersama orang-orang suruhannya itu.


Bisa gawat dan remcanaku bisa terancam gagal. Eits, tapi apa urusannya dengan dia? Aku kan sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Adrian, lalu kenapa dia masih ikut campur semua urusan ku?


Mau aku ke London atau ke ujung dunia sekalipun, itu bukan urusannya kan.


"Emang kenapa kalau saya mau ke London. Itu urusan saya, bukan urusan anda. Mengingat kita sekarang udah nggak ada hubungan apa-apa lagi."


Adrian menyeringai. "Ini urusan saya karena kamu milik saya Freya! Camkan itu."


Dasar pria gila! Seenaknya mengklaim aku adalah miliknya, memangnya aku ini barang.


"Dan saya. Adrian Mahesa, tidak akan membiarkan kamu pergi begitu saja Freya," bisik Adrian lagi dengan nada yang begitu membuatku takut.


"Dan saya tidak akan melepaskan kamu malam ini!"


Aku langsung bergidik ngeri melihat raut wajah Adrian yang menurutku sangat mengerikan. Dia seperti ingin memakanku hidup-hidup saat ini juga.


Oh Tuhan atau siapapun tolong selamatkan aku dari pria gila ini!


Adrian kembali memangut b*birku, kali ini lebih kasar dan menuntun. Dia bahkan mengigit sedikit b*bir bawahku hingga bengkak agar aku bisa membalas c*umannya itu. Aku juga bahkan sampai merintih kesakitan, melihat perlakuan Adrian yang begitu kasar padaku. Semurahan itukah aku di mata Adrian? Air mataku pun luruh, membasahi kedua pipiku.


Tetapi itu tidak berlangsung lama, beberapa menit kemudian Adrian mulai melembut padaku. "Saya cuma tidak ingin kehilangan kamu Rea!" Ucap Adrian di sela-sela cum*uan kami. Kemudian dia menghapus air mataku dan m*ng*cup kedua mataku lembut.

__ADS_1


Mengapa Adrian seperti ini? Seolah-olah dia seperti memiliki dua kepribadian. Yang terkadang kasar dan terkadang juga bisa selembut dan semanis ini perlakuannya.


Dan setelah itu Adrian kembali melanjutkan permainannya, tetapi bedanya kali ini ia melakukannya selembut mungkin dan tanpa ada kekasaran sedikitpun.


Membuat aku semakin lama, semakin menikmati permainan Adrian yang membawaku hingga aku terperangkap akan pesonanya yang begitu memabukkan.


Dan kini aku semakin menikmati permainan ini, walaupun awalnya aku sempat menolak dan berusaha lepas dari permainan Adrian walaupun dia sudah tidak kasar padaku lagi, tetapi tetap saja hatiku, otakku dan tubuhku berkata lain.


Dan akhirnya aku tidak bisa menolak lagi permainan ini, aku hanya bisa pasrah akan apa yang terjadi. Toh, aku juga menikmatinya kan.


Tetapi mungkin ini akan menjadi penyesalanku di kemudian hari. Semoga saja tidak, anggap saja ini sebagai tanda perpisahan kami. Karena aku sudah bertekad bahwa aku akan tetap pergi walaupun Adrian sudah tahu dan melarangku untuk pergi.


Dan sekarang aku lebih cocok jika di sebut sebagai wanita murahan, karena dengan gampangnya terbuai dan menerima sentuhan Adrian. Padahal kamu sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Matahari pagi memasukki celah-celah gorden di kamar hotel tersebut, aku pun mengusap-usap mataku mencoba untuk menyesuaikannya mataku dengan cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah gorden.


Ya, seperti yang kalian tahu. Sesuatu telah terjadi antara aku dan Adrian semalam. Kami melewati malam panjang itu bersama dan dengan kesadaran yang sama. Tetapi bedanya, Adrian mungkin tidak akan menyesali hal ini. Sedangkan aku sangat menyesali hal ini.


Dengan gampangnya aku terbuai dengan Adrian dan menyerahkan tubuhku padanya, sepertinya aku sudah gila. Dan dimana kewarasanku yang dulu selalu aku bangga-banggakan itu?


Aku pun memutuskan untuk bangun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku. Aku bahkan kini merasa jijik sendiri dengan tubuhku, kenapa bisa tubuh ini menerima dengan baik setiap sentuhan Adrian. Oh sudahlah, nasi sudah menjadi bubur. Untuk apa sesali lagi. Semua sudah terjadi.


Sehabis mandi, aku langsung keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang lengkap dan rapih. Ohiya, aku lupa. Semalam di tengah-tengah permainan kami, tiba-tiba asisten Adrian datang dan menghantarkan pakaianku. Aku sedikit merasa lega waktu itu dan berfikir Adrian tidak akan melanjutkan permainan itu lagi. Tetapi ternyata aku salah besar. Adrian justru melanjutkannya dan sekali lagi aku hilang kendali atas diriku dan menikmati setiap permainan Adrian. Baiklah sepertinya besok aku harus bertobat dan berdoa sebanyak mungkin agar Tuhan mau mengampuni dosa-dosaku.


Benar-benar nyeselin!


"Morning sweetie!"

__ADS_1


Aku mendengus mendengar ucapan Adrian. Apa dia bilang tadi? Sweetie? Huh, rasanya aku ingin muntah mendengar ucapannya itu. Menjijikan.


Daripada menganggapi ucapannya lebih baik aku segera pergi dari sini dan cepat-cepat balik ke Surabaya agar tidak menemuinya lagi. Aku akan pesan tiket pesawat dan akan berangkat siang ini juga, mengingat aku datang ke sini hanya untuk menghadiri acara pernikahan Alya semalam, yang berakhir membuat aku berada di kamar hotel ini bersama Kakaknya.


Aku langsung mengambil barang-barangku dan melangkah.


"Mau ke mana kamu?" tanya Adrian yang masih berada di atas ranjang.


Pake di tanya lagi. Ya, jelas-jelas aku mau pulang lah. Memang nya mau ke mana lagi. Nggak mungkin juga kan aku mau pergi mulung, cari sampah.


"Mau pulang. Trus mau berdoa minta sama Tuhan, buat mengampuni semua dosa-dosaku yang udah aku lakuin semalam karena kamu!" jawabku datar sambil menenteng tasku.


"Melakukan dosa?"


Baiklah Adrian sepertinya merasa kesal dengan ucapanku.


"Ya dosa. Mas Adrian fikir, apa yang semalam kita berdua lakukan itu bukan dosa? Kita bukan suami istri lagi, tetapi kita melakukannya. Itu dosa. Dan satu hal lagi, dengan sangat mohon aku minta sama Mas Adrian untuk stop gangguin kehidupanku lagi. Aku ingin hidup tenang tanpa gangguan Mas lagi."


"Kalau saya nggak mau gimana?"


Pria ngeselin!


"Lagipula saya nggak merasa bahwa saya melakukan dosa besar bersama kamu, Rea! Ini sudah kewajiban dan halal kok." Dengan santainya Adrian berucap seperti itu.


WHAT! DIA BILANG APA? BENAR-BENAR GILA PRIA INI.


"Mas, kita ini sudah C-E-R-A-I. Cerai, pisah. Dan melakukan ini dengan orang yang tidak punya hubungan sama kita, maka itu adalah dosa Mas, dosa. Dan berhenti berkhayal bahwa aku masih menjadi istri mu Mas!" Aku sudah emosi sekarang. Adrian memang jagonya membuat orang emosi.


Dengan penuh emosi, setelah mengucapkan hal itu aku langsung pergi meninggalkan Adrian yang masih betah di atas ranjang kamar hotel tersebut.

__ADS_1


Aku benar-benar dibuat emosi, jadi lebih baik aku pergi. Aku pun juga langsung menelpon Safira untuk memesan aku tiket untuk kembali ke Surabaya secepatnya. Aku benar-benar dibuat muak oleh Adrian.


__ADS_2