
"Mas Adrian, kamu ... kamu kok bisa di sini?"
Dengan cepatnya aku langsung melepaskan tangan Satria dari tanganku. Aku takut Adrian akan salah paham padaku dan juga Adrian.
Adrian mendekati kami.
"Apa-apa ini hah! Kenapa kalian berdua bisa bertemu secara diam-diam tanpa sepengetahuan aku. Rea, kenapa kamu nggak ngasih tau mas kalau mau ketemu sama Satria!"
Dari nada bicara Adrian sudah tak enak, pria itu sedang marah sekarang. Adrian juga menatap Satria tajam, sedangkan Satria malah terlihat santai.
Sepertinya aku harus segera mengatasi ini semua sebelum hal-hal yang tidak diinginkan terjadi di antara Adrian dan Satria.
Belum lagi di Cafe ini ada banyak pengunjung yang sedang memperhatikan kami bertiga.
"Mas, mending sekarang kita pergi aja deh. Malu dilihatin banyak orang." Tanpa aba-aba aku langsung menarik tangan Adrian untuk pergi dari sana.
"Sat, nanti aku kabarin ya!" Satria mengangguk.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah kejadian di Mall tadi, Adrian langsung membawa Freya kembali ke rumah mereka.
Dan setelah itu Adrian langsung kembali lagi ke kantornya karena akan ada meeting penting dengan salah satu partner bisnisnya dari Jepang, yang tidak bisa Adrian tunda lagi.
Padahal Adrian ingin sekali mendengarkan penjelasan Freya langsung tentang kejadian di Mall tadi.
Apalagi ketika melihat Satria yang memegang tangan istrinya, membuat Adrian marah dan terbakar api cemburu.
Kalau di pikir-pikir lagi, Satria itu adalah musuh Adrian. Walaupun Satria juga adalah sahabat baik Freya sejak dulu.
Yup, benar sekali. Adrian dan Satria sudah saling bermusuhan sejak dulu, tetapi selalu mereka tutupi. Baik itu dalam dunia perbisnisan maupun dalam dunia percintaan. Bahkan tidak banyak orang yang tahu bahwa seorang Adrian dan Satria itu musuhan, sekalipun itu Freya. Wanita itu bahkan tidak tau perlihal ini semua.
Okey, kita kembali ke topik.
Jika dalam dunia perbisnisan. Perusahaan Adrian adalah perusahaan yang selalu bersaing dengan perusahaan milik Satria.
Kedua perusahaan itu sama-sama memiliki keunggulan yang sama, tetapi selalu bersaing untuk menjadi yang lebih terbaik di mata orang-orang.
Sedangkan jika di dalam dunia percintaan, ada banyak sekali kisah yang selalu menyangkut pautkan antara Satria dan Adrian.
Salah satunya, kedua laki-laki itu pernah sama-sama mencintai dan saling memperebutkan seorang wanita cantik yang berstatus sebagai seorang model sejak sebelum adanya Freya di dalam hidup Adrian.
Dan mungkin sekarang, mereka juga akan memperebutkan Freya. Mungkin saja, tidak ada yang akan tahu kedepannya kan.
Apalagi mengingat Satria begitu dekat dengan Freya. Semuanya bisa jadi mungkin.
Setelah selesai meeting, Adrian langsung masuk ke ruangannya diikuti Sam dan Dinda dari belakang.
Adrian memberikan isyarat agar Dinda keluar, karena dia ingin berbicara sesuatu yang penting dengan Sam. Dinda pun hanya mengangguk patuh dan langsung keluar dari sana.
"Sam ... tolong kamu selidiki Satria secepatnya. Selidiki apa saja yang dia kerjakan belakangan ini dan kenapa dia bisa kembali ke Indonesia. Padahal beberapa tahun belakangan, yang saya tau Satria sudah menetap di beberapa Negara untuk mengurusi perusahaan keluarganya."
Ya, setahu Adrian. Setelah pernikahannya dengan Freya, Satria sudah memilih untuk berpindah ke London dan beberapa Negara lainnya untuk mengurusi cabang-cabang perusahaan keluarganya dan beberapa bisnisnya.
__ADS_1
Lalu kenapa dia bisa kembali ke Indonesia lagi?
Bahkan Satria juga ada di saat Freya memergoki Vania dan Adrian waktu di hotel itu. Apa yang sebenarnya pria itu rencanakan? Mengapa tiba-tiba dia bisa kembali lagi ke Indonesia, bahkan tanpa diberitakan di pemberitaan mana pun.
Jika Satria kembali ke Indonesia, pasti akan diberitakan. Mengingat Satria merupakan pengusaha muda seperti Adrian dan juga memiliki daya pikat yang tinggi di kalangan para wanita muda.
"Baik, akan segera saya selidiki tuan."
"Ingat, yang kamu cari tau itu adalah Satria. Kamu harus super teliti Sam. Jika tidak, kita tidak akan menemukan sedikitpun tentang Satria. Pria itu sangatlah rapi dalam menyimpan banyak rahasia."
"Siap tuan."
"Kamu bisa pergi sekarang!" Sam mengangguk patuh, kemudian segera pergi dari ruangan Adrian.
Adrian langsung bangkit berdiri dan menatap pemandangan Ibu kota dari kaca bening berukuran besar yang berada di ruangannya. Pria itu lalu tersenyum sinis.
"Apa lagi sekarang rencana kamu Satria? Kali ini aku tidak akan tinggal diam seperti waktu itu lagi. Aku akan mempertahankan milikku."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
FREYA POV
"Sekarang jelaskan ke mas tentang kejadian siang tadi," ucap Adrian dengan tenangnya.
Tidak seperti siang tadi.
Siang tadi walaupun Adrian tidak berbicara satu katapun denganku ketika mengantarkan aku kembali ke rumah, tetapi dari raut wajahnya aku bisa melihat bahwa dia begitu terlihat sangat marah.
Tetapi mungkin Adrian menahannya agar tidak kebablasan. Dan melampiaskan semua kemarahannya padaku.
"Mas ... sebenarnya aku sama Satria ketemu nggak sengaja di Mall. Dan Satria ngajak aku buat ngopi sekaligus ngobrol-ngobrol sebentar, jadi ya aku sama dia memutuskan untuk ke Cafe itu. Nggak lebih dari itu kok, jadi aku mohon mas percaya sama aku."
"Lalu bagaimana soal pengangan tangan? Apa itu juga nggak sengaja?" Adrian menatapku dalam.
Aku mengangguk. Ya benar kan, memang semua itu terjadi karena tidak sengaja. Lagian juga waktu itu, tanganku ketumpahan kopi panas dan dengan refleknya Satria langsung memegang tanganku dan meniup-niup nya agar dapat meredakan panasnya.
"Kan udah aku jelaskan di mobil siang tadi sama mas Adrian. Ini hanya salah paham aja. Kan waktu itu, ada pelayan yang bawain kopi dan nggak sengaja kopi itu tumbah kena tanganku. Dan dengan refleknya, Satria langsung niup-niupin tanganku biar nggak kepanasan trus melepuh."
"Jadi aku mohon, mas percaya sama aku ya. Lagian ini semua nggak bakalan terjadi kalau pelayan itu nggak tumpahin kopinya kena tanganku."
Terlihat Adrian menghela nafasnya gusar.
"Okey, kali ini mas percaya sama kamu."
"Dan Rea, mas tau kamu dan Satria adalah sahabat dekat sejak dulu. Tetapi saran mas, kamu jangan terlalu dekat sama dia. Biar bagaimanapun, kamu itu sudah berstatus sebagai istri mas. Apa kata orang-orang nanti, apalagi untuk orang-orang yang nggak tahu tentang persahabatan kalian. Mereka bisa beranggapan yang enggak-enggak tentang Satria dan kamu sayang."
"Iya mas Rea juga tau itu kok. Tapi Satria itu sahabat Rea sejak dulu, nggak apa-apa kan. Lagian Rea juga nggak setiap hari kok ketemu sama Satria, kita cuma kebetulan aja ketemunya tadi," bohongku.
"Maafkan aku mas, aku sudah membohongi kamu!," batinku.
"Dan Rea juga mau minta maaf karena Rea pergi nggak bilang-bilang dulu sama mas tadi. Padahal tadinya Rea pengen beli makan siang buat mas di kantor, tapi malah berakhir kaya gini." Aku sedikit menunduk, merasa sedikit bersalah.
"Huh! Yaudah, mas maafin untuk kali ini. Tapi kamu harus janji lain kali, ke manapun kamu pergi, kamu harus izin dulu ke mas. Sekalipun untuk bertemu dengan Satria atau teman kamu yang lainnya."
__ADS_1
Aku tersenyum dan menganggukki ucapan Adrian. Walaupun aku sendiri tidak tahu apakah janji itu bisa aku tepati atau justru malah sebaliknya.
"Sekarang kamu duduk di sini." Ucap Adrian sambil menepuk pahanya.
"Hah!?"
Adrian yang melihatku seperti nya agak loading dengan maksudnya, segera menarik pinggangku dan berakhir kini aku sudah duduk di atas pahanya.
"Mas ...,"
Mampus aku!
"Mas memang sudah memaafkan kamu sayang. Tetapi itu bukan berarti kamu bisa bebas dari hukumannya mas." Adrian tersenyum.
Senyuman yang menurutku sangat mengerikan. Senyuman yang memiliki banyak arti.
"Ta-tapi mas ... ehmm, Ah ya, aku lupa mas. Tadi aku lagi bikin sup ayam di dapur. Kayanya bakalan hangus deh, aku lihat dulu ya mas!" alasanku agar dapat terbebas dari hukuman Adrian.
Namun naas, ketika aku hendak berdiri. Adrian kembali menarikku hingga tubuhku langsung terjatuh dan menindih tubuhnya yang kekar. Apalagi posisi kami sekarang sedang berada di atas ranjang.
Bisa gawat ini!
"Kalau kamu lupa, aku membayar semua pelayan dan koki di rumah ini agar kamu tidak perlu ke dapur lagi dan hanya melayani semua kebutuhanku sebagai seorang istri. Lagian kalau kamu lagi buat sup, tenang aja. Ada banyak pelayan di rumah ini yang akan melihatnya."
"Tapi rasanya bakalan beda mas, kalau mereka yang buatin."
"Apa perlu mas pecat mereka aja dan mas akan ganti dengan pelayan dan koki yang baru?" Ucap Adrian sambil merapikan beberapa anak rambutku yang sedikit berantakan.
Aku menggeleng cepat. Enak saja, lagian aku juga tidak akan setega itu membiarkan mereka dipecat hanya karena aku tidak menyukai salah satu makanan buatan mereka. Apalagi hidup mereka sangat bergantung pada gaji dan pekerjaan yang Adrian berikan pada mereka.
Tidak akan mungkin!
"Nggak mas, kalau sampai mas lakuin itu aku bakalan marah banget sama mas!"
"Ohiya." Adrian membelai lembut pipiku.
"Mas ... ja-"
Cup!
Belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku. Adrian langsung m*l*mat bibirku dengan penuh kelembutan. Kelembutan yang tidak bisa aku tolak sama sekali. Aku pun juga membalas c*uman Adrian.
"Mas ...," lirihku ketika Adrian melepaskan c*uman kami. Aku dan Adrian sama-sama kehabisan oksigen, karena kami melakukannya cukup lama. Dan tentunya dengan penuh kelembutan.
Untuk sesaat Adrian menatapku seolah memberiku sebuah isyarat, bahwa ia sedang menginginkan diriku saat ini juga.
Dan aku sangat paham akan hal itu.
Karena biar bagaimanapun Adrian itu adalah lelaki yang normal, jadi wajar saja kan jika dia memintanya padaku yang berstatus sebagai istrinya.
Aku perlahan mengangguk, karena memang jujur aku juga sudah terbawah g*irah sejak c*um*n Adrian tadi.
Akhirnya kami pun melakukan kembali kegiatan yang sama seperti yang waktu itu. Kegiatan yang kami lakukan bersama di hotel pada saat acara resepsi pernikahan Alya.
__ADS_1
Apa lagi kalau bukan olahraga malam.