
Dari dalam mobil Adam bisa melihat seorang wanita yang sedang menaiki motor metik warna putih, dia mengunakan baju sederhana dan tunggu, dia tidak mengunakan alas kaki layaknya wanita anggun seumurannya, tanpa sadar Adam terseyum simpul.
Naia menyalip mobil yang dikendarai Adam, dia tampak sangat tergesa-gesa.
Kemanakah tujuannya?
"Mas, Apa itu tadi Mba Naia yang mengantarkan kita kemarin?" Suara Beni membuat Adam tersadar dari lamunannya.
Flash back on
Setelah Naia masuk kedalam kamar, dia terus menangis dan jatuh tertidur.
Naia sedih memikirkan nasib kedua orang tuanya, dia tidak ingin melihat kedua orang tuanya menangis, karena memendam perasaan rindu menggebu pada tiga anaknya. Untuk itu Naia selalu berdoa agar Allah mengabulkan doanya, mendatangkan ketiga saudaranya untuk menemui kedua orang tuanya. Tetapi sepertinya Tuhan tidak mengabulkan doanya karena alasan yang tepat. Dan saat ini Naia mengetahui jika tidak datang jauh lebih baik daripada datang hanya menyakiti hati orang tuanya.
Sore itu Naia di bangunkan oleh Ibunya. Bapak nya juga ikut membelai kepala Naia.
Dan Naia baru tahu jika ketiga saudaranya pergi karena di usir oleh Bapaknya.
Naia memeluk kedua orang tuanya dengan tangis, ingin menguatkan hati mereka tetapi dia juga sedang sangat cengeng.
Tanti ikut menghibur Naia, Bu Sari dan Pak Subhan, mungkin Allah sengaja menghadirkan Tanti sebagai pengganti ketiga anak Pak Subhan.
Setelah hati mereka tenang, pagi hari mereka dikejutkan dengan sebuah kiriman paket. Paket itu berisi uang dua puluh lima juta. Bukan jumlah nya yang menjadi titik permasalahan, tetapi selembar kertas yang berisi pesan untuk si penerima.
Isi surat yang di baca oleh mereka.
Yang bertanda tangan di bawah ini:
-Wahid
-Duwi
-Trianto
Kami memberikan uang senilai dua puluh lima juta kepada Bapak dan Ibu sebagai jasa karena selama ini kalian sudah merawat kami.
Segala yang kami raih bukan karena dari doa kalian saja, melainkan dari jerih payah dan kegigihan kami.
Saatnya kami meraih kebahagiaan dan kehidupan kami, tidak seharusnya kalian mengungkit perjuangkan kalian merawat kami, sebagai orang tua itu memang sudah menjadi kewajiban kalian.
Meskipun begitu kami masih memberikan amplop coklat berisi uang itu untuk rasa terimakasih. Kami harap setelahnya kita impas dan kalian tidak mengungkit apa yang telah kalian berikan kepada kami. Perlu di garis bawahi tugas orang tua memang merawat putra-putrinya.
Semoga dengan uang itu kalian bisa sedikit bersenang hati karena apa yang kalian berikan pada kami, kami ganti kontan.
Naia menatap tulisan tangan itu dengan penuh rasa marah.
Di raihnya uang serta kertas itu dan memasukkannya kedalam kantong plastik.
__ADS_1
"Nai," Panggil Pak Subhan.
"Naia ngak terima Pak, Buk! Nai nggak terima." ucap Nai di sertai lelehan air mata.
Bu Sari sudah terisak, sementara Pak Subhan hanya mendongak dengan mata berkaca-kaca.
"Nai akan kembalikan ini pada mereka."
"Pakai ini Nai." Tanti mengulurkan kunci motor pada Naia, setelah Naia menerimanya, dia langsung membantu orang tua Naia kembali duduk.
Naia tidak perduli dengan perasaannya. Tetapi dia sakit hati Orang tuanya di hinakan seperti itu.
Dengan tekad dan keyakinannya Naia membelah jalanan untuk mengembalikan kesombongan saudaranya, Naia tidak akan pernah membenarkan orang tuanya makan sepeserpun dari anak sombong seperti mereka.
Karena terlalu fokus pada jalanan, Naia sampai tidak tahu jika dia sedang di ikuti.
Flash back off
"Sepertinya dia sedang menangis, Mas." kata Beni yang masih memperhatikan Naia.
Hati Adam tergerak untuk mengikuti Naia, entah mengapa Adam dibuat penasaran pada wanita sederhana itu.
Beni tidak berani proses, meski melihat mobil sudah tidak menuju ke tempat tujuan awal dan malah membuntuti Naia dari belakang.
Cukup lama Adam terus mengikuti Naia sampai wanita itu menghentikan motornya di sebuah gedung perkantoran.
"Pak Beni." Mengerti maksud Adam, Beni bergegas turun dari mobil.
Hampir lima belas menit Naia di dalam gedung, entah melakukan hal apa. Tapi saat dia keluar dari kantor, wanita itu tampak terisak-isak.
Adam menunggu Beni kembali, tetapi pria itu belum terlihat batang hidungnya, sampai pada akhirnya Naia bergerak pergi.
Tepat Naia kembali ke jalan raya, Beni muncul dan segera buru-buru masuk kedalam mobil.
Kali ini Adam tidak langsung membuntuti Naia, melainkan melihat rekaman video yang di lakukan Naia hampir lima belas menit di dalam gedung.
"Siapa yang menampar pipi wanita itu, Pak Ben?"
"Setelah saya cari tahu dari rekan sekantornya, itu adalah Kaka dari Naia, Mas."
"Dia marah karena membela orang tuanya?"
"Sepertinya begitu mas, Amplop coklat yang di lempar kearah mereka itu berisi uang."
Adam memberikan ponsel Beni, kemudian dia mulai menjalankan mobil yang sudah di setel sesuai kebutuhannya.
Mobil sedikit melaju dari sebelumnya, saat mendekati motor yang dikendarai Naia, Adam memberi kode pada Beni.
__ADS_1
Beni yang paham langsung menurunkan sandaran kursi.
Adam menurunkan kaca jendela. Pria itu menyapa seraya menyalip.
"Hai!" Adam menyapa.
Tau ada orang menyapanya, Naia memelankan laju motornya dan kemudian berhenti. Adam ikut menghentikan mobilnya.
Naia melihat pria yang menyapanya kemudian menyadari jika itu adalah sopir yang kemarin dia antarkan ke kampung Pandean.
Aneh, Naia melihat lelaki itu tidak mau turun dan hanya membuka kaca jendela mobil setengah saja.
"Ketemu lagi," sapa Naia.
Adam mendengar nada suara Naia berbeda dan senyumnya tidak selebar kemarin. Satu lagi mata itu begitu sembab, menyorotkan luka.
Diam-diam Adam menelan liur. Mengapa suasana pertemuan kali ini terasa pilu?
"Adam," Adam mengulurkan tangan.
"Naia" Naia menyambut tangan itu.
"Kamu sedang buru-buru?" tanya Adam tiba-tiba.
Naia melihat binar Dimata lelaki yang mengajaknya kenalan mendadak itu.
"Iya, motornya mau dipake sama yang punya." ucap Naia jujur.
"Maaf, kalau aku ngajakin ngobrol malah cuma diam di mobil."
"Tidak apa-apa, cuacanya panas."
Adam mengeleng, lalu seperti berpikir. "Bukan karena itu. Aku agak ribet kalau keluar masuk mobil."
Walau Naia tidak paham apa maksud Adam dia tetap mengangguk saja. Naia merasa kurang pantas jika mendesak menjelaskan apa maksud lelaki itu.
"Ya sudah, kamu pulanglah! Hati-hati, dan ...
Adam terlihat sibuk di dalam mobil kemudian mengeluarkan sepasang sendal jepit berwarna hitam yang bersih dan terlihat terawat.
"Pakai ini," ucapnya pada Naia.
Naia terseyum malu, menerima sendal itu, kemudian mengucapkan terima kasih, pada Adam.
Sendal itu kebesaran untuk kaki Naia, tetapi dia sangat bersyukur ada orang yang perhatian pada dirinya.
"Aku duluan." Pamit Adam, yang dipersilahkan oleh Naia.
__ADS_1