
Adam dan Naia ber- iringan saat menuju paviliun. Adam bilang pada Naia jika dia tidur di paviliun juga, ada batas pagar untuk paviliun wanita dan pria.
Dulunya ini adalah rumah kedua orang tua Adam, rumah utama yang sudah di rombak besar-besaran karena kondisi Adam, bangunan dua lantai itu di runtuh kan, kemudian di bangun lagi, di buat sesuai kebutuhan Adam yang mengunakan kursi roda.
Memang paviliun pria itu benar adanya, hanya saja Adam tidak tau apakah layak di tiduri atau tidak. Karena sudah terlanjur berbohong akibatnya akan menjadikan kesusahan untuk Adam sendiri.
"Nai tidak tahu jika mas Adam juga tinggal di paviliun." tutur Naia sambil menoleh pada Adam.
"Sejak kamu datang memang Pak Beni sedang sangat sibuk di kantor, kadang aku juga tidak sempat pulang, dan tidur di kantor.
Adam tahu saat ini Naia memperhatikannya, diam-diam Adam merasa malu sekali.
"Siapa yang membawa mu kerja kesini?" tanya Adam.
"Namanya mba Tanti, orang yang aku tumpangi tinggal bersama kedua orang tua ku, mba Tanti bertemu dengan Ibu Nirmala di bis, mereka banyak bercerita juga tentang Bu Nirmala yang cari orang untuk mengantikan pekerjaannya di sini."
"Kakakmu, mengizinkan?" Adam bertanya lagi.
Naia mengeleng. "Tidak."
"Mengapa kamu nekat bekerja di luar pulau?" sepertinya Adam belum puas bertanya.
"Terus terang, Naia tertarik karena gajinya besar, Kami sedang membutuhkan banyak uang, Bapak sempat masuk rumah sakit, dan saya punya banyak hutang pada mba Tanti."
"Maaf Nai, apa kamu tulang punggung keluarga?"
Naia terseyum tipis, dan membuka pagar pembatas dulu sebelum menjawabnya.
"Naia hanya berupaya sebisa mungkin untuk mencukupi kebutuhan kedua orang tua Nai, Mas Adam."
"Kedua orang tua mu beruntung memiliki putri seperti mu " puji Adam. Adam tersentuh dengan kata-kata Naia.
Naia memang selalu berpikir, bahwa yang terjadi dalam hidup itu hanya perlu dijalani. Meratap tidak akan mendapat apa-apa selain menyiksa diri sendiri.
"Kalau dijalani dengan bersyukur, hidup itu adil, Mas Adam," ucap Naia yang membuat Adam menatapnya kembali. "Ada kesulitan ada pula jalan keluar, kalau tidak kepepet karena banyak hutang mungkin Nai tidak mungkin menginjakkan kaki di Palangkaraya dan bertemu dengan Mas Adam lagi."
"Kamu benar." Adam terseyum.
"Bapak, Ibu sudah tua, berat sebenarnya meninggalkan mereka sejauh ini, kakak-kakak Naia sudah berumah tangga semua, mereka sibuk dengan keluarganya masing-masing, Bapak dan Ibu hanya punya Naia, dan kini kami berjauhan." cerita Naia, mata gadis itu berkaca-kaca, karena setiap malam, Naia terus mendengar tangisan Bapaknya yang rindu padanya, pria yang menjadi cinta pertama Naia itu sedang merasa sangat bersalah pada bungsunya.
Hati Adam teriris. Ternyata Naia juga memiliki ujian yang berat, tetapi wanita muda itu bisa menghadapinya dengan berani dan pantang menyerah.
__ADS_1
Adam ingin menyelami hati Naia. Naia sungguh berbeda dari wanita yang dulu pernah ada. Penderitaan telah menempanya menjadi pribadi yang kuat.
"Kamu tidak malu, bergaul dengan Pria berkursi roda?" goda Adam berusaha mencairkan suasana.
Naia tertawa kecil.
"Eh?" Adam menoleh tidak ingin melewatkan kesempatan untuk menikmati lesung pipi yang semakin cekung kedalam dari kedua pipi Naia.
"Untuk apa Nai malu, kalau mas Adam sendiri. Apa tidak risih bergaul sama cewek dusun kayak Naia?"
Adam spontan tertawa. Naia tidak tahu jika cewek dusun itu telah membawa percikan cinta yang diam -diam mulai berkobar dan bisa menghanguskan seluruh hatinya.
"Kok malah ketawa?" Naia melengos, diam-diam Naia juga menikmati tawa Adam yang begitu renyah.
Tawa Adam berhenti. Wajah itu berubah serius. "Aku tidak risih sama sekali, Nai. Bahkan aku ingin kenal kamu, kalau kamu tidak keberatan."
Jlep!
Apa maksud Adam?
"Nai, aku bukan tipe orang yang suka bertele-tele, aku serius ingin mengenalmu. Sangat ingin bahkan."
Naia menunduk, seperti berusaha memahami arah pembicaraan.
Naia tidak pernah tahu jika bertemu dengan Adam justru semakin membuat detak jantungnya tidak normal, seperti sekarang, pria itu sedang menggantung pertanyaannya, ia meminta apa?
"Apa itu?" tangan Naia berkeringat di cuaca yang sebenarnya sedang dingin karena hujan mulai turun.
"Kamu bersedia nggak untuk dekat dengan pria seperti aku, cacat dan... " Adam sengaja menggantung ucapannya.
Naia yang diberondong pertanyaan seperti itu pastilah bingung, Naia belum pernah dekat dengan laki-laki lain selain Tiga lelaki yang terikat darah. Sekali dekat meresahkan.
"Aku tahu kamu ragu. Aku tahu tidak mudah untuk hidup bersama orang yang kondisinya seperti ini. Di sisi lain aku juga belum yakin dengan perasaan ku. Tapi, kamu mau nggak mencoba untuk menjalaninya bersama?"
Naia masih tidak mengeluarkan suaranya dia terlalu bingung dan kaget tentunya.
Melihat Naia yang terpaku, Adam menepuk jidat. Hingga suaranya menarik perhatian Naia. "Ah, aku terlalu cepat barangkali. Lupain aja."
Naia reflek mengelus kening Adam. Hal yang membuat Adam syok, karena tubuh Naia condong kearahnya yang bahkan wajah Adam menyentuh dada Naia.
Luka lama terpaksa muncul di permukaan, detak jantung seirama seperti ini dulu pernah Adam rasakan, kedekatan, kemesraan, bahkan keintiman pernah Adam nikmati, tetapi itu semua menghilang bersama hilangnya kekuatan kakinya.
__ADS_1
Air mata Adam mengalir tanpa bisa di cegah. Naia yang sedang menghadap kearah ya gantian bingung.
Buru-buru Adam menghapus air matanya dan hendak pergi, tetapi Naia manggilnya.
"Mas Adam, marah?" tanya Naia.
Adam mengeleng tanpa mau menoleh kebelakang.
"Lupakan pertanyaan ku tadi, Naia, aku sedang ngelantur."
"Kenapa?"
"Seperti yang pernah kakakmu katakan, lebih baik mencari pasangan yang tidak ribet dan cacat."
"Siapa saya yang bisa memilih jodoh saya? Jika memang takdir membawa saya ke Palangkaraya ini karena menjemput jodoh, saya bisa apa? Mas Adam sibuk memikirkan kondisi mas yang kurang normal, sementara saya juga memiliki tanggung jawab kepada kedua orang tua saya, jika saya mau menjalin hubungan lebih serius dengan mas Adam, mas harus tau saya bukan milik pasangan saya seutuhnya, menikah dengan Naia ada syaratnya, salah satunya menerima keberadaan orang tua Naia dan menganggap mereka seperti orang tua sendiri, siapa yang lebih membawa beban?"
Adam memutar kursi rodanya. Orang macam apa yang sedang mengajaknya bicara? sungguh menjungkir balikkan hatinya.
Duh, menggemaskan sekali! Andai Adam tidak ingat jika mereka masih dalam tahap pendekatan. Pasti Adam sudah cubit kedua pipi mulus yang basah dengan air mata itu.
Adam mendesah, baru bertemu sebentar dia sudah membuat Naia menangis.
"Naia, Maaf."
Naia mengangguk.
"Aku kalau sedang bokek memang nyebelin." ujar Adam nyengir.
"Naia juga belum gajian, belum bisa hutangin mas Adam."
Adam tertawa. Mood nya langsung membaik. Ah, Naia...
"Aku, haus." keluh Adam.
"Ada kopi saset di paviliun, Mas Adam mau saya buatkan?"
"Boleh."
"Rasa mocca atau susu?" tanya Naia.
"Terserah, asal jangan rasa yang pernah ada."
__ADS_1
Cieee ..... Mas Adam modus.