Setulus Cinta Naia

Setulus Cinta Naia
Tak terduga


__ADS_3

Wahid meraup wajahnya sendiri dan bergegas duduk di hadapan Naia.


"Nai, begini ..."


Berkali-kali Wahid menghela napas sebelum mengenggam tangan adiknya.


"Nai, teman pria mu itu lumpuh sementara atau permanen?" Pertanyaan dan juga reaksi Wahid benar-benar membuat nyali Naia ciut. Wajah tegas Wahid berubah serius. Nai, kamu beneran sudah siap mental?"


Bukankah pertanyaan itu terlalu berlebihan?


"Maksud Mas Wahid apa?" Naia melihat lawan bicaranya.


Wahid mengelus kepala Naia lembut.


"Sejauh mana kalian dekat, Nai?" Ternyata Wahid masih ingin mengajukan pertanyaan tentang Adam.


"Biar duduk di kursi roda, tapi Mas Adam bisa mandiri, bahkan mengemudi mobil dan bekerja, Mas."


"Barangkali kamu hanya jatuh cinta sesaat, terpesona dengan ketampanan pria itu dan juga kelembutannya, tapi sudahkah kamu memikirkan setelahnya?"


Pertanyaan Wahid membuat Naia bingung.


Wahid melihat binar cinta di mata Naia tadi, saat Naia menatap layar ponselnya yang menampilkan gambar seseorang yang Wahid duga adalah pria berkursi roda itu. Wahid khawatir Naia terjerumus dalam perasaan semu, dan berakhir menyesal kemudian hari.


"Aku takut, kamu nyaman dengan pria berkursi roda itu karena pelarian sebab selama ini kami yang seharusnya ada dan menjadi tempat untuk mu berkeluh kesah tidak berperan baik." Wahid menyesali semuanya. Menyesali segala ke egoisannya melupakan tanggung jawabnya sebagai anak dan Kakak.


"Jangan beri harapan jika kamu belum siap, Nai!" tegas Wahid.

__ADS_1


Naia tetap mengangguk, meski perasaannya tak karuan.


"Berteman saja, tapi jangan memberi harapan berlebihan. Berumah tangga dengan orang normal saja penuh masalah, Nai. Lihat bagaimana mas mu ini, jangan sampai kamu menyesal dan saling membenci di kemudian hari." nasehat Wahid.


Naia tertunduk karena perasaan sedih dan khawatir yang datang karena ucapan Wahid, apa hubungannya dengan Adam harus sampai pertemanan saja.


☘️☘️☘️☘️


Bangun pagi itu, badan dan perasaan Naia tidak karuan.


Naia melanjutkan tidurnya setelah shalat subuh karena semalaman dia tidak bisa tidur.


Wahid terlihat segar mengenakan kaos berwarna biru muda dan celana denim hitam, ia tersenyum melihat adiknya yang tidak bersemangat bangun, padahal Dokter akan segera memeriksa keadaan Bapaknya.


Melihat Wahid, Naia mendudukkan dirinya. Sudah lama sekali Naia tidak melihat Wahid yang berpakaian sederhana seperti sekarang ini, biasanya saat bertemu pria itu terus mengenakan kemeja dan jasnya.


"Hari ini mas ambil cuti, karena Bapak kan boleh pulang hari ini."


Naia memiringkan kepalanya, seolah ada yang aneh dari pendengarannya.


"Aku akan membawa kalian pindah, aku membeli rumah baru untuk kalian dan juga Tanti."


Naia menatap kakaknya. " Bagaimana dengan Mba Ines?" tanya Naia khawatir.


"Aku akan datang ke rumah Kedua orang tuanya untuk jujur." ternyata Wahid benar-benar ingin berterus terang.


"Mas ini terlalu mendadak."

__ADS_1


"Ini sudah sangat terlambat Nai, mas menyesal sudah mengabaikan kalian."


Wahid maju untuk memeluk adik bungsunya, meluahkan perasaan bersalah dan penyesalan yang mendalam.


Sebenarnya ini wujud rasa khawatir Wahid terhadap adiknya. Wahid benar-benar sudah menyadari kesalahannya.


☘️☘️☘️☘️☘️


Siang itu Pak Subhan benar-benar diperbolehkan pulang.


Wahid sendiri yang mengendong Bapaknya masuk kedalam mobilnya dan juga mengendongnya lagi ketika turun dari mobil.


"Sepertinya ada tamu." ucap Bu Sari sambil melihat sebuah mobil sedan hitam terparkir di halaman rumah Tanti.


Wahid yang mengendong Pak Subhan langsung masuk rumah, di susul oleh Naia dan Ibu Sari.


Di ruang tamu sudah ramai, ada Tanti, Mbok Nirmala, Pak Beni dan juga ...


"Naia ..." Suara bariton yang khas itu terdengar.


Laki-laki yang membuat tidur Naia tak nyenyak sedang menatap Naia dengan binar rindu. Ah benarkah Adam rindu, seperti yang dia katakan pada Naia?


'Ganteng banget' Siapapun yang melihat Adam saat ini pasti akan menilai seperti itu, sama halnya Naia. Ia sampai lupa caranya bernapas.


Melihat Adam yang nekad mendatanginya seharusnya Naia sadar jika yang di ucapkan Adam adalah benar. Laki-laki itu sungguh sangat merindukan Naia. Sampai nekad kembali terbang ke Jogja.


'Jauh ataupun dekat. Lama ataupun singkat. Jika takdirku dan takdirmu terikat, sewaktu-waktu kita akan tetap duduk di akad.' Kata-kata yang Adam jadikan pedoman untuk menyusul Naia. Cara benar menyesuaikan diri adalah dengan cara bertemu, saling terbiasa dan bisa menentukan langkah apa yang akan mereka putuskan.

__ADS_1


Tujuan Adam datang untuk mengenal keluarga Naia. Sekaligus menunjukkan keseriusannya untuk lebih mengenal Naia. Dalam arti lain, Adam ingin mengajak Naia ta'aruf.


__ADS_2