
Naia baru akan memanggil nama suaminya, saat tiba-tiba kursi roda Adam di dorong oleh orang yang tidak dikenalnya.
Naia ingin mendekati Adam, tapi ucapan Fadil berhasil menghentikan langkahnya.
"Kenapa Adam pergi bersama kedua orang tua Ineke?"
DEGH! Ineke?
Adam sudah berada di pinggir jalan untuk menunggu mobil, bersama wanita paruh baya, yang diketahui Naia sebagai Mana dari mantan tunangan suaminya.
Naia masih memandangi lelakinya dari tempatnya berdiri, baru setelah sebuah mobil berhenti tepat di samping tempat Adam berdiri. Naia menempelkan ponselnya di telinganya.
Bisa Naia lihat Adam yang langsung menjawab panggilannya, tidak ada yang Naia ucapkan, tetapi Adam terus berkata 'halo'
Naia melihat wanita paruh baya yang berbicara dengan Adam, baru setelah Adam terlihat hendak menjauhkan ponselnya. Naia mulai berbicara.
"Mas Adam tidak merasa salah mobil?" Suara Naia cukup pelan. Tapi tetap mampu di dengar oleh Adam. Karena lelaki itu langsung mengerakkan lehernya mengedarkan pandangan.
"Nai ... " Begitu mata mereka bertemu, Naia segera menutup panggilannya. Naia hanya memandang Adam, yang jelas terlihat memanggil namanya. Naia tidak melakukan apa-apa, seolah memberi pilihan pada lelaki itu, akan memilih pergi dengan orang yang berhubungan dengan masa lalunya, atau pulang bersama Naia.
Dari tempatnya berdiri Naia dapat melihat pasangan paruh baya itu seperti berbicara serius dengan Adam, Adam sesekali mengeleng dan mengangguk, tetapi Naia tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Naia?" tepukan kecil di bahu dan sapaan seseorang memutus perhatian Naia.
"Naia ... kan?" pria itu kembali bersuara. Naia masih mengingat-ingat siapa kah gerangan pemuda yang menyapanya ini? Sebelum akhirnya pemuda itu berdecak malas.
"Ibeng, Nai. Teman SMA di Jogja dulu."
Oh, sungguh Naia tidak kepikiran bisa bertemu dengan teman sekolah di sini.
"Wah, kamu disini juga Nai? kerja atau ngapain disini?"
"Ikut suaminya disini!"
Bukan. Bukan Naia yang menjawab melainkan sosok lain yang baru datang menyerobot tidak sabaran.
Pemuda bernama Ibeng itu sampai mengelus dada sangking kagetnya.
Melihat Adam yang memilih dirinya, Naia tidak bisa untuk tidak bersorak dalam hati, terlebih matanya melihat mobil kedua orang tua Ineke itu berjalan pergi.
Adam masih memiliki Rasa hormat pada hubungan mereka, rasa hormat adalah kunci dalam pernikahan. Cinta tidak bisa berkembang tanpa saling menghormati. Saling menghormati adalah jembatan yang memungkinkan pasangan untuk saling mencintai dan tetap bersama, bahkan dengan perbedaan mereka.
__ADS_1
Ibeng mengernyit heran melihat Adam yang mengulurkan tangannya.
"Saya, Suami dari Naia." penekanan kata 'suami' sangat jelas.
"Oh, Ibeng. Teman sekolah Naia."
Mengerti situasi kurang kondusif, Ibeng segera pamit duluan pada Naia, sungguh tatapan Adam seperti sebuah pedang yang mampu menghunus orang yang berani membalas tatapan matanya.
"Nai ... " Begitu Ibeng menjauh, Adam langsung menoleh pada Naia. Tetapi ternyata Naia sudah menjauh dari Adam. Membuat Adam mempercepat kayuhan rodanya.
Sepanjang perjalanan pulang, Naia tidak mau berbicara pada Adam. Naia lebih memilih tidur. Adam yang melihat tingkah istrinya merasa gemas, akan tetapi dia juga sadar Naia sedang marah.
Sampai di rumah. Harapan Adam lepas rindu tidak terwujud, ketika Naia terus saja menghindar.
"Kamu marah?"
"Ya lah, mas pikir?" cibir Naia.
Alih-alih ikut kesal Adam justru tertawa. Dulu bersama Ineke hubungan mereka terasa damai, karena dia selalu mengalah. Selain itu semuanya selalu tertata dan penuh rencana.
Berbeda dengan Naia, wanita yang lemah lembut itu kadang kala bisa ketus dan keras kepala. Satu-satunya wanita yang Adam temukan dan memandangnya selayaknya bagaimana mestinya. Naia tidak perduli pada kecacatan fisik Adam. Tidak pernah menatapnya dengan pandangan iba. Tentu saja membuatnya merasa seperti pasangan pada umumnya.
"Oke, Mas minta maaf. Tapi sebenarnya kamu tidak harus marah juga." jelas Adam.
"Memangnya nggak kangen?"
"Mau Nai cubit?" tanya Naia galak.
Alih-alih takut, Adam malah tertawa.
Berdebat dengan Naia terasa menyenangkan, karena istrinya tahu kapan berhenti. Hal yang selalu membuatnya kagum adalah wanita itu berusaha menghindari pembicaraan dalam keadaan marah, agar tidak berakhir menjadi penyesalan.
Adam perlu belajar dari sang istri, cara agar bisa berpikir dengan kepala dingin.
"Mas mau menjelaskan kejadian yang sebenarnya." tutur Adam, setelah Naia mau melihat ke arahnya.
"Mau dengar tidak?" tanya Adam dengan alis naik turun.
Naia memiringkan sedikit tubuhnya, agar bisa melihat sang suami. "Hmmm!"
Adam tertawa lagi, membuat Naia tambah kesal. Akhirnya Adam berdehem untuk bicara lebih serius.
__ADS_1
Bukan apa selama ini jarang sekali istrinya protes. Kalaupun ingin mengungkapkan pendapat, Naia melakukannya dengan cara yang santun.
Dan sepertinya hari ini pengecualian. Tetapi Adam justru merasa bahagia, rasanya tawa renyah ingin terus ia lakukan. Adam hanya menyimpulkan satu hal yang membuatnya bahagia, Istrinya cemburu. Hal yang mengalahkan segala apapun yang telah ia capai. Because, Naia mencintainya.
"Peluk dulu mau?" Adam merentangkan kedua tangannya.
"Nggak." tegas Naia.
"Untuk bercerita, Mas butuh energi." Adam memohon iba.
"Mas Adam, ah!" Naia menghentakkan kakinya selayaknya anak kecil yang lagi-lagi memancing tawa Adam.
"Makasih, Sayang!" ucap Adam meraih tangan Naia.
Naia yang tidak sadar Adam mendekat, reflek melihat tangannya yang digenggam oleh Adam. Rasa hangat yang dirindukan telah kembali. Tapi dia sedang sangat kesal.
"Mas Adam kenapa sih? Senang banget kayaknya habis bertemu dengan kedua orang tua mantan."
"Ya." jawab Adam menganggukkan kepalanya, yang semakin membuat Naia dongkol. Naia ingin melepaskan genggaman tangan Adam pada tangannya tapi tidak bisa, Adam sepertinya sudah mengantisipasi.
"Mas memang senang bisa bertemu mereka, karena dari pertemuan itu mas bisa melihat seseorang yang mas cintai telah membalas perasaan mas."
Adam terseyum.
"Terimakasih sudah cemburu."
"Hussstttt .... biar mas bicara dulu."
"Sayang, Mas tidak tahu bagaimana kedua orang tua Ineke bisa tahu perihal kedatangan Mas, dan itu banyak faktor. Tapi bukan itu yang ingin Mas katakan. Tetapi alasan mengapa Mas setuju untuk ikut mereka keluar dari bandara. Satu, mas tidak mau mereka mengambil kesempatan untuk mendapat dukungan dari orang-orang yang berlalu lalang seandainya mereka benar-benar memohon di bawah kaki mas, orang akan memihak kepada mereka dan menganggap mas tidak punya perasaan. Kedua, Mas tidak benar-benar ingin ikut mereka ke rumah sakit, apapun alasannya. Kamu tahu, sebelum mas menyetujui akan ikut bersama mereka, mas sudah lebih dulu pesan taksi, jika tidak percaya periksa ponsel mas. Mas menuruti keinginan mereka sebab ingin mempersingkat waktu perdebatan, siapapun mereka, mereka hanya kenangan Nai, kamulah masa depan Mas."
"Kenapa Mas Adam nggak ngomong?"
"La ... memangnya istri mas yang cantik ini memberi kesempatan suaminya untuk bicara? Orang sedari tadi Mas di cuekin mulu, mentang-mentang ketemu sama mantan."
"Jadi siapa yang sebenarnya cemburu?" tanya Naia mengulum senyum.
"Ya kamu lah!" jawab Adam.
"Memangnya Mas Adam nggak cemburu? Kok mukanya bete banget tadi."
Aish Adam akhirnya memilih jujur, dari pada momen lepas rindu akan tertunda lebih lama.
__ADS_1
"Cemburu dong!"