
Naia langsung termenung.
Wahid membawa Adam masuk kedalam kamar bersama kedua orang tuanya, melarang orang lain ikut masuk, termasuk Naia.
"Ya Allah, apa yang akan Mas Wahid bicarakan dengan Mas Adam?" batin Naia gelisah.
Sejak awal, Naia tahu jika Kakanya tidak begitu suka dengan kedekatan mereka.
Hari masih pagi, belum pukul sepuluh, saat Naia merasa cuaca sudah sangat panas terik, seperti hatinya yang sangat gelisah. Mbok Nirmala dan Pak Beni juga menanti dengan wajah serius.
Hati Naia panas dingin. Takut jika Kakanya berbuat kasar pada Adam. Biar bagaimanapun Adam saat ini adalah tamu mereka, harusnya Wahid menghargai tamu.
Naia semakin gelisah. Setelah Tanti mengatakan tujuan Adam datang ingin mengajak Naia Ta'aruf.
"Kalian sudah kenal lama?" Tanya Mbok Nirmala, ternyata Mbok Nirmala juga dilarang Adam untuk membongkar identitasnya.
Naia mengeleng, matanya menatap awas pada pintu kamar yang tertutup rapat.
"Mas Adam orangnya baik, kita lihat saja gimana Mas Adam menangani ini. Kalian mau saling kenal, kan? Nah, ini kesempatan kalian untuk saling mengenal satu sama lain." tutur Nirmala, yang tidak mampu mengurangi kegelisahan Naia.
Naia sedih. Adam pakai kursi roda, dia tidak tega jika Wahid sampai melukainya.
Hampir setengah jam Naia menunggu. Akhirnya handel bergerak dan pintu terbuka perlahan. Adam keluar di iringi Wahid. Kedua orang tuanya tidak ikut.
Adam menghampiri. Senyumnya masih semanis biasa, tapi Naia bisa melihat sorot mata Adam berbeda.
"Naia, yuk kita ngomong berdua." Adam mengulurkan tangannya.
Naia berdiri dan mengiring kursi Adam keluar di pintu belakang dekat berbagai jenis tanaman sayur yang di tanam di polibag.
"Naia.." panggil Adam setelah cukup lama diam. "Aku tadi bicara banyak dengan Mas Wahid dan kedua orang tuamu."
"Bicara apa Mas?" Tanya Naia ikut menunduk memerhatikan Adam yang memangku tangan.
Adam menghela napas panjang, tangannya beralih mengelus pahanya. Hati Naia langsung sedih, apakah Wahid menyakiti hati Adam.
__ADS_1
"Aku mengatakan tujuanku datang, mereka menanyakan sejauh apa aku bisa menjaga dan membahagiakan kamu."
"Mereka meragukan Mas Adam?"
"Intinya begitu. Kakakmu ingin yang terbaik untuk mu, Naia."
Air mata Naia jatuh. Mengapa Wahid tega menyinggung perasaan Adam, sedangkan selama ini dia tidak perduli lagi dengan Naia ataupun kedua orang tuanya, mengapa Wahid sok sekali.
Naia menatap Adam, tangan Adam terulur untuk menghapus air matanya.
"Jangan menangis, Naia." Adam membelai pipi Naia lembut. "Wajar, kok. Semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya, kakakmu juga demikian."
"Mas Adam, atas nama kakakku aku meminta maaf."
Mendengar ucapan Naia Adam malah terkekeh kecil. "Naia, kamu harus tau, biarpun kemana-mana aku mengunakan kursi roda, aku nggak selemah itu." ujar Adam menenangkan pujaan hatinya.
"Tadi aku sudah meminta restu mereka, kakakmu, Ibu dan juga Bapak. Aku memohon kepada mereka agar memberiku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku juga bisa kayak lelaki lain, aku merasa sanggup menghidupi kamu dan anak-anak kita nantinya."
Naia terharu mendengar ucapan Adam. Tidak pernah terpikirkan jika Adam begitu kuat dan juga berani.
Adam mengeleng. "Belum, tapi akan aku usahakan secepatnya kakak mu memberi restu."
Hati Naia perih, Setega itukah Wahid pada Adam.
"Kakakmu memintaku mundur, tetapi aku mau serius dan akan menerima tantangannya." Adam mengenggam tangan Naia dan menciumnya.
Naia tersedu. Ternyata dia tetap tidak tega jika ada orang lain yang sengsara karena dirinya.
Melihat tangannya yang sedang di genggam dan di cium hatinya sedih, ternyata dia juga berharap keluarganya menerima kehadiran Adam. Ternyata sama halnya Adam. Naia juga menyukai pria itu, meski dirinya terus saja berkelit.
"Apa yang mas Wahid inginkan dari mas Adam, untuk membuktikan ke sungguhan Mas Adam?"
"Kakakmu ingin aku menjadi sopirnya selama satu bulan, bekerja dengannya supaya bisa mengenalku lebih dekat."
Naia melotot, mengapa Wahid begitu tega? Apa maksudnya menjadikan Adam sopir pribadinya, Adam memiliki kehidupannya sendiri. Naia tidak suka dengan keputusan Wahid, dia merasa Wahid terlalu berlebihan. Kalau memang tidak setuju lebih baik di sampaikan terus terang dari pada memanfaatkan kelemahan orang.
__ADS_1
"Ini tidak bisa di biarkan." Naia hendak melabrak Wahid, akan tetapi Adam menghentikannya.
"Aku sudah menyanggupi. Lagian itu sangat mudah Naia. Aku beneran nggak rela melepas kamu! Jangankan satu bulan di jadikan sopir seumur hidup ku, aku rela. Asal kakakmu memberikan restu."
Naia membuang muka. Pandangannya sudah kabur karena tertutup kabut air mata.
"Orang tuamu sudah setuju, dan aku pun juga begitu, jadi sekarang kamu dan aku hanya perlu berdoa semoga Allah menjadikan kita jodoh." Sekali lagi Adam mencium punggung tangan Naia. Diam-diam Naia menyukai kehangatan lelaki ini.
"Ja-jadi?"
"Aku serius, Naia. Sekarang tinggal kamu mau terima aku atau nggak?" tanya Adam dengan sorot mata penuh cinta.
Naia menatap wajah yang juga tengah menatapnya. Adam sangat tampan, meski duduk di kursi roda pesonanya masih sangat luar biasa. Seandainya Adam tidak cacat mungkin hal seperti ini tidak akan pernah terjadi, mustahil mahluk seperti Adam mau melamar gadis kampung seperti nya.
Kepala Naia bergerak naik turun, membuat sudut bibir Adam perlahan merekah. Sangat indah.
Mata Adam berbinar. "Sudah jelas berarti. Statusmu sekarang calon istriku."
Adam menarik tangan Naia, membuat Naia menunduk, saat itu Adam mengambil kesempatan untuk mencium Naia. Sebuah kecupan ringan mendarat di pipi gadis yang sedang merona merah karena malu.
"Padahal semalam aku nggak yakin bakal nekad ke Jogja. Sekarang baru ketemu aku sudah berani meminang mu. Meskipun belum sepenuhnya mendapat restu." Adam meringis lebar dengan mata yang mengamati wajah Naia.
Adam sudah shalat istikharah, meminta petunjuk pada Allah, minta supaya jika dia berjodoh dengan Naia di mudahkan caranya, jika pun tidak di hilangkan bayangannya. Yang ada tekatnya semakin kuat untuk terbang kembali ke Jogja. Bukankah ini tanda dari yang Mahakuasa?
Semoga Naia memang jodohnya. Semoga Naia kuat, dan menerima kondisi Adam seutuhnya.
Di balik sekat ruangan, Tanti menyaksikan kemesraan mereka tersenyum haru. Tanti ikut senang jika Naia di cintai oleh pria yang tepat, biarpun berkursi roda asalkan memiliki jiwa pemimpin dan sosok lelaki yang pejuang keras, wanita yang menjadi pendampingnya pasti akan merasa beruntung. Biarpun normal, jika pemalas dan sosok yang lemah, siapapun wanita yang menjadi pendampingnya pasti tidak bahagia.
"Aku ikut bahagia Naia, biarpun Adam mengunakan kursi roda, aku yakin Adam bisa diandalkan sebagai pasangan hidup." Tanti tersenyum lembut pada pasangan yang sedang berunding di belakang rumah. Tahu-tahu ada seseorang yang menanggapi ucapannya.
"Aku juga pasangan yang bisa kau andalkan, aku suamimu, dan akan menyanggupi keinginanmu semampuku."
Mata Tanti dan Wahid bertemu. Tanti menelan ludah gugup, sementara Wahid meraih tangan wanita itu dan tiba-tiba merengkuhnya kedalam pelukan.
Untuk pertama kalinya Tanti kembali merasakan dekapan lawan jenis, setelah kepergian mendiang suaminya. Ada rasa hangat dan sedih menjalar. Tanti sadar Wahid bukan milik seutuhnya, lelaki asing ini menikah karena terpaksa, tapi mengapa Wahid bertindak seperti ini. Untuk apa?
__ADS_1