
Untuk pertama kalinya Tanti kembali merasakan dekapan lawan jenis, setelah kepergian mendiang suaminya. Ada rasa hangat dan sedih menjalar. Tanti sadar Wahid bukan milik seutuhnya, lelaki asing ini menikah karena terpaksa, tapi mengapa Wahid bertindak seperti ini. Untuk apa?
☘️☘️☘️☘️
"Kamu duduk disini." Adam menepuk pangkuannya.
Naia tersenyum. "Nai bukan anak kecil."
Senyum Naia di balas Adam tak kalah manisnya, sama-sama manis membuat orang yang melihat takut diabetes.
Naia berdiri untuk mengambil bangku kecil yang biasa di gunakan ibunya untuk mengisi tanah, di letakkan tepat di samping kursi roda Adam. Dan di sanalah Naia mendudukkan dirinya.
"Naia, kamu tahu cintaku padamu seperti pasal 184 ayat (2) KUHAP? Hal yang secara umum diketahui tidak perlu dibuktikan." Adam tergelak kecil mendengar rayuan receh yang dia utarakan pada Naia, terlalu lebai dan menggelikan menurutnya.
Tetapi bagi Naia itu untaian kata terindah yang pernah Naia dengar, karena Naia belum pernah sekalipun dekat dengan pria luar selain Adam. Meskipun banyak yang naksir Naia, tetapi Naia tidak pernah mau dekat dengan mereka.
Untuk Naia Adam adalah pacar pertamanya. Untuk Adam Naia adalah satu-satunya wanita yang tidak memandang nya aneh. Gadis sederhana yang bisa membuat hatinya kembali bergetar. Naia menatap Adam seperti orang normal pada umumnya.
Mereka baru saling jatuh cinta. Apa pun akan terasa indah. Mereka bisa buta karena perasaan.
Tapi apa mereka salah?
Adam sadar, tidak mudah mendapatkan pasangan yang bisa menerima kekurangannya. Selama ini wanita yang mendekatinya karena gelar dan kekayaannya. Tetapi Naia. Gadis itu malah membuka tangan untuk menerimanya yang tidak hanya cacat tetapi juga miskin.
Itulah mengapa Adam tetap menyembunyikan identitas aslinya.
Naia tidak sama dengan gadis-gadis yang pernah bertemu dengan Adam. Naia memang kaget melihatnya pertama kali menunjukkan diri dengan duduk di kursi roda. Tapi setelah nya Naia melihat Adam sebagai pria pada umumnya, bukan sebagai orang lumpuh. Dan Adam melihat ketulusan itu. Bukan sebagai rekayasa.
"Mas Adam, jika mas Adam merasa berat untuk menerima tawaran Mas Wahid, lebih baik jangan dilakukan."
Naia membalas genggaman tangan Adam.
"Aku sudah datang jauh-jauh ke sini untuk kamu. Masa disuruh pulang begitu aja? Aku datang dengan tekad, dan akan pulang setelah berhasil membawa calon istriku."
Naia hanya diam, mungkin dia tidak tega dengan Adam.
"Percaya sama aku, ya? Kita lewati ini berdua. Kamu mau, kan?"
Naia mengangguk membuat senyum Adam merekah. Adam tau Naia tidak tega dengannya.
"Aku sayang kamu. Aku harap kamu bisa pegang itu untuk melewati masalah ini. Kamu mau kan menghadapinya bareng- bareng? Kamu juga sayang sama aku kan?"
__ADS_1
Hati Adam berbunga-bunga ketika melihat Naia menyandarkan kepalanya di bahu kiri.
Adam berpindah ke sisi Naia untuk membenamkan gadis itu ke dada. Menyalurkan kebahagiaan yang tak terlukiskan.
"Mas Adam .... " Adam tau Naia sedang galau.
"Jangan khawatirkan apapun. Aku kepingin kamu benar-benar lihat aku sebagai orang yang kamu cintai." bisik Adam.
Mereka saling merengkuh, membiarkan jutaan kupu-kupu berterbangan di sekitar hingga menembus sanubari.
Naia nyaman berada di pelukan Adam. Tetapi tidak lama, karena Wahid mengacaukan segalanya.
"Ikut aku jalan, karena mulai besok aku akan memintamu untuk mulai bekerja."
"Jika tidak keberatan pakai mobil bos saya saja ada alat adaptasi mengemudinya jadi saya bisa mengantar Anda." tawar Adam.
"Ya, tidak apa-apa."
Naia ingin protes, tetapi Adam mencegahnya.
"Percaya sama aku." bisik Adam.
Tidak pernah sekalipun terbayang oleh Tanti akan berada di posisi istri ke dua, tetapi mau bagaimana lagi ketika takdir membawanya pada posisi itu.
Kini Tanti sedang duduk di hadapan wanita yang memakai riasan wajah tebal, gaya rambut terang dan juga tampilan yang begitu mencolok. Wanita itu tak lain adalah Ines. Istri pertama Wahid.
Sejak kedatangannya, Ines terlihat tak suka melihat dia datang bersama Wahid.
Mereka sedang berada di rumah makan Padang. Sengaja Wahid mencari suasana ramai agar setidaknya pertemuan ke dua isterinya tidak menegangkan.
"Kita makan dulu." Wahid mengintruksikan kepada kedua Isterinya.
"Mas, Mama hanya memberi waktu satu jam. Seandainya kamu turuti keinginan Mama kita nggak terkekang seperti ini." Ines merajuk pada Wahid, merasa kesalahan ini hanya bersumber pada suaminya.
Tanti tidak membuka suaranya, membiarkan istri Wahid terus berkeluh kesah pada suaminya. Yang dapat Tanti pahami dari obrolan mereka, bahwasanya mereka tidak tinggal satu rumah entah karena alasan apa.
"Ines, kita sudah menikah. Kamu bisa ikut denganku tanpa harus izin Mama, karena seutuhnya kamu hak ku, setelah akad keluargamu tidak memiliki hak atas dirimu." tekan Wahid seraya mengamati istri pertamanya.
Ines mendengus. "Puput benar, orang tuamu itu sudah mencuci otakmu mas, mereka tega misahin istri dari suaminya." Ines malah menyalahkan Pak Subhan dan Ibu Sari karena keputusan Wahid. Padahal mereka tidak tahu apa-apa.
"Puput ataupun kamu tidak tahu apa-apa tentang Kedua orang tua ku, jadi jangan asal bicara." Wahid mempertegas ucapannya.
__ADS_1
"Kalau kamu terus keras kepala, terima aja konsekuensinya jika aku tidak bisa tinggal sama kamu." ancam Ines.
Lama-lama kesabaran Wahid terusik.
"Lakukan apa yang kamu inginkan, jika kamu memang akan terus tinggal sana Mama silahkan!"
Ines tersentak mendengar jawaban Wahid. Gertakannya tidak membuahkan hasil seperti yang dia harapkan. Padahal Ines dan Mamanya sudah menduga jika ancaman Ines akan membuat Wahid mengalah, dan berakhir dengan Wahid yang kembali memberikan uang bulanan pada mereka.
"Kamu tidak kasihan dengan anak kita?" Ines meraba perutnya yang masih rata, kehamilannya baru 12 Minggu, belum terlalu kentara, jika hanya dipandang.
Wahid menatap Ines. "Kamu yang mempersulit keadaan, bukan aku!" tekan Wahid.
Ines berdecak kesal.
Tanti yang berada di tengah-tengah mereka merasa tidak nyaman dan hendak izin ke toilet untuk menghindar, sayangnya ucapan Wahid lebih dulu terdengar.
"Makanlah, Ini sudah dingin." Tanti melihat Wahid menyodorkan nasi putih yang tadinya berada di hadapannya.
Tanti kikuk, terlebih melihat tatapan tajam yang dilayangkan Ines padanya.
"Kamu keterlaluan mas! Bisa-bisanya kamu lebih perhatian pada bawahan mu dari pada istrimu yang sedang mengandung darah daging mu."
"Dia bukan bawahan ku." tegas Wahid.
Tanti menegang, takut kalau-kalau Wahid mengatakan statusnya sebagai istri keduanya.
Tenggorokan Tanti semakin kering ketika tangannya di raih oleh Wahid di hadapan istri pertamanya.
"A-Aku ... "
Tanti tergagap, tetapi Wahid semakin mengenggam tangannya untuk di tarik dan diletakkan di atas meja dan masih di genggam dengan kuat.
"Apa-apaan kamu mas?" bentak Ines.
"Tanti sudah ku nikahi!" jujur Wahid.
Tanti memejamkan matanya, merasa sangat sedih sekali.
Sementara beberapa menit kesunyian itu berubah menjadi kerusuhan yang di timbulkan oleh Ines. Hidangan di atas meja sudah hancur berkeping-keping, ketika taplak meja itu di tarik kuat.
Hidangan berserakan bersama dengan kepingan piring dan gelas yang hancur menghantam lantai.
__ADS_1