Setulus Cinta Naia

Setulus Cinta Naia
Masa lalu


__ADS_3

"Aku juga mau dimandiin," Manja Adam, dia mengapai tangan Naia untuk di genggam.


Naia melihat tangannya yang digenggam oleh Adam. Semalam, tangan ini juga mendekapnya dengan erat. Tangan ini pula yang mengusap punggung dan helaian rambutnya saat dia berkata jika dirinya kesakitan.


Tiba-tiba wajah Naia bersemu karena mengingat kejadian semalam.


Bahkan tidak hentinya Adam mengucapkan kalimat 'hebat' untuk Naia, karena dia adalah wanita luar biasa, Naia istimewa. Dan itu memang benar.


Adam terseyum. Aduh, Adam bahkan tidak ingat, kapan dia pernah merasa sebahagia ini.


Bisa menikah dengan Naia, gadis baik-baik yang begitu tulus menyayanginya, menerimanya dan mau belajar mengerti apa yang dia butuhkan.


Tau kewajiban, dan tidak keberatan melakukan sesuatu yang tidak seharusnya untuk menyempurnakan pernikahan mereka.


Adam bahagia, dan sangat-sangat bersyukur. Masih mengenggam tangan Naia Adam berbisik.


"Mau nggak mandiin aku?" Semburat merah itu menjalar hingga telinga Naia, resiko memiliki kulit putih, Naia jadi tidak bisa menyembunyikan rona wajahnya.


Niat Adam hanya menggoda, tetapi Naia justru menanggapinya dengan serius.


"Ayo!" Naia berdiri di tepi tempat tidur.


"Ngapain?" tanya Adam, sedikit bingung karena Naia malah mendorong kursi rodanya menjauh dari ranjang.


"Katanya mau mandi, ayo, biar Naia gendong."


"Emang, kuat?" Adam melihat postur tubuh istrinya yang ramping, merasa tidak yakin jika Naia kuat. Sekecil apapun lelaki sebenarnya berat badannya tidak bisa di sepelekan.


"Nai gendong Ibu kuat."


"Jangan dipaksakan, Mas pakai kursi roda saja." Adam tidak tega.


Naia tampak berpikir.


"Boleh kita coba, Nai penasaran."


Adam jadi merasa geli sendiri, tetapi Adam juga penasaran ingin merasakan di gendong istri.


Adam bergeser mendekati Naia dan menurunkan kakinya menggantung di ranjang.


Ternyata Naia kuat mengendongnya. Adam melingkarkan lengannya di leher Naia, semerbak wangi sampo langsung tercium di hidung Adam. Naia begitu harum, dan Adam betah terus menempel seperti ini.


"Aku jadi seperti bayi," Adam terkekeh.

__ADS_1


Selesai mandi dan sarapan, Adam pamit pergi ke kantor.


"Kamu hati-hati di rumah, jangan capek-capek ya, mas usahakan pulang tepat waktu."


Naia mengangguk dan meraih tangan Adam untuk di cium. Adam mencium kening Naia dan segera pergi bersama Pak Beni.


Sepeninggalan Adam, Naia melihat ibunya di kamar. Bu Sari sedang berbincang dengan Bu Lilis asisten rumah tangga yang di pekerjaan Adam untuk membantunya mengurus rumah.


"Nai ..." Bu Sari terseyum dan memanggil putrinya.


Naia mendekat dan memeluk Bu Sari dengan sayang. Bu Lilis melihat kelembutan Naia pada Ibunya ikut merasa damai, jaman sekarang seorang anak jarang sekali mau bermanja seperti itu. Manja dalam arti perbuatan.


"Ibu kerasan kan, di sini?"


"Kerasan, Nai. Nak Adam orang baik, sayang sama kamu dan perhatian sama Ibu." ucap Bu Sari dengan mata berkaca-kaca. "Andai Bapak sempat melihat kamu menikah, pasti Bapak akan sangat bahagia saat ini." mengalir sudah air mata Bu Sari, karena teringat kembali dengan Pak Subhan.


Naia mengangguk dan menghapus air mata Ibunya. Tidak ada yang bisa Naia katakan. Karena batas usia hanya Allah yang tahu.


Bahkan usia tua tidak dijanjikan kepada siapapun.


Diperjalanan menuju kantor, Adam menerima laporan dari asistennya.


Ingin Adam meminta Pak Beni memutar balik arah mobilnya, seperti yang sudah-sudah, tetapi sudah terlambat. Lagi pula sampai kapan dia terus menghindari masalah. Lari dari masalah malah bikin pikirannya terbebani. Dan dihadapkan kekhawatiran tak berujung. Kini Adam tidak perlu repot menghindar, karena dia bukan lagi pecundang.


"Mas, ada mobilnya Mba Ineke." Pak Beni sudah hapal sekali plat mobil milik mantan tunangan Bosnya.


Ini kali pertama Adam akan bersiap menghadapi seseorang yang hadir dari masa lalu, seseorang yang pernah sangat di cintainya, tetapi seseorang itu pula yang menghancurkan hatinya.


Adam mencengkram kuat kursi rodanya, sebelum akhirnya memencet tombol untuk jalan.


Sapaan dari para karyawan memenuhi Indra pendengarannya. Dan Adam hanya perlu terus menerbitkan senyum tipis hingga life membawanya ke lantai lima belas.


Begitu masuk di ruang kerjanya, sosok yang paling dihindarinya delapan tahun silam langsung nampak.


"Kamu, apa kabar, Ad?" Ucap Ineke menyambut Adam. Rindu itu seperti terobati, melihat Adam yang masih setampan dulu. Bedanya kini lelaki itu tidak berjalan di atas kedua kalinya.


Sementara Adam hanya diam. Dia tidak berniat menjawab pertanyaan wanita tersebut.


Wanita itu menghembuskan napasnya. "Aku menyesal Ad, untuk itu setahun terakhir ini aku ingin menemui mu, tapi kamu terus menghindar."


Kini, Adam mulai menatap tajam Ineke.


"Aku benar bukan. Kamu masih punya perasaan sama aku, untuk itu kamu terus menghindar. Aku yakin, kamu saat ini hanya kecewa karena aku memilih mundur waktu itu."

__ADS_1


Akhirnya, Adam tertawa. Dia mengelengkan kepalanya ketika mendengar betapa percaya dirinya Ineke.


"Tuhan memang membuatku lumpuh, tetapi otakku masih berfungsi. Kamu pikir aku selemah itu?" Tanya Adam. "Bagi ku, seseorang yang memilih untuk pergi dari hidup aku artinya dia sudah tidak membutuhkan aku lagi. Jadi, aku pun begitu." Jelasnya.


Ineke menundukkan kepalanya. Dia tidak percaya jika Adam begitu mudah melepaskan dia setelah apa yang dulu mereka lalui.


"Adam, aku minta maaf, aku janji akan berubah dan menerima segala kelebihan sekaligus kekurangan kamu."


"Kamu sendiri yang menghancurkan kepercayaan ku. Jadi, jangan salahkan aku kalau aku nggak bisa memberi kesempatan kedua untuk kamu. Selain aku enggan, aku juga sudah menemukan seseorang yang jauh lebih baik." ungkap Adam.


"Kamu kejam Ad, aku mencoba memperbaiki diri setahun yang lalu, tapi apa? Kamu yang terus menghindar!"


"Jangan pikir aku kejam, Ine. Karena kamu jauh lebih kejam. Terima saja jalan hidup kita saat ini. Jangan berharap pada yang tidak mungkin. Sebaiknya kamu berhenti datang ke kantor aku."


Adam baru menyalakan laptopnya, saat tiba-tiba Pak Beni mengetuk pintu.


Begitu dipersilahkan masuk, Pak Beni segera menyodorkan ponselnya. "Mba Naia, katanya mau ngomong sesuatu."


Adam menerima ponsel Pak Beni dengan senyum geli. Padahal istri nya itu punya nomor ponselnya, mengapa harus melalui Pak Beni?


"Ya, sayang?" Adam sengaja mengaktifkan pengeras suara.


"Assalamualaikum, Mas." balas Naia.


"Waalaikumsalam, sayang."


Seseorang yang duduk di sebrang meja Adam tentu syok mendengar Adam memanggil wanita di sebrang sana dengan sebutan sayang. Ineke mengenal seluruh keluarga Adam, jelas wanita itu tahu jika Adam tidak memiliki saudara perempuan baik adik, maupun Kaka, sepupu Adam yang di tahu semuanya pria. Lantas siapa wanita di sebrang sana?


"Mas, ini ada map warna hijau ketinggalan di nakas, Nai khawatir ini mas butuhkan, jika tidak, biar Nai simpan di ruang kerja Mas Adam." jelas Naia.


"Astagfirullah, Jadi berkasnya ketinggalan? Ini nih, gara-gara buru-buru pingin cepat pergi kerja agar bisa cepat pulang temani istri, jadi teledor kan?" Adam tertawa renyah.


Sementara Naia tidak menyahuti, karena dia tengah dilanda rasa malu dengan gombalan yang Adam lontarkan.


"Sayangnya, Mas nggak bisa lihat pipi istri mas yang kemerahan." tambah Adam masih dengan wajah sumringah.


Istri?


Sementara, Ineke, syok mendengar ucapan Adam. Apakah Adam sudah menikah?


Kesadaran menyentak Ineke.


Dia merasa bodoh banget pernah lepasin Adam. Ternyata nggak ada yang bisa menyamai Adam dalam memperlakukannya sebagai perempuan. Adam sabar, bertanggung jawab dan juga sangat pengertian. Andai dulu dia tidak egois dan mengejar sebuah kesempurnaan, lelaki itu pasti sudah menjadi miliknya. Apakah tidak ada kesempatan kedua untuk nya?

__ADS_1


"Biar Pak Beni yang ambil sayang. Lain kali kalau ada apa-apa langsung telpon Mas, kapan pun. Apa yang mas kerjakan ini untuk mu, jangan sungkan, kamu prioritas utama Mas. Mengerti hmm?"


Ineke tidak kuat semakin lama mendengar obrolan Adam, dia merasa sakit hati, dan dia tidak sanggup. Ineke buru-buru keluar ruangan Adam dengan mata yang sudah siap menangis. Dia tidak mau melepaskan Adam, dia tidak rela.


__ADS_2