
Naia pulang berjalan kaki, saat sampai di pekarangan rumah, Naia melihat mobil-mobil yang ia duga milik ketiga kakanya.
Mereka mau apa lagi kesini?
Naia masuk rumah dengan mengucapkan salam. Di meja ruang tamu penuh dengan barang dan buah-buahan.
"Akhirnya, kamu pulang juga, Nai" Ines membuka suara.
Tangan Naia di tarik oleh Tanti ke arah dapur.
"Mereka mau apa datang kesini Mba?"
"Katanya mau sama-sama mengurus Pak Subhan dan Bu Sari, Nai."
Hmmm, ternyata begitu. Mengapa mereka baru datang sekarang, bukan bertahun-tahun yang lalu?
"Bukankah hal ini sudah di tunggu Pak Subhan dan Bu Sari bertahun-tahun?"
Naia diam, yang di katakan Tanti benar. Tetapi perubahan ini terlalu mendadak, bahkan beberapa hari lalu mereka baru saja membeli jasa kedua orang tuanya. Apa hidayah datang dengan ekspres?
Naia tidak menjawab. Sibuk merenungkan hidupnya. Kedua orang tuanya pasti bahagia, se benci apapun Naia pada saudaranya, ia tetap merasakan ada cinta yang selalu mengikat hati mereka, yang meretas jarak, melintasi waktu, dan sedang mendobrak penghalang. Naia hanya bisa berharap agar ini menjadi titik balik bagi keluarganya untuk bersatu kembali. Semoga.
Setelah mencuci muka dan minum segelas air, Naia menemui kakak-kakaknya dan kedua orang tuanya yang tengah tersenyum bahagia.
Lihatlah, orang tua memang seperti itu, kemarin sakit hati kini sudah luluh.
"Kenapa lama Nai, kita sudah tunggu dari tadi loh!" baru saja Naia duduk Ines sudah bertanya.
"Loh kalian datang cari Nai,?"
Ines melirik Wahid mungkin meminta sang suami untuk bicara.
"Jadi gini, Nai. Kejadian pas kamu datang ke kantor kemarin itu membuat nama Mas dan Mbak mu tercoreng di kantor, kami tau Nai, kami salah, untuk itu sekarang kami datang kesini dan minta maaf pada Bapak dan Ibu, tapi masalahnya itu tak bisa mengembalikan nama baik kami di kantor, untuk itu mas minta sama kamu untuk datang mengklarifikasi."
"Bagiku, masalah itu sudah selesai. Masalah di kantor itu urusan mas." tolak Naia.
"Tapi karir kami susah karena kasus itu." Ines mendelik.
"Ya, memang nggak akan balikin nama baik kami. Tapi setidaknya orang berhenti menyumpahi kami dan mendoakan hal yang buruk-buruk untuk kami." Kini Wahid ikut nimbrung.
Naia terdiam cukup lama tanpa tanda-tanda akan mengeluarkan suara.
"Setidaknya kamu bantuin kesusahan Mas mu, itulah gunanya saudara." cerocos Ines.
__ADS_1
"Kenapa mba ngotot sekali? jangan-jangan kalian menjadikan aku alat untuk kepentingan kalian yang tersembunyi?"
"Kok sempat-sempatnya kamu berpikir kami memanfaatkan kamu, Nai. Otak mu dimana?" Bentak Wahid.
"Lancang kamu, Nai!" Ines menggeram.
"Keterlaluan kamu Nai, baru juga dimintai tolong begitu, belagu. Mainnya sih sama orang cacat, jadi otaknya ikut cacat." Puput mengibaskan rambutnya kebelakang.
☘️☘️☘️☘️☘️
Menjelang waktu keberangkatan ke bandara, Adam menghampiri wanita yang sudah merawatnya sejak kecil untuk di cium dan di peluk.
"Mas, Adam!"
Nirmala langsung membalas pelukan Adam sambil sesenggukan.
"Mbok?"
"Mas Adam kok cepat banget pergi. Kangennya si Mbok belum habis!"
Nirmala masih muram sepanjang hari itu hingga mereka berpisah karena Adam benar-benar harus segera berangkat ke bandara.
******
Saat membawakan koper Adam tiba-tiba Pak Beni bertanya.
"Apa mba Naia tau mas pulang hari ini?"
Pertanyaan Beni mengingatkan Adam dengan wajah manis Naia.
Oh, Adam benar-benar lupa jika sudah menyimpan nomor Naia.
Buru-buru setelah Pak Beni keluar, Adam membaringkan tubuhnya dan meraih ponselnya untuk segera mengirimkan pesan untuk Naia.
Berkali-kali pesan itu di tulis, tetapi sebanyak itu juga Adam kembali menghapusnya.
Di Jogja, Naia histeris.
Naia meletakkan teko air panas yang sudah dia hambur untuk mengusir ketiga kakanya.
"Nai ... Nduk ... Bapak ...," rintih Pak Subhan terbata menahan tangis. Ia tidak sanggup menyelesaikan kalimat. Segenap dirinya berharap Naia mendekat dan mendekapnya untuk menguatkan.
Seolah bisa mendengar bahasa batin, Naia naik di pembaringan. Dengan hati-hati ia duduk berdampingan. Direngkuhnya tubuh ringkih yang tergolek dan tersandar ke kepala tempat tidur.
__ADS_1
Pak Subhan menghambur ke pelukan bungsunya. Derita yang tertahan dan menumpuk selama ini pecah menjadi tangisan. Naia bisa merasakan derita itu. Tubuh itu lebih kurus dan rapuh dari penampilannya. Inikah yang tersisa dari perjuangan berat selama ini? Naia ikut menangis sesenggukan.
Saat Naia melerai pelukan, Pak Subhan sudah lemas tak sadarkan diri.
ICU sangat menyeramkan. Biarpun lampunya terang benderang, suasananya tetap mencekam. Berbagai bunyi alat medis membuat Naia ketakutan dan merinding. Ia ingin cepat-cepat keluar dari tempat itu.
Kondisi Pak Subhan sudah stabil. Setelah dua puluh empat jam berjuang antara hidup dan mati, akhirnya ia sadar. Beruntung Pak Subhan segera dilarikan ke rumah sakit, membuatnya cepat di tangani dan serangan jantungnya bisa di atasi.
Kini, mereka tinggal menunggu beberapa pemeriksaan untuk memastikan kondisinya layak untuk dipindahkan ke ruang perawatan.
Naia memandangi lelaki kurus yang terbaring dengan berbagai selang dan kabel menjulur dari tubuh. Pak Subhan tertidur pulas. Sepertinya perjuangan dua puluh empat jam itu telah menguras energi.
Naia bolak-balik menangis di samping Bapaknya. Hatinya kacau dan takut.
"Tidurlah. Kamu perlu istirahat," saran Tanti.
Tanti yang bergantian menjaga Pak Subhan bersama Naia. Naia tidak memberi tahu ke tiga saudaranya itu jika Bapaknya di rawat. Agaknya untuk kali ini Naia tidak akan memaafkan kesalahan mereka.
"Mba saja yang pulang, besok mba harus mengajar. Nai benar-benar tidak tau harus bagaimana untuk berterima kasih, mba sudah begitu banyak membantu kami." Naia kembali terisak.
Biar bagaimanapun, biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan Pak Subhan tidak sedikit. Dan semua itu Tanti yang membayarkan, sungguh berapa banyak wanita itu telah membantu Naia.
Tanti memeluk Naia.
"Mba sudah anggap kalian keluarga, Nai. Jangan dipikirkan."
Naia mengeleng. Naia menatap Tanti penuh harap.
"Mba, bisakah Nai minta nomor Ibu yang pernahkah bertemu dengan mba Tanti di bis, Naia ingin bekerja dengan beliau, Nai butuh uang yang banyak, tidak apa meski harus di luar pulau."
"Nggak, Nai. Aku nggak mau kamu jadi pembantu rumah tangga."
"Tapi Nai sangat butuh pekerjaan itu Mba, Nai butuh uang."
Tanti menatap Naia prihatin. Yang dikatakan Naia benar, karena Tanti sendiri tidak banyak memiliki tabungan, meski dia hidup seorang diri, tapi dia tidak memiliki gaji yang banyak selama ini.
"Nanti ku tanyakan, apakah Ibu itu belum mendapatkan orang," ujar Tanti.
"Terimakasih, Mba."
Tanti mengangguk dan kembali memeluk Naia.
"Aku pulang Nai, Bu Sari pasti khawatir di rumah."
__ADS_1
Naia menghapus air matanya dan membiarkan Tanti pulang.