Setulus Cinta Naia

Setulus Cinta Naia
Kesedihan.


__ADS_3

"Nai, kamu kenapa sayang?" cicit Adam dengan wajah pucat pasi.


Naia melihat Adam yang mendekat, ingin meraih tangan itu tetapi matanya perlahan memburam. Rasa sakitnya perlahan membesar hingga Naia tidak kuat lagi menahannya.


"Naia ..... " Adam berteriak kencang ingin meraih tubuh Naia, namun Naia sudah terlanjur tergolek tak berdaya.


Adam ingin merengkuh Naia yang tergeletak di lantai, tetapi tidak mampu. "Naia... Bangun, sayang." Adam mengiba dengan wajah pucat pasi nya.


Adam semakin ketakutan saat melihat wajah Naia yang sangat pucat. Dengan kekuatan yang masih tersisa Adam mengayuh kursi rodanya. Adam berteriak meminta tolong.


Bibir Adam bergetar dengan dada yang bergemuruh, Melihat Pak Beni membopong istrinya Adam kembali di dera rasa bersalah. Dia merasa sangat tidak berguna.


Adam merutuki dirinya sendiri. Adam tidak bergeming. Dia menatap sendu pada ruangan dimana Naia ditangani.


"Naia akan baik-baik saja, Adam." Fadil dan Denada langsung menyusul kerumah sakit begitu mendengar kabar jika Naia dilarikan kerumah sakit.


Adam tanpa sadar meneteskan air matanya. "Aku, memang nggak berguna sebagai seorang suami, Dil."


Menunggu tanpa kepastian itu sangat menegangkan. Hampir dua puluh menit, akhirnya Dokter membuka tirai penutup tempat Naia diperiksa. Sontak saja hal itu membuat Adam segera menemui dokter tersebut.


"Dokter, bagaimana keadaan istri saya?"


"Anda wali dari pasien?" Tanya dokter tersebut.


Adam mengangguk. "Saya suaminya." ujarnya.


Dokter itu menganggukkan kepalanya. "Begini, Pak. Apa Bapak mengetahui jika istri Bapak sedang mengandung?"


Pertanyaan dokter tersebut membuat Adam tercekat. Lutut nya yang lemas langsung terasa tegang dan membuatnya merasa keram.


"Tapi kata istri saya, dia sedang datang bulan, dokter." jawab Adam.


"Begini, Pak. Setelah di lakukan pemeriksaan, Pasien memang diketahui tengah mengandung, pendarahan yang terjadi bisa jadi karena pasien terlalu kecapekan atau karena faktor terlalu banyak beban pikiran. Harusnya jika kehamilannya diketahui lebih awal, janinnya bisa dipertahankan. Namun, karena pendarahan yang dialaminya cukup parah, kita harus merelakannya. Dan kami membutuhkan persetujuan wali pasien untuk melakukan tindakan selanjutnya." Terang dokter dengan sabarnya.


"Lakukan tindakan apapun untuk menyelamatkan Istri saya."


Adam langsung lemas tak bertenaga. Fadil langsung menenangkannya.


Tangisan Adam membuktikan betapa hancurnya hati dan perasaannya, Adam sedang terpuruk dan tidak berhenti menyalahkan diri. Fadil dan Denada terus mensupport dan menenangkan hatinya.


****

__ADS_1


Adam menatap istrinya yang masih terbaring tak sadarkan diri. Dia tidak meninggalkan Naia barang sejenak pun. Matanya terus melihat Naia yang masih terpejam.


"Makan dulu, Dam."


"Nanti, De."


Denada meletakkan tas berisi makanan untuk Adam.


"Kamu harus tetap makan, Dam." Ucap Fadil.


"Aku belum lapar, Dil."


Fadil menghela napasnya. "Kamu pikir Naia suka melihat kamu begini?" tanyanya. "Kamu harus tetap terlihat baik di depan Naia, Dam. Dia pasti lebih sedih nantinya dari pada kamu. Kamu harus bisa menguatkan istri kamu. Bukan malah begini."


Air mata Adam kembali mengalir. Dia menundukkan kepalanya. Adam merasa gagal jadi suami yang baik untuk Naia. Adam harusnya lebih memperhatikan Naia. Adam baru saja kehilangan anaknya. Mungkin karena Naia yang kecapekan mengurus ibunya dan juga karena pikirannya yang tidak tenang karena ulah Ineke. Adam hanya tidak tahu bagaimana caranya jelaskan ini semua pada Naia, disaat dirinya sendiri merasa turut andil membuat malaikat kecil mereka harus gugur sebelum sempat melihat cahaya.


Fadil mengusap bahu Adam.


Adam masih menatap perut istrinya yang baru saja terisi kehidupan, namun harus keluar sebelum waktunya. Hati Adam pedih setelah berulang kali harus merasakan kehilangan seperti ini. Kini ia hanya tinggal pria yang tidak memiliki apa-apa kecuali satu doa untuk kehidupan Naia. Kondisi Naia masih kritis, dia belum sadarkan diri setelah beberapa jam paska operasi.


☘️☘️☘️☘️


"Apa kebersamaan kita selama ini tidak ada artinya, Mas?" Duwi melangkah maju, membuat Imron memundurkan langkahnya.


Buliran bening kembali lolos membanjiri pipi Duwi. Hatinya hancur seketika. Duwi tersadar, ternyata selama ini ia hanya hidup dalam harapan dan angan-angan yang ia ciptakan sendiri. Memang benar Imron adalah suami yang sangat bertanggung jawab. Ia mencukupi segala kebutuhannya bahkan memberikan kehidupan yang lebih dari cukup. Namun, perkataan Imron barusan menyadarkan Duwi, bahwa dia menikah dengan manusia biasa, seseorang yang juga memiliki batas kesabaran. Dan ia juga tidak menampik bahwa selama ini dirinya terlalu sibuk dengan urusannya sendiri, tak pernah belajar mengerti keadaan suaminya.


Duwi segera berlari ke kamar. Ia sudah tak sanggup lagi melihat laki-laki yang masih suaminya.


☘️☘️☘️☘️


"Mas, Bagaimana kabar Mba Ines?" Tanya Tanti sambil meletakkan teh hangat Wahid di meja.


"Baik," jawab Wahid sambil menoleh sebentar ke arah Tanti.


"Mbak Ines masih menolak untuk pulang di rumah kalian?" takut-takut Tanti bertanya.


"Aku sudah tak berharap lagi." jawab Wahid santai.


"Ha ...?" bingung Tanti.


Wahid segera menutup laptop yang berada di pangkuannya, kemudian meletakkan di atas meja, kini Wahid menggeser posisi nya untuk melihat Tanti.

__ADS_1


"Aku lelah, aku ingin tidur, ayo!" ajak Wahid.


Tanti menelan ludah, dia khawatir Wahid tersinggung sebab pertanyaannya.


Tetapi lelaki itu tidak terlihat marah, Wahid malah mengambil cangkir teh yang baru ia suguhkan, kemudian memberi isyarat pada Tanti, untuk jalan lebih dulu. Baru saja hendak pergi, seseorang mengetuk pintu rumahnya dengan tidak sabaran.


"Biar aku saja." Wahid menghentikan Tanti yang akan membuka pintu. khawatir jika yang datang adalah orang gila, melihat bagaimana orang itu mengetuk pintu rumahnya.


"Trio ...?" pekik Wahid begitu mengintip dari jendela siapa tamu yang berkunjung ke rumah nya malam hari.


☘️☘️☘️☘️☘️


Naia masih sangat lemah tapi dia tersenyum ketika balas menatap suaminya.


"Maafkan Mas, Nai. Mas sungguh tidak berguna."


Perlahan bayangan saat dia terjatuh di kamar mandi membuat Naia berpikir sebab itu dia dilarikan ke rumah sakit.


"Maaf, sudah membuat mas repot."


Adam menangkup pipi Naia yang hangat, sebelum menguatkan hati untuk memberitahu kepada Naia soal bayi mereka. Tapi belum apa-apa air matanya mengalir terlebih dahulu.


"Mas ... " Naia menghapus air mata Adam, dengan pandangan bertanya.


Adam kehilangan kata-kata, dia meraih tangan Naia yang bebas infusan untuk terus dikecupi, seraya terus mengucapkan kata maaf.


"Mas,"


"Husstttt!!" Adam meletakkan jari telunjuknya di bibir Naia.


"Nai, kita baru saja kehilangan malaikat kecil kita." ucap Adam setelahnya.


Naia masih tak bereaksi, Naia masih belum sepenuhnya paham bahwa ia baru saja kehilangan bayinya.


Baru setelah jeda beberapa saat, Naia mulai meraba perutnya yang rata, tangannya bergetar, bibirnya juga bergetar dan napasnya mulai tersendat oleh Isak lemah, tapi Adam terus memegangnya erat-erat.


"Mas Adam .... " Isak Naia, yang semakin membuat Adam nelangsa.


######


Mau tamat sampai disini?

__ADS_1


Atau lanjut?


__ADS_2